
Aurel hanya diam saat mendapati Musa tersenyum dengan sendirinya. Ia berusaha berpikiran positif tentang apa yang dipikirkan Musa. Ia tahu kalau Musa pasti tengah memikirkan rencana nonton film bersamanya.
"Oh ya, kamu suka genre film apa?" tanya Musa tiba-tiba, berhenti dari lamunannya, lalu kedua matanya menatap kedua mata Aurel.
"Aku suka fantasi, seperti Harry Potter atau Percy Jackson." jawab Aurel.
Musa mengangguk-angguk mengerti. "Oke, ku rasa kau akan suka dengan film yang akan ku tontonkan padamu besok,".
Aurel tersenyum.
Malam sudah terlalu larut untuk mereka berdua. Tepat pukul 12, Musa segera mengantar Aurel pulang ke asramanya. Kencan mereka hari ini memang cukup datar, mereka masih canggung untuk berbicara satu sama lain, mereka juga belum terlalu saling mengenal, apalagi ini adalah kencan pertama mereka.
***
"Dah," ucap Aurel tersenyum sejenak pada Musa sebelum ia memasuki pintu asramanya.
Musa membalas senyumannya, lalu ia segera mengendarai motornya pergi.
Baru saja memasuki kamar, tiga teman sekamar Aurel berdiri tegap sambil memasang muka serius, menagihnya sebuah pernyataan. "Ada apa ini?" tanya Aurel heran.
"Kenapa kau tidak pernah bilang pada kami?" sahut Shania.
"Aku tak menyangka kau menghabiskan waktu semalaman dengan lelaki. Apa kau berusaha meniru Shania?!" sahut Vera, sontak membuat Shania langsung menoleh padanya begitu ia menyebut namanya.
"Apa itu tadi Musa yang anak futsal keren itu? Kau ini benar-benar ...?!" seru Kimmy diikuti oleh gelengan kepalanya sendiri.
"Ya, aku pacaran dengannya," timpal Aurel sontak membuat ketiga temannya itu terkejut.
"APA?!!" seru tiga gadis itu bersamaan.
***
Di sisi lain, di rumahnya, Lyra yang masih merebahkan dirinya di atas ranjang, menantikan panggilannya pada Musa itu terjawab. Sayangnya, ia dibuat heran begitu Musa menolak panggilannya. "Loh kenapa?" gumamnya.
^^^Lyra^^^
^^^Sudah tiga hari^^^
^^^Kita bisa bicara lagi^^^
Tak lama setelah itu Lyra kembali dibuat heran mengetahui balasan Musa terhadapnya.
Musa
Jangan pernah hubungi aku lagi.
^^^Lyra^^^
^^^Ada apa denganmu?^^^
Dan pesan terakhir itu hanya bercentang biru (dibaca), tanpa ada balasan. Lyra tidak tahu lagi harus mengira-ngira apa yang terjadi. Jika Musa sibuk, Musa tidak mungkin menjawab pesannya seolah-olah persahabatan mereka benar-benar putus saat ini.
Lyra kini malas beraktivitas. Tubuhnya masih terlentang di atas kasur. Sementara pikirannya tidak berhenti memikirkan keadaan Musa. "Sebenarnya ada apa dengan anak itu?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
***
Lima hari telah berlalu. Pekan olahraga kampus telah berakhir. Setiap mahasiswa kembali memasuki hari-hari kuliah normal. Kali ini, program studi Pendidikan Bahasa Inggris Semester 6 memiliki kelas kolaborasi, yaitu praktisi mata kuliah TEFL yang akan dipandu oleh dosen tamu dari luar kampus. Kebetulan dosen tamu tersebut telah menanti kedatangan para mahasiswa di dalam Smart Classroom, ia tengah menggerakkan mouse dan mengamati sesuatu pada layar laptopnya. Kelas masih kosong, belum ada yang datang.
"Selamat pagi!" seru Lyra saat tiba di kelas. Ia terkejut saat mendapati suasana ruang kelas yang terasa hening, terlebih lagi ia melihat wajah asing di meja dosen tengah tersenyum ke arahnya.
Lyra berprisangka kalau pria asing itu adalah dosen tamu yang dimaksud oleh Mrs. Farrah sebelumnya, yaitu Mr. Handrick yang bekerja di sebuah perusahaan desain grafis ternama di kota Metro. Lyra segera duduk ke kursi nomor tiga bagian tengah, sendirian. Ia pun mulai membuka WhatsApp untuk mengirim pesan pada teman-teman di grup kelas agar cepat berangkat.
^^^Lyra^^^
^^^Guys, cepat^^^
^^^Dosennya sudah ada^^^
Selang beberapa jam, kelas menjadi ramai saat para mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris Semester 6 itu telah hadir di dalam ruang kelas, hanya sekitar satu atau dua orang saja yang belum datang ataupun tidak hadir.
Musa adalah salah satu yang belum datang. Satunya lagi adalah Rosie, yang mendapat dipensasi kuliah karena ia tengah mengikuti lomba Story-Telling di Pekan Seni Kampus yang diadakan di Universitas La Belleza, Metro.
Kelas praktisi ini diisi dengan kegiatan mendesain modul pembelajaran pada aplikasi Canva menggunakan template Book Cover yang jumlah halamannya diduplikasi. Lyra membuat desainnya sesuka hati, dengan menempel-nempelkan animasi kartun lucu yang ia dapat dari Google, alih-alih elemen yang tersedia pada Canva itu sendiri.
Tak lama saat Mr. Handrick mulai menjelaskan tutorial membuat FlipBook pada situs Heyzine, di mana setiap mahasiswa di dalam kelas menyimaknya dengan saksama, Musa baru memasuki ruang kelas dalam keadaan rambut masih basah habis keramas.
"Maaf pak, saya telat!" ucap Musa, innocent.
Musa lalu bergegas untuk duduk di sebuah bangku paling pojok belakang, berkumpul dengan beberapa mahasiswa laki-laki lainnya: Liam, Tom, Loui, Eric dan Oliv.
Lyra memperhatikan Musa sejak berjalan dari ambang pintu hingga duduk di bangku. Berharap laki-laki itu juga melihat ke arahnya, namun tidak sama sekali.
"Habis dari mana aja, bro?" tanya Liam.
"Kamu sih nggak jemput aku, kan aku bangun kesiangan," timpal Musa.
"Ya maaf, kan nggak tahu juga aku nya kalau kamu minta barengan," timpal Liam tersenyum ramah seperti biasa.
Eric tak sengaja melihat ke arah Lyra yang tampak melihat ke arah bangkunya, ia sudah tahu kalau Lyra kini tengah memperhatikan Musa.
"Kamu mau satu kelompok sama Lyra ya?" tanya Eric, menoleh ke arah Musa yang duduk tepat di sebelahnya.
Musa mengarahkan pandangannya pada Lyra sejenak, lalu menghela napas dan mengalihkan pandangannya ke lain arah.
I knew it. Batin Lyra sudah mengerti bahwa Musa memang tidak ingin bicara dengannya, bahkan melihatnya saja tidak sudi.
Lyra pun memutuskan untuk kembali menyimak penjelasan Mr. Handrick.
"Kamu sekelompok sama siapa?" tanya Musa pada Eric.
"Nggak tahu, belum milih," timpal Eric.
"Sama aku ya," ucap Musa.
"Oke," timpal Eric apa adanya. Ia tidak menyangka kalau Musa ingin bekerja kelompok dengannya.
Saat jam kuliah telah selesai, para mahasiswa pun membubarkan diri. Sembari menunggu konfirmasi jam masuk kelas oleh dosen mata kuliah yang berikutnya, banyak dari mereka yang pergi ke kantin, tapi ada juga yang keluar kampus untuk mencari jajanan bermerk seperti Dunkin, Gacoan, Pinkberry dan lain-lain.
"Hai, Lyr!" sapa Cindy.
"Hai," sapa balik Lyra.
"Kamu kok nggak ikut lomba sih, pinter loh padahal," seru Cindy.
"Nggak ah aku biasa aja," timpal Lyra.
"Kamu pinter!" seru Cindy lagi. "Ngomong-ngomong udah dapat kelompok belum?" tanyanya.
"Belum," jawab Lyra.
"Sama aku ya, sekalian ajarin, aku masih nggak paham sama yang dijelaskan pak tadi," ucap Cindy tersenyum ramah.
"Oke. Kalau mau kerja kelompok, langsung ke rumahku aja," ucap Lyra.
Saat ini Lyra dan Cindy tengah berjalan berdua menyusuri lorong, menuju deretan almari loker tempat mereka menyimpan peralatan kuliah mereka.
"Kamu habis ini ngapain?" tanya Cindy lagi. Kini ia dan Lyra telah tiba di depan loker. Mereka sama-sama membuka loker masing-masing dan memasukkan beberapa buku dari dalam tas mereka.
"Nunggu di depan lab sampai Pak Witono datang," jawab Lyra.
"Aku mau ke Gacoan. Mau ikut?" tawar Cindy ramah.
"Tidak, aku sedang bokek," jawab Lyra yang telah meletakkan buku-bukunya di dalam loker.
"Ayo ikut saja, aku yang traktir. Lagipula Pak Witono sering terlambat!" seru Cindy yang juga telah meletakkan buku-bukunya di dalam loker dan mengunci lokernya.
"Baiklah, aku sudah lama tidak makan mie Gacoan," timpal Lyra setuju.
Di tengah jalan menuju parkir, Lyra dan Cindy bersimpangan dengan Musa yang tengah berjalan bersama teman-teman segengnya: Bayu, Satyo, Paulo, Arjun dan Gio. Mereka berjalan ke arah yang berlawanan; Lyra dan Cindy ke arah Utara menuju pintu keluar gedung, sedangkan Musa bersama teman-teman segengnya berjalan ke arah Selatan hendak menuju kantin. Hanya saja, baik Lyra maupun Musa saling tidak menyapa, seolah-olah tidak melihat satu sama lain meski sebenarnya mereka telah menyadarinya.
***
Di sebuah studio Gym, para lelaki berotot dan berperut roti sobek tengah melakukan berbagai aktivitas berat dengan memainkan peralatan-peralatan fitness yang tersedia di sana. Studio ini juga menyediakan lantai khusus untuk para lelaki yang hendak berlatih ataupun bertanding tinju.
Siang ini Musa tengah berlatih tinju dengan Bayu di sana. Baik Musa maupun Bayu memang sangat pandai berkelahi. Mereka saling memukul, menendang, melompat, menangkis serangan dan bergerak menghindar sesuai teknik yang diajarkan dalam tinju. Meski di saat-saat seperti ini mereka serius bertarung untuk menentukan siapa yang lebih kuat, setelah pertandingan satu lawan satu itu selesai mereka saling tertawa dan menggoda satu sama lain.
Musa mengakui kekalahannya dari Bayu yang memang sudah berlatih kick-boxing sejak umur sepuluh tahun, sedangkan Musa hanya memiliki modal pencak silat, tertarik dengan olahraga tinju itu pun baru saat kuliah. Musa terlentang di atas matras di dalam kotak sambil menghela napas legah dan tersenyum senang.
Bayu menghabiskan dua botol air minum sekaligus dengan serakah untuk mengatasi dahaganya. Peluh keringat di sekujur tubuhnya itu benar-benar membuatnya tampak sexy. Lalu Bayu kembali memasuki kotak arena dan duduk di sebelah Musa sambil meluruskan kaki dan melakukan peregangan.
"Kau keren, Bay!" puji Musa, menepuk punggung Bayu.
Bayu masih terengah-engah, meski ia sangat puas karena telah memenangkan pertandingan satu lawan satu dengan Musa.
"Percuma, sampai sekarang aku jomblo," timpal Bayu turut merebahkan tubuhnya di sebelah Musa.
Musa tersenyum. "Cewek itu nggak selalu suka cowok atletik kok Bay, mereka sukanya cowok yang pengertian. Kalau kamu pengin punya pacar langgeng, pastikan kamu selalu ngerti dia, jadi sosok yang istimewa baginya." ujarnya.
"Bener juga ya kata-katamu, Mus. Selama ini aku terlalu egois. Cewek-cewek yang pernah aku tembak pun mau pacaran sama aku cuma gara-gara status, mereka nggak bener-bener pengin bergaul sama aku sih kenyataannya, cuma manfaatin aku aja," timpal Bayu mengiyakan.
"Sabar aja, Bay, jodoh nggak ke mana kok, jodoh pasti bertemu, Tuhan sudah menulis takdir kita sejak kita belum dilahirkan di dunia ini," ujar Musa lagi.
Bayu tersenyum, langsung menoleh ke arah Musa. "Sumpah, Mus, nasibmu enak banget ya, punya pacar religius yang selalu ngasih kamu masukkan dan ajaran baik. Jadi pengin punya pacar kayak Lyra deh gini nih." ucapnya.
Musa sontak mengerutkan dahi. "Sudah aku bilang berapa kali kalau Lyra itu bukan pacarku,".
"Halah, Mus, jujur aja deh, lagian kelihatan kok ka ..." timpal Bayu terpotong.
"Pacarku Aurel, aku baru nembak dia kemarin," sahut Musa segera bangun dari rebahannya dan beranjak menuju tasnya untuk mengambil air minum.
"Aurel yang ikut club pemandu sorak itu?" tanya Bayu terkejut dan segera bangun dari rebahannya, memastikan.
Musa meneguk botol air minumnya, lalu menoleh ke arah Bayu sambil mengangguk, mengiyakan.
"Berarti kamu udah putus dari Lyra?" tanya Bayu lagi.
Musa menghela napas kesal. "Jangan pernah sebut nama itu lagi!" serunya tegas. Ia dengan cepat mengemasi barang-barangnya. "Lagipula aku sama Lyra itu nggak pernah pacaran, kami hanya sahabat!" serunya lagi sebelum beranjak pergi dari ruangan tanding tinju itu, meninggalkan Bayu duduk sendirian di dalam kotak arena.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Bayu entah bertanya pada siapa. Ia sempat memperhatikan punggung Musa bergerak menjauh sampai akhirnya ia kembali memutuskan untuk rebahan lagi, menikmati matras yang terasa halus.
***
Hari demi hari telah berlalu. Musa dan Lyra menjalani hari-hari mereka seperti biasa, namun mereka berdua tidak saling berkomunikasi sama sekali. Mereka terasa asing. Kehidupan mereka sangat kontras seperti air dan minyak.
Musa bersyukur ia sudah tidak bergantung lagi pada Lyra, ia merasa lebih bebas karena dapat menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman segengnya, seperti clubbing, nge-gym, sampai mabar game seharian penuh di PlayStation. Musa mulai mengabaikan setiap tugas kuliahnya yang menumpuk, ia juga tidak pernah lagi membersihkan kamarnya hingga tampak seperti kapal pecah.
Bahkan saat ESA mengadakan rapat, Musa yang harusnya selalu hadir karena juga merupakan anggota BEM justru tidak pernah mengikuti rapat, karena Musa tahu bahwa Lyra pasti datang dan dia tidak ingin berbicara dengannya. Padahal di ESA, Musa adalah bagian HRD (Human Resource Development) yang bertanggung jawab terhadap agenda Olimpiade Bahasa Inggris untuk tingkat SMA/SMK.
ESA hendak mengadakan olimpiade, H-480 mereka sudah bersiap-siap merencanakan sponsorship dan beberapa hal yang dibutuhkan dalam proyek mereka itu. Rapat bahkan diadakan setiap dua minggu sekali demi kelancaran acara meski agenda rapat itu tumpang tindih dengan program kerja ESA yang lain, yaitu Bakti Sosial di Kampung Inggris Komodo, yang merupakan program kerja dari bagian ADVO.
Meski sudah bersikap dingin, Lyra tampak masih peduli dengan Musa. Di kelas, Lyra berusaha memastikan keadaan Musa, entah kenapa ia masih mengkhawatirkannya. Saat rapat ESA pun, Lyra diam-diam masih mencari bayangan Musa, berharap ia menghadiri rapat.
Alunan lagu "On Top of the World", lagu dari film Barbie Princess Charm School, yang dilantunkan oleh Rachel Bearer itu kini menemani Lyra yang tengah mencuci pakaian di belakang rumahnya. Ia mengucek pakaian satu per satu dengan lemas tak beraya tinggi seperti biasa. Ia tetap memikirkan Musa. Ia masih penasaran dengan apa yang membuat Musa selalu menghindarinya bahkan memutus tali persahabatan dengannya.
"Kok aku kayak tidak ikhlas ya? Musa kan juga manusia, dia punya hak asasi. Dia pasti sudah move on. Baguslah kalau gitu!" ucap Lyra bicara sendiri sambil menggosok sebuah kemeja berwarna putih dengan sebuah sikat.
SROK! SROK! SROK!
"Masa kok Musa sesensitif itu? Baru aku marah terus buat perjanjian ini, dia langsung putus persahabatan?!" ungkapnya lagi, kini mengucek pakaian yang berikutnya.
"Gapapa lah, Musa kan punya kehidupan sendiri. Lagian dia bukan siapa-siapaku, ngapain aku mengkhawatirkannya?!" ucapnya lagi masih mengobrol dengan pakaian-pakaian basah yang terendam air bersabun deterjen itu, seolah-olah kini para pakaiannya itu tengah dicurhati olehnya.
Tak berapa lama saat Lyra telah mengucek semua pakaiannya, saat ia hendak membilas pakaian-pakaian itu dengan air bersih, terdengar suara sirene alat pengecek daya listrik rumahnya di teras depan rumah.
"Ya Tuhan, aku lupa belum bayar listrik!" serunya lagi menghela napas kesal.
Lyra segera mencuci tangannya, meninggalkan cuciannya sebentar untuk pergi keluar menuju gerai retail terdekat di mana ia hendak membayar tagihan listrik menggunakan ATM yang tersedia di tempat itu.
Kebetulan gerai tersebut bersebalahan dengan warung seblak. Saat menunggu pembayarannya diurus oleh counter, Lyra melihat ke sekitar, sekali-kali mencuci matanya dengan pemandangan kota Para Den yang bersih dan ramah lingkungan. Namun matanya tertuju dengan serius ke arah dua pelanggan, laki-laki dan perempuan, yang tengah menunggu pesanan seblak bungkus mereka di kasir depan warung. Lyra sontak mengerutkan dahi karena ia sangat mengenal salah satu dari mereka.
"Musa?!" gumamnya pelan, menanyakan kebenaran pada dirinya sendiri yang melihatnya jelas dengan matanya.
***