Blue Blouse

Blue Blouse
SEVEN



Musa mencuci tangannya di westafel kantin, sesekali ia melihat cermin di hadapannya, memandangi wajahnya sendiri, namun ia terus teringat oleh wajah Aurel. Ia merasa aneh saat bertemu dengan teman masa kecilnya itu.


Iya, dia ingat persis kalau saat masih kecil, ia dan Aurel sangatlah dekat, bagaikan kekasih, meski hubungan itu terasa sangat memalukan bila dikenang kembali di saat-saat seperti ini. Mereka tak lagi dekat, bahkan bisa jadi tak lagi berteman. Semua itu hanya kenangan masa kecil.


"Eh, Musa, mie-mu udah datang!" panggil Liam dari arah bangku tempat ia duduk. Keadaan kantin yang telah sepi membuat ia leluasa berteriak ke setiap sisi sudut kantin.


Musa membasuh mukanya sebentar lalu ia beranjak menuju bangku tempat Liam dan Tom kini tengah asyik mengobrol sambil menikmati pop ice mereka. Musa tak sabar menikmati hidangan mie ayamnya yang tertunda itu, terhidang hangat dan siap untuk ia santap.


"Nyam, nyam, selamat makan!" seru Musa sebelum mengangkat seperempat mie dengan sumpit yang kini dibawanya. Ia meniup mie yang hendak ia lahap sejenak lalu memasukkannya dengan nikmat ke dalam mulutnya.


***


Lyra datang ke sebuah tempat sepi, di bawah pohon Willow yang berada di belakang gedung teater kampus. Jarang ada yang datang ke sana, kebanyakan orang menganggap tempat itu angker. Meski begitu, bagi para mahasiswa yang tidak peduli dengan hal-hal mistis tetap saja mampir ke sana untuk suatu keperluan. Kali ini adalah Ken yang ingin bicara empat mata dengan Lyra. Sebenarnya Lyra sangat gugup untuk bertemu dengan direktur club-nya itu, namun bagaimanapun ia harus berani menemuinya.


"Sudah tidak ada jam kuliah?" tanya Ken melirik ke arah Lyra sebentar. Saat ini ia tengah duduk di sebuah kursi bersama meja kecil berbentuk lingkaran di hadapannya sambil menatap layar ponselnya, melihat-lihat data administrasi di sebuah situs pribadi.


"Sudah kosong. Kamu sendiri kan yang nyuruh aku nemuin kamu kalau kuliahnya udah selesai." jawab Lyra menghampiri Ken, lalu duduk di sebuah kursi yang terletak di ujung meja, berarahan seberang dengan kursi Ken.


"Besok kita udah tampil, kamu pemeran Mrs. Baker, peranmu sangat penting di sini. Jadi kamu mungkin sudah paham kenapa aku manggil kamu," ujar Ken serius.


Lyra menundukkan kepala sejak awal duduk di sana, tidak berani menatap kedua mata Ken, ia benar-benar merasa bersalah atas kejadian tadi malam. Ia menghela napas sejenak. "Jadi kapan latihan lagi?" tanyanya.


"Jam dua, aku tunggu di markas!" seru Ken sambil mematikan ponselnya. Ia beranjak pergi meninggalkan Lyra sendirian setelah itu tanpa kata-kata pamit, dingin.


Lyra melihat sejenak jam di layar kunci ponselnya yang menampilkan tulisan 01.56 pm, menandakan bahwa 4 menit lagi adalah waktunya untuk latihan. Ia tidak sempat mengungkapkan permintaan maafnya pada Ken. Namun ia yakin, suatu saat nanti jika terlalu banyak aktivitas bersama, mereka akan dengan sendirinya baikan, meski tidak saling mengucapkan maaf.


***


Di lapangan futsal Kampus Para Den pukul 04.00 pm, sepuluh laki-laki muda berbaju casual dan celana trining pendek bergerak lincah menggiring bola yang mereka tendang ke sana kemari. Mirip sepak bola tapi dengan beberapa peraturan yang sedikit berbeda, futsal menjadi salah satu jenis permainan bola yang paling digemari oleh para lelaki remaja di kota Para Den. Sore ini pun meski tak ada penonton atau pemandu sorak, para mahasiswa yang tengah berlatih futsal itu tetap bermain serius laiknya bermain di olimpiade.


Ketika sang wasit meniup peluit, mengangkat salah satu tangannya dengan tegas, memberi aba-aba istirahat, para pemain pun membubarkan diri dan pergi ke pinggir lapangan. Di saat waktu istirahat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk meluruskan kaki, menikmati nafas ngos-ngosan, mengelapi keringat yang menghiasi wajah, juga tentunya minum air putih dan saling mengobrol satu sama lain.


Di sisi lain, para anggota club teater tengah ramai menuruni tangga bangunan seni, pergi menghampiri motor masing-masing di tempat parkir yang kebetulan letaknya tak jauh dari letak lapangan futsal. Beberapa mahasiwa club teater pun mampir sebentar ke lapangan untuk menyapa teman-teman mereka yang merupakan anggota tim futsal, tentu saja mengobrol ringan dan bergurau apa adanya.


Musa, bagian dari tim futsal, kini dibuat datar saat menanggapi rekan setimnya mengobrol seru dengan beberapa anggota club teater. Ia berharap Lyra segera datang menghampirinya dan memberinya semangat. Ia pun mencoba memeriksa area parkir dari kejauhan, berharap ia dapat melihat Lyra. Sayangnya, bayangan gadis itu sama sekali tidak tampak di matanya.


"Lyra ke mana, ya? Masa dia nggak latihan?" batin Musa yang sudah merindukan Lyra meski baru setengah hari tidak saling berkomunikasi.


Musa meneguk sebotol air minum lagi, membasahi kerongkongannya yang kering meski sudah menelan ludah berulang kali selama pertandingan. Ia juga masih saja memperhatikan area parkiran, benar-benar masih berharap untuk melihat bayangan Lyra walau hanya tampak punggungnya saja.


***


Malam telah tiba. Musa kini tengah bermain game MOBA bersama Bayu, Satyo, Paulo, Arjun dan Gio di sebuah gazebo yang letaknya masih berada di dalam kampus, bersebalahan dengan ruang sarana prasarana. Sudah biasa bagi mahasiswa Para Den untuk menginap di kampus kapanpun dan di manapun, kampus ini sudah menjadi rumah kedua bagi mereka. Jadi saat malam larut pun pasti masih ada mahasiswa yang keluyuran di dalam kampus, entah itu dalam kegiatan mahasiwa seperti rapat organisasi dan acara-acara lainnya, atau hanya sekedar nongkrong main game sambil ngopi bareng. Asalkan tidak melanggar norma dan adat istiadat penduduk setempat, mahasiswa dibebaskan untuk menetap di kampus.


Di tengah-tengah permainan, saat Musa sedang fokus-fokusnya, sebuah panggilan telepon WhatsApp muncul, menganggu. Ia berdecak kesal saat mendapati foto profil WA ibunya pada layar ponselnya, membuatnya terpaksa mendapatkan AFK demi mengangkat panggilan ibunya itu.


"Halo, Ma," ucap Musa tepat setelah mengangkat panggilan itu.


"Mama suruh kamu apa?!" terdengar suara sang mama kesal.


"Nyuruh apa sih, Ma? Perasaan Mama cuma nyuruh aku jaga rumah, itu aja kok!" timpal Musa.


"Nah iya itu. Yu' Tari bilang kamu belum pulang dari tadi pagi sejak berangkat kuliah. Kenapa sampai sekarang belum pulang, hah?!" omel sang Mama.


Musa hanya bisa diam, tidak ingin membalas ucapan mamanya lagi karena ia yakin tetap akan disalahkan.


"..., Kamu itu anak orang terpandang, Musa. Nah mbok yo nurut sama omongan orangtua. Jangan mentang-mentang anak orang kaya, kamu melanggar banyak aturan kayak anak-anak pinggiran itu. Mama nggak mau imej anak mama buruk cuma gara-gara kamu kuliah di kampus kecil." tambah sang Mama panjang lebar.


"Terus kenapa dari awal Mama nggak nguliahkan aku di kampus berbintang, Ma? Uang Mama kan banyak!" timpal Musa


Beberapa teman Musa yang lain melirik sejenak ke arahnya. Karena mereka sudah mengerti kalau Musa tidak bisa bermain lagi karena harus mengangkat panggilan, mereka tetap santai bermain hingga berhasil merebut turret milik lawan dan memenangkan pertandingan.


"..., tujuan Mama nguliahkan kamu di situ itu biar kamu mudah dapat beasiswa, nggak perlu ambis-ambis rebutan beasiswa kayak mereka yang kuliah di universitas gede. Paham?!" seru Mama Musa, masih melanjutkan. "Jangan-jangan kamu punya pacar, makanya sering nggak pulang ke rumah." tambahnya curiga.


"Musa nggak punya pacar," timpal Musa.


"Halah, terus suara perempuan yang sering telponan sama kamu itu siapa kalau bukan pacar kamu?!"


"Ah, apaan sih Ma, mama sering nguping ya ternyata. Lagian temenan sama cewek aja masa gak boleh?! Di dunia ini kan ada dua gender, Ma!" seru Musa kesal menanggapi ocehan mamanya di telepon.


"Pokoknya, ..." timpal sang Mama terpotong.


"Mama cerewet ya?" ucap Bayu tiba-tiba.


"Iya, nyebelin tau nggak, banyak banget maunya." timpal Musa.


"Sabar, namanya aja ibu. Mereka selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya." timpal Bayu yang kini tampak serius memainkan game.


"Ya, tapi ya kesel aja gitu, gak tau kenapa." ucap Musa kini sambil memejamkan mata, mencoba menikmati semilir angin malam yang berhembus. Ia menghela napas pasrah. "Ya udah deh, aku pulang dulu!" serunya sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya saat ia beranjak meninggalkan gazebo.


Keheningan pun terjadi. Bayu, Satyo, Paulo, Arjun dan Gio saling melirik satu sama lain tanpa seciprat kata pun terucap dari mulut mereka sampai bayangan punggung Musa benar-benar menghilang dari pandangan mereka tepat saat laki-laki itu telah mengendarai motornya pergi meninggalkan kampus.


***


Di sebuah area sepi dengan rumput dan pohon serta cahaya lampu jalanan berwarna kuning yang menyala. Tempat itu tampak sedap dipandang mata, bisa jadi tempat yang sempurna bagi sepasang kekasih yang tengah kencan berdua. Hanya saja jalanan di sana kelewat sepi, hampir tak ada tanda-tanda kehidupan selain suara jangkrik dan tokek yang masih setia berjaga.


Aurel duduk seorang diri menikmati ketenangan alam dengan sebuah gitar akustik di pangkuannya. Ia kini duduk sila di atas sebuah kursi panjang berwarna putih yang mengarah ke jalanan sepi. Dibalut oleh jaket berbahan jeans, ia tidak merasa kedinginan sama sekali malam ini.


"We belong together


We belong together


And you know it


Wine stained teeth and bloodshot eyes


Think we're both fucked up and that's alright


Yeah, yeah


We belong together


Ooh-ooh, ooh-ooh, oh"


Menyanyikan sepenggal bait lagu Dove Cameron yang berjudul "We Belong" dengan suara yang teramat pas-pasan, Aurel tidak peduli. Ia hobi bernyanyi meski tidak memiliki vokal yang bagus, lagipula tak seorangpun lewat. Ia yakin, para makhluk gaib yang menghuni area itu pun tak kan sampai hati menggentayanginya hanya untuk mengomentari suaranya. Sembari memetik senar gitarnya perlahan dengah chord yang masih awuran, ia tetap menyanyi seolah-olah kini ia tengah berada di sebuah studio rekaman bersama dua orang produser musik.


"Hai cewek,". Terdengar suara seorang pria entah dari mana sontak membuat Aurel terkejut.


Tubuh Aurel mendadak kaku seketika saat mendapati dua orang pria bertubuh kekar, berwajah sangar, berpakaian serba hitam, aksesoris besi berantai menghiasi beberapa bagian tubuh mereka, juga tubuh full tato berdiri di hadapannya sambil menyeringai.


"Kok sendirian sih, neng?"


"Nggak mau ditemenin sama abang?"


Dua pria itu mencoba untuk menggoda Aurel yang kini gemetar dengan keringat yang sukses membasahi sekujur tubuhnya. Aurel benar-benar takut. Ia berpikiran yang tidak-tidak kali ini.


"Kok diem aja sih?"


"Bisu, ya, neng?"


Dua pria itu semakin agresif dengan duduk diantara Aurel dan mencoba merabai tubuh gadis malang itu.


"APAAN SIH KALIAN?!" seru Aurel lantang sambil menyikut perut seorang pria di sebelah kanannya, lalu segera berdiri dan menginjak dengan keras kaki pria yang duduk di sebelah kirinya. Kemudian ia segera berlari sambil membawa gitarnya, bahkan melupakan tas gitarnya yang ketinggalan di kursi.


"Eh, berani kamu sama kami?!"


Dua pria itu pun mengejar Aurel.


Mereka menyusuri jalanan sepi yang cukup gelap karena dipenuhi oleh pepohonan. Bagaikan dunia sebelum dibuatnya lentera. Semuanya gelap. Aurel berlari ketakutan bercampur perasaan panik. Yang bisa Aurel andalkan saat ini hanyalah cahaya bulan di langit yang tampak remang-remang karena diselimuti oleh awan. Penampakan burung hantu bermata lebar di ranting sebuah pohon pinggir jalan cukup membuat Aurel semakin takut. Situasi kali ini benar-benar menyeramkan baginya.


Dua pria misterius itu lari cukup kencang, mereka semakin menyelip Aurel. Hingga saat Aurel terpeleset jatuh, membiarkan lutut kakinya terluka oleh gesekan aspal, juga gitarnya yang terlempar ke sisi jurang pinggir jalan dan terdengar suara benturannya mengenai sesuatu yang keras.


Aurel berhasil ditangkap oleh dua pria itu dan hendak dilecehkan. Ia tak henti-henti menangis dan mencoba berteriak "minta tolong". Namun pada siapa ia harus berteriak, tempat itu sangatlah sepi, tidak akan ada seseorang yang bisa menolongnya. Ia sungguh tak berdaya. Ia cukup lemah dibanding dua pria yang kini berhasil menahannya terbaring di atas tanah.


Ya Tuhan, selamatkanlah aku!


Aurel terus berdoa dalam hati, mengharapkan sebuah keajaiban dari Tuhan entah berupa apapun asalkan ia selamat dari dua pria mengerikan ini. Ia juga tak berhenti merutuki kebodohannya dengan tidak langsung pulang ke asrama setelah mengikuti pelatihan jurnalistik di kampus, ia sampai lupa waktu saat duduk sendirian di lapangan sebelumnya.


***