Blue Blouse

Blue Blouse
THREE



Sebuah televisi berukuran jumbo di dalam Smart Classroom----ruangan yang sering digunakan oleh para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Para Den, untuk presentasi-----menampilkan tampilan slide ClassPoint yang memuat kuis multiple choice.


Sudah menjadi tradisi untuk angkatan 2021 dalam memultigunakan PowerPoint sebagai berbagai aplikasi yang tak hanya untuk presentasi, tapi juga video editing bahkan sampai kuis sekalipun, tanpa harus membuka situs khusus seperti Kahoot ataupun Quizzes. Di PowerPoint menyediakan room tersendiri yang bisa digunakan untuk kuis, yaitu Inknoe ClassPoint. Angkatan ini memang cenderung tidak suka yang ribet-ribet, bahkan bila diminta membuat desain apapun mereka hanya memerlukan aplikasi Canva. Begitu juga ketika online class, alih-alih Zoom, angkatan ini lebih membuka suara banyak untuk video call di Telegram karena tidak memungut banyak data.


Lyra dan Musa mendapatkan jadwal presentasi hari ini untuk mata kuliah Semantik. Beberapa bab yang mereka bahas adalah Meaning Postulates, Derivation, Zero Derivation dan Inflection. Mereka membawakan presentasi mereka dengan lancar, bahkan soal-soal kuis yang mereka tampilkan di ClassPoint pun tidak sulit, sehingga suasana kelas menjadi menyenangkan meski sebenarnya bab ini cukup rumit bila hanya dilihat di buku bacaannya.


"..., sekian dan terima kasih," seru Lyra setelah mengatrol semua nilai kuis teman-temannya di Microsoft Excel. Ia kini menutup laptopnya dan beranjak duduk ke tempat duduk asalnya.


Ucapan itu diikuti oleh tepuk tangan yang tidak begitu meriah dari semua orang yang berada di dalam kelas. Kemungkinan karena jumlah anggota kelas yang kelewat sedikit. Tidak banyak orang generasi ini meminati universitas swasta, kebanyakan berlomba-lomba untuk masuk universitas negeri. Para Den sendiri hanya sebuah kota kecil yang segala pendapatannya masih minim, bahkan tidak ada Mall di kota ini, itulah sebabnya universitas yang bertengger juga belum besar seperti apa mestinya meski kualitas Universitas Para Den sangat bagus dan dapat bersaing dengan kampus besar lainnya.


Baru saja duduk di kursi sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas, menantikan Professor Lewis menutup jam kuliah, Lyra mendapat sebuah chat WhatsApp dari teman ekskulnya.


Ken


Lyr, habis ini ke sanggar ya


Lyra pun mengetik.


^^^Lyra^^^


^^^Oke^^^


Centang biru. Tanda sudah dibaca.


Sudah biasa Ken memintanya untuk datang ke markas secara mendadak. Lyra baik-baik saja. Hari-hari sebelumnya malah lebih parah lagi. Lyra masih ada jam ulangan semester Intermediate Grammar, lalu Ken menelponnya berulang kali. Lyra berusaha menonaktifkan teleponnya, namun saat jam ulangan selesai dan ia mencoba mengecek ponselnya, terdapat 120 chat belum terbaca. Ken memang bisa menjadi pria paling berlebihan yang dikenal Lyra di seisi kampus.


Ken sendiri merupakan sutradara utama di club Teater Musikal. Ia sosok laki-laki yang disiplin sekaligus perfeksionis. Ia menjadi pelopor utama majunya club teater Universitas Para Den di seantero Metro Serikat. Tapi ya begitu, harus sabar saja dalam meladeni laki-laki seperti dia. Sejak awal bergabung club, Lyra dibuat pusing olehnya, entah dalam program kerja apapun.


Profesor Lewis meninggalkan kelas. Lyra masih duduk di bangkunya sambil mengecek seluruh chat di grup WhatsApp keanggotaan club Teater Musikal, mencoba mencari tahu adanya info yang ia lewatkan beberapa hari ini. Para mahasiswa lainnya mulai meninggalkan ruang kelas satu per satu, termasuk Musa yang langsung berkumpul dengan geng-nya untuk pergi ke kantin.


"Lyr, aku dengar kamu bakal jadi salah satu pemeran utama drama musikal di alun-alun kota besok?!" seru Rosie menghampiri Lyra.


Rosie adalah teman perempuan yang pertama kali dikenal Lyra saat masa orientasi mahasiswa, membuat hubungan keduanya begitu dekat.


Lyra segera menoleh ke arah Rosie, mengabaikan ponselnya. "Ah, iya, dari mana kau tahu?" tanyanya.


"Pamfletnya sudah disebar, ada fotomu di sana," jawab Rosie tersenyum senang. "Aku tidak sabar menontonnya!" tambahnya antusias.


Lyra membalas senyumannya. "Ya, terima kasih. Kebetulan seluruh mahasiswa kampus kita dapat tiket gratis kok, lagian jarang-jarang juga ada anak muda menonton teater," ujarnya.


"Oh ya, ngomong-ngomong kamu ada waktu nggak habis ini?" tanya Rosie sambil duduk di hadapan Lyra.


"Sebenarnya sih nggak ada yang penting, tapi ini Ken minta aku ke sanggar sekarang," timpal Lyra.


"Berarti ada yang penting kalau gitu," sahut Rosie membenarkan. "Ya udah deh, besok-besok aja," lanjutnya.


"Ada apa emangnya?" tanya Lyra penasaran.


"Ada deh, besok paling kamu tahu sendiri," jawab Rosie bangun dari duduknya. "Aku pulang dulu ya, mau ngajar, bye~" serunya beranjak keluar dari ruangan, meninggalkan Lyra sendirian.


Wah, Rosie pasti punya uang tabungan banyak, dia kan udah ngajar les. Tapi kan dia pinter, pelajaran apapun bisa. Nggak kayak aku, matematika aja ambur adul, mau ngajar gimana coba?! Batin Lyra sambil memperhatikan bayangan teman perempuannya yang perlahan lenyap dari hadapannya itu.


Tau ah, yang penting sekarang aku fokus musikal dulu. Batinnya lagi beranjak dari duduknya. Ia pun keluar dari ruang kelas dan mulai berjalan menuju ke suatu tempat yang letaknya cukup jauh dari gedung di mana kelas program studinya berada.


Markas Teater Musikal terletak di gedung yang sama dengan ruang musik dan ruangan-ruangan berbau seni kebudayaan lainnya, meski terpisah oleh lorong-lorong gelap yang belum dipasangi lampu. Itulah sebabnya jika malam tiba, suasananya lebih tampak seperti dimensi tanpa kehidupan. Markas club lain yang juga berada di gedung yang sama adalah club Marching Band dan club Paduan Suara.


Karena hari masih siang, tidak ada istilah horor untuk tempat itu. Lyra datang seorang diri menyusuri lorong sepi menuju markasnya. Ia berjalan tenang, ditemani oleh sepasang earphone di kedua lubang telinganya, mendentumkan alunan lagu dari band favoritnya, Evanescence, dengan salah satu lagu terbaiknya, "Call Me When You're Sober".


Baru saja sampai di depan markas, seorang perempuan sebaya dengan kasar melempar berlembar-lembar kertas ke arahnya hingga beberapa lembar berserakan di lantai. Lyra terdiam sejenak, bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa ini?!" seru perempuan itu.


"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti!" seru Lyra.


"Jangan pura-pura nggak tahu deh, udah jelas-jelas kamu sekretaris acara buat proker besok kan?!"


"Iya, semua suratnya udah beres kok, malah lembar proposalnya udah aku kirim ke badan administrasi kampus, udah lengkap semua sestempel-stempelnya, nggak ada yang salah!" seru Lyra panjang lebar sambil memeriksa beberapa lembar surat yang tadinya dilempar oleh rekan teaternya.


"Terus itu apa?!" seru perempuan itu lagi, ngegas.


Lyra mengerutkan dahi saat melihati beberapa surat yang seluruh isi tulisannya acak-acakan. "Loh, ini surat apa?" tanyanya bingung.


"Itu surat dari badan administrasi lah, tulisan kok keliru semua, bikin malu tau nggak sih!" celotehnya.


"Ya, maaf, Ran, mungkin ini aku nggak sengaja ngantuk pas buat," timpal Lyra dengan polos mengakui kesalahannya.


Rani, sekretaris umum club Teater Musikal kampus Para Den, masih berdiri dengan dingin di hadapan Lyra tanpa perubahan pada mimik wajahnya. "Pokoknya aku nggak mau tahu, secepatnya hari ini revisi suratnya harus sudah kamu kirim ke badan administrasi, acaranya besok lusa loh, belum minta tanda tangan ke rektorat juga!" serunya heboh.


"Iya, kebetulan aku bawa laptop, biar aku ngebut sekarang juga!" seru Lyra memasuki markas sambil membawa semua kertas yang tadinya dilempar Rani ke arahnya itu.


"Terus, naskah dramanya?" tanya Rani tiba-tiba, tidak menghilangkan gaya bicara galaknya. "Itu yang sudah kamu print, banyak yang disuruh revisi kan sama direktur?!" serunya lagi


"Oh iya, Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa?!" seru Lyra menepuk dahi, dengan gugup membuka laptopnya hendak memperbaiki file.


"Ada apa ini?" gumam Lyra terdiam mengamati layar laptopnya yang ia rasa ada yang aneh.


"Oh ya, mending kamu buat naskah dramanya dulu, kasihan buat yang mau tampil, nanti malam udah geladhi bersih!" seru Rani beranjak meninggalkan Lyra sendirian di dalam markas.


"Tapi ...," timpal Lyra terpotong. Ia tidak sampai mendapati bayangan Rani yang telah menghilang. "Ya udah deh," gumamnya pelan setelah itu, kini mengesampingkan surat-suratnya dan lebih memilih untuk membuat naskah drama.


Sendirian di dalam markas dengan hanya ditemani oleh ponselnya yang memperdengarkan lagu-lagu milik Evanescence, Lyra mulai mengoreksi naskah drama rumitnya yang menceritakan tentang kisah gabungan dari lima dongeng terkenal dalam satu cerita dengan tujuan hidup yang sama, "Into the Woods". Kisah ini sudah sering dipentaskan di broadway musikal Amerika Serikat, bahkan sudah difilmkan oleh Disney. Lyra sengaja membuat cerita ini untuk proyek Teater Musikal Para Den agar sesekali pementasan drama mahasiswa Para Den itu mengadopsi cerita dari luar negeri.


***


Terlalu banyak lampiran file yang diurusnya, Lyra ketiduran di dalam markas hingga pukul 5 sore. Seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya, membuatnya tersentak untuk bangun. Lyra membuka matanya. Pandangannya agak buram saat mencoba melihat sosok yang kini berdiri tegap di hadapannya. Hingga saat pandangannya telah jelas, ia dibuat tegang dengan kehadiran Millie, anggota lain club teater musikal yang cukup aktif di berbagai proyek teater.


"Aku dengar dari Rani kalau proposalnya belum cair?!" seru Millie lantang.


"Ya Tuhan, oh ..." ungkap Lyra terkejut. Ia mulai gugup. Ia menyalahkan dirinya sendiri akan kecerobohannya. Hari ini sudah menjelang petang, tapi ia malah menyisakan waktunya untuk tidur saat mencoba merampungkan seluruh revisi file-nya.


"Ayo, ku temani ke kantor badan administrasi!" seru Millie yang kebetulan untuk program kerja saat ini posisinya adalah sebagai hubungan masyarakat (HUMAS) acara yang salah satu tugasnya adalah mengantar sekretaris pelaksana mengumpulkan surat-surat.


Segera Lyra dan Millie berjalan cepat menuju kantor badan administrasi kampus yang terletak di gedung utama. Sayangnya, seorang satpam pintu menuju gedung tersebut menghadang mereka, melarang mereka untuk masuk.


"Maaf, sudah tidak ada waktu untuk kemari lagi, silahkan kembali besok!" seru satpam.


"Sudah ku duga," celetuk Millie pelan, pasalnya jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, gedung utama kosong, tak ada siapapun.


Lyra dan Millie pun kembali ke markas berdua. Lyra terus menyalahkan dirinya sendiri, ia tidak berhenti membicarakan kesulitan yang ia alami hari-hari ini terkait kafe tempat ia bekerja yang telah ditutup. Millie hanya diam, menyimak segala keluhan Lyra.


Hingga ponsel Millie berdering dengan sendirinya. Menandakan adanya panggilan masuk. Millie pun mengangkat ponselnya, berbicara pelan sebentar dengan orang yang menelponnya.


"Lyr, aku pulang dulu ya, ada urusan!" seru Millie.


Lyra mengangguk, mempersilahkan. Millie pun meninggalkan ruangan. Kini Lyra kembali sendirian dan frustrasi.


Tepat saat malam telah tiba, setiap anggota club Teater Musikal datang ke kampus untuk melaksanakan geladhi bersih. Mereka berkumpul di lapangan panggung budaya. Lyra dengan pasrah menerima segala ocehan pedas dari anggota club senior, termasuk teman-teman sebayanya yang cukup aktif dalam club ini.


"Kamu itu maunya apa sih, Lyr?"


"Jadi sekretaris kok nggak pecus?!"


"Bubar aja yokk acaranya!"


Lyra hanya bisa diam dan menangis, tidak menyangka bahwa satu komunitas akan memusuhinya hanya karena permasalahan proposal acara yang belum terkirim ke badan administrasi, juga naskah drama yang belum jadi.


Lalu suasana menjadi hening.


Kerumunan para mahasiswa club Teater Musikal yang semula memanas berubah hangus. Lyra menghela napasnya sesak, hendak meninggalkan lokasi dengan lesu. Seketika itu sebuah mikrofon menyala, seorang pria berdiri di atas panggung sambil menyanyikan sebait lagu yang sontak membuat Lyra melihat ke arah panggung.


"Happy birthday,


happy birthday,


happy birthday to you,"


Suaranya terdengar berat dan seksi.


Lyra terdiam tanpa sepatah katapun saat mendapati Ken bernyanyi di atas panggung budaya. Senyum manis Ken sebenarnya membuat Lyra hilang rasa, namun ia juga tersentuh karena tak menyangka Ken akan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.


Musik DJ dibunyikan. Setiap mahasiswa anggota club Teater Musikal yang berada di sana kini menari dan bernyanyi bersama, melanjutkan lagu ballad Ken dengan serempak. Bahkan perwakilan anggota yang pandai menarikan tarian dansa Latin pun diberi jeda khusus untuk mereka beratraksi dengan Tango-nya, bahkan musik diskotik pun menjelma menjadi musik cha cha sementara waktu. Saat sesi tarian Tango usai, para mahasiswa lainnya kembali memeriahkan suasana dengan nyanyian kompak serta tarian yang hebat bak dalam film musikal sungguhan.


Lagu berakhir dengan Ken yang datang tepat di hadapan Lyra sambil membawa sebuah kue beludru merah raksasa dengan lilin membentuk angka 24. "Happy birthday, sweetheart," ungkap Ken tersenyum manis pada Lyra, berharap Lyra segera meniup dua api kecil yang menyala di masing-masing ubun-ubun lilin. Terlebih lagi, setiap orang di lapangan tempat panggung budaya berada itu bersorak ria, menyambut hari ulang tahun Lyra itu dengan suka cita.


Lyra menelan ludah bingung. Tak mengerti. Bagaimana bisa orang biasa seperti dirinya memiliki hari ulang tahun yang dirayakan oleh banyak orang. Apalagi sikap alay Ken cukup membuatnya risih. Iya sih dia tahu kalau Ken selama ini sering menggodanya, namun kali ini adalah yang paling berlebihan baginya.


Tanpa menunggu untuk meniup lilin, angin malam berhembus dengan tidak sengaja melenyapkan kedua api. Lyra menganggapnya mukjizat.


"Sebelumnya, terima kasih banyak karena sudah merayakan ulang tahunku," ungkap Lyra gugup, berbicara pada semua orang di sekelilingnya, termasuk Ken di hadapannya yang masih memegang kue beludru merah. "Tapi, aku sungguh tidak mengharapkan ini, aku minta maaf, aku harus pergi!" serunya resah sambil berlari ke lain arah seorang diri.


Lyra pikir tidak akan ada yang mengikutinya, namun siapa sangka bila Ken menyusulnya dan mencoba meraih tangannnya.


"Lyr, tolong dengarkan aku!" seru Ken yang berhasil memegang telapak tangan Lyra. Namun Lyra segera menamparnya dengan keras.


CEPLAK!


"Ini berlebihan tau nggak?!" seru Lyra dengan tegas, lalu segera berjalan cepat, pergi. Ia tidak peduli lagi tentang geladhi bersih yang ia lewatkan. Ia benar-benar kesal dan ingin memarahi siapa saja yang menghalangi jalannya.


Ken akhirnya diam di tempat, mencoba untuk sabar meski sebenarnya ia juga marah atas tamparan keras yang Lyra hadirkan untuknya. Ia bisa saja langsung membentak Lyra karena sudah tidak menghargai usahanya, hanya saja ia tidak ingin membuang-buang waktu karena sebentar lagi ia harus mengatur jalannya geladhi bersih di panggung budaya selagi para anggota lainnya telah berkumpul di sana. Biarlah Lyra pergi, resiko penampilannya pada pentas drama musikal akan ditanggung oleh dirinya sendiri.


Sementara itu Lyra tak mampu mengontrol emosinya lagi. Ia terus berjalan sambil membawa ranselnya yang memuat laptop. Ia tidak menyangka kalau sejak tadi siang ia dikerjai oleh rekan satu club-nya. Proposal sudah lama cair di badan administrasi kampus sejak sebulan yang lalu, bahkan setiap surat undangan saat ini sudah seluruhnya dipegang oleh sie humas untuk disebarkan. Bahkan naskah dramanya itu kenyataannya tidak memiliki kesalahan sama sekali namun Rani membuat per kalimatnya seolah-olah keliru dan harus dibenarkan.


Lyra paham kalau apa yang dilakukan oleh teman-temannya itu sebenarnya bertujuan baik. Tapi ia terlalu malu untuk mendapatkan semua itu. Apakah aku istimewa? pikir Lyra.


***