Blue Blouse

Blue Blouse
TWO



Sebuah meja berbentuk lingkaran di depan kafe tampak kosong. Seorang gadis membawa dua buah kursi dan meletakannya berhadapan di setiap sisi meja itu. Ia juga menata meja lainnya, membentangkan payung-payung meja di teras luar dan mulai membereskan beberapa perabotan yang belum benar. Tak lupa ia memasak beberapa cemilan juga memanaskan dispenser-dispenser berbagai jenis kopi. Saat semuanya ia rasa beres, ia pun membalikkan sebuah kertas kecil yang tergantung di pintu kaca kafe—yang semula "close" menjadi "open". Ia juga memasang kembali tabel menu di samping meja kasir tempat ia akan menghabiskan banyak waktu sepanjang menjaga kafe.


Lyra sangat berharap pengunjung kafe hari ini lebih ramai dari biasanya. Saat ini banyak kafe besar berdiri, wajar bila kafe sederhana yang ia urus itu kehilangan peminat, menu-menu yang disiapkan pun terlalu simpel. Namun bagaimanapun Lyra tetap menerimanya meski hanya akan ada satu atau dua pelanggan yang datang sampai nanti sore sekalipun.


Menganggur. Lyra hanya menghabiskan waktunya untuk termenung di meja kasirnya, diiringi oleh alunan musik bertempo ringan pada tape recording mini di atas sebuah meja, lagu "Bad Thing" milik Jesy Nelson. Ia tak tahu harus melakukan apa, tidak ada hiburan yang pasti selain menyimak lagu emosional itu. Lyra memang secara personal menyukai lagu-lagu tentang abusive relationship, padahal ia sendiri belum pernah tahu bagaimana rasanya pacaran.


Tak berapa lama, seorang pria tidak asing datang memasuki kafe dengan mata yang tampak sembab dan raut mukanya yang kusam, terlihat sekali kalau dia belum mandi. Musa berubah pikiran, ia tak punya pilihan lain untuk menahan sakit giginya. Tidak ada siapapun yang bisa ia mintai tolong kali ini selain Lyra. Setelah berpikir panjang sambil menangis sendirian di dapur rumah Lyra, Musa pun memutuskan untuk datang ke kafe tempat Lyra bekerja.


"Hai, Lyr," sapa Musa lesu.


"Ada apa, tidak biasanya kau kemari?" tanya Lyra beranjak menghampiri Musa untuk berkontak langsung dengannya.


"Kau mau mengantarku ke dokter gigi sekarang?" tanya Musa.


Lyra menengok sejenak ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan. "Aku tidak yakin ada poli gigi yang buka jam segini, dokter gigi biasanya praktek sore di klinik," ucapnya sambil menatap kedua mata Musa seperti biasa. "Kalau dokter gigi kenalanku itu buka praktek di rumahnya sendiri malam, cuman kalau hari ini ya tutup, soalnya hari Minggu," lanjutnya.


"Kok gitu ya, aku nggak kuat, aku nggak bisa makan dari tadi," keluh Musa sembari duduk di salah satu kursi kafe.


Lyra tak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia turut duduk di kursi menemani Musa yang kini terdiam melihat ke lantai, meratapi cenut-cenut giginya yang syukurlah masih bisa ia tahan.


"Di sini hanya ada makanan manis, kau tidak boleh makan manis," ucap Lyra pelan. "Apa perlu ku belikan pisang di supermarket? Mumpung masih jam segini," tawarnya.


"Tidak usah, aku akan menunggu sampai sore," timpal Musa. "Lagian kafe ini harusnya juga buka sampai sore kan?" tambahnya.


Lyra menghela napas. "Masalahnya, kafe ini seperti tidak laku lagi. Sejak kafe baru di dekat alun-alun itu buka, tak seorangpun mampir kemari, jadi ya aku seperti menganggur saja di sini," ujarnya.


Musa memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan lekat, menyadari bahwa gadis di hadapannya saat ini cukup cantik bila dibandingkan dengan gadis-gadis lain yang pernah ia temui. Lyra adalah yang paling cantik. Sayangnya, Lyra hanyalah sahabatnya. Ia tidak mungkin menyukai sahabatnya sendiri hanya karena mengagumi parasnya.


Melihat Musa diam saja melihat ke arahnya, Lyra menggoyang-goyangkan tangannya di depan mata Musa, hingga membuat lamunan pria itu pudar.


"Ngelamun?" tanya Lyra.


"Enggak, aku sedang memikirkan sesuatu," jawab Musa.


Lyra menyimpulkan senyum sejenak pada Musa, lalu menemaninya duduk di sana selama berjam-jam tanpa topik pembicaraan apapun. Hingga seorang pria paruh baya bertubuh gendut datang memasuki kafe. Lyra sontak menghampiri pria itu untuk berbicara empat mata dengannya.


"Kafenya masih sepi ya, Lyr?" tanya Tuan Chao, pemilik kafe itu. Orang baik pertama yang dikenal Lyra selama tinggal di kota.


"Iya, tuan, kafe selalu sepi, hampir tidak pernah ada pelanggan," jawab Lyra.


"Ya, sebenarnya aku datang kemari untuk memberitahumu sesuatu," timpal Tuan Chao. "Aku harap kau baik-baik saja," lanjutnya ragu untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.


Jantung Lyra tiba-tiba terasa berhenti. Ia mulai memiliki perasaan buruk. Tuan Chao menemuinya kali ini seperti akan menyampaikan berita pahit yang akan sulit ia terima. Ia begitu takut untuk menyimak apa yang akan ia dapatkan.


"Ada apa, tuan?" tanya Lyra cemas.


"Mengingat pendapatan kafe yang menurun, aku menyerahkan tanah tempat ini pada seseorang, jadi dalam lima hari ini kafe mulai persiapan untuk tutup," ujar Tuan Chao.


Lyra tidak berkedip sama sekali, terkejut dengan apa yang dikatakan Tuan Chao. "Selamanya?" tanyanya memastikan. Matanya mulai berkaca-kaca, hendak menitihkan air mata.


"Ya, Lyra, ku rasa bisnis baristaku tak lagi berhasil, sudah saatnya aku pensiun, terima kasih atas kerja samamu selama ini, aku benar-benar minta maaf," timpal Tuan Chao prihatin, perlahan ia dengan berat melangkahkan kaki pergi meninggalkan kafe yang telah didirikannya selama dua puluh lima tahun itu.


Lyra masih terdiam di tempat. Tertegun.


Musa penasaran. Ia tidak bisa menyimak dengan jelas percakapan Lyra dan Tuan Chao. Akan tetapi ia sudah mengira kalau topik pembicaraan mereka adalah sebuah berita buruk karena sampai membuat Lyra sedih. Hanya saja ia tidak berani menanyakannya langsung pada Lyra, ia ingin memberi gadis itu waktu untuk tenang. Saat ini ia tidak ingin mengganggu situasi hatinya.


***


Sore harinya, Lyra termenung di sebuah kursi panjang yang terletak di koridor poligigi sebuah klinik pratama, menunggu Musa yang saat ini tengah ditangani oleh dokter gigi di dalam ruangan periksa gigi. Karena sendirian, Lyra merasa lebih tenang meski kini ia dilanda kesedihan dan pikiran campur aduk akan masa depan. Ia tak tahu apa yang akan ia hadapi beberapa hari ke depan, lantaran biaya kuliah yang mahal juga pekerjaan yang belum jelas.


Kalau seperti ini, aku ingin cepat-cepat mengajar. Batin Lyra, berpikir keras tentang pekerjaan apa yang bisa dilakukannya di sela-sela jam kuliah. Ia tak ingin adanya tabrakan jam antara kuliah dan pekerjaannya. Juga ia tidak ingin mendapatkan pekerjaaan yang akan membuatnya tertekan.


Masalahnya, bagaimana caranya aku mendaftar sebagai guru? Lulus kuliah aja belum! Batinnya lagi. Apakah yayasan pendidikan juga mengadakan audisi seperti X Factor? Barangkali guru yang melamar pekerjaan harus berkompetisi satu sama lain! Pikirnya lagi, semakin mengira yang aneh-aneh.


Tiba-tiba ponsel milik Musa yang saat ini dibawanya berdering, tampak pada papan layarnya tulisan "Mama", ibu Musa menelpon. Tentu saja, sang ibu pasti khawatir, sejak kemarin Musa menghabiskan waktu bersama Lyra. Namun karena situasi yang tidak mendukung, Lyra membiarkan panggilan itu terus berdering dan tidak mengangkatnya. Ia tidak ingin dicurigai oleh ibu Musa, ia juga tidak mau salah bicara jika saja ia mengangkat panggilan itu. Lagipula ibu Musa tidak mengenal siapa Lyra, Musa tidak pernah memperkenalkan keduanya.


Tak berapa lama, Musa keluar dari ruangan periksa gigi dengan senyuman yang merekah lebar ke arah Lyra. Tampaknya giginya sudah baik-baik saja. Lyra dibuat heran awalnya saat melihat Musa tersenyum bahagia, namun ia segera menyerahkan ponsel pria itu padanya, membuatnya mengetahui sendiri kalau ibunya baru saja menelpon.


"Loh, mama habis telepon?" tanya Musa polos, lalu kini pergi ke sebuah lorong dekat poli gigi untuk menelpon kembali ibunya.


Lyra masih duduk di kursi, membiarkan Musa bercakap-cakap dengan ibunya di telepon. Ia tidak ingin ikut campur. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah tetap sabar menunggu sambil menikmati semilir angin sore hari yang berhembus ringan.


"Ada apa?" tanya Lyra saat mendapati Musa telah kembali dari lorong sambil memasukan ponsel ke dalam saku celana.


"Mama nyuruh aku jaga rumah nanti malam soalnya dia mau ke luar kota sama papa," jawab Musa.


"Oh, baguslah, kau bisa tinggal di rumahmu sendiri tanpa merepotkan orang lain," timpal Lyra.


"Loh, berarti selama ini aku bikin kamu repot?" tanya Musa merasa tidak enak.


"Kalau iya, emangnya kenapa?" timpal Lyra jutek, namun sebenarnya ia hanya bergurau.


"Ya maaf, namanya aja orang lagi sakit gigi. Lagian kalau nggak ada tugasnya Profesor Lewis, aku mana mungkin nginep di rumah kamu, mending nginep di kos-kosannya Liam sama Tom, nyewa hotel juga bisa," ujar Musa.


Musa merasa aneh. Ia pun menciumi kedua ketiaknya yang ternyata berbau apek. Wajar, ia belum mandi seharian, apalagi saat ini ia masih memakai hoodie hitam yang sudah ia pakai selama dua hari. Tidak peduli betapa insecure-nya dia saat Lyra mengomentari bau badannya, ia merasa baik-baik saja karena Lyra adalah sahabatnya yang berhak mengetahui setiap titik kekurangan dalam dirinya.


Baik Musa maupun Lyra mampir sebentar ke sebuah tempat pemandian air panas yang sepi sore itu. Mereka berdua berendam di kolam yang terpisah oleh tabir batu berukuran besar, sekat antara kolam perempuan dan kolam laki-laki. Air hangat yang mengalir pada tempat tersebut terasa segar di badan. Siapa saja yang berendam di sana akan menjadi rileks.


Tanpa ada siapapun yang mengganggu, Lyra masih saja mengisi kesendiriannya dengan memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan hari-hari ini, memilih untuk putus kuliah atau tidak demi pekerjaan dan membiarkan cita-citanya kandas di tengah jalan.


Berbeda dengan Musa yang terus terbayang oleh wajah cantik Lyra di kepalanya sejak ia mencoba untuk merilekskan diri di kolam. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya itu ternyata sangat cantik. Terlebih lagi sisi keibuan yang ia miliki terhadapnya, ia merasa beruntung memiliki seorang sahabat seperti Lyra. Entah apakah ia terbawa perasaan atau kagum, yang pasti ia mulai memiliki keinginan untuk membalas kebaikan Lyra padanya selama ini.


Seusai mandi, dua manusia segar itu pun pulang bersama. Tentu saja Musa membonceng Lyra dengan motornya meski Lyra sebenarnya kesulitan untuk duduk karena posisi belakang yang condong ke atas.


Sesampainya di rumah, Lyra turun dari motor terlebih dahulu untuk membukakan pintu pagar depan rumahnya agar Musa bisa masuk ke dalam untuk memarkir motor. Di samping itu, seorang kurir tiba-tiba muncul sambil membawa sebuah paket yang ditujukan untuk Lyra.


"Atas nama Lyra Hartley?" tanya kurir itu.


"Ya, saya?" timpal Lyra menghampiri kurir itu.


"Ini, paket untuk mbak," timpal kurir.


"Oh," ucap Lyra sambil menerima sekotak paketan misterius itu dengan bertanya-tanya. Aku jarang belanja online, ini paketan apa ya? Batinnya curiga. "Bayar berapa?" tanyanya memastikan.


"Nggak usah bayar mbak, cuma kiriman paket, gratis ongkir juga kok. Saya pamit dulu ya, terima kasih." ucap kurir tersebut mengundurkan diri.


Lyra terdiam di tempat sambil membawa paketan itu. Musa menghampirinya, turut penasaran.


"Paketan dari siapa?" tanya Musa.


"Nggak tahu, nggak ada namanya ih," timpal Lyra sembari mengecek tulisan pada paket tersebut yang hanya tertulis nama dan alamat rumahnya, tanpa adanya identitas si pengirim.


Di ruang tamu, Lyra segera mengecek apa isi paketan untuknya itu. Isinya terbalut oleh kertas koran yang juga dipenuhi oleh sobekan-sobekan kertas bergaris. Di antara sobekan-sobekan kertas itu, terdapat sebuah amplop kecil dengan tulisan "Untuk Lyra". Lyra yang penasaran pun membuka amplop itu dan membaca secarik surat di dalamnya.


...Teruntuk Lyra tersayang...


Bagaimana kabarmu nak?


Ayah sangat merindukanmu. Jaga kesehatan ya. Jangan terlalu memikirkan ayah. Ayah baik-baik saja kok. Ayah di sini selalu mendoakanmu. Semoga kamu sukses. Maaf bila kado ayah sedikit menganggu, barangkali kamu sibuk hari ini. Ayah tidak punya hadiah apa-apa buat kamu, ...


Lyra memotong bacaan suratnya dan memeriksa benda di balik balutan kertas koran yang telah ia robek. Tampak sebuah album foto berukuran besar dengan sampul anime Candy Candy. Lyra tidak pernah tahu album itu, apa mungkin dia lupa atau bagaimana. Ia pun membuka album tersebut satu per satu, tampak foto-foto seorang gadis yang tidak dikenalnya, namun ia seperti pernah melihatnya. Yang membuat Lyra terkejut adalah saat melihat foto gadis itu bersama seorang lelaki berkumis yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Lyra mulai berprisangka kalau gadis itu adalah masa muda ibunya. Ia pun kembali membaca surat dari ayahnya.


... Ayah hanya bisa memberimu ini, album foto kenangan ibumu saat masih muda dulu. Dia cantik kan? Mirip sekali denganmu. Kau pasti juga merindukannya. Selalu doakan ibu ya di alam sana.


Perlahan air mengalir dari pelupuk mata Lyra saat membaca surat itu. Pasalnya Lyra mulai teringat oleh masa lalunya, saat ia sering menghabiskan banyak waktu bersama ibunya. Ia tidak menyangka kalau masa-masa itu sudah cepat berlalu. Ia tidak bisa bertemu dengan ibunya lagi.


... Dan ini, ada sebuah buku diary yang ayah temukan di bawah kasur kamar ibumu dulu, ya mungkin tidak terlalu penting, tapi setidaknya buku ini bisa menghiburmu. Ada banyak tulisan-tulisan ibumu dan sahabat-sahabatnya saat masih SMA di sana. Sekali lagi ayah minta maaf karena tidak bisa memberimu apa-apa. Selamat ulang tahun, LYRA.


^^^Tertanda^^^


^^^Ayahmu^^^


Lyra tak mampu menyeka air matanya. Ia sangat tersentuh mendapati hadiah istimewa dari ayahnya itu. Ia kini meraih sebuah buku tebal kertas kuning dengan sampul warna hijau yang tak lain adalah buku diary masa muda ibunya. Ia pun melihat beberapa halaman di bagian depan, kagum dengan tulisan ibunya yang rapi dan cantik, bahkan terdapat banyak tipografi kreatif yang diwarnai dengan spidol warna-warni.


Lyra sendiri hampir lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia tidak menyangka kalau ayahnya mengingatnya di saat ia sudah bertahun-tahun tidak pulang kampung bahkan jarang menelpon. Lyra mengusap air mata di pipi lengketnya sejenak dan segera meraih ponselnya untuk menelpon ayahnya.


"Halo, ayah," sapa Lyra.


"Halo, sweetheart, bagaimana kabarmu?"


"Baik. Aku tidak menyangka kalau ayah mengingat ulang tahunku."


"Hohoho, tentu saja ayah ingat. Kau kan anak ayah."


Lyra tersenyum mendapati jawaban ceria ayahnya. "Ayah sendiri apa kabar?"


"Sehat dan bugar dong, ayah kan rajin olahraga."


Lyra tak tahu harus mengatakan apa lagi. Ia hanya bisa menangis sekarang. Pikirannya masih tak karuan. Ia sebenarnya ingin memberitahu ayahnya kalau ia ingin putus kuliah dan segera pulang ke desa untuk menemaninya. Namun di sisi lain, ia tidak ingin menyakiti hati ayahnya yang menaruh banyak harapan untuknya. Pada intinya, ia harus bertahan.


Di luar percakapan telepon Lyra dan ayahnya, Musa yang sedang menganggur diam-diam mengambil secarik surat dari isi paketan Lyra yang kebetulan tergeletak di lantai tanpa sepengetahuan Lyra. Sebelum membaca surat itu, ia membawanya masuk ke dalam agar Lyra tidak melihatnya. Musa sangat penasaran lantaran Lyra menangis saat membaca surat itu, seolah-olah surat tersebut berisi kalimat-kalimat romantis. Meski dugaannya salah, Musa tetap paham kenapa Lyra terbawa perasaan saat membaca surat tersebut, itu adalah surat istimewa dari ayahnya.


Musa belum pernah tahu keluarga Lyra, bahkan tidak tahu sama sekali tentang latar belakangnya. Ia hanya mengenal Lyra sebagai teman kuliah pintar yang sering sekelompok dengannya. Ia terkejut saat membaca seluruh isi surat.


Jadi ibu Lyra sudah meninggal?


Hari ini Lyra ulang tahun?


Kata demi kata terucap dalam lubuk hati Musa. Ia mengetahui beberapa hal baru tentang Lyra yang selama ini belum pernah ia ketahui. Musa terdiam sejenak, berpikir. Ada baiknya ia harus memberi Lyra sesuatu yang sekiranya bermanfaat bagi Lyra dan Lyra menyukai hadiah itu.


"Tapi apa ya?" gumamnya.


***