
Alunan musik symphonic metal yang menggelegar di seisi stadion Balai Cempaka Putih itu sangat meriah. Distorsi gitar yang kuat, diiringi oleh iringan piano klasik berefek elektronik juga suara bass yang tak kalah kerasnya itu berhasil membawa para penonton terjun ke dimensi lain, dimensi di mana mereka dapat merasakan isi dari emosi mereka sendiri. Lagu "Ghost Love Score" yang berdurasi selama 10 menit penuh itu dimainkan dengan sempurna. Para penonton konser ikut bernyanyi bersama sang vokalis dengan kehadiran panggung yang hebat.
Lyra dan Rosie tidak sia-sia menghadiri konser itu, konser paling bersejarah dalam hidup mereka karena ini adalah pertama kalinya Nightwish datang ke negara mereka. Tak hanya menonton, mereka juga sempat mengambil gambar dan video rekaman penampilan Nightwish itu di ponsel mereka. Hingga saat konser berakhir, Rosie mulai melakukan live Instagram tentang jalan-jalannya bersama Lyra, di rekaman itu ia sempat mendapatkan bait terakhir lagu "Sahara", diikuti oleh sorak dan tepuk tangan jutaan penonton yang hadir.
"Lyr, ayo foto bentar!" seru Rosie mengajak Lyra untuk selfie dengan ponselnya.
Dua gadis itu pun berfoto sejenak.
"Habis ini kita ke mana?" tanya Lyra.
"Makan yuk," ajak Rosie.
"Oke," ucap Lyra.
Sepulangnya dari konser, dua gadis itu pun mampir ke sebuah restoran kecil yang menyediakan menu-menu masakan Jepang dan Korea, seperti ramen dan kimchi. Malam ini adalah kesempatan mereka untuk bersenang-senang.
"Cie yang lolos PKM (program kreativitas mahasiswa)!" puji Lyra pada Rosie saat hendak duduk di kursinya sambil meletakkab setampah ramen dan minuman es pesanannya dii atas meja.
Rosie tersenyum, menanggapi pujian Lyra tanpa mengatakan apapun. Ia turut meletakkan pesanan ramennya dan bersiap-siap untuk makan.
"Berarti kamu nggak ikut KKN dong tahun depan?" tanya Lyra lagi, memastikan.
"Iya, tapi tetap saja, PKM tambah rumit deh kayaknya," timpal Rosie.
"Apapun itu, mahasiswa memang harus berjuang dengan banyak hal biar dapat bonusan saat sidang skripsi akhir kan," timpal Lyra sambil melahap mie ramennya dengan nikmat.
"Iya, kita harus sama-sama berjuang sebagai generasi emas negara kita," timpal Rosie mengiyakan.
Dua gadis itu pun kini melahap mie mereka masing-masing. Tak hanya fokus makan, mereka tentunya mencari hiburan di ponsel mereka. Rosie menonton YouTube mengenai kasus sebuah Pondok Pesantren yang mengajarkan ajaran sesat yang kini telah menghebohkan dunia maya karena video-video aktivitas nyelewengnya yang viral di sosial media. Juga Lyra yang larut oleh tulisan-tulisan yang muncul di beranda Twitter-nya.
"Selalu aja ada berita heboh di Twitter," ucap Lyra.
"Namanya saja kolom kebebasan berpendapat, pasti ramenya minta ampun," timpal Rosie. "Ini aja aku buka YouTube tapi nggak nonton videonya, malah baca komenan-komenan netizen yang kece-kece," tambahnya sambil melahap nasi dan menyeruput kuah ramen di sendoknya.
Lyra tampaknya tambah serius menggeledah seisi beranda Twitter-nya. Rosie yang telah selesai menonton video, pun melirik ke arah Lyra yang berhenti makan karena terlalu mementingkan Twitter.
"Nah dihabisin dulu gih, baru main hp!" seru Rosie.
"Lah punyamu juga belum habis," timpal Lyra melihat ke arah mangkuk Rosie yang juga masih berisi mie.
"Ya udah, ayo makan aja. Tujuan kita kemari kan makan!" seru Rosie.
"Fine," timpal Lyra sambil mematikan ponselnya dan kembali melahap ramennya.
Tak lama setelah dua gadis itu telah menghabiskan ramen mereka, mereka pergi ke sebuah toko alat tulis di mana mereka hendak membeli sesuatu untuk keperluan kuliah mereka.
"Kamu mau beli apa?" tanya Lyra pada Rosie saat ia tengah melihat-lihat desain pena yang bergambar kartun-kartun lucu, cocok untuk level anak-anak.
"Mau beli pensil sama penghapus satu pak buat murid-murid lesku," timpal Rosie sejenak sebelum ia beralih untuk berbincang dengan si penjaga toko.
Wah, gimana ya rasanya udah jadi guru? Rosie kok kayak sudah berpengalaman banget gitu?! Batin Lyra sambil memperhatikan Rosie dari belakang. Ia juga masih mengamati sekitar, mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.
"Kamu nggak beli apa-apa?" tanya Rosie yang sudah membeli pesanannya. Ia kini membawa dua kotak kecil berisi pensil dan penghapus di dalam plastik putih berlabel nama toko alat tulis tersebut.
Lyra menggeleng, seraya mengatakan 'tidak ada'. "Ayo pulang!" serunya, tak lupa untuk tetap tersenyum ramah.
***
Sesampainya di rumah, Lyra segera membanting tubuhnya di atas kasur, menghela napasnya, sesekali memandangi langit-langit kamarnya yang bersih dari sarang laba-laba. Ia mulai memikirkan Musa. Sudah tiga hari penuh mereka akhirnya tidak berinteraksi, terlebih lagi minggu ini pekan olahraga kampus masih berlangsung, mereka tidak akan pernah berjumpa sampai jadwal kuliah kembali normal.
Lyra paham kalau pada malam ulang tahunnya itu, Musa tak bermaksud bertanya demikian padanya. Lyra memang terlalu berlebihan untuk mengusir Musa, sementara saat ini ia merindukannya. "Musa ngapain ya sekarang?" gumamnya, bertanya pada diri-sendiri, mengira-ngira apa yang dilakukan Musa saat ini.
Di pikirannya, ia melihat tiga hal yang dilakukan Musa. Pertama, Musa tengah bermain permainan MOBA bersama teman-teman segengnya, kalau memungkinkan juga hanya bermain berdua dengan Liam. Kedua, Musa tengah bermalas-malasan di kamarnya sambil sok-sok'an membaca buku-buku inspiratif. Ketiga, Musa ada kesibukan di kampus, mengingat dirinya adalah anggota BEM.
Entah insting apa yang membuat Lyra mulai membuka kembali ponselnya. Ia membuka WhatsApp untuk melihat status yang diunggah teman-teman di kontaknya. Tak lupa, ia membuka blokir akun Musa, lalu mulai menelponnya.
Semoga saja dia baik-baik saja. Batinnya, berharap Musa segera menerima panggilannya.
***
Di sisi lain, di sebuah bar yang buka tengah malam, Musa kini tengah duduk berhadapan dengan Aurel, tentu saja untuk merayakan awal hubungan mereka. Tempat itu gelap namun indah karena lampu kerlap-kerlip menghiasi setiap ruangan. Alunan musik disco yang dibunyikan pelan itu tak mampu mengganggu sesi percakapan manis siapa saja yang ingin menikmati kencan mereka di sana.
"Kamu pernah ke bioskop nggak sebelumnya?" tanya Musa memulai topik pembicaraan.
Aurel menggeleng.
"Berarti selama ini kamu kalau nonton film gimana?" tanya Musa lagi.
"Netflix. Temen-temen banyak kok yang nonton di Netflix. Kalau di YouTube tersedia ya YouTube. Pokoknya antara Netflix sama YouTube. Pengin nyoba nonton di Hulu juga sih, penasaran sama tayangan-tayangannya." ujar Aurel antusias. Ia memang sangat suka menonton film dan serial.
"Kalau di Netflix suka nonton film apa?"
"Nggak film sih, lebih ke serial deh kayaknya. Aku suka banget sama Fate: The Winx Saga. Kamu?"
"Aku sih nonton apa aja boleh," timpal Musa terpotong karena teringat oleh sesuatu. "Dan film favoritku itu ..."
Memorinya mengalun ke suatu masa di mana ia dan Lyra tengah duduk berdua di sebuah ruangan gelap tanpa lampu dan hanya ada sinar dari sorot kamera proyektor mengarah ke dinding putih. Tampak sebuah scene film yang berlatarkan daerah padang pasir dengan bangunan-bangunan runtuh dan batu-batu beraksara paku serta berbagai grafik animasi bertema luar angkasa.
..."Elohim is usually translated incorrectly as lord, and if you read the bible and replace lord, and don't forget about the added words with shining ones, you will see aremarkable diffrence. A reading know of how it was meant to be, we now have the shining light of knowledge spoken of in 2 Corinthians 4:6. The lord god of the bible is the light who gives birth to the divine spark of Christ. A pure reading of the global understanding that god was the basis for the illumination, the fire, the sun, the lighy and the heads of those that shine from that brilliance, the source of intelligence itself."...
"Apakah kau mempercayai semua yang dikatakannya?" tanya Musa berbisik pada telinga Lyra yang juga serius menonton film dokumenter bertemakan sejarah Mesopotamia kuno, Sumeria, itu.
"Percaya," jawab Lyra singkat.
"Bagaimana bisa orang religius sepertimu mempercayai teori aneh ini?" tanya Musa
"Ini sejarah, ada kalanya kita percaya karena inilah yang diyakini oleh bangsa kuno. Tapi bukan berarti percaya dengan mengikutinya. Kalau dipikir-pikir secara mendalam pun memang tidak masuk akal." ujar Lyra.
"Tapi kenapa banyak orang sekarang tidak percaya Tuhan sementara bangsa zaman dulu Tuhannya malah banyak sekali?" tanya Musa lagi.
"Di dunia ini pasti ada Tuhan. Mereka yang hidup pada peradaban kuno itu sedang dalam masa mencari Tuhan mereka dan mulai mengira-ngira. Dunia ini sudah ada sebelum manusia pertama hidup di dunia, ..." ujar Lyra mencoba menjelaskan tapi terpotong.
"Maksudmu pitecantropus?" sahut Musa.
"Aku belum selesai bicara, jadi tolong jangan diselak. Lagipula teorinya Darwin hanya disetujui sebanyak empat puluh persen dari yang tersebar ke setiap surat kabar pada abad kesembilan belas," sahut balik Lyra dengan tegas. "Itu artinya teori nenek moyang manusia berasal dari kera adalah SALAH. Mengerti?!"
Kata-kata narator film dokumenter yang mereka tonton kembali terdengar.
..."..., the seven shining ones or seven sages of different cultures later became the gods in men, incarnated as a man only then to be reunited with a father god after death,"...
"Masih ada istilah father god." gumam Lyra berbisik pada dirinya sendiri dengan ekspresi datar saat menyimak penjelasan dari film itu. Namun Musa mampu mendengar ucapannya, lalu ia melirik sejenak.
"Karena dunia sudah lebih dulu ada, manusia peradaban pertama dunia ini mulai menanyakan dari mana asal benda-benda langit yang indah dan kekayaan melimpah ini. Mereka mulai mengira-ngira, dan berprisangka bahwa dunia ini pasti ada Tuhan." ujar Lyra, menoleh ke arah Musa, mulai menjelaskan interpretasinya mengenai film dokumenter tentang alien sebagai makhluk pertama di Bumi itu. "Tidak ada yang tahu bagaimana kebenarannya. Setiap kepercayaan memiliki gagasannya sendiri-sendiri. Sementara Sumeria adalah peradaban pertama di dunia, para sejarahwan yang membaca tablet bangsa ini tentu mencatat bagaimana kepercayaan mereka. Karena ini keyakinan mereka, jadi tidak masuk akal bila kita juga mengikutinya. Paling tidak hanya mempercayainya sebagai bukti peninggalan paling berharga dari bangsa awal dunia ini," tambahnya.
"Kamu kritis juga ya ternyata?!" timpal Lyra tersenyum sambil menepuk pundak Musa. "Kecerdasan manusia itu terbatas. Teori-teori yang diungkapkan para ilmuwan itu meskipun merujuk pada mereka yang yakin bahwa Tuhan itu tidak ada, tapi semua tulisan mereka justru mendukung keberadaan Tuhan itu nyata. Sayangnya, para ilmuwan itu masih bingung bagaimana menjabarkannya secara logis karena Tuhan seolah-olah telah bertransformasi menjadi elemen mitos bagi manusia saat ini. Aku membacanya dalam buku Keith Ward, Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu." lanjutnya.
Musa terdiam, antara kagum dengan kecerdasan Lyra dan juga bingung karena semua teori yang sudah termuat dalam buku-buku dari banyak pengarang berbeda latar belakang itu justru membuatnya pusing. Suasana di ruangan itu pun hening sementara waktu, menyisakan suara narator yang masih menjelaskan tentang apa yang tercatat dalam prasasti-prasasti peninggalan Bangsa Sumeria itu.
"Sekarang aku tanya padamu. Kenapa orang-orang saat ini banyak yang mengaku ateis?" tanya Lyra tiba-tiba memecah keheningan, menguji pengetahuan Musa.
"Aku baru saja ingin menanyakannya padamu," jawab Musa tegang.
Lyra tersenyum, melihat ke arah Musa sejenak, lalu kembali mengarahkan matanya ke arah layar pantulan sinar proyektor itu. "Orang-orang saat ini banyak yang menjadi ateis dan mulai kehilangan kepercayaan akan adanya Tuhan itu disebabkan oleh peraturan agama." ucapnya hendak menjelaskan kembali apa yang ia tahu. "Ada banyak agama dan kepercayaan di dunia ini. Lagi, semua itu kembali pada apa yang dianut oleh nenek moyang kita. Dan agama apa yang paling benar itu secara logis tidak akan pernah terpecahkan, karena setiap agama menganggap agamanya sendiri itu benar." lanjutnya.
Sekilas penjelasan Lyra yang logis dan universal itu terungkapkan, Musa terkejut saat sadar bahwa ia sedang tidak bersama Lyra saat ini. Musa bersama Aurel di sebuah bar dan Musa melamun saat terpikirkan oleh film Anunnaki yang pernah ditontonnya bersama Lyra dulu.
Aurel sedari tadi memanggil-manggil Musa untuk mencoba mengajaknya membicarakan suatu topik, tapi Musa melamun selama beberapa detik meski Musa merasa dirinya sendiri telah melamun cukup lama yaitu sekitar 1 jam.
"Kau sedang memikirkan apa?" tanya Aurel.
"Ahh, enggak kok, nggak ada apa-apa." jawab Musa gugup. Ia tidak ingin Aurel tahu kalau ia memiliki hubungan dekat dengan Lyra.
"Coba ku tebak." timpal Aurel. "Kau pasti berpikir tentang kapan dan di mana kau akan mengajakku jalan-jalan besok." lanjutnya bersemangat.
"Oh, iya tuh, aku mau ngajak kamu ke bioskop. Mau kan?" timpal Musa berusaha menutupo kegugupannya.
"Ya mau banget dong, aku kan belum pernah ke bioskop," jawab Aurel dengan antusias. "Mau nonton film apa emangnya?" tanyanya, tidak sabar untuk menunggu hari esok.
Musa berpikir sejenak. Ia tidak begitu tahu film apa yang sekiranya akan membuat Aurel senang menontonnya. "Kebetulan bioskop ini menyediakan film-film bagus minggu ini, besok jadwalnya Ape vs. Mecha Ape,". Ungkapnya sambil menatap layar ponselnya, tepat di sebuah aplikasi yang memuat daftar film bioskop lengganannya.
"Film apa itu?" tanya Aurel yang merasa asing dengan judul filmnya.
"Aku juga tidak tahu, belum dirilis kan," timpal Musa. "Kalau kau tidak keberatan, kita bisa menonton layar lebar sendiri tanpa harus ke bioskop. Kebetulan aku mengoleksi banyak DVD film." tambahnya.
"Boleh. Film apa aja yang kamu punya?" tanya Aurel lagi.
"Ada Stargate, Bloodrayne, Gladiator, Aliens, ..." jawab Musa terpotong.
"Wow, film apa saja itu? Sepertinya bukan film populer, rasanya semua judul terdengar asing," sahut Aurel.
"Oh," ucap Musa singkat. Kalau Lyra pasti sudah antusias, bahkan sudah lebih dulu menghabiskan semua dvd itu dari pada aku. Batinnya.
Memori Musa kembali teringat di masa saat ia tengah berada di perpustakaan, mencari buku inspirasi yang hendak ia baca untuk panduan kehidupan sehari-hari. Di sana ia bertemu dengan Lyra yang langsung menepuk pundaknya.
"Nyari apa? Tumben ke perpus?" tanya Lyra.
"Nyari buku, masa nyari sepatu," jawab Musa.
"Aku sarankan kau membaca buku Atomic Habits, sepertinya buku itu cocok untukmu. Aku punya di rumah, mungkin bisa ku kasihkan ke kamu." ujar Lyra.
"Emang kau tahu apa tentang buku?!" seru Musa meledek.
Masa dengan cepat beralih ke masa di mana Musa melihat ada banyak buku yang dikoleksi Lyra di kamarnya. Itu adalah masa saat pertama kalinya Lyra mengundang Musa ke rumahnya . Musa akhirnya mendapatkan buku yang cukup istimewa, buku pemberian dari Lyra. Bahkan Musa selalu menulis bahwa James Clear adalah panutannya setiap kali ia mendapatkan tugas menulis esay biografi.
Meski hanya mendapatkan buku populer karya James Clear itu, mata Musa terbelalak saat melihat rak buku bagian bawah Lyra yang mengoleksi novel-novel karya Karl May, J.R.R. Tolkien, George R. R. Martin dan Frank Herbert.
"Oh tidak. Jangan bilang kalau kau sudah menuntaskan semua buku karya mereka!" seru Musa.
Lyra yang saat itu memegang sebuah buku yang juga tebal namun beda penulis. "Yang di rak itu sudah ku baca semuanya," ucapnya menanggapi.
"Lord of the Rings dan Dune adalah favoritku, aku punya filmnya di rumah!" seru Musa.
"Film?" sahut Lyra berhenti dari bacaannya sejenak, memastikan ucapan Musa.
"Iya, aku mengoleksi banyak film di rumah." timpal Musa mantap.
"Die Hard?" tanya Lyra lagi memastikan.
"Tentu saja, aku juga punya yang itu," timpal Musa.
"Sebutkan film apa lagi yang kau punya!" seru Lyra.
"Aku punya semua seri The Terminator, Die Hard dan Resident Evil. Aku juga mengoleksi beberapa film dokumenter, fiksi ilmiah, psikedelik, thriller, film bisu dan film ..." timpal Musa terpotong.
"Jangan bilang kalau kalau kau juga mengoleksi film biru!" sahut Lyra sambil menaikkan sebelah alisnya.
Musa terdiam seketika. "Bagaimana kau tahu?" tanyanya heran.
"Dasar laki-laki!" ucap Lyra lalu kembali membaca halaman buku yang dibacanya.
"Itu buku apa yang kau baca?" tanya Musa hanya ingin tahu.
Lyra tidak menjawab, hanya menunjukkan sampul bukunya. "The Moving Toyshop" karya Edmund Crispin.
"Kau belum pernah membacanya bukan?" ungkap Lyra.
"Belum, aku tidak terlalu suka membaca," timpal Musa.
"Terus kenapa kau mencari buku di perpus?" tanya Lyra curiga.
"Aku ingin sekali-kali meluangkan waktu untuk membaca, agar tidak main game terus." jawab Musa.
"Kau tahu, semua seri film yang kau sebutkan tadi, aku sudah menontonnya!" seru Lyra.
"Bagaimana kalau Mad Max, Watchmen, Apocalyps Now, Stargate, Aliens, Robocop, The Abyss, ..." timpal Musa tidak mau kalah.
"Laserblast, ..." Musa dan Lyra mengucapkannya secara bersamaan.
"Sudah ku duga," sambung Lyra.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Musa tak menyangka.
Mereka berdua mengucapkannya secara bersamaan.
Lyra tersenyum, menutup bukunya lalu menatap kedua mata Musa. "Ayo eksplor film bagus yang tidak laris!" serunya.
"Ayo!" seru Musa bersemangat.
Mengingat kejadian itu, Musa tanpa sadar tersenyum seorang diri. Ia mulai menemukan rasa nyamannya dengan Lyra saat keduanya menaruh kepercayaan satu sama lain, dan itu terjadi ketika mereka berdua menonton film bersama setiap malam minggu di rumah Lyra. Musa memborong semua DVD-nya ke rumah Lyra dan memutarnya dengan proyektor.
Aurel heran. Ia melihat Musa senyum-senyum sendiri di hadapannya. Ia sudah berpikir kalau Musa mengingat suatu hal yang menyenangkan. Ia tidak ingin membuat lamunan Musa pudar sampai laki-laki itu sadar dengan sendirinya.
***