
Hari semakin gelap..kini keluarga Frederick tengah berkumpul makan malam bersama. seperti biasa, mereka menyeimbangi makan malam dengan cerita dan gelak tawa
"oh ya ma, tadi di sekolah adek ngumumin acara olimpiade tingkat nasional. dan nama adek kepilih disitu" ucap Rita sembari mengunyah makanannya
"ya bagus dong..maknanya disitu kamu pintar" ucap Frederick
"haha iya dong. kan anak papa mama" ucap Rita sombong
"dih..kakak yang ikut tiap tahunnya loh biasa aja tuh" ucap Fara mengerlingkan matanya
"adek ngomong sama papa mama ya..bukan sama kakak" ucap Rita menatap tajam kakaknya
"sebenarnya acara itu nggak diwajibkan sih..bagi yang mau ikut ya silahkan, dan bagi yang nggak ikut juga nggak masalah. jadi menurut mama papa, adek harus ikut atau nggak?" ucap Rita minta pendapat
"kok bisa ada olimpiade nggak diwajibkan gitu sih Rit..selama kakak sekolah, semua yang namanya olimpiade itu HARUS IKUT!" ucap Fara menatap adiknya
"adek nggak tau kak. tapi kata infonya sih gituu" ucap Rita
"ya udah adek ikut aja. lagian kegiatan ini juga bisa bikin kemampuan cara berpikir adek lebih maju kan" ucap Ila
"menurut papa gimana?" tanya Rita
"papa setuju sama mama sih" ucap Frederick simpel
"oh ya udah" ucap Rita kemudian melanjutkan makannya
"emang acaranya kapan dek?" tanya ila
"Minggu depan ma" jawab Rita yang hanya mendapat anggukan kepala dari Ila dan Frederick
"kok kamu gak tanya kakak atau mas Adam?" ucap Fara protes
"kalau mama papa iya, pasti Kakak dan mas Adam juga iya. bener kan? adek mah udah hapal kali" ucap Rita tersenyum miring
"ih songong banget sih. nyesel kakak dulu ngizinin mama ngelahirin kamu!" ucap Fara kesal
"mama lahiran juga gak butuh izin kakak kali!" jawab Rita
"udah udah..kalian ini kenapa sih gak pernah akur..inget ini meja makan loh ya, jadi jangan gaduh disini dulu" ucap Adam
"bener tuh kata Adam. kalian kalau bersama pasti layaknya tikus dan kucing. GAK PERNAH AKUR!" ucap Ila menimpali
mereka terdiam dan melanjutkan makannya. namun tak lama kemudian, Frederick kembali bersuara
"oh ya ma. tadi katanya ada mbak Ria ya" ucap Frederick menatap Ila
Ila hanya mengangguk sebagai jawaban "katanya jenguk ibu" lirihnya
Frederick menghembuskan nafasnya panjang "pasti dia ngomong yang aneh aneh lagi kan?" ucapnya yang mendapat gelengan kepala dari Ila
"ya iyalah. kan dia gak suka sama keluarga kita. pasti ngejelek-jelekin lah pa" ujar Rita tak suka
"heran deh sama orang yang kayak begitu. bukannya berusaha lebih baik, cari dosa aja kerjaannya" ucap Fara ikut kesal
"sudah lah sudah. nggak perlu dibahas lagi ya, mending lanjutin makannya aja" ucap
*******
keesokan harinya, Rita sudah siap dengan seragam sekolahnya. ia turun dengan tergesa karena ia lupa bahwa hari ini adalah jadwal piketnya dikelas
"ma..adek berangka ya.. assalamualaikum" ucapnya sembari mengambil roti dan segera mencium tangan serta pipi mama papanya
"lah. nggak sarapan dulu dek?" teriak Fara
"gak sempaatt..adek udah telat" teriak Rita sedikit berlari keluar rumah
"hallo Rin..lo dimana? bisa jemput gue gak? hari ini gue piket kelas, dan ini gue baru berangkat dari rumah" ucap Rita
"sorry Rit..gua masih mau mandi nih" ucap Karin, teman Rita yang kemarin mengantarnya pulang
"udahlah lo gak usah mandi aja.. anterin gue dulu..gue takut didenda ni" ucap Rita terus berjalan cepat
"woy! bokap lo orang kaya anjir. yakali lo sayang sama uang yang cuma gak seberapa" ucap Karin
"aelah..namanya juga uang Rin, seberapapun tetap sayang lah..udah cepat lo ganti baju, gue tunggu di halte persimpangan dekat rumah gue ya" ucap Rita kemudian mematikan sambungan telfonnya
Rita duduk di halte tersebut. ia memainkan jari tangannya gundah. ia sangat takut kepada bendahara kelas yang selalu meminta uang kepada orang yang telat piket
"duhh..mana sih Karin lama banget" ketusnya
"kalau tau gue dibiarin nunggu lama gini, lebih baik gue naik angkot tadi" ucapnya semakin kelas
tiitt..
sontak Rita menoleh ke arah mobil yang membunyikan klaksonnya itu
"buruu..katanya telat!!" teriak Karin dari dalam mobil
"ah gegara lo juga anjir" balas Karin kemudian mereka segera melaju ke arah sekolah
benar saja, baru sampai kelas, Rita sudah dihadang oleh bendahara yang siap meminta uang denda kepadanya
"Lo telat!" pekik bendahara itu
"aelaahh..setengah jam doang" lirih Rita
"setengah jam itu lama bego! bayar denda lo" ucap bendahara itu lagi
"iya iya" ucap Rita pasrah kemudian ia memberikan uang lima puluh ribuan kepada bendahara itu
"nih" lirihnya
"gitu dong. Minggu depan telat lagi ya. biar kelas kita kaya" ucap bendahara itu kemudian berlalu dari hadapan Rita dan Karin
"mata lo kaya! bangkrut gue!" teriak Rita
*******
"permisiii" ucap seseorang mengetuk pintu kediaman Frederick
"iya?" ucap ila membuka pintu
"ibu ila ya?" tanya orang tersebut
"oh iya mbak. ada apa ya?" tanya ila penasaran
"ini ada kue untuk ibu dan keluarga..silahkan dimakan ya Bu" ucap orang itu
"eh mbak. saya gak pesan kue loh. ini dari siapa ya??" ucap Ila
"atas nama ibu Ria..katanya disuruh makan ibu dan keluarga" ucap orang itu
"oh iya mbak..makasih ya" ucap ila kemudian masuk ke dalam rumah dan segera meletakkan kue itu diatas piring
Ila membawa piring itu ke kamar ibunya "Bu, ini ada kue dari mbak Ria..dimakan ya" ucap ila kemudian keluar dari kamar ibunya
ila berjalan kearah dapur dan mengambil satu potong kue dan segera memakan kue itu, kemudian melanjutkan kegiatannya dibelakang rumah, menyapu halaman