Blue Blouse

Blue Blouse
ELEVEN



Musa menyanyikan lagu klasik Audrey Hepburn dalam film Breakfast at Tiffany's yang berjudul "Moon River" sembari memainkan gitarnya, menikmati semilir sepoi yang berhilir, tepat di bawah pohon beringin. Siang itu sangat panas, tapi udaranya terasa sejuk. Dengan beberapa makanan ringan yang tersedia di hadapannya.


Musa tidak sendirian. Ia bersama Lyra yang tengah membaca buku The Moving Toyshop karya Edmund Crispin tanpa peduli apa yang ada di sekitarnya. Mata Lyra benar-benar bisa fokus melayani kata per kata yang termuat dalam buku tebal di pangkuannya itu, bahkan tidak lelah meski sedari tadi ia duduk membungkuk saat membacanya. Nyanyian payah Musa itu juga tak mampu mengaburkan konsentrasi Lyra terhadap bukunya.


Pagi, siang, sore, malam; hidup Musa seolah-olah terikat dengan Lyra. Mereka berdua merasa nyaman bersama. Meski keduanya tak memiliki ketertarikan satu sama lain.


Setelah beristirahat berdua di bawah pohon beringin siang itu, bak kencan tapi bukan, keadaan berubah seketika ke tempat lain di masa yang berbeda, tepatnya saat Musa dan Lyra tengah menonton pertandingan sepak bola di saluran televisi olahraga semalaman di rumah Lyra. Ramai dan heboh hanya untuk mereka berdua. Sambil memakai kostum tim sepak bola favorit mereka juga membawa sebungkus pop corn. Musa mengenakan kostum Manchester United, sedangkan Lyra mengenakan kostum Chelsea.


"GOAL!!!!" seru Musa keras, heboh. Bersamaan dengan keramaian para penonton pertandingan yang tersiar di televisi, mereka bersorak ria saat tim yang mereka dukung telah mencetak goal sebanyak dua kali sejak pertandingan dimulai.


Yup, Lyra hanya duduk tenang dengan raut muka datar, menyadari kalau Chelsea akan kalah pada pertandingan itu. Sementara Musa tidak bisa mengontrol betapa gembiranya dirinya, membuat Lyra semakin muak, namun ia tetap diam.


Entah kenapa suasana tiba-tiba berubah drastis. Musa dan Lyra seolah-olah mengalami teleportasi. Kini mereka tengah bersenang-senang menonton panggung musik besar yang menampilkan banyak seniman musik cadas. Musa dan Lyra sudah berada di tengah-tengah kerumunan umat manusia, mosh pit tentu turut mereka lakukan sebagai simbol kebahagiaan mereka di arena itu.


Siapa saja berlarian saling dorong mendorong saat band yang tampil kali itu memainkan lagu. Hingga saat lagunya selesai, para penonton berhenti bergerak dan diam di tempat sambil bertepuk tangan meriah, memberikan pujian pada band itu. Tentu saja tak ada yang sedih, mereka semua bahagia. Termasuk Musa dan Lyra yang kini kebahagiaan terpancar di wajah mereka yang berbinar terang, juga senyum merekah yang tidak dapat membohongi perasaan mereka kali ini.


Musa merangkulkan sebelah tangannya pada bahu Lyra, menempel ke tubuhnya lebih erat. Tiba-tiba para penonton berhenti bertepuk tangan dengan cepat, mereka kini diam tak bergeming. Musa mulai merasakan perasaan yang aneh, bulu kuduknya merinding. Seketika para penonton itu menoleh serempak ke arahnya, muka mereka tak lagi manusia, lebih tampak seperti kera tapi dalam wujud manusia, mereka menyeramkan.


"Lyr, apa kau lihat apa yang aku lihat?" tanya Musa memastikan agar ia tak salah lihat. Ia sungguh panik.


Namun tidak ada jawaban dari Lyra. Musa pun menoleh ke arah Lyra yang rupanya kini memiliki tampang serupa dengan para penonton itu. Musa segera melepas tangannya dari rangkulan pada bahu Lyra sebelumnya.


"Tidak mungkin," gumam Musa bingung.


Setiap manusia buruk rupa di sekitar Musa mulai menyeringai, tampak gigi bertaring piranha. Mata mereka semua berwarna merah menyala dan tertuju pada Musa. Namun semua wajah mengerikan itu rupanya tidak berhasil melanjutkan kisah apa yang akan terjadi.


Seketika itu kedua mata Musa terbuka lebar, menyadari kalau saat ini ia masih terbaring di atas tempat tidurnya. Ia mengalami mimpik buruk.


"Hanya mimpi ternyata," ucapnya pelan, menghela napas legah, memandangi langit-langit kamar yang memberinya keyakinan bahwa mimpi itu tak kan membawa dampak buruk untuk kehidupannya. Ia percaya itu.


Musa segera mencari ponselnya, menyalakannya sebentar untuk melihat jam berapa sekarang. Rupanya jam masih menunjukkan pukul 02.45 am, yang artinya Musa tidak tidur begitu lama sejak pulang dari teater. Sekali lagi ia berdecak kesal, tak habis pikir kenapa ia selalu memikirkan Lyra bahkan hampir setiap hari mimpi tentangnya. Ia mengacak-ngacak rambutnya sejenak, sembari memikirkan perlahan apa yang terjadi antara hubungannya dengan Lyra.


***


Malam begitu sunyi. Jam memang sudah menunjukkan pagi, tapi suasananya masih gelap, juga masih dingin. Suara ombak terdengar, lautan seakan-akan membawakan sebuah lantunan syahdu bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Kini Musa pergi seorang diri menuju lautan demi memandangi lautan yang memberikan keheningan.


Ia tidak bisa melupakan Lyra. Ia tahu bahwa Lyra bukan orang yang spesial dalam hidupnya, tapi ia merasa hidupnya begitu hampa tanpa Lyra. Kini isi kepalanya dipenuhuhi ribuan pertanyaan tentang hubungan dekatnya dengan gadis. Baru tidak berkomunikasi dua hari saja ia tidak bisa berhenti pikiran akan keadaannya.


Selama menyusuri pinggiran pantai, ia terkejut melihat seorang gadis berambut panjang lurus tergerai. Gadis itu berdiri tegap memandangi laut tanpa melakukan apapun, juga ia tampak mengenakan baju tidur.


Musa pun menghampiri gadis itu, rupanya ia adalah Aurel. Baik Musa dan Aurel pun menjadi canggung, namun situasi menjelang fajar itu tetap membuat mereka menikmati waktu berdua di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Musa.


"Justru aku yang harusnya tanya padamu, apa yang kau lakukan di sini?".


"Aku lagi pengin aja ke laut, mencari ketenangan,"


"Aku tidak bisa tidur, jadi aku kemari,"


"Apa kau sering datang ke sini?"


"Tentu saja, asramaku berada di dekat sini. Kau bisa melihat langsung bangunannya dari sini." ucap Aurel sambil menunjuk ke arah sebuah gedung berlantai dua yang letaknya tak jauu dari arah pantai.


Entah kenapa Musa merasa nyaman saat baru saja berbicara singkat dengan Aurel yang merupakan teman lamanya. Ia ingat persis segala aktivitas yang ia lakukan bersama Aurel waktu kecil. Ia tidak menyangka bahwa baik dirinya ataupun Aurel telah tumbuh dewasa. Ia juga takjub lantaran wajah Aurel masih mirip dengan masa kecilnya.


Aurel terlihat begitu cantik pagi ini. Rambutnya yang tergerai itu terkipas-kipas oleh angin laut yang berhembus pelan. Cahaya rembulan yang belum ingin berpamitan pun menyinari wajahnya, bak seorang puteri kerajaan yang terdampar di masa depan. Musa sempat heran, canggung bahkan gugup saat mengajak gadis itu berbicara, namun keadaan berubah menjadi santai. Alam merestui interaksi mereka.


"Kenapa kau terus melihatku?" tanya Aurel, kaku. Ia merasa sedikit tidak enak saat Musa terus memperhatikannya.


Musa terdiam sejenak, berpikir. Mungkin jika aku dekat dengan Aurel, aku bisa melupakan Lyra. Benar, aku harus move on dari Lyra. Aku tidak bisa terus-terusan menjadi inang gadis itu. Lagipula, Aurel tampak lebih menarik. Aku juga tidak akan malu jika mengajaknya pergi bersama.


"Kau cantik," jawab Musa sederhana.


Mata Aurel terbelalak, ia tidak menyangka kalau Musa akan mengatakan itu padanya.


"Kau tak seharusnya berkata begitu," timpal Aurel.


"Apa salahnya? Aku menyukaimu. Aku sudah pernah mengatakan itu padamu kan?" timpal Musa.


Jantung Aurel berdebar kencang. Skenario Tuhan kali ini benar-benar melebihi apa yang ia harapkan dari pertemuannya dengan Musa. Ia tidak tahu harus membalas perkataan Musa dengan apa.


"Aku juga menyukaimu, aku masih menyukai sejak kau mengatakan itu waktu kita kecil. Tapi rasanya aku tak pantas mengatakan itu sekarang, hidup kita sudah sangat berbeda," ujar Aurel pelan.


Musa terdiam saat Aurel mengatakan itu, kata-kata itu terucap sangat tulus dari mulut manisnya.


"Aku harus kembali ke asrama!" seru Aurel gugup. Matanya tampak berkaca-kaca, menahan air mata yang hendak mengalir dari pelupuk matanya.


Hingga saat Musa melepas ciumannya, ia menatap kedua mata indah Aurel dalam dalam. Aurel juga tidak sabar untuk mengetahui apa yang akan dilakukan Musa setelah ini.


"Jika memang kita saling suka, bagaimana kalau kita mulai berkencan nanti?" tanya Musa.


Aurel terdiam tegang, kedua bola matanya tak bergerak, terus menatap Musa, bahkan matanya tidak berkedip sama sekali. "Aku ...." ucapnya terpotong, bingung, ia masih harus berpikir keras untuk membalas ucapan Musa itu.


"Baiklah, setidaknya aku sudah menawarimu untuk makan siang bersama," ucap Musa ringan.


Aurel tersenyum sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah kalau begitu," timpalnya malu-malu.


"Jadi kau ..." tanya Musa terpotong, tak menyangka kalau Aurel akan menerimanya.


"Ya, aku mau jadi pacarmu," jawab Aurel mantap, tersenyum manis pada Musa.


Musa merekahkan senyum bahagianya. "Kita ketemuan di pohon Willows dekat gedung sarana prasarana kampus ya, kamu nanti ke kampus kan?"


"Ya, nanti aku ada urusan sebentar dengan Nyonya Markle,"


"Apa perlu aku jemput kamu ke kampus juga nanti buat berangkat bareng?"


"Tidak usah, aku belum siap jika teman-temanku tahu tentang hubungan kita,"


"Kau begitu cantik, Aurel," ungkap Musa lagi, mulai mencium bibir Aurel lagi.


Musa dan Aurel pun kembali berciuman, menikmati semilir angin shubuh yang berhembus di daratan pesisir pantai, memberikan sentuhan tersendiri dengan keadaan mereka saat ini. Begitu romantis untuk sepasang kekasih yang belum jadian tapi sudah saling berbagi sentuhan hangat yang menyatakan perasaan mereka satu sama lain.


***


Sempat panik saat mendapati bangku sekretaris dekan FMIPA yang kosong, Aurel segera membuka ponselnya untuk mengirim pesan chat pada Nyonya Markle. Mereka memang memiliki janji hari ini. Seorang dosen yang juga bertempat duduk di dalam ruang dekan FMIPA itu memberitahunya kalau Nyonya Markle sudah pulang.


"Tidak aktif lagi!" gumam Aurel semakin cemas saat tahu bahwa akun Nyonya Markle tengah offline, ia pun segera keluar dari gedung rektorat, hampir menyerah.


Matanya terbelalak saat mendapati Nyonya Markle masih berada di depan kampus, menunggu tukang ojek. Aurel bergegas untuk menghampiri Nyonya Markle. Karena tergesa-gesa, ia bertabrakan dengan seorang mahasiswa semester 8 yang tengah membawa banyak berkas hingga semua kertasnya berserakan. Aurel bingung, ia ingin membantu mengambili kertas-kertas itu, namun Nyonya Markle tampak telah mendapatkan ojeknya.


"Oh tidak!" seru Aurel segera berlari keluar gerbang.


"Heh, woy, udah nabrak, nggak mau bantu!" seru seorang mahasiswa yang tadi bertabrakan dengan Aurel itu.


Aurel terus berlari mengejar ojek yang ditumpangi Nyonya Markle, hingga mulai kelelahan. Ia pun menengok ke sana kemari, mencari tumpangan apapun yang bisa membawanya menyusul Nyonya Markle.


Hingga akhirnya sebuah angkot mini berwarna kuning melewati jalan di depannya, Aurel segera melambaikan tangannya, memberi isyarat angkot itu untuk berhenti dan ia langsung menaiki angkot yang kebetulan tengah sepi penumpang itu.


Hampir kehilangan jejak, Aurel melihat ojek yang ditumpangi Nyonya Markle telah berhenti dan membiarkan wanita paruh baya itu berjalan ke suatu tempat. Aurel dengan heboh menggugupi sang supir angkot hingga berhenti mendadak, lalu ia turut keluar dan mulai berlari.


"Nyonya Markle, tolong jangan pergi dulu, aku ingin bertemu denganmu!" seru Aurel berlari tergesa-gesa, mengejar sosok wanita paruh baya dengan konde tergelung rapi berjalan menyusuri trotoar menuju sebuah kantor misterius.


Nyonya Markle berhenti sejenak, menoleh ke arah Aurel dengan ekspresi datar. "Kau terlambat!" serunya.


"Maafkan aku, aku bangun kesiangan," timpal Aurel terengah-engah.


"Kami tidak menerima orang lelet!" seru Nyonya Markle.


"Tadi malam aku menonton pentas teater kampus, itulah sebabnya aku bangun kesiangan. Tolong, nyonya, izinkan aku mengikuti kontes itu," ungkap Aurel memohon dengan wajah melas.


"Tapi sekali ikut, kamu harus mengikuti karantina, itu pun kamu masih harus mengikuti audisi di tingkat kabupaten terlebih dahulu," ujar Nyonya Markle.


Kini Nyonya Markle dan Aurel telah berada di dalam sebuah ruangan. Nyonya Markle duduk di atas sofa sambil membaca sebuah majalah fashion tepat di halaman yang menampilkan foto-foto gadis muda yang cantik.


"Apa kau sudah punya pacar?" tanya Nyonya Markle, mengarahkan kedua bola matanya dengan serius ke arah Aurel yang kini berdiri gugup di hadapannya.


Aurel menelan ludah, cemas. Oh tidak, Musa baru saja menembakku tadi.


"Peraturan pertama di kontes ini, tidak boleh ada gadis kami yang berpacaran!" seru Nyonya Markle lagi, padahal Aurel belum menjawab pertanyaannya sebelumnya. "Jika kau punya pacar, kau harus putuskan dia. Kalau tidak, kau didiskualifikasi!" tambahnya.


Namun Aurel hanya diam. Ia berpikir kalau Nyonya Markle tidak mungkin mengetahui seluk beluk kehidupannya, buat apa berkata jujur terhadap orang yang tidak tahu apa-apa tentangnya.


"Baiklah, lepaskan pakaianmu lalu tunjukkan caramu berjalan!" seru Nyonya Markle. "Catwalk adalah yang terpenting pada kontes ini!" serunya lagi.


Aurel menarik napasnya sejenak lalu membuka pakaiannya di hadapan Nyonya Markle. Bagaimanapun ia memiliki keinginan tinggi untuk memenangkan sebuah kontes kecantikan, jadi ia harus melakukan apapun untuk bisa membawa namanya sebagai pemegang titel kontes kecantikan berstandar nasional. Ia harus menuruti segala perintah Nyonya Markle.


Nyonya Markle merupakan pemiliki produk kosmetik HIGANBANA di samping tugasnya sebagai sekretaris dekan FMIPA di Universitas Para Den yang juga memiliki relasi bisnis dengan pimpinan utama kontes kecantikan berstandar nasional.


***