Blue Blouse

Blue Blouse
FIVE



..."Tapi hati-hati, Mus, Friend Zone itu lama-lama bakal jadi cinta. Suatu saat nanti kamu pasti ada rasa sama Lyra!"...


Ucapan Gio itu sukses menghantui kepala Musa di sepanjang perjalanan menuju kota Metro. Lalu lalang kendaraan cukup padat. Jalan raya terasa penuh. Langit malam yang mulai menghitam itu kini diterangi oleh gemerlap lampu yang berjejeran di jalanan, juga sorot lampu tiap kendaraan yang saling beradu.


Hujan deras mengguyur daratan beraspal yang kini dilanda banjir, membuat banyak mobil saling semprot menyemprot air setiap kali menggerakkan roda. Derita Musa yang tidak membawa jas hujan, ia rela basah kuyup bersama motor dan helm-nya yang kini berkaca buram akibat air yang berembun di sana. Ia hampir kesulitan melihat jalanan.


Namun tak setiap jalan dilanda hujan. Saat Musa melewati jalan tol, hanya rintik gerimis yang ia dapatkan. Meski begitu, tubuhnya cukup menggigil karena menahan dinginnya angin malam yang menyayat tubuhnya. Apalagi jaketnya telah basah.


Akibat hujan, Musa tidak langsung pergi ke Mall, ia memutuskan untuk mencari toko baju kecil apapun yang bisa ia temukan di pinggir jalan. Bagaimanapun ia harus mengganti pakaiannya. Tampaklah toko pakaian dengan label "L.O.V.E." yang menampakkan lima buah manekin dengan balutan gaun klasik tahun 70-an. Namun diantara manekin-manekin perempuan itu, Musa mendapati ratusan lipatan kaos yang terletak di etalase, ia berprisangka kuat kalau semuanya adalah pakaian casual.


"Selamat datang di toko L.O.V.E., kami menyediakan segala jenis pakaian klasik dengan harga terjangkau," seru seorang karyawan toko yang tengah berkeliling ruangan, menjaga kerapian isi toko. Ia adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Musa di sana.


Musa tak menjawab. Ia melihat sekilas ke arah karyawan perempuan yang tersenyum padanya dengan ramah itu lalu matanya beralih ke etalase yang memuat banyak baju. Tanpa pikir panjang, ia membeli dua kaos casual yang cocok untuk ia pakai sehari-hari. Seperti apa kata karyawan barusan, baju-baju di toko tersebut memiliki harga yang cukup murah dan kainnya juga terasa nyaman dikenakan. Musa sendiri langsung mengenakan salah satu kaos yang baru ia beli, kebetulan kaos itu memiliki gambar sablon yang ia sukai, lambang band Metallica. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kaos itu di sini.


"Sudah, mas?" tanya karyawan lainnya yang menjaga meja kasir, ia mendapati Musa telah mengganti pakaiannya dengan baju yang baru saja ia pilih di toko itu.


Toko ini aneh, namanya "L.O.V.E." tapi punya banyak baju metal, ada baju Avenge Sevenfold lagi?! Hmmm... Batin Musa sambil melirik ke sisi sudut ruangan. Lalu ia melihat ke arah empat orang wanita berseragam karyawan toko yang sedari tadi menungguinya untuk melakukan transaksi dengan senyuman ramah namun sebenarnya tampak aneh, karena senyuman mereka tampak dipaksakan.


Musa menghela napas sejenak. "Di sini ada jas hujan nggak, mbak?" tanyanya, barangkali setelah ia keluar toko bakal kehujanan lagi.


"Maaf, kami tidak menyediakan jas hujan, kami hanya menjual baju klasik," timpal salah seorang karyawan, masih setia mengembangkan senyuman anehnya dengan gigi rata.


"Oh, ya udah kalau gitu, ini uangnya," ucap Musa sambil memberikan dua lembar uang warna merah pada karyawan tersebut, membayar harga dua kaos yang dibelinya. Kaos berlambang Megadeth satu dan kaos bertuliskan kanji satu.


"Bentar ya, mas," timpal karyawan yang bertugas mengetik nota di komputer.


Musa mengangguk ramah. Ia pun menunggu dengan tenang uang kembaliannya serta nota pembelian. Tangannya kini telah membawa sebuah tas plastik berisi kaos yang tidak sedang ia pakai.


Masih memperhatikan suasana di dalam toko, bola mata Musa entah kenapa tertarik memperhatikan sebuah manekin perempuan yang mengenakan sebuah blus biru sederhana. Ia terus memandangi manekin itu seolah-olah memiliki aura tersendiri.


Seorang karyawan yang sedari tadi memperhatikan bahasa tubuh Musa pun memulai aksi. Ia berjalan mendekati Musa dengan percaya diri. "Jika anda mau membelinya, silahkan, itu adalah blus paling mahal di toko ini, harganya hanya delapan ratus lima puluh ribu," ucapnya.


Apa? Cuma blus doang harganya semahal itu? Batin Musa menanggapi ucapan karyawan tersebut.


"Nggak, saya tidak beli," timpal Musa entah kenapa merasa tegang saat mengatakannya.


"Ini kembalian dan notanya, terima kasih telah mampir di toko kami," ucap karyawan lain sambil memberikan Musa uang kembalian dan nota.


"Blus itu adalah lambang utama toko kami, harganya kami buat mahal karena bahannya spesial. Kami akan memberikan diskon delapan puluh persen khusus untuk anda sebagai pelanggan pertama kami minggu ini." ujar karyawan yang sedari tadi mencoba mempromosikan blus biru tersebut pada Musa.


"Sudah lama toko kami sepi," sahut karyawan lainnya, membenarkan.


Musa melihat lagi ke arah manekin dengan blus biru itu. Ia juga mulai memeriksa isi dompetnya yang menipis karena habis ia pakai beli bensin, belum lagi setelah ini dia juga akan beli jas hujan dan jajanan kota Metro untuk Lyra dari Mall. Ia menelan ludah sejenak, tiba-tiba teringat sesuatu.


Di hari saat kelas English Debate pertama kali dimulai, yaitu saat semester 3. Dosen yang mengajar untuk mata kuliah ini adalah Mrs. Farah, seorang profesor wanita yang menggemari dunia fashion. Lyra memiliki kecakapan dalam berbahasa Inggris yang luar biasa, ia telah menghafal banyak kosa kata dan idiom. Terlebih lagi wawasannya yang luas dalam hal apapun, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Banyak yang berfikir kalau Lyra akan menjadi salah satu delegasi angkatan untuk AUDC (Annual University Debate Competition) di Minnesota yang diadakan setiap tahun. Sayangnya, Mrs. Farah tidak memilihnya meskipun ia memiliki nilai tertinggi di kelas hanya karena selera fashion-nya yang rendah. Lyra tidak memiliki cukup uang yang bisa ia habiskan untuk membeli baju bagus. Ia hanya bisa memakai baju seadanya, sekiranya masih sopan untuk ia pakai.


"Itu dia. Buat apa aku jauh-jauh pergi ke Metro jika tidak membelikan sesuatu yang spesial buat Lyra. Sesuatu yang Lyra sampai tidak bisa berkata apa-apa jika memilikinya." gumam Musa pelan, berbicara pada dirinya sendiri.


"Aku membelinya!" seru Musa mantap. Ia pun kembali menghadap ke arah para karyawan toko.


Salah seorang karyawan tersenyum, seolah-olah rencananya berhasil.


"Kami memberikannya gratis untuk anda, kekasih anda pasti sangat menyukainya. Ini blus yang paling dicari tahun 70-an," ujar seorang karyawan yang bergerak tangkas untuk mengemaskan blus tersebut ke dalam tas plastik.


"Mmmm, sebenarnya itu bukan untuk pacarku. Kami hanya berteman. Tapi aku yakin dia tentu akan sangat menyukainya. Dia berhak memilikinya." ucap Musa.


"Apa kau yakin dia hanya akan jadi temanmu?" timpal salah seorang karyawan yang tertarik dengan gaya bicara kaku Musa. Karyawan itu sedari tadi diam, baru kali ini ia bicara.


Musa terdiam, menunggu blus itu sampai ke tangannya. Ia mulai berbicara pada dirinya sendiri banyak hal terkait segala ucapan yang ia dapatkan seputar hubungan pertemanannya dengan Lyra. Ia tidak yakin bila suatu saat nanti ia dan Lyra akan berada dalam sebuah hubungan melebihi teman. Sejauh ini ia tidak pernah merasakan apapun yang mendekati perasaan itu ketika bersamanya. Ia hanya merasa nyaman di dekatnya itu saja. Ia juga tidak tahu apakah sebenarnya Lyra diam-diam menyukainya lantaran sikap perhatiannya selama ini.


Musa mulai bimbang, tidak yakin. Ia juga tidak tahu pasti kenapa hari ini banyak orang mengatakan hal serupa terhadapnya, entah itu temannya sendiri atau bahkan orang asing yang baru ia temui sekalipun.


Sepulangnya dari toko baju klasik yang menjual banyak kaos Metal itu, Musa akhirnya memenuhi keinginannya untuk pergi ke Mall. Ada banyak hal yang ingin ia beli. Ia tidak sabar untuk membelikan Lyra banyak oleh-oleh sebagai balasan atas kebaikannya selama ini terhadapnya, juga sebagai kado ulang tahun.


***


Malam telah larut. Musa akhirnya telah sampai di depan rumah Lyra. Suasana di sana tampak sepi. Entah Lyra lupa atau bagaimana, lampu di teras rumah masih padam, belum dinyalakan. Semuanya gelap gulita, hanya mengandalkan cahaya rembulan dan lampu rumah tetangga sebagai penerang.


Lyra ketiduran kali ya. Pikirnya sambil berjalan mendekati pintu dengan empat tas plastik berisi penuh di tangannya. Ia membawa banyak jajan untuk sahabatnya itu.


Tok! Tok! Tok!


Musa mengetuk pintu.


Tak ada jawaban.


Tok! Tok! Tok!


Musa mengetuknya sekali lagi, berharap Lyra segera bangun dari tidurnya.


Namun tetap tidak ada jawaban.


Musa pun mencoba mengintip dari jendela yang belum tertutup oleh tirai. Ia terheran-heran saat melihat Lyra menangis tersedu-sedu di dekat sofa, menghabiskan banyak tisu, juga tampak celak di matanya meleleh.


Lyra kenapa? Batinnya, cemas.


Musa pun mencoba menggerakkan gagang pintu yang rupanya tidak terkunci. Seharusnya ia melakukan ini dari tadi. Ia pun segera masuk dan menghampiri Lyra yang tampak depresi.


"Lyr, ada apa?" tanyanya, perhatian. Ia bersimpuh di hadapan Lyra lalu membelai lembut kepalanya.


Lyra masih belum bisa bercerita, ia hanya bisa menangis. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Musa. Ia benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa memberinya kehangatan.


Musa merasa ada masalah yang dialami oleh Lyra. Tidak biasanya Lyra menangis, apalagi rambut Lyra begitu berantakan malam ini. Selama ini yang sering curhat atas segala masalah adalah dirinya, sedangkan Lyra adalah seseorang yang selalu menasehatinya dan memberikan motivasi untuk bangkit. Namun kali ini lain. Di hari ulang tahun Lyra, malah dia yang tengah bersedih. Musa merasa ia harus melakukan sesuatu yang pantas untuk menenangkan Lyra.


Musa pun memeluk Lyra yang kini menangis dalam dekapannya. Ia membelai rambut gadis itu perlahan, masih membiarkannya diam untuk sementara waktu sampai hatinya legah dan siap untuk bercerita.


Padahal Musa awalnya berniat langsung makan besar dengan Lyra begitu ia sampai di rumahnya, ia tidak tahu kalau Tuhan memberikan alur cerita yang lain. Untuk saat ini, ketenangan Lyra adalah yang terpenting.


"Tenang, aku di sini." ucap Musa pelan di dekat telinga Lyra. "Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya.


Lyra menelan ludahnya sejenak lalu ia membangkitkan badannya dari dekapan Musa. Ia menarik napas perlahan, terdengar suara ingus yang tertahan di hidungnya. Tampaknya ia mulai pilek. Lalu ia mengusap air mata di kedua matanya yang tampak sembab, begitu juga pipinya yang telah melengket. "Entah aku harus cerita dari mana?" ucapnya sambil menatap dalam-dalam kedua mata Musa hingga membuat lelaki itu merasakan sesuatu.


Musa kembali teringat ucapan Gio dan seorang karyawan di toko pakaian "L.O.V.E." terkait hubungan pertemanannya dengan Lyra yang akan terjadi sesuatu yang belum pernah ia harapkan. Hanya saja ia mencoba mengesampingkan pikiran itu. Saat ini ia harus berusaha menjadi seorang motivator bagi Lyra.


Lyra diam selama beberapa detik sambil melihat ke arah lantai. Ia mengambil tisu sekali lagi, menyemprotkan ingus dari dalam hidungnya yang telah memerah. "Apakah aku istimewa?" tanyanya tiba-tiba.


Lyra bahkan tak mampu meneteskan air matanya, rasanya sudah kering karena sedari tadi ia menangis. "Aku tidak menyangka Ken akan melakukan semua itu untukku?!" ungkapnya, memasuki isi cerita.


"Ken?" timpal Musa bertanya-tanya. Ia belum pernah mengenal Ken sebelumnya. Tapi ia tahu nama itu, ia sering mendengarnya.


"Dia merayakan hari ulang tahunku dengan sangat meriah tadi. Semua anggota teater merayakannya. Harusnya malam ini geladhi bersih untuk drama musikal besok lusa, tapi aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya atau tidak. Aku benar-benar bingung. Aku sangat malu. Bagaimana bisa mereka semua memeriahkan hari ulang tahunku?!" ujar Lyra panjang lebar dengan nada bicara cepat seperti melakukan fast rap tanpa tempo.


Musa terdiam kaku sejenak. "Ouw, jadi itu masalahnya?" tanyanya, memastikan.


Lyra mengangguk sambil melihat ke arahnya.


Sayangnya, Musa tidak tahu harus memberikan motivasi apa, ia bukan seorang penasehat yang baik. Ia tidak cocok menjadi seorang terapis. Ia hanya diam dan turut meratapi suasana, seolah-olah ia tengah berempati.


"Kau mau aku menceritakannya dari awal?" seru Lyra tiba-tiba, menggunakan nada bertanya. "Kejadian tadi siang benar-benar menyebalkan!" serunya melanjutkan, wajahnya menjadi cuek.


"Ya, silahkan," timpal Musa.


Lyra menepuk pundak Musa dua kali, salut. Matanya lalu beralih ke beberapa tas plastik yang dibawa Musa. Ia mengurungkan niatnya untuk bercerita dan lebih memilih untuk menggeledah plastik-plastik itu.


"Apa ini?" tanya Lyra tidak lagi sedih.


"Aku membeli banyak jajan di Mall Metro buat makan kita berdua. Sebenarnya aku memang niat makan besar sama kamu malam ini," ujar Musa.


"Oh, Metro? Sendirian?" tanya Lyra takjub.


"Iya," timpal Musa agak gugup. "Selamat ulang tahun!" ucapnya setelah itu, menatap kedua mata Lyra yang sedari tadi memandangnya dalam-dalam.


Lyra tersanjung. Ia merekahkan senyuman bahagia di wajahnya lalu memeluk Musa dengan erat. "Terima kasih, aku tidak menyangka kau tahu hari ulang tahunku. Dari mana kau tahu?" ungkapnya, melepaskan pelukannya.


"Kemarin aku tak sengaja membaca surat dari ayahmu. Aku turut prihatin, tak menyangka kalau kau telah lama kehilangan seorang ibu. Sekarang aku paham kenapa kau memarahiku setiap kali aku curhat padamu kalau aku habis bertengkar dengan mamaku." ujar Musa.


Lyra pun tersenyum tulus lalu membelai pipi Musa dengan lembut, seolah-olah melakukannya untuk adiknya sendiri. "Seorang anak itu harus selalu berbakti pada ibunya," ucapnya pelan sembari melepaskan belaiannya. Lalu ia kembali menggeledah jajan oleh-oleh Musa di dalam plastik. "Ayo makan!" serunya antusias, lupa untuk bercerita pada Musa tentang kejadian yang ia alami di kampus sebelumnya.


***


Lyra dan Musa pun berpesta berdua. Memakan ramen, tom yam dan cemilan-cemilan ringan lainnya dengan berlebihan, meminum berbagai jenis minuman aneka rasa, mulai dari Matcha, Ooloong, Es Boba dan Coca Cola. Tak lupa mereka berdua mengabadikan momen mereka dengan berfoto selfie norak, namun tidak mengunggahnya ke manapun, hanya menyimpannya di galeri. Hingga acara makan-minum mereka selesai, keduanya merebahkan tubuh sembari memandang langit-langit ruangan, sekalian bersendawa dengan kompak lalu diikuti oleh tawa. Mereka tidak pernah merasa saling malu terhadap satu sama lain, mereka sudah akrab bak saudara.


"Kau tahu, aku tak habis pikir apa yang akan terjadi padaku saat Nyonya Garrett mengusirku dari sini." ucap Lyra tiba-tiba. "Aku tidak tahu harus bekerja apa untuk melunasi kontrakanku!" serunya.


"Secepatnya kau akan dapat pekerjaan, kau pintar!" seru Musa.


"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Lyra menoleh ke arah Musa.


"Lagipula ada banyak lowongan beasiswa untuk mereka yang lancar berbahasa Inggris, kau harus berusaha mendapatkan beasiswa itu, nilai IELTS-mu sembilan kan? Itu sempurna tau nggak?!" ujar Musa.


"Entahlah, Mus, aku belum siap. Aku masih ingin bekerja normal. Aku sangat merindukan masa-masa kejayaan kafe Tuan Chao!" ungkap Lyra sambil memejamkan mata, menikmati perutnya yang telah kenyang.


"Jika itu yang kau mau, maka terserahmu," timpal Musa turut memejamkan mata.


Suasana pun menjadi hening sejenak.


Musa mulai teringat kembali oleh ucapan Gio dan seorang karyawan di toko pakaian "L.O.V.E.". Matanya terbuka, ia segera menoleh ke arah Lyra yang masih memejamkan mata. "Aku boleh tanya sesuatu?" ungkapnya.


"Apa?" tanya Lyra masih enggan membuka mata.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Musa dengan polosnya.


Sontak Lyra bangun sambil mengerutkan dahi ke arahnya. "Tentu saja tidak, ngapain coba?!" serunya tegas. Kini ia duduk sambil menjulurkan kaki. "Kenapa kau tanya seperti itu?" tanyanya sinis, melirik ke arah Musa dengan galak.


Wajah Musa berkeringat, ia menyadari kalau ia telah mengucapkan kalimat yang salah. Ia menelan ludah panik, ia takut kalau Lyra akan marah. Ia sudah berprisangka buruk saat mendapati muka Lyra yang berubah menjadi serius seketika menanggapi pertanyaannya. Ia pun turut bangun dari rebahannya, berharap agar Lyra tidak mengomel.


"Aku tidak bermaksud mengatakannya, lagipula aku juga tidak memiliki perasaan apa-apa denganmu. Kita hanya teman kan?" timpal Musa, mencoba menenangkan suasana.


Lyra menaikkan setengah alisnya, menatap lurus ke arah Musa dengan muka datar. "Lalu, pertanyaan itu?" timpalnya galak.


"Fine, aku salah. Tak seharusnya aku menanyakannya. Aku tahu kalau kau juga tidak menyukaiku, kita hanya sebatas teman, tidak lebih dari itu, ..." ujar Musa terpotong.


"Terima kasih atas semua oleh-oleh yang kau berikan untukku. Maaf sebelumnya, aku harus mengusirmu dari sini." timpal Lyra tegas.


"Ouw," timpal Musa membeku di tempat.


"Keluar dari sini sekarang juga!" seru Lyra sambil berdiri, menatap ke bawah kakinya di mana Musa masih duduk. "Suatu hari nanti kalau aku sudah punya cukup uang, aku akan membayar kembali semua oleh-olehmu tadi," tambahnya.


Musa turut berdiri. "Jangan bilang kalau pertemanan kita putus hanya karena ini, aku tak bermaksud menanyakannya!".


"Aku tidak ingin ada perasaan apa-apa di antara kita!" seru Lyra.


"Sama, aku juga. Aku hanya bertanya untuk memastikan saja," timpal Musa mencoba untuk terus terang, namun ia bingung memilih kata-kata.


"Apakah kau meragukan kesetiaanku?" tanya Lyra mengetes pikiran Musa yang kini semakin gugup.


"Tentu saja tidak. Kau perempuan terbaik yang pernah ku temui. Aku tak menyangka bisa bersahabat denganmu." timpal Musa pelan. "Baiklah jika kau mengusirku, tapi aku berharap kita masih berteman. Terima kasih atas kebaikanmu padaku selama ini!" tambahnya beranjak menuju pintu untuk keluar. Ia tidak menyangka kalau Lyra berjalan mengikutinya keluar rumah, seolah-olah ia tidak akan membiarkannya masuk lagi.


"Apakah pertemanan kita putus di sini?" tanya Musa resah. Ia mengurungkan niatnya untuk keluar dan berbalik badan menghadap Lyra.


"Tiga hari untuk pembuktian kalau tidak ada apapun di antara kita!" seru Lyra, sontak membuat Musa legah saat ia mengatakannya.


"Terima kasih. Baiklah, aku akan pergi," timpal Musa bersedia untuk keluar. "Ngomong-ngomong, kau tak perlu membayar balik jajan-jajan tadi, anggap saja itu hadiah ulang tahunmu!" serunya menyempatkan waktu sebelum benar-benar keluar.


"Terima kasih banyak. Sekali lagi maaf karena aku harus mengusirmu malam ini." timpal Lyra yang sebenarnya juga tida tegah mengusir Musa karena ia tahu kalau Musa benar-benar tidak sengaja.


"O, ya, untuk tas plastik hitam dengan tulisan L.O.V.E. itu ada kado spesial untukmu sebagai tanda persahabatan kita. Semoga kau menyukainya. Dah," seru Musa di detik-detik waktu sebelum ia bergegas menghampiri motor Ducati-nya di halaman depan rumah Lyra. Mengenakan helm, tanpa salam untuk yang kedua kalinya, ia segera melajukan motornya menyusuri jalanan beraspal, pulang.


Bayangan Musa telah lenyap dari hadapannya, Lyra sebenarnya tidak enak, namun bagaimanapun itu demi kebaikan mereka. Ia pun menutup pintu rumahnya. Ia menghela napas sejenak saat mendapati sampah bekas makan-minumnya bersama Musa yang harus ia bereskan seorang diri.


Di sela-sela membereskan sampah-sampah itu, Lyra dibuat penasaran oleh sebuah tas plastik yang sebelumnya sempat disebutkan oleh Musa sebagai kado spesial untuknya. Ia pun menghampiri tas yang belum disentuhnya itu karena Musa meletakkannya terpisah di atas meja. "Apa ya isinya?" tanyanya pada dirinya sendiri mulai membuka tas tersebut dan mendapati sebuah blus biru sederhana yang tampak cantik saat ia melebarkannya. "Wow, Musa membelikanku ini?" ungkapnya bertanya-tanya.


"...tas plastik hitam dengan tulisan L.O.V.E. itu ada kado spesial untukmu sebagai tanda persahabatan kita. Semoga kau menyukainya," tiba-tiba ucapan Musa sebelumnya terlintas di kepalanya. Sontak membuatnya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, takjub.


"Kau akan selalu menjadi sahabatku, Musa," gumamnya.


***