BLACK

BLACK
Eleven



Rita menyuapi mamanya dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia menatap wajah mamanya yang sangat pucat itu. Di sela makannya, ila menatap anaknya yang juga menatap dirinya dengan lekat.


"adek udah belajar?" tanya mamanya


"udah ma..udah olimpiade juga tadi, tinggal tunggu hasilnya aja hehe" ucap Rita tersenyum manis


"mama mau makan buah?" tanya Rita saat ila telah menghabiskan bubur di piring yang dipegang oleh anaknya itu


ila menggeleng "masih kenyang" ucapnya melirih


"neneknya jangan lupa dijenguk dek" ucap mamanya lemah


"kasih makan juga ya" sambungnya


Rita bangkit dengan semangat "oke ma..tunggu bentar yaa" ucap Rita berlari menuju kamar neneknya


setelah menyuapi neneknya makan, Rita memberikan obat kepada neneknya yang langsung diminum hingga air yang berada dikelas tandas. "nek, adek mau ke mama dulu ya..nenek istirahat aja" ucap Rita lembut dengan mengelus kening neneknya yang sedikit berkeringat


karena mendapat anggukan dari neneknya, Rita segera berlari menuju tempat mamanya tadi. ia bernafas lega saat mamanya masih dalam posisi yang sama, duduk menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi


"mama mau apa? mau minum?" tanya Rita yang mendapat gelengan kepala dari Ila


"ya udah kalau mama gak mau apa apa, adek makan dulu ya" ucapnya lembut yang direspon dengan anggukan kepala dari mamanya


Rita segera mengambil makan dan memakannya di depan mamanya yang sedang duduk di kursi. "enak?" tanya mamanya lemah


Rita mengangguk antusias "iya dong..mama mau makan lagi sama ikan ayam?" tanyanya terkekeh


ila menggeleng "makan terus nanti mama gendut" ucapnya


Rita tertawa "biar cepat sembuh ma hehe" ucapnya


tak lama kemudian, terdengar sebuah lagu yang diputar dari rumah tetangga sebelah, dan kebetulan lagu tersebut adalah lagu favorit ila


Rita tersadar "eh ma! lagu kesukaannya mama haha" ucap Rita antusias


ila mengangguk dan tersenyum tipis "iya, mama udah lama gak denger" ucapnya lemah


"makanya mama cepet sembuh ya biar bisa denger lagunya sepuas mama hehe" kekeh Rita kemudian


setelah makan, Rita menghampiri mamanya lagi. ia bercerita ria dengan mamanya itu "mama tau gak? Rita punya temen cowok di sekolah..tapi Rita gak suka dia ma, dia sering ganggu Rita" adunya


mamanya tersebut tipis "jangan benci orang ya sayang, gak baik" ucapnya lemah


Rita tersenyum simpul "tapi Rita gak suka dia ganggu terus" ucapnya


ila mengangguk "iya" lirihnya pasrah


"mama mau rebahan? ayo Rita papah mama kembali ke kasur" ucapnya yang mendapat anggukan dari mamanya


Rita memapah mamanya kembali ke kasur yang sebelumnya menjadi tempat istirahat mamanya itu. dengan hati hati Rita membenarkan posisi tidur, supaya mamanya merasa nyaman.


tak lama setelah ila merebahkan tubuhnya dan terlelap, Frederick pulang dengan membawa banyak sekali barang belanjaan. seperti nasi goreng, bakso, dan berbagai jenis buah


"mama tidur?" tanya Frederick yang diangguki oleh Rita


"lah kok beli beli banyak?" heran Rita melihat belanjaan yang Frederick letakkan di meja


"iya ini baksonya buat mama makan sama bubur" ucap Frederick terkekeh


"oh kirain buat adek makan hahaha" tawa Rita


"ya kalau adek mau ambil aja. papa juga belikan adek sama kaka kok" ucap Frederick tersenyum manis


"ini papa belikan mama buah jeruk, karena buah ini buah kesukaannya mama..mama suka sekali jeruk kayak gini" ucap Frederick terkekeh sendiri


"ini jeruknya besar besar ya dek..pasti mama kalau bangun langsung sembuh haha" tawanya renyah


"iya pa..mama suka yang asam manis gitu" ucap Rita mengangguk kecil sembari tersenyum


setelah meletakkan seluruh bahan belanjaannya di atas meja, Frederick bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melanjutkannya dengan makan


"mama kasih makan sama bakso sana dek" perintah papanya setelah makan


"iya kan tadi..sekarang kasih makan lagi, pasti udah laper bangett" ucap papanya terkekeh


Rita mengangguk "oke" ucapnya segera bergegas untuk mengambil bubur serta bakso yang telah dibelikan oleh papanya tadi


mamanya terbangun dan sudah di suguhkan oleh sepiring bubuk yang dibuat khusus untuknya "mama makan ya? papa tadi belikan bakso buat mama..jeruk juga di kulkas, sekalian sama roti tawar tuh di meja" lapor Rita terkekeh kemudian


Rita tersenyum dan mengangguk manis "iya" lirihnya hampir tak terdengar


dengan telaten, Rita menyuapi mamanya lagi, kali ini tidak hanya sepiring bubur kosong, tapi dengan kuah dan secuil bakso untuk lauk mamanya makan. dengan lahap mamanya makan tanpa berbicara


"enak?" tanya Rita karena melihat sepertinya ***** makan ila sedang naik


ila mengangguk "iya" lirihnya


Rita tersenyum manis, pasalnya selama ila sakit ia tak merasakan masakan yang enak dan pait. semuanya hambar dirasanya, namun sekarang Rita mendengar kata enak dari bibir mama tersayangnya itu


"makan yang banyak" ucap Frederick mengelus kepala ila


Rita terkekeh "satu kali lagi ma..ini tinggal baksonya aja" ucapnya lembut


Rita menggeleng "makan adek aja" ucapnya pelan


"okeee" antusias Rita


Frederik bergegas jalan menuju Rita yang sedang menyuapi mamanya itu "kenapa pa?" tanya Rita penasaran


"papa mau keluar sebentar, jagain mama ya" ucapnya mengelus rambut panjang Rita


"iya" ucap Rita bingung


*******


di tempat kerja, Fara sedang berdiam diri dengan pikirannya yang berkecamuk. ia sangat pusing memikirkan apa yang akhir akhir ini terjadi pada dirinya. entah itu masalah keluarga, kerjaan, bahkan masalah ekonomi pun


"far, Lo kenapa?" tanya Ratih, teman kerjanya


"gak tau nih Rat, pikiran gue lagi perang" ucapnya pasrah


"lah gimana sih.. kalau ada masalah itu cerita far, Lo di kantor ini gak sendirian kok..banyak temen temen lain yang peduli sama Lo" ucap Ratih pelan


"iya gue tau, tapi kayaknya hal ini gak pantes gue ceritain di depan umum deh" ucap Fara sendu


"masalah nyokap Lo?" tanya Ratih yang mendapat anggukan dari Fara


Ratih menarik nafasnya panjang "udah lah far, semua kehendak Tuhan. kalau lo mau, gue ada dokter ampuh yang bisa nangani keracunan kayak yang nyokap Lo alami" ucap Ratih mengelus punggung Fara


Fara menggeleng "nyokap gak mau dibawa ke tempat begituan" ucapnya pasrah


"gue jemput deh, nanti orang tua lo ikutan di mobil gue aja. gimana?" tanyanya menawarkan


Fara tampak berfikir sejenak "oke rat, makasih ya" ucapnya tersenyum manis


"nah gitu dong, senyum..gak usah sedih sedih kali" ucap Ratih memberi semangat


tak lama kemudian, ponsel Fara berdering "tunggu ya, gua angkat dulu" ucapnya mulai menempelkan handphone nya di telinga kanan


"hallo iya pa?" tanya Fara


"..."


Fara terdiam. tubuhnya kaku dan lidahnya kelu. ia tak bisa berucap lagi, seakan lumpuh mendadak. Fara terdiam cukup lama hingga akhirnya ia tersadar lagi dan mulai meneteskan air matanya


"kakak pulang sekarang pa" ucapnya menyeka air matanya


"lo kenapa?" tanya Ratih saat melihat Fara yang sedang terburu-buru membereskan barangnya yang ada di atas meja


"tolong buatin gue surat izin, gue mau pulang sekarang" ucapnya mulai berlari keluar gerbang kantornya


"ya Allah, cobaan apa lagi ini" ucapnya dalam hati