Blue Blouse

Blue Blouse
TEN



Alun-alun kota dihiasi oleh para pedagang kaki lima yang ramai pelanggan, lampu-lampu menyala di setiap tiang tepi jalan, juga panggung teater megah yang masih tertutup tirai merah. Tampak tiga gadis muda dengan balutan rok mini dan kaos biasa berbahu pendek tampak berjalan menyusuri karpet yang kini mulai dipenuhi oleh banyak penonton. Sambil mencari tempat duduk yang pas untuk mereka, salah satu dari mereka masih sempat-sempatnya merekam wajahnya untuk live akun Instagram pribadinya.


Shania, si paling eksis di dunia medsos. Ia sangat percaya diri dengan paras ayu yang ia miliki, tidak malu melakukan vlog dan berbicara sendirian meski ia berada di tengah-tengah perhatian banyak orang. Sementara itu, Kimmy dan Vera sudah duduk di sebuah area kosong yang berdekatan dengan muka panggung.


"Shania ini nge-live ig mulu dah, dapat untung apa sih emangnya?" ucap Kimmy ketus, tanpa sepengetahuan Shania. Ia mengobrol dengan Vera yang saat ini tengah menyeruput pop ice rasa permen karet kesukaannya.


"Beli pop ice aja tuh anak masih utang. Mboh apa sih yang ia cari dari ig? Aku juga have no idea!" timpal Vera.


"O, ya, Aurel mana?" tanya Kimmy yang memeriksa ke sekitarnya, memastikan kalau Aurel sedang berada bersamanya.


"Dia tadi mau pipis katanya, habis ini juga ke sini," timpal Vera.


"Sudah kamu chat belum kalau kita duduk di sini?" tanya Kimmy, mengkhawatirkan Aurel.


"Bentar," ucap Vera sambil membuka ponselnya dan segera mengirim pesan melalui WhatsApp pada Aurel, mengenai lokasi duduknya besama Kimmy saat ini.


Melihat chat-nya sudah centang dua dan berwarna biru, iitu tandanya Aurel sudah membacanya, meski belum dibalas.


"Aaaah, aku suka deh!!!!" seru Shania heboh, tiba-tiba muncul di sebelah Kimmy, sontak membuat Kimmy dan Vera terkejut lalu melirik ke arahnya dengan heran. "Ada seratus dua puluh orang menonton live ig-ku, ahh baper deh!".


Mendapati ucapan alay Shania itu, Kimmy dan Vera pun saling melirik satu sama lain, lalu kembali memandang ke arah panggung teater yang belum dimulai; menyaksikan kekosongan. Sementara Shania tentu masih sibuk dengan Instagram-nya, memberikan like ke beberapa post yang muncul di berandanya.


***


Di belakang panggung, para anggota club teater tampak sibuk. Beberapa dari mereka ada yang berjalan ke sana-kemari sambil mengangkat barang. Liam dan Tom berjalan memeriksa setiap tenda, terdapat delapan tenda terpasang di sana. Hingga saat mereka berhasil menemukan sebuah tenda di mana Lyra tampak tengah berias di dalamnya, mereka segera menghampirinya.


"Hai Lyr, wah cantik banget kamu!" puji Liam.


Lyra tidak menjawab, hanya melirik sekilas ke arah mereka lalu kembali melapisi wajahnya dengan cream foundation sebelum ia menumpuknya lagi dengan bedak tabur merk kosmetik favoritnya.


"Semangat ya, semoga dramamu sukses!" seru Liam lagi.


"Terima kasih." timpal Lyra sambil menghiasi bibir tipisnya dengan gincu berwarma merah, sehingga membuat mukanya kini tampak cantik bersinar. "Kalian datang berdua?" tanyanya saat riasannya siap, lalu kini ia beralih mengenakan kostumnya. Sama sekali tidak malu meski dilihat oleh Liam dan Tom karena Lyra sedari tadi hanya mengenakan tube top warna putih yang memperlihatkan belahan dadanya dan celana pendek berwarna putih yang juga tak sampai lutut.


"Sama Musa, tapi dia sudah duduk," jawab Tom.


Lyra terdiam sejenak saat mendapati nama Musa dari ucapan Tom. Ia kini masih mengancing busana bagian belakangnya dengan susah payah, namun akhirnya berhasil mengancing seluruhnya.


"Oh, ya sudah. Terima kasih ya sudah datang. Sekarang kalian boleh pergi, acara akan segera dimulai!" seru Lyra ramah. Perkataan Lyra itu didukung oleh keadaan karena Rani yang kini mengenakan kemeja berwarna hitam sambil membawa taplak meja yang memuat banyak kertas presensi memasuki tendanya untuk berbicara dengannya.


"Boys, bisa keluar sebentar?!" seru Rani, tegas seperti biasa.


"Mereka sudah mau pergi kok, Ran." seru Lyra.


Liam dan Tom pun saling saling melirik sejenak tanpa berkomentar lalu segera pergi keluar dari tenda, bergegas menuju area panggung. Sebenarnya sikap Lyra itu cukup sombong bagi mereka, sangat berbeda dengan sikap Lyra pada hari-hari biasanya. Namun Liam dan Tom menyimpulkan seharusnya mereka tidak mengganggu Lyra terlebih dahulu karena mungkin Lyra sedang sibuk mempersiapkan penampilannya.


***


Menstruasi memang cukup menyebalkan bagi Aurel, ia harus siap siaga membawa empat buah pembalut di tas mininya dan menggantinya setiap kali penuh.


"Kenapa jadi cewek harus serepot ini?!" keluhnya saat cebok, menyirami area pribadinya dengan air perlahan, dari depan hingga belakang. Tak lupa ia mengusapinya dengan tisu agar kering, lalu segera menempelkan pembalutnya yang baru karena pembalutnya yang sebelumnya sudah penuh darah jadi ia langsung membuangnya ke tong sampah khusus pembalut wanita di dekat kloset.


Saat semuanya sudah ia pastikan bersih, ia segera keluar dari toilet dan pergi menuju area tengah alun-alun di mana ia harus mencari di mana teman-temannya saat ini berada. Terdapat banyak orang telah duduk bersantai memenuhi karpet, ia sampai bingung untuk mencari teman-temannya.


"Nih bocah-bocah pada ke mana sih?" gumamnya cemas karena ia tidak biasa berada di tengah-tengah keramaian seorang diri. Ia pun segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya, lalu mengirim chat untuk Vera.


^^^Aurel^^^


^^^Ver, kamu di mana sekarang?^^^


Dalam beberapa detik, Vera membalas.


Vera


Cari aja di depan, nanti aku kasih isyarat


Aurel tidak tahu mau mengumpat untuk siapa. Ia kesal karena Vera tidak mau memberitahunya dengan jelas di mana dia sekarang. Tapi dia juga tidak mau menyalahkan Vera karena ia tahu kalau Vera itu tipe orang santai yang tidak suka bertele-tele. Sementara Aurel juga ingin merutuki dirinya sendiri kenapa mudah cemas jika tengah sendirian di tempat ramai.


Tiba-tiba seseorang menyenggolnya, membuatnya hampir jatuh.


"Aww, punya mata nggak sih?!" seru Aurel marah sambil menoleh ke arah seorang laki-laki yang barusan menyenggolnya. Laki-laki itu turut menoleh ke arahnya, membuat jantungnya berhenti berdetak.


Aurel masih pikiran, ia takut kalau laki-laki itu mengawasinya meski ia telah pergi. Ia mulai berpikiran yang tidak-tidak bahwa nanti di rumah, laki-laki itu bisa saja menyantetnya atau melakukan hal-hal magis lain yang bisa menyelakainya.


"Aurel!" panggil Vera tegas, sontak membuat lamunan singkat Aurel itu pudam.


Aurel tercengang seketika saat menerima panggilan itu namun berubah menjadi legah saat mendapati Vera datang menjemputnya.


"Ayo sini!" seru Vera sambil menari tangan Aurel, menggandengnya menuju lokasi di mana tampak Kimmy dan Shania masih duduk santai di sana.


Panggung teater akhirnya dimulai. Tirai merah dibuka. Tampak para akomodator pentas turut tampil sebagai pembawa hiasan pohon. Panggung kini menggambarkan suasana hutan gelap nan suram, dapat dilihat dari warna langitnya yang gelap dan dihiasi oleh bulan kartun yang terbuat dari kardus.


Para penonton teater pun menjadi antusias saat pentas dimulai. Shania yang semula sibuk dengan Instagramnya kini langsung menonaktifkan laptopnya dan beralih perhatian ke penampilan panggung teater yang kreatif itu, mengingatkannya pada pentas seni saat SMA. Seorang narator berpakaian klasik muncul sambil membawa sebuah taplak meja dengan kertas naskah, lalu ia mulai menceritakan awal kisah pementasan drama malam ini.


..."Pada Zaman dahulu, di sebuah desa yang tenang dan sejahtera hidup seorang gadis cantik jelita yang tinggak bersama ibu tiri dan dua saudara cantiknya, ..."...


Diikuti oleh kehadiran empat orang pemain wanita di atas panggung yang menampilkan sudut kisah "Cinderella".


***


Penampilan drama musikal pagi itu sungguh mengesankan. Setiap penonton berhasil larut ke dalam alir cerita yang disajikan. Para pemerannya sangat jago berakting, mimik wajah mereka meyakinkan di setiap tampilan, juga gaya bernyanyi mereka yang sangat musikal. Tak ada satu pemeran pun yang tidak bisa bernyanyi. Mereka berbicara lantang setiap kali menampilkan bagiannya juga bernyanyi dengan mantap seolah-olah seluruh dunia harus mendengarnya.


Malam begitu larut sampai drama musikal karya mahasiswa club teater kampus Para Den itu berakhir. Para penonton pun bubar meninggalkan alun-alun dan pulang. Di samping itu, para pemain masih harus menginap karena mereka masih menyempatkan waktu untuk rapat evaluasi. Yeah, bagi para mahasiswa yang sudah kelewat aktif di organisasi menganggap biasa hal-hal tersesebut, terutama mereka yang merantau; jauh dari pengawasan orangtua.


Situasi berbeda bagi beberapa penonton panggung teater musikal yang merupakan golongan mahasiswa biasa yang memang bertempat tinggal di dalam kota itu sendiri. Mereka harus cepat-cepat pulang agar tidak membuat orangtua mereka marah. Tak jauh berbeda dengan para penduduk kota non-mahasiswa yang barusan menonton pementasan, tentu mereka langsung pulang karena tak ada urusan apa-apa lagi bagi mereka di sana.


Berangkat bersama, tapi pulang tidak bersama. Hal ini terjadi pada empat gadis yang tergabung dalam club pemandu sorak: Kimmy, Shania, Vera dan Aurel. Kimmy lebih dulu pulang ke asrama, meninggalkan teman-temannya saat panggung teater baru mencapai adegan pertengahan; alasannya karena ia lupa belum mengerjakan PR yang deadline pengumpulannya adalah malam itu.


Kini Shania, Vera dan Aurel pun berjalan bertiga menyusuri jalanan yang sepi menuju asrama mereka. Shania masih sempat menatap layar ponselnya sepanjang perjalanan, saling berkirim chat dengan pacaranya; ia jalan sambil senyum-senyum sendiri. Sementara Vera dan Aurel saling mengobrol agar perjalanan mereka tak terasa hampa. Hingga tiba-tiba seorang laki-laki dengan motor NMAX muncul dan berhenti di depan mereka.


"Guys, maaf ya aku nggak bisa pulang bareng. Aku baru bisa pulang besok!" seru Shania sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ia menoleh ke arah Vera dan Aurel sejenak sambil tersenyum innocent, lalu meninggalkan dua gadis itu untuk pergi bersama pacarnya ke suatu tempat.


Vera dan Aurel saling melirik satu sama lain. Mereka pasrah, akhirnya pulang berdua.


Di tengah jalam, mereka mendapati sebuah gazebo di mana tampak beberapa teman laki-laki dari program studi yang sama dengan Vera; Teknik Informatika. Aurel mulai cemas saat para lelaki itu memanggil Vera untuk bermain game MOBA bersama mereka, ia tahu persis betapa cintanya Vera dengan game jadi Vera tidak mungkin menolaknya.


"Kalau mau mabar, silahkan. Aku akan pulang sendiri." ucap Aurel


"Tidak, aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendiri. Perempuan itu tak seharusnya pulang sendirian malam-malam. Lebih baik aku tidak ikut mabar, lagipula aku bisa solo kok mainnya." ujar Vera.


"Jangan membohongiku Vera. Aku tahu beberapa hari ini kamu kesal saat poin peringkatmu menurun sejak kamu menantang dirimu sendiri untuk bermain solo. Cowok-cowok itu ajak kamu mabar, ini kesempatanmu menambah poin." timpal Aurel.


"Tidak, aku bukan pengkhianat, Aurel. Aku tak akan biarkan kau pulang sendirian!" seru Vera menegaskan.


"Ada apa?" tanya Ilham, salah satu teman Vera di kelas yang diam-diam merupakan seorang pro-player. Ia memperhatikan percakapan Vera dan Aurel, lalu ia memutuskan untuk menengahi percakapan mereka.


"Maaf, Ilham, aku tidak bisa ikut mabar malam ini. Aku tak mungkin membiarkan temanku pulang sendirian, apalagi dia seorang perempuan, akan sangat berbahaya baginya." ungkap Vera, menjawabkan.


Ilham diam sejenak. "Tapi aku sudah terlanjur mendaftarkan namamu, Vera. Kamu bagian dari pertandingan ini." timpalnya.


"Jangan bilang kalau ini bagian dari agenda tim e-sport kita!" seru Vera.


"Maaf kalau aku nggak ngomong dari awal," timpal Ilham mengakui kesalahannya. "Jadi, apa Aurel ikut nunggu di sini saja sampai permainan kita selesai, kalau nggak keberatan sih," tambahnya.


Vera melirik ke arah Aurel. "Bagaimana?" tanyanya, memastikan bahwa Aurel tidak keberatan untuk menunggunya.


"Aku sih sebenarnya tidak apa-apa, Ver. Tapi aku tidak mau bangun kesiangan, ini sudah terlalu malam. Besok aku harus menemui Nyonya Markle," timpal Aurel mengutarakan kesulitannya.


"Ada urusan apa dengan Nyonya Markle?" tanya Vera heran. "Kamu kan anak FSIP?" tanyanya lagi, mengungkapkan keheranannya. Vera tidak curiga, ia hanya terkejut saat seorang mahasiswi dari Fakultas Sosial dan Ilmu Politik (FSIP) tiba-tiba ada pertemuan pribadi dengan Nyonya Markle yang merupakan sekretaris dekan FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam).


"Ada sesuatu, kau tak perlu tahu. Tapi Nyonya Markle dan aku sudah janjian pukul tujuh besok," timpal Aurel agak gugup, seolah-olah ada sesuatu yang ia sembunyikan. "Lagipula aku juga sudah terlalu lelah malam ini, aku harus pulang ke asrama," lanjutnya.


"Ya sudah, akan ku telpon Kimmy biar dia jemput kamu ke sini!" seru Vera sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya.


"Tidak usah!" cegah Aurel. "Aku bisa pulang sendiri." ucapnya.


"Aku benar-benar minta maaf," timpal Vera menyesal. Ia pun memeluk Aurel dengan tulus. "Hati-hati di jalan ya. Kalau ada apa-apa, langsung telpon aku!" serunya saat melepaskan pelukannya.


Aurel dan Vera pun saling melambaikan tangan sejenak. Aurel bergegas pergi meninggalkan lokasi seorang diri. Sementara Vera sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Aurel, terutama saat bayangan Aurel telah menghilang dari hadapannya. "Semoga Tuhan melindungimu," gumam Vera, hanya terdengar oleh dirinya sendiri meski ia mengucapkan itu untuk Aurel.


***