
Jam alarm berbunyi, mengejutkan Musa, sekaligus membuat lelaki itu bangun sejenak tanpa melihat jam berapa sekarang dan langsung mematikan alarm. Lalu ia tidur lagi. Rasa kantuknya cukup kuat pagi ini, mungkin karena efek bergadang semalam di rumah Lyra, ditambah lagi suhu tubuhnya yang sangat tinggi akibat kehujanan. Ia benar-benar malas bangun.
Di sisi lain, di lantai bawah, Yu' Tari tengah mengelap lantai ruang tamu dengan sangat menikmati, tentunya sambil menggumamkan lagu-lagu jadul kesayangannya. Dirinya yang hanya mengenakan balutan kain batik di bagian bawahnya dengan panjang yang tak sampai lutut itu membuatnya tampak seksi di usianya yang sudah terpaut tua.
Yu' Tari adalah seorang pembantu paling setia di rumah keluarga Musa. Ia bahkan sudah dianggap Musa seperti bibi sendiri.
"Jangankan gunung Fujiyama,
Puncak Himalaya, ku ikut kamu ~
Jangankan ke Kamboja
Ke Ethiopia, ku ikut kamu ~
Kalau memang kamu cinta aku
Ke Kutub Utara, aku ikut kamu ~"
Di tengah-tengah keasyikan Yu' Tari mengelap lantai itu berulang kali walau sudah bersih, terdengar suara guest bell dari pintu depan yang sontak membuatnya berdiri dan segera menghampiri pintu. Ia menengok ke jendela terlebih dahulu, memastikan siapa yang datang.
Di teras rumah, tampak seorang laki-laki seusia Musa tengah berdiri menunggu untuk dibukakan pintu. Yu' Tari pun segera membuka pintu dan mempersilahkannya untuk masuk.
"Nyari Mas Musa ya?" tanya Yu' Tari memastikan.
"Iya," jawab Liam, seorang laki-laki yang pagi ini menjemput Musa, mengangguk dengan sopan.
"Mas Musanya masih bobo, nah dibangunkan!" seru Yu' Tari dengan gaya bicara seorang ibu, seolah-olah dia adalah ibunya Musa.
Liam pun beranjak menuju kamar Musa. Sementara Yu' Tari kini beralih aktivitas, yaitu menyiram setiap tanaman di depan rumah.
"Lah, Mus, masih ngorok lu?" tanya Liam saat mendapati Musa masih berkemul hangat dengan selimut gambar Badtz-Maru kesayangannya.
"Eh, bangun ... bangun ..., dah pagi ini!" seru Liam lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Musa.
Namun tetap tak berefek. Musa melirik sejenak ke arahnya lalu kembali memejamkan mata.
"Apaan sih, Mus? Udah bangun loh padahal," keluh Liam. Ia akhirnya memilih untuk duduk sambil mengamati setiap benda yang terpajang di meja belajar Musa, mulai dari alat tulis dan buku.
Musa pun akhirnya bangun sambil menguap. "Bentar ya, aku mandi dulu," ucapnya bergegas menuju kamar mandi.
Liam masih berada di sana. Matanya melihat ke sekililing. Ia tertarik pada buku Atomic Habits karya James Clear yang terletak di atas meja belajar Musa. Ia tidak menyangka kalau Musa adalah seorang kutu buku dibalik keusilannya selama ini di kelas, terlebih lagi Musa lebih tampak seperti laki-laki pemalas.
Musa sendiri memang mengoleksi banyak buku, tapi entah apa benar-benar ia baca atau tidak.
Untuk mengisi kekosongan, Liam membuka ponselnya sebentar dan membuka permainan Hungry Shark yang hari-hari ini membuatnya kecanduan. Matanya fokus menatap layar ponsel, sementara tangannya bergerak lincah menggerakkan tubuh sekaligus layar ponsel. Ia merasa leluasa bermain game sendirian.
Hingga saat Musa telah selesai mandi. Tampak dirinya terbalut oleh kain handuk pada tubuh bagian bawahnya, tentu saja menutupi sesuatu yang menurutnya sangat penting untuk disembunyikan.
"Nah keluar, aku mau ganti!" seru Musa.
Liam melirik ke arah Musa sejenak, tersenyum. Ia pun keluar dari kamar Musa dan membiarkan lelaki itu berganti pakaian. Sementara dirinya menuruni tangga di lantai bawah, memutuskan untuk bermain game di ruang tamu, niatnya menunggu Musa turun.
Yu' Tari telah selesai menyiram tanaman di luar rumah. Ia kembali masuk ke dalam lalu entah kenapa sambil bergoyang-goyang. Liam awalnya heran, ia tak sengaja memperhatikan pembantu di rumah Musa itu. Yu' Tari tahu kalau Liam melihat ke arahnya, ia pun semakin menjadi-jadi. Ia mengambil kembali sebuah kain kecil dan ember berisi air, lalu mengelapi lantai yang sudah bersih dengan kain basah itu sembari sesekali melihat ke arah Liam.
Alih-alih membersihkan lantai dengan sungguh-sungguh, Yu' Tari menggoda Liam dengan tak henti-hentinya memperlihatkan belahan dadanya setiap kali ia mengelap lantai, juga menggoyangkan pinggulnya untuk menampakkan pantatnya yang besar.
Liam menelan ludah, pikirannya mulai buruk, perasaannya tidak enak. Yu' Tari terus menggodanya hingga membuatnya berhenti bermain game dan terus memperhatikan Yu' Tari. Alat menyerupai buah pisang di tubuh bagian bawahnya tanpa sengaja mengeras. Liam tak tahan lagi. Suhu di rumah Musa tiba-tiba terasa panas baginya.
Selang beberapa lama, Musa akhirnya telah selesai bersiap-siap dan turun ke ruang tamu. Ia tampak keren seperti biasa. Kali ini dengan balutan kemeja batik dan celana hitam yang sopan untuk ia kenakan kuliah. Entah kesambet petir jenis apa ia pagi ini sampai harus menggunakan kemeja batik, padahal Liam saja menggunakan kaos yang ditumpuk dengan jaket.
Tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya, Musa langsung menarik tangan Liam yan terkejut begitu tahu kalau dirinya telah siap. Hampir saja Liam kehilangan akal sehatnya, syukurlah Musa segera membawanya keluar rumah untuk berangkat kuliah.
"Sumpah, Mus, itu pembantumu aneh banget, kamu pasti ngaceng setiap hari?!" seru Liam. Saat ini ia dan Musa telah berada di tempat parkir sepeda motor di kampus. Liam baru saja melepas helmnya dan masih duduk di atas motor sedangakan Musa sudah turun dari motor dan kini mengambil beberapa barang di jok motornya.
"Apaan sih? Yu' Tari nggak pernah gitu ke aku!" seru Musa.
"Ah Masa?" timpal Liam kaget.
"Udah yuk, Mrs. Farah pasti udah masuk!" seru Musa.
Liam pasrah. Ia ikut saja apa kata Musa, meski ia juga tidak bisa lupa begitu saja akan sikap agresif Yu' Tari terhadapnya tadi. Bagaimana bisa pria polos seperti dia mendapatkan godaan iblis wanita paling nyata selama hampir setengah jam.
Menyusuri koridor gedung, Musa dan Liam berjalan cepat menuju kelas. Berharap Mrs. Farah tidak marah akan keterlambatan mereka. Hari ini adalah mata pelajaran TEFL (Teaching English as Foreign Language) yang dipegang oleh Mrs. Farah selaku dosen paling menjanjikan di program studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Para Den.
***
Mrs. Farah kini rupanya asyik mengobrol dengan para mahasiswa yang telah berada di dalam kelas. Bukannya membahas mata kuliah namun yang mereka bahas kali ini adalah drama Korea. Mrs. Farah sangat tertarik dengan alur drama Crash Course in Romance yang cukup realistis. Ia sangat antusias begitu tahu kalau beberapa mahasiswa di kelasnya juga menontonnya.
Di tengah-tengah keseruan cerita tentang drama Korea, kehadiran Liam dan Musa cukup menganggu. Membuat Mrs. Farah lupa bagian scene drama yang hendak ia bahas dengan mahasiswi lainnya. Liam dan Musa yang tidak tahu apa yang orang-orang di dalam kelas bahas kali ini pun dibuat bingung di tempat. Mereka berdua sampai berdiri bagai orang linglung sebelum akhirnya Mrs. Farah menyuruh mereka dengan tegas untuk segera duduk.
Lyra menanggapi kehadiran dua laki-laki itu, namun ia hanya melirik sekilas, mencoba melihat Musa, lalu langsung kembali mengarahkan matanya ke arah Mrs. Farah. Musa turut menanggapi lirikan mata Lyra itu, ia tersenyum simpul, tahu kalau Lyra berusaha memeriksa apa yang ia lakukan saat ini meski berlagak hanya kebetulan melihat. Ia pun duduk dengan santai sembari mengeluarkan buku tulis dan pena.
Tak lama saat mata kuliah TEFL berakhir, Mrs. Farah memberitahu para mahasiswa untuk datang ke kampus menggunakan almamater pada jam mata kuliah yang sama di minggu ke depannya, lantaran akan dihadirkan dosen tamu untuk mata kuliah Praktisi yang rencananya akan menggantikan jam mata kuliah TEFL selama empat minggu.
Saat bayangan Mrs. Farah tak lagi tampak di dalam kelas, tentunya ini adalah saat yang tepat bagi para mahasiswa untuk bertebaran ke setiap tempat di dalam kampus sebelum jam berikutnya akan memaksa mereka masuk ke dalam kelas kembali. Biasanya di jam ini, Lyra akan pergi ke markas club teaternya untuk mengerjakan sesuatu, namun ia tampak tak tertarik untuk keluar dari ruangan. Ia masih duduk di kursinya sambil menatap layar ponselnya, tepatnya di aplikasi Twitter, tangannya menggerakkan layar dari atas ke bawah lalu memberi like ke beberapa tweet yang menurutnya menarik.
Musa ingin menyapa Lyra sebelum keluar dari kelas, ia hendak mengajaknya keluar beli jajan. Sayangnya niatnya itu tertahan oleh ingatan akan kejadian tadi malam. Ia dan Lyra berjanji untuk tidak saling berkomunikasi selama tiga hari. Ia tidak berani memanggil Lyra, ia takut kalau Lyra akan memarahinya lagi karena melanggar janji.
"Mus, ke kantin nggak?" tanya Liam.
"Oh oke," jawab Musa. Ia pun akhirnya keluar dari ruang kelas bersama Liam dan Tom.
Lyra sudah merasa kalau tadinya Musa ingin memanggilnya namun tidak jadi. Kini ia yang tersenyum seorang diri, memikirkan Musa. Menurutnya, laki-laki itu cukup imut, entah kenapa sikapnya begitu manja saat bersamanya dan seolah-olah bertransformasi menjadi anak hilang yang bingung mencari tujuan saat tidak berkontak dengannya walau hanya sehari.
"Lyr!" panggil Rosie menghampiri Lyra di bangkunya, ia duduk di sebelah Lyra.
"Hai," timpal Lyra.
Tanpa banyak bicara, Rosie langsung memamerkan dua buah kertas yang sukses membuat kedua mata Lyra terbelalak. Dua tiket konser band symphonic metal asal Finlandia, Nightwish, dengan vokalis kebangsaan Belanda, Floor Jansen.
"Nightwish?!" seru Lyra takjub.
"Hari kamis minggu ini, di studio olahraga pusat kota Metro," timpal Rosie.
Lyra tersenyum takjub. "Kapan kau membelinya?".
"Sudah lama, udah ada satu bulan deh kayaknya,"
"Terima kasih," ucap Lyra sambil memetik salah satu kertas dari tangan Rosie.
"Apa ini?" tanya Lyra, meraihnya.
"Bukalah!" seru Rosie.
"Sekarang?" Lyra melihat ke sekililing. Keadaan kelas cukup sepi. Setiap orang pergi keluar.
Rosie mengangguk.
Lyra pun membuka kado mungil tersebut. Ia terkejut saat melihat isinya, sebuah buku diary mini bergambar My Little Pony, terlebih lagi Applejack sebagai sampulnya. Applejack adalah karakter kuda poni favorit Lyra, sejauh ini ia kesulitan mencari marchandise dengan wujud Applejack karena tidak sepopuler karakter kuda poni lainnya.
"Oh, aku tidak tahu harus mengatakan apa? Kamu memberiku apa yang selama ini aku inginkan!" seru Lyra tak henti-hentinya takjub.
"Itulah yang dilakukan sahabat. Aku juga menyukai kadomu untukku bulan lalu," timpal Rosie tersenyum manis.
Saat ulang tahun Rosie dua bulan sebelumnya, Lyra memberinya hadiah sepatu sneakers. Lyra berpikir itu adalah kado yang sederhana, pasalnya ia memiliki selera fashion yang rendah. Namun ia tidak menyangka kalau Rosie sangat menyukainya karena selama ini orangtua Rosie tidak mampu membelikannya sepatu sneakers, Rosie selalu mendapatkan sepatu bekas dari bibi-bibinya.
"Terima kasih ya," ucap Lyra sambil memeluk Rosie.
"Sama sama, selamat ulang tahun ya," timpal Rosie tulus.
Lyra memang berteman dengan banyak orang, ia tidak mendukung blok manapun, ia bisa berada di blok siapa saja. Namun diantara semua temannya, Rosie adalah yang paling dekat, mungkin karena mereka berdua saling bertemu pertama kali saat masa orientasi.
Dibanding Lyra yang sering menghabiskan waktunya dengan Musa, Rosie tergabung di Blok Kulon. Kelas mereka memiliki dua blok, yang terdiri dari Blok Wetan dan Blok Kulon. Blok Wetan diisi oleh mereka yang eksis di kegiatan ekskul dan memiliki koneksi pertemanan yang cukup luas di lingkungan kampus. Sedangkan Blok Kulon adalah mereka para mahasiswa non-ekskul yang lebih berprestasi di dalam kelas, disiplin di setiap tugas yang diberikan oleh dosen, serta para penyabet banyak beasiswa kampus.
"Kamu nggak pengin ke kantin?" tanya Rosie tiba-tiba saat selesai berpelukan dengan Lyra.
"Mr. Witono kurang jam berapa lagi masuknya?" tanya Lyra sambil menyalakan ponselnya, mengecek jam saat ini.
"Masih lama kayaknya, habis ini beliau juga pasti makan siang dulu sebelum ngajar," timpal Rosie.
Sebenarnya Lyra juga ingin merasakan jajanan kantin. Namun ia teringat oleh uang tabungannya yang menipis, belum lagi saat ini ia jobless.
"Ku harap aku bisa ke sana, aku bokek hari ini" seru Lyra.
"Pakai uangku dulu atau bagaimana?" tawar Rosie.
"Tidak apa-apa, tidak usah, kapan-kapan aja ya ngantin bareng," timpal Lyra.
"Ya udah deh, aku ke kantin dulu ya, bye~" seru Rosie meninggalkan kelas.
Kini Lyra sendirian di dalam kelas. Baru saja ia senang karena kado ulang tahun dari Rosie, namun pikiran akan tagihan kontrak dan pekerjaan yang belum jelas ini membuat pikirannya kembali kacau. Syukurlah saat ini tak seorangpun bersamanya di dalam kelas, ia bisa menggunakan waktu ini untuk menenangkan diri. Di tengah-tengah memikirkan banyak hal, sebuah chat muncul di ponselnya. Lyra segera membuka notifikasi tanpa harus masuk ke aplikasi.
Ken
Lyr, bisa ngomong sebentar nggak nanti habis kuliah?
Lyra terkejut saat mendapatkan chat itu. Ia merasa tidak enak. Ia merasa bahwa dirinya terlalu sombong atas kejadian kemarin. Ia kini malu untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan pada Ken, antara malu dan menyesal. Lyra menelan ludah sejenak, membutuhkan banyak detik untuk mengetik kata-kata pada papan kunci ponselnya.
***
Banyak mahasiswa yang menghabiskan jam istirahat kuliah mereka di kantin. Setiap bangku terlihat penuh, sampai ada beberapa mahasiswa yang membawa makanannya ke markas ekskul untuk dimakan di sana. Bu Silvia, selaku penjaga kios "Pagi Ceria", tempat paling laris di kantin itu karena jajanannya yang sederhana dan murah, dibuat pusing lantaran banyaknya pesanan nasi serta lauk pauk yang beraneka ragam. Ia mondar-mandir sana sini, menggoreng tempe, menanak nasi, mengulek sambel, semua kegiatan ia jalani dengan tergesa-gesa.
Biasanya Bu Silvia ditemani oleh seorang mahasiswa laki-laki dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, bernama Mas Mulyo, karena kebetulan ia kuliah juga sambil numpang tinggal di kampus, mau tidak mau ia harus membantu mengurus kantin. Namun karena di jam saat ini Mas Mulyo masih ada jam kuliah, ia tidak mungkin bisa membantu Bu Silvia menjaga kiosnya, apalagi tahun ini ia memasuki semester 8, ia pasti sangat sibuk.
Seorang gadis dari prodi Ilmu Komunikasi, Martha, menawarkan diri untuk membantu Bu Silvia, ia kasihan melihat Bu Silvia tampak bingung. "Biar saya bantu, bu!" seru Martha muncul begitu saja dari pintu belakang kios.
"Oh, oke," timpal Bu Silvia tersenyum senang.
Martha pun membuat pekerjaan Bu Silvia menjadi lebih mudah. Ia melayani para pelanggan dengan sangat baik, juga pergerakannya yang cepat membuat suasana di kantin menjadi tertib, tidak ricuh seperti sebelumnya.
"Halo, Mbak Martha!" sapa Aurel yang kebetulan mampir di kantin.
"Wah, Aurel, mau beli apa?" tanya Martha ramah. Ia kini tengah mengelapi meja bekas ia menuangkan saos untuk bumbu gorengan.
"Aku ambil sendiri ya," timpal Aurel sambil memetik beberapa gorengan kesukaannya, mulai dari gimbal tempe, cireng, bakwan dan sosis.
"Oke," timpal Martha yang kini beralih aktivitas membuat kopi untuk seorang laki-laki yang berdiri di depan kios menantikan kopi pesanannya jadi.
"Tujuh ribu ya mbak ya," seru Aurel sambil memberikan dua lembar uang, satunya lima ribu dan satunya lagi dua ribu.
"Oke," jawab Martha lagi sambil menerima dua lembar uang itu sambil tersenyum ceria di hadapan adik tingkat seprogram studinya itu.
Sebelum beranjak pergi pun Aurel masih sempatnya berpamitan dengan lambaian tangan kecil pada Martha, menunjukkan bahwa keduanya itu sudah sangat mengenal satu sama lain meski beda angkatan.
Di tengah perjalanan menuju mejanya, Aurel tidak sengaja bertabrakan dengan seorang laki-laki yang tengah membawa sebuah mangkuk mie ayam.
CEPYAR!
Pecahlah mangkuk itu, juga kuah beserta mie-nya berserakan di lantai. Baik Aurel maupun laki-laki itu juga sama terkejutnya, terlebih lagi Aurel yang mulai panik. Setiap orang di kantin pun melihat ke arah mereka. Syukurlah keadaan kantin sudah mulai sepi, hanya ada sekitar delapan atau sembilan orang yang masih bersantai di sana.
"Oh, sorry, sorry, aku nggak sengaja!" seru Aurel mulai membantu laki-laki itu membereskan pecahan kaca mangkuknya.
Hingga saat laki-laki itu melihat ke arah Aurel dan keduanya saling bertatapan mata, mereka berdua terdiam sejenak, seolah-olah ada energi lain yang mengusik kejadian mereka saat ini.
Oh tidak, Musa?! Batin Aurel terkejut. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Wajah Musa memang tampak santai namun entah kenapa ia merasa terintimidasi. Apalagi ia juga merasa bersalah karena telah membuat mie ayamnya hancur.
"Ya, nggak apa-apa kok," jawab Musa datar, seolah-olah ia tidak mempermasalahkannya meski sebenarnya ia ingin marah karena mie ayamnya sudah tidak layak makan.
Tak berapa lama saat Musa dan Aurel masih membereskan pecahan mangkuk, seorang pria penjaga kios mie ayam datang menghampiri mereka sambil membawa pel-pelan.
"Permisi!" seru pria itu hendak mengepel lantai yang kotor.
"Iya, mas," timpal Musa beranjak berdiri sambil masih membawa beberapa serpihan kaca yang hendak ia buang di tong sampah.
Aurel turut berdiri. Lagi-lagi ia tidak berhati-hati. Saat hendak berjalan, ia terpeleset karena keadaan lantai yang masih licin. Membuatnya tak sengaja jatuh ke dekapan Musa, tepat di hadapan wajahnya. Mata Aurel terbelalak tak berkedip saat ia menatap kedua mata Musa yang kini berjarak sangat dekat. Bahkan ia mampu merasakan hembusan udara dari kedua lubang hidung Musa. Ia menelan ludahnya sejenak lalu segera bergerak mundur dari laki-laki itu.
"Sekali lagi aku minta maaf," seru Aurel gugup. Ia berharap orang-orang yang kini masih berada di kantin tidak peduli dengan apa yang barusan terjadi antara dia dan Musa. Aurel menadahkan tangan kanannya setelah itu. "Biar ku buangkan,".
"Tidak perlu, nanti tanganmu terluka," timpal Musa dengan nada bicara yang dingin. Namun ia mengatakannya dengan santai.
"Mus, udah ku pesenkan mie ayam lagi!" seru Liam, terdengar keras dari arah bangku tempat ia duduk bersama Tom, hendak memanggil Musa. Suara Liam itu cukup mengganggu suasana manis antara Musa dan Aurel kali ini.
Musa menoleh sejenak ke arah Liam sambil mengangguk seraya mengatakan "Ya". Lalu ia melihat Aurel lagi sambil mengangguk dan tersenyum, menandakan salam pamit, ia harus pergi dulu. Aurel membalasnya dengan senyum, meski Musa beranjak ke lain arah meninggalkannya. Musa berjalan menghampiri tong sampah untuk membuang pecahan-pecahan mangkuk bekas mie ayamnya.
***