Blue Blouse

Blue Blouse
EIGHT



Musa mengendarai motor Ducati-nya, menyusuri jalanan lalu lintas. Sebelum pulang, ia ingin menyempatkan waktunya untuk membeli roti canai di sebuah kios kecil pinggir jalan. Bukan karena lapar, tapi karena roti canai adalah jajan favoritnya.


"Mas, beli empat!" seru Musa menengok sebentar ke jendela kios lalu ia duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana.


"Oke," timpal si penjual sambil memberikan isyarat tangan jari telunjuk dan jempol yang melengkung bertabrakan dan tiga jari lainnya masih berdiri. Segera setelah itu ia mulai menuangkan adonan tepung ke atas panci berminyak tipis dengan kompor yang sudah lama ia nyalakan.


Baru saja duduk, ia mendapatkan sebuah chat berupa pesan suara dari ibunya. Ia pun memutarnya, terdengar suara rekaman ibunya yang menuntut.


"Musa, nek kamu belum pulang, mama usir kamu dari rumah ini. Nah nyari uang sendiri sana, mama nggak mau ngurusin kamu lagi!"


Hmm, ngomong ngusir mulu dari dulu tapi cuma omong doang! batin Musa, berbicara pada diri sendiri.


"Iya, Ma. Ini Musa masih nunggu roti canai, habis ini pulang." Musa turut merekam suaranya dengan fitur voice note lalu mengirimnya seperti hanya mengirim chat biasa.


Saat keempat roti canai pesanan Musa sudah matang dan terbungkus rapi di dalam bungkus kertas minyak yang diikat oleh karet, sang penjual memasukkan semua bungkusnya ke dalam plastik hitam lalu memberikannya pada Musa.


"Ini ya pak," ucap Musa sambil memberikan selembar uang berwarna biru tua pada si penjual dan menerima kantong plastik berisi empat bungkus roti canai.


Si penjual tak mengatakan apapun saat menerima uang itu. Ia dengan cepat mengambilkan selembar uang berwarna ungu violet dari sakunya lalu memberikannya pada Musa. "Ini ya, Mas. Terima kasih," ucapnya.


Setelah menerima uang kembalian, Musa segera menaiki motornya lalu melaju secepat kilat menyusuri jalanan lalu lintas yang mulai dilalui oleh banyak truk-truk besar. Tak ingin memperlambat waktu karena takut mamanya semakin mengomel saat nanti ia sampai di rumah, Musa pun sengaja membelokkan motornya melalui jalanan sepi yang merupakan jalan pintas menuju kompleks perumahan di mana rumahnya berada.


***


"Tolong ...! Tolong ...!"


Suara tangisan yang lirih terdengar, beriringan dengan suara dua orang pria.


Kancing baju Aurel telah terbuka seluruhnya namun belum lepas dari tubuhnya, memperlihatkan bra mungil berwarna hitam di kedua dadanya. Aurel berjuang keras untuk melarikan diri, sayangnya ia tidak cukup kuat untuk melawan dua pria yang kini hendak melecehkannya itu.


Tak lagi di jalanan, dua pria itu telah membawa Aurel ke tepian jalan yang miskin cahaya. Syukurlah tempat itu bersih, tidak terdapat sampah. Aurel terus menangis meminta tolong. Ingin sekali Aurel menggigit tangan salah satu pria yang kini menahannya, namun ia jijik, ia tidak ingin mengontaminasi mulutnya. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya menangis.


Sementara itu, Musa yang melewati jalanan sepi dibuat heran saat melihat sebuah jaket berbahan jeans tergeletak di atas jalan. Ia pun menghentikan motornya, penasaran.


"Loh, di tempat kayak gini kok masih sempet-sempetnya ada orang buang baju sih?!" ucapnya saat turun dari motor dan segera menghampiri jaket itu.


"Atau pemiliknya lagi kehilangan jaket mungkin ya?" gumamnya mengira-ngira.


Musa pun mulai memeriksa saku jaket itu, di mana ia berhasil menemukan dompet. Ia terkejut saat membuka isi dompetnya, terdapat KTP Aurel, temannya. "Aurel?!" ucapnya sambil mengerutkan dahi. Tak lama setelah itu ia mendengar suara tangisan perempuan dari arah semak-semak di pinggiran jalan. Firasatnya mulai buruk, ia berprisangka kalau suara tangisan itu adalah suara Aurel. Segera ia berlari menuju arah semak-semak dan mendapati Aurel dilecehkan oleh dua orang laki-laki.


Tanpa pikir panjang, Musa segera menghajar dua pria itu hingga babak belur. Meski tubuhnya kalah besar dengan dua pria itu, namun kemampuan kick boxing yang ia miliki mengungguli keduanya. Ia menghajar mereka habis-habisan hingga lemah tak berdaya.


Saat dua pria berbaju hitam itu tengah berkelahi dengan Musa, Aurel memanfaatkan kesempatan ini untuk cepat-cepat mengancing pakaiannya yang semula terbuka. Ia sangat malu, berprisangka kalau Musa sempat melihat pakaian dalamnya. Ia tahu kalau Musa itu laki-laki baik, ia tidak ingin auratnya terlihat oleh laki-laki yang masih ia sukai itu.


Kalah telak, salah seorang pria berbaju hitam ngos-ngosan di atas tanah, tak mampu mengangkat tubuhnya lagi untuk berkelahi.


"NGGAK USAH NGGANGGU CEWEK SAYA!" seru Musa tegas pada dua pria itu, lalu ia menarik kereah baju salah seorang dari mereka dan menonjok pipinya dengan kuat sampai gigi serta gusinya berdarah, sontak pria itu kesakitan.


Kalah telak. Dua pria itu menyerah. Mereka berdua yang telah babak belur juga penuh luka itu segera pergi meninggalkan tempat.


Musa terengah-engah. Ia sebenarnya merasa bersalah saat menghajar dua pria berbaju hitam itu, namun ia melakukannya demi menjaga kehormatan Aurel yang merupakan gadis baik-baik. Dengan peluh keringat yang kini menghiasi tubuhnya hingga membuat pakaiannya basah. Ia legah saat telah memenangkan perkelahian ini.


Aurel takjub. Ia tidak menyangka kalau Musa yang datang menyelamatkannya.


"Kamu nggak kenapa-napa?" tanya Musa, berbalik badan, mengecek keadaan Aurel.


Aurel menggelengkan kepala. Ia juga tidak tahu harus mengungkapkan ekspresi apa. Dirinya benar-benar kaku. "Terima kasih ya," ucapnya menatap kedua bola mata indah Musa, gugup.


"Sama-sama," timpal Musa tersenyum.


Musa pun mengantar Aurel pulang ke asramanya. Menyusuri jalanan lalu lintas yang ramai oleh kendaraan dan lampu-lampu bangunan pinggir jalan. Jantung Aurel berdegub kencang sepanjang perjalanan, ia tak habis pikir kalau seorang laki-laki yang ia sukai sejak kecil itu kini memboncengnya dengan motornya sementara dirinya harus melingkarkan kedua tangannya pada perut laki-laki itu agar tidak jatuh. Bertemankan semilir angin malam yang tidak terlalu dingin, perjalanan menuju asrama Aurel itu seolah-olah direstui oleh Tuhan. Suasananya begitu sejuk, juga alur perjalanan yang lancar sampai tujuan tanpa ada kendala apapun.


***


Seorang gadis meletakkan sebuah jam alarm berbentuk persegi panjang menyerupai bus mainan anak-anak berwarna kuning tanpa roda di atas lantai, mengisi sisi yang kosong dari keenam jam alarm lainnya dengan beraneka ragam bentuk. Total tujuh jam alarm, semuanya menunjukkan pukul sebelas menit sembilan.


"Baik, sudah ada tujuh jam, kita tidak akan telat besok!" seru Kimmy, gadis yang menata ketujuh jam alarm itu. Ia kini duduk di atas lantai.


Lampu kamar masih menyala, asrama ini tidak begitu ketat. Para mahasiswi yang tinggal di sana masih hidup bebas laiknya tinggal di kos-kosan. Yeah, mungkin karena peraturan asrama hanya berlaku bagi pelajar jenjang sekolah menengah, jadi banyak mahasiswi perguruan tinggi meremehkan peraturan semau mereka.


"Entahlah. Kita harus siap-siap squat jump lagi ku rasa. Jam alarm belum tentu bisa membangunkan kita pagi-pagi, ..." timpal Shania, gadis lainnya yang juga berada di kamar yang sama. Ia kini masih membaca novel yang baru ia pinjam dari perpustakaan, Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela, sebuah novel bersampul putih dengan gambar kartun anak perempuan.


"DEFEAT!"


Terdengar suara dari ponsel Vera yang telah selesai memainkan permainan Mobile Legends: Bang Bang. "Ckkk!" celetuknya kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Tak kuasa menahan kekesalannya, ia melampiaskan emosinya itu dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk yang sedari tadi ia duduki. Sesekali ia memandang langit-langit kamar yang dihiasi oleh sarang laba-laba, ia membayangkan kalau suatu hari nanti nama akun Moonton-nya bisa bertengger di peringkat pertama global.


Hari ini, Vera telah kecanduan bermain game sejak pukul 6 sore, ia bermain di mode rank dengan serius, namun ia justru mengalami lose streak.


"Main solo?" tanya Kimmy.


"Hmmm, kalian ini ... Sudah tahu besok pagi kita tampil di acara pembukaan pekan olahraga kampus, kok masih pada melek semua?! Kita ini harus berangkat pagi-pagi sekali besok!" seru Kimmy.


"Nah, kamu sendiri ngapain masih bangun? Kan bisa tuh kamu tidur duluan terus besok pagi kamu yang bangunin kami," timpal Vera. Kali ini ia memutuskan untuk tidak memasuki portal game lagi. Ia lelah.


"By the way, Aurel kok belum pulang ya sampai sekarang?" sahut Shania. Ia langsung menyadari kalau Aurel adalah satu-satunya anggota kamar yang tidak terlihat hidungnya malam ini.


"Itulah sebabnya aku masih bangun, aku menunggu Aurel pulang." timpal Kimmy. Sebagai leader di kamar, ia memiliki tanggung jawab penuh atas ketertiban di kamar serta kerukunan antar sesama anggota kamar.


Kimmy, Shania dan Vera pun saling melirik satu sama lain.


"Coba aku tanyakan kamar sebelah, siapa tahu dia main di sana!" seru Shania meletakkan novelnya, lalu ia bergegas menghampiri pintu, hendak mengecek keberadaan Aurel di kamar sebelah yang juga dihuni oleh sesama mahasiswi kampus Para Den.


Baru saja Shania hendak meraih gagang pintu, pintu terbuka lebih dulu. Aurel muncul di hadapannya dengan wajah yang tampak bahagia. "Hai, Shania, mau ke kamar mandi ya?" tanya Aurel, seolah-olah ia baru saja mendapatkan sesuatu yang paling ia sukai, sementara ia tidak tahu kalau teman-teman sekamarnya baru saja mengkhawatirkan keadaannya.


"Enggak, nggak jadi," timpal Shania heran. Ia pun kembali ke kasur tempat ia sebelumnya membaca novel dengan bermalas-malasan.


"Kok kayak seneng gitu? Habis ada apa?" tanya Vera turut heran. Ia kini meletakkan ponselnya di atas meja belajar, sudah tidak memiliki hasrat untuk push rank lagi. Lalu ia kembali ke kasurnya dan tengkurap di atasnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Aurel.


"Sebenarnya aku sedang sedih karena gitar kesayanganku hilang," timpal Aurel. Ia tengah mengambili sebuah setelan baju tidur yang akan dikenakannya malam ini di almarinya. "Tapi sesuatu berhasil mengobati kesedihan itu," lanjutnya saat telah mendapatkan setelan baju tidur pilihannya, lalu ia kembali menutup pintu almarinya.


Kimmy, Shania dan Vera mengerutkan dahi secara bersamaan selama beberapa detik sembari terus memperhatikan tingkah aneh Aurel yang kini pergi memasuki ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Lalu mereka bertiga saling melirik satu sama lain.


Tak berapa lama saat Aurel telah mengganti pakaiannya, ia beranjak menuju tempat tidurnya dan mulai mengolesi wajahnya dengan milk cleanser lalu memijat setiap sisi wajahnya perlahan sebelum ia benar-benar membersihkan wajahnya dengan kapas. Aurel mendapati mukanya sangat kotor setelah melihat kapas yang baru saja digunakannya itu berhasil mengambil banyak noda dari mukanya. Sudah menjadi rutinitas bagi Aurel untuk membersihkan wajahnya sebelum tidur.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Kimmy memastikan. Ia menghampiri Aurel dengan duduk di sebelahnya.


Sementara itu Vera dan Shania masih berada di tempat tidur masing-masing, cuma mereka belum tidur, masih memperhatikan Aurel yang tampak aneh malam ini.


"Memangnya aku kenapa?" tanya Aurel heran. Ia berhenti membersihkan wajahnya. Kini ia menuangkan sedikit isi toner pada kapas lalu kembali mengusapi wajahnya dengan kapas yang telah basah itu, meratakannya ke setiap sisi.


"Ayolah, Aurel, jujurlah. Kau tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari kami!" seru Kimmy.


"Memangnya kamu habis dari mana kok malam begini baru pulang?" sahut Shania.


Setelah mendapati pertanyaan Shania, mata Aurel spontan melirik ke arah tujuh jam alarm yang tertata melingkar di atas lantai. Setiap jarum jam menunjuk ke arah satu dengan menit mengarah ke angka tujuh. Mata Aurel terbelalak seketika.


"Oh, tidak. Kapten akan menghukum kita besok!" seru Aurel.


"Bukan besok, tapi nanti!" sahut Vera.


***


KRING!!!!!!!


Setiap alarm berdering, namun tak ada satu pun dari empat mahasiswi yang semalaman bergadang itu bangun dari tidur mereka. Shania yang kebetulan menggelinding dari tempat tidurnya itu tersentak bangun dan menyadari kalau dering ketujuh alarm kini hampir membuat telinganya pecah. Ia segera bangun dan mematikan semua alarm satu per satu.


Seberkas sinar matahari turut tersorot memasuki kamar melalui sebagian kecil dari kaca jendela yang tidak tertutup sepenuhnya oleh tirai, hari telah pagi! Shania terkejut saat mendapati jam telah lewat. Pagi ini pukul 07.12 am, yang mana harusnya ia dan teman-temannya sudah berada di kampus pukul 07.00 am.


***


Lautan terasa sejuk, segar dan nikmat dipandang mata. Cahaya matahari yang perlahan tenggelam dengan pemandangan langit yang mulai memerah itu adalah kesempatan luar biasa bagi siapa saja yang melihatnya secara langsung di tepi pantai sore ini. Apa? Sore? Kenapa waktu cepat sekali berjalan?


Musa kini berdiri sendirian di tepi pantai. Tanpa alas kaki, ia mampu merasakan betapa nyamannya berdiri menapaki pasir putih yang terasa lembut di telapak kakinya. Semilir angin sore benar-benar membuatnya tak berhenti takjub akan kuasa Tuhan.


Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap, bagaikan lampu yang tiba-tiba padam tanpa ada bantuan cahaya lain dari alam. Seseorang menutup matanya dengan kedua tangan, namun ia bisa menebak kalau itu Lyra, sahabatnya.


"Lyr, akhirnya kau datang juga," ucap Musa begitu Lyra melepaskan tangannya. Ia lalu melirik kedua mata cantik gadis itu dan mencium kedua bibirnya dengan tulus. Mereka seolah-olah sudah sering berciuman. Pemandangan indah sore ini lagaknya sudah biasa menjadi latar kencan mereka.


Hari tiba-tiba menjadi malam. Musa dan Lyra kini telah berada di kamar mereka, di atas tempat tidur yang sama. Keduanya saling bercanda tawa, melihat-lihat setiap gambar yang tampil pada majalah yang kini dibaca oleh mereka. Lyra masih mengoceh, memperjelas detail segala foto majalah yang ia coba beritahu Musa. Sementara Musa kini lebih tertarik dengan rambutnya yang harum seperti stroberi. Apakah Lyra menggunakan sampo anak-anak setiap kali mandi? Entahlah, Musa tidak peduli. Musa hanya ingin membelai lembut rambut kekasihnya itu.


Entah kapan niat itu muncul dalam benak mereka. Musa dan Lyra pada akhirnya bercinta. Sepertinya bacaan majalah telah selesai, kini majalah itu terbuang di bawah ranjang tidur mereka. Sementara malam menjadi panas. Keringat membasahi tubuh keduanya yang kini tak terbalut sehelai kain pun. Mereka bercumbu layaknya sepasang kekasih yang telah saling berbagi privasi.


Tak lama saat Musa hendak mencapai klimaksnya, ...


"Heh, Musa!" panggil Liam yang tiba-tiba muncul di atas Musa begitu Musa membuka kedua matanya.


Musa masih berada di atas ranjang tidurnya. Ia baru saja bangun tidur. Ia sangat terkejut begitu menyadari kalau langit telah tampak terang benderang, tampak dari jendela kamarnya yang jarang tertutup tirai. Ia sempat syok, namun bergegas menuju kamar mandi.


"Molor banget nih anak!" gumam Liam sambil menggeleng-gelengkan kepala, prihatin. "Ada lomba futsal, masih aja bangun kesiangan, mentang-mentang futsalnya masih nanti jam sembilan," ucapnya lagi, bicara sendirian.


Seperti biasa, Liam akan berkunjung ke rumah Musa untuk berangkat ke kampus bersama, entah itu untuk kuliah ataupun futsal. Kebetulan Liam dan Musa sama-sama tergabung di tim futsal kampus yang mana hari ini terdapat kompetisi futsal antar mahasiswa pada pekan olahraga kampus.


Syukurlah Liam datang tepat waktu pagi ini. Musa bisa saja kehilangan kesempatan terbesarnya bila ia meninggalkan pekan olahraga hanya dengan alasan bangun kesiangan. Itu pun mandinya Musa cukup lama, entah self-treatment seperti apa yang ia praktekan, tapi ia menyetarai durasi mandi kaum perempuan.


***