Blue Blouse

Blue Blouse
FOUR



Seusai kelas Semantik pukul satu siang, Musa segera keluar dari kelas sambil membawa ranselnya. Ia mengenakan hoodie berwarna abu-abu dengan kupluk yang kini menghiasi kepalanya. Tampak keren ketika berjalan ke sebuah tempat duduk di mana terdapat beberapa lelaki seusianya sedang bersantai di sana.


Tak satupun dari para lelaki itu yang berasal dari program studi yang sama dengan Musa, mereka semua berasal dari program studi yang berbeda. Bayu, Satyo, Arjun, Paulo dan Gio adalah teman-teman dekat Musa.


"Hei," sapa Musa sambil berjabatan tangan dengan ramah pada lima temannya itu.


"Masih ada kelas nggak kamu?" tanya Gio.


"Udah, udah selesai," jawab Musa.


"Ngantin yuk!" seru Gio.


Enam laki-laki itu pun bareng-bareng pergi ke kantin. Sesampainya di sana, Musa bersimpangan dengan Liam dan Tom yang merupakan teman dekatnya di kelas yang juga tengah makan di salah satu meja berdua.


"Hei, ciee berdua nih!" seru Musa sambil menepuk pundak Liam, menggodanya saat berjalan menuju ruko penjual. Sebenarnya niat menyapa.


Liam hanya menoleh sejenak ke arah Musa sambil mengerutkan dahi, namun juga tertawa. Sudah biasa bagi mereka untuk saling menggoda satu sama lain. Di manapun mereka berada, mereka akan saling menyapa. Begitu juga Tom yang turut melihat ke arah Musa bersama lima teman gengnya sejenak.


Setelah memesan makanan, enam laki-laki yang hobi ngantin bareng itu pun duduk bersama di salah satu meja. Suasana kantin cukup ramai. Setiap meja terisi, baik oleh mahasiswa laki-laki maupun perempuan. Bahkan kicauan manusia saling bersautan, tak karuan kalimat apa saja.


"Hei, tadi malam aku win streak enam belas kali, semuanya MVP!" seru Bayu memulai obrolan sambil melahap gimbal tempe.


"Solo mulu sih kamu, mabar yuk!" seru Satyo.


"Iya nih, capek nggendong tim mulu, mana dapet tim yang noob semua lagi!" keluh Bayu.


"Kapan? Entar malem?" tanya Gio antusias. Lalu ia menengguk pop ice rasa melonnya.


"Kurang tahu sih aku bisa apa enggak," sahut Musa tiba-tiba.


"Kenapa, Mus?" tanya Bayu sambil meneguk kopi hitamnya yang sebenarnya masih panas.


Arjun mulai menyalakan api pada putung rokok yang hendak diisapnya.


"Ke Metro, mau ke Mall," timpal Musa.


Sontak Bayu, Satyo, Arjun, Paulo dan Gio tertawa pelan sejenak.


"Shopping? Tumben?" sahut Bayu.


"Emangnya mau beli apaan sampai ke Mall segala, di supermarket masa gak ada?" sahut Paulo, menyeruput teh hangatnya.


"Lagian habis shopping juga bisa kali nyisain waktu buat mabar," sahut Satyo.


Musa menghela napas sejenak. "Nanti malem aku mau nginep di rumah Lyra, ada sesuatu." ujarnya merasa tidak ada yang salah.


Bayu, Satyo, Arjun, Paulo dan Gio saling melirik satu sama lain sejenak.


"Hei, udah berapa kali kamu nginep di rumah Lyra?" tanya Bayu, kini melahap sesendok nasi dengan lauk usus ayamnya. "Nggak baik atuh nginep di rumah cewek!" tambahnya dengan nasi yang masih memenuhi mulutnya.


"Nggak baik kenapa? Nah wong aku sama Lyra nggak ngapa-ngapain kok. Aku sama dia tuh nggak ada hubungan apa-apa, nggak mungkin aneh-aneh." ujar Musa sambil melahap sesendok nasi dengan lauk tempe goreng dan sambel terasinya. "Lagian Lyra juga orangnya baik. Pas aku sakit kemarin, dia ngerawat aku. Suka aja punya sahabat kayak dia." lanjutnya.


Bayu, Satyo, Arjun, Paulo dan Gio kembali saling melirik satu sama lain sembari mengunyah makanan mereka masing-masing. Arjun kembali mengisap rokoknya dan menghebuskan sedikit asap dari mulutnya ke lain arah sambil meratapi sepoi ringan yang berhilir menyelimuti kantin.


"Kamu habis sakit? Sakit apa?" tanya Arjun, mengarahkan pandangannya serius ke arah Musa. Tampangnya memang dingin dan garang, sehingga sudah biasa bila ia tetap berlagak serius di saat percakapan santai sekalipun.


"Sakit gigi, gigiku berlubang." jawab Musa.


"Sekarang udah nggak kenapa-napa?" tanya Gio.


"Aku juga pernah sakit gigi, sumpah sakit banget, pengen mukul apa-apa pas itu!" sahut Paulo.


"Benar. Seandainya nggak ada Lyra, aku nggak tahu mau ngapain." timpal Musa.


"Sekarang gigimu gimana?" tanya Satyo.


"Udah baikan, habis tambal kemarin, ditemenin Lyra ke klinik." jawab Musa.


"Jadi pengin punya temen cewek deh aku, bosen temenan sama cowok mulu." sahut Bayu.


"Halah, Bay, Bay, pacar aja udah ganti empat kali, masih pengen punya temen cewek lu?!" sindir Arjun, bergurau.


"Ya, maksudnya cewek yang kayak Lyra gitu, nggak pacar tapi perhatian. Mantan-mantanku aja nggak ada yang jelas le, pusing aku kalau mengenang mereka!" timpal Bayu.


Ucapan Bayu itu sontak membuat teman-teman yang kini makan bersamanya di kantin itu tertawa. Alhasil topik pembicaraan ini menjurus pada mantan pacar masing-masing. Yups, mereka berenam sudah berpengalaman pacaran, namun tak ada satupun pacar mereka yang setia dengan mereka. Dengan makanan dan minuman di atas meja yang telah habis, mereka berenam tetap saja bercanda tawa, membahas sesuatu yang mereka rasa menyenangkan untuk dibahas.


***


Lagu girlband Korea Selatan, æspa, yang berjudul "Spicy" terdengar dari sebuah tape recording di ruang praktek tari kampus Para Den. Tampak empat gadis muda dengan tubuh langsing dan pakaian trendy menyerupai seragam para anggota æspa di video musik terbaru mereka tengah menari riang mengikuti irama lagu tersebut. Di hadapan mereka terdapat sebuah ponsel yang tengah merekam tarian mereka. Kebetulan mereka hendak mengunggahnya di TikTok untuk mengikuti #SpicyChallenge yang diadakan æspa pada comeback mereka bulan ini.


Aurel, salah satu dari empat gadis di ruang praktek tari, merasa kelelahan dan memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu. Ia pun berjalan ke belakang, mengambil sebuah botol air AQUA yang masih penuh untuk ia minum. Di samping itu, Kimmy, gadis lainnya, beranjak menghampiri ponselnya dan segera mematikan rekaman untuk mulai mengunggah cuplikan tariannya bersama tiga temannya barusan. Sementara itu, Shania dan Vera, gadis lainnya, duduk di atas lantai sambil menjulurkan kaki mereka.


"Drama Netflix baru yang bague itu apa ya?" seru Kimmy.


"Aku sih suka Xo, Kitty." timpal Shania.


"True Beauty loh tersedia di Netflix" tanya Vera antusias, ia sangat tertarik dengan K-drama.


"Banyak lah, tonton aja yang populer," ujar Shania.


"Aku sih udah bosen nonton drama Korea mulu, lagi pengin yang Barat-barat," timpal Kimmy kini turut duduk bersama Shania dan Vera.


Sementara itu, Aurel yang masih di belakang kini fokus menatap layar ponselnya, membaca isi chat dari seseorang di WhatsApp-nya. Ia juga tampak mengetik keyboard ponselnya. Tak lama setelah itu, ia segera mengemasi barangnya.


"Guys, aku pergi dulu ya, kelasku udah masuk!" seru Aurel pada tiga teman tarinya yang kini masih besantai.


"Iyaa," timpal Kimmy mengizinkan.


"Dadah!" ungkap Aurel sambil melambaikan tangan sejenak pada Kimmy, Shania dan Vera sebelum meninggalkan ruangan dengan terburu-buru.


Di tengah perjalanan menuju kelasnya, Aurel yang berlari tanpa hati-hati pun terpeleset saat tak sengaja melewati jalanan beton yang berlumut. Karena rok yang ia kenakan cukup pendek, roknya pun terbuka. Ia sangat malu dan segera menutup bagian roknya yang terbuka. Terlebih lagi saat itu ia jatuh di jalanan dekat kantin yang sedang ramai pengunjung, banyak orang menertawainya.


Di saat yang sama, Musa bersama lima teman segengnya sudah selesai nongkrong di kantin dan hendak berjalan menuju tempat parkir bersama. Seperti biasa, para lelaki itu tetap saling bercanda walau dalam keadaan berjalan santai.


Mendapati kehadiran para lelaki itu, Aurel yang semula masih duduk karena kesakitan pun segera berdiri dan mencoba kembali berjalan. Sayangnya kakinya terasa sangat sakit. Ia melihat lututnya, terluka. Ia harus menahannya, bagaimanapun ia harus pergi dari tempat itu dan bergegas menuju kelasnya.


Meski sudah berhembus pergi ke lain arah, aroma parfum pakaian Aurel masih membekas di jalanan. Bayu yang sangat familiar dengan parfum para mantannya pun mampu menebak merk parfum Aurel meski ia tidak pernah mengenalnya.


"Wah, Evangeline Black Sakura!" seru Bayu.


"Apaan sih, Bay?" timpal Arjun mengerutkan dahi ke arah Bayu. Ia tetap mengisap rokoknya dengan nikmat lalu menghembuskan asapnya ke sembarang arah.


Bayu yang semula hendak menikmati kembali bekas aroma parfum Aurel itu pun dibuat kesal saat bau menyengat rokok Arjun kini masuk ke dalam hidungnya.


"Hm," gumam Bayu sambil mengerutkan dahi ke arah Arjun.


"Ngomong-ngomong cewek tadi kasihan banget!" seru Paulo tiba-tiba.


"Oh, cewek yang jatuh tadi ya?" tanya Bayu memastikan.


"Kok nggak pas kita nyampek sini aja, biar ..." sahut Gio terpotong.


"Bioskop gratis itu mah," sahut Arjun tertawa kecil, lalu mengisap rokoknya lagi.


"Oh, itu Aurel, anak club pemandu sorak, tapi dia juga ikut nari biasanya. Aku sering lihat dia di gedung budaya!" seru Satyo.


"Anak ILKOM ya?" tanya Bayu memastikan.


"Mungkin," timpal Satyo. "Ngomong-ngomong, temen kos-kosanku banyak njir yang naksir dia. Kawaii katanya, mirip cewek-cewek di anime!" tambahnya.


"Udah ah, ayo pulang, dari tadi bahas cewek mulu!" seru Musa tidak peduli. Ia gugup saat mendapati Aurel tadi jatuh di tengah jalan. Ia sangat mengenal Aurel, teman masa kecilnya.


"Musa mah no cewek cewek club, mentang-mentang udah punya Lyra aja," goda Bayu. Diikuti oleh sorakan menggoda dari yang lainnya. "Ihir~"


Musa memutar kedua bola matanya, sebal. "Udah aku bilang berapa kali, Lyra itu bukan siapa-siapaku. Aku sama dia itu cuma temen tau nggak!" serunya.


"Iya tau," timpal Gio sambil menepuk pundak sebelah kanan Musa lalu meletakkan tangannya cukup lama di sana, merangkul Musa. "Tapi hati-hati, Mus, Friend Zone itu lama-lama bakal jadi cinta. Suatu saat nanti kamu pasti ada rasa sama Lyra!" serunya berbisik ke telinga Musa.


"Nggak ah, nggak mungkin," bantah Musa. "Aku kan nggak suka sama Lyra, lagian dia bukan tipeku." lanjutnya tegang. Entah energi apa kali ini yang membuatnya takut.


"Terserah. Cuma berbagi info aja, soalnya kebanyakan orang ngalamin itu!" seru Gio.


Kerumunan enam lelaki yang hobi menggoda satu sama lain itu pun berakhir di sana. Masing-masing dari mereka pergi ke tempat tujuan mereka sendiri-sendiri. Musa segera pulang dengan motor Ducati-nya, melaju seperti kilat melewati jalanan beraspal yang dilalui banyak kendaraan. Ia tidak peduli apapun lagi, yang ia hadapi saat ini adalah laju motor yang ia kendarai. Ia tidak memiliki pikiran pulang, sejak awal niatnya adalah pergi ke kota Metro, sebuah kota besar yang berbatasan dengan kota Para Den. Di kota Metro terdapat banyak tempat hiburan raksasa, seperti Mall dan Wahana Fantasi untuk anak-anak, sangat berbeda dengan Para Den yang menyediakan fasilitas sederhana.


***


Sesampainya di kelas, Aurel segera duduk di bangkunya. Mata kuliah telah dimulai, dosennya telah menuliskan sesuatu pada papan tulis, coretan-coretan singkat tentang jurnalistik. Salah seorang teman yang duduk di sebelahnya kebetulan memperhatikan kakinya yang terluka. "Kakimu kenapa?" tanyanya dengan volume berbisik.


"Habis jatuh," timpal Aurel turut menjawab dengan volume serupa.


Tanpa basa-basi, sosok teman yang mengajak Aurel bicara itu mencari sesuatu dari dalam tasnya yang awalnya ia letakkan di bawah kakinya.


"Udah dari tadi?" tanya Aurel lagi, berbisik sambil menunjuk sekilas ke arah dosen yang kini masih melanjutkan penjelasannya terkait rumus segitiga.


Setelah mendapatkan sebuah plaster, sosok teman tersebut pun memberikannya pada Aurel sembari menganggukkan pertanyaan Aurel barusan.


"Terima kasih," timpal Aurel segera membalut luka di lututnya setelah mendapati plaster. Sementara temannya barusan kembali memperhatikan penjelasan dosen.


"Coba kalian membuat artikel acara yang ada di kampus, bebas, individu ya, nanti presentasi!" seru sang dosen yang tampaknya lelah menjelaskan. Ia beranjak duduk di kursinya sambil memainkan mouse laptopnya yang sedari tadi terbuka di atas meja. Seandainya proyektor di langit-langit kelas bisa digunakan mungkin ia tidak perlu susah payah untuk mencatat materinya di papan tulis.


"Baik pak," jawab para mahasiswa di ruang kelas, serempak membuka buku tulis masing-masing.


Selama menulis artikel untuk mata kuliah penulisan naskah jurnalistik itu, Aurel tiba-tiba teringat oleh peristiwa saat ia jatuh terpeleset di dekat kantin. Ia masih ingat persis tampang seorang pria yang sangat dikenalnya dari gerombolan enam pria yang berjalan keluar dari kantin tadinya. Musa, teman masa kecilnya.


Musa jadi makin tampan. Aku tak menyangka akan bertemu dengannya di sini.


Aurel memang kini terpikirkan oleh wajah Musa, namun ia juga tengah menulis artikel. Tak hanya itu, begitu ia selesai mengerjakan, pikirannya menuntunnya kembali ke masa lalu.


Aurel kecil dan Musa kecil selalu bermain bersama, terutama layang-layang, itu adalah permainan favorit mereka berdua. Mereka menghabiskan waktu sepulang sekolah hanya untuk bermain layang-layang di lapangan.


Hingga saat menginjak kelas 4 SD, Aurel diam-diam sudah mengalami menstruasi, namun ia tidak memberi tahu siapapun selain ibunya. Aurel ingin menjauh dari Musa karena ia tidak ingin ada sesuatu yang fatal terjadi di antara kedekatan mereka berdua. Namun di saat yang sama, Aurel di-bully oleh teman-teman perempuan di kelasnya. Musa selalu datang sebagai pahlawan yang menolong Aurel, ia bagaikan sosok malaikat pelindung yang siap melindunginya kapanpun dan di manapun.


Suatu hari, sepulang sekolah. Kejadian ini terjadi saat Aurel dan Musa telah menginjak kelas 6 SD, persiapan ujian nasional untuk naik ke jenjang berikutnya. Aurel dan Musa mendirikan sebuah tenda di dekat area bebatuan pantai. Di dalam tenda, mereka berbagi banyak cerita berdua. Kembali saling tertawa seperti apa mestinya. Hingga tiba-tiba Musa mencium bibir Aurel dan membuatnya terkejut. Itu adalah ciuman pertama yang didapatkannya.


"Aku menyukaimu," ucap Musa saat itu.


Aurel masih mengenangnya. Ia tidak bisa melupakan semua itu toh meski hubungannya dengan Musa tak lagi dekat saat SMP. Aurel berteman dengan banyak gadis, begitu juga Musa yang berteman dengan banyak lelaki. Terlebih lagi Aurel merasa lemah jika harus berhadapan dengan Musa, ia lebih memilih untuk menghindar. Ia tidak yakin Musa masih mengenang masa kecil yang indah bersamanya.


Musa sendiri dikejar oleh banyak gadis dan telah memiliki seorang pacar yang lebih cantik darinya saat SMP. Keduanya juga tidak bertemu lagi di SMA karena Musa masuk ke sekolah favorit, tentunya Musa lebih mengenal banyak perempuan berkelas. Jadi Aurel tidak memiliki harapan apa-apa lagi padanya, ia membiarkan semua masa lalu itu menjadi sebatas kenangan tentang teman masa kecil.


"Woy, ngelamun lu?" tanya seorang teman yang duduk di sebelah Aurel, menepuk pundaknya, berhasil memudarkan lamunan Aurel.


"Ah apa?" tanya Aurel spontan. Ia menyadari kalau saat ini ia masih duduk di kelas Ilmu Komunikasi, mengerjakan tugas membuart artikel untuk mata kuliah hari ini.


"Udah selesai belum?"


"Udah,"


"Sama, aku bahas kegiatan Olimpiade jurnalistik untuk SD/SMP/SMA yang kita adakan minggu lalu. Kamu bahas acara apa?"


"Dies natalies HIMA ILKOM tahun ini, ..."


Aurel tak lagi mengingat-ingat masa kecilnya dengan Musa. Kini ia beralih membahas acara-acara kampus bersama teman yang duduk di sebelahnya itu yang kebetulan tergabung dalam sebuah organisasi kampus yang sama dengannya, yakni HIMA ILKOM (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi), di sela-sela waktu sampai sang dosen akan meminta mereka untuk mempresentasikan hasil karya mereka.


***