BLACK

BLACK
Twelve



Rita merebahkan dirinya di atas ranjang bersama mamanya, ia rebahan di samping mamanya dengan memeluk dan memainkan lengan mamanya


"kuku mama kok warnanya gelap" ucap Rita


"dingin ya ma?"


"kalau tau mama kedinginan sampai biru gini, gak bakal Rita biarin mama mandi tadi"


"sakit gak ma?" tanya Rita yang mendapat gelengan dari mamanya


"apa ini pertanda ya Allah?" tanya Rita dalam hati yang mulai meneteskan air matanya


"Rita belum siap kehilangan mama" lirihnya dalam hati


"Rita masih butuh mama" ucapnya lagi


"kenapa?" tanya mamanya menggenggam pelan tangan Rita yang bermain di jarinya


"Rita sayang mama" isaknya memeluk mamanya


"Rita sayang mama pokoknya" ucap Rita mengulang sembari mengeratkan pelukannya


"jangan nangis" lemah mamanya


"tangan mama membiru" lirihnya di sela tangisannys


"mama kedinginan" ucap mamanya melemah hampir tak terdengar


nada berbicara mamanya sudah mulai tak jelas, hal itu makin membuat Rita takut dan terus menangis sekuat tenaga. ia takut mamanya pergi saat dirinya masih sangat membutuhkan sosok ibu, terlebih lagi saat ini dirumah sedang tak ada siapa siapa


Rita memeluk mamanya sangat erat. ia menangis di punggung mamanya karena kini posisinya, ila yang sedang memunggungi Rita.


"mama mau sesuatu?" tanya Rita menghapus air matanya


mamanya menggeleng "nggak" lirihnya


tak lama kemudian Frederick datang dan duduk di samping istrinya itu. ia menggenggam tangan pucat istrinya. dengan terus menahan air matanya supaya tak jatuh, Frederick mulai bertanya


"mama mau makan buah? papa tadi belikan jeruk buat mama, kan itu buah kesukaan mama" ucapnya lembut


ila tak menjawab. pandangannya mulai kosong dan terus terdiam. Rita menenggelamkan wajahnya di punggung mamanya itu. ia tak ingin mamanya tau jika ia tengah menangis


tak berselang lama, Fara datang dengan tergesa-gesa. ia meneteskan air matanya melihat sosok yang sangat ia sayangi terbaring lemah tak berdaya di depan matanya itu.


keadaan ila semakin memburuk. nafasnya kini mulai tersengal dan sesak. dengan cepat Frederick menelfon dokter pribadi mereka, dan tak butuh waktu lama dokter itupun datang


"maaf pak, sepertinya ibu harus segera dibawa ke rumah sakit" ucap dokter itu


"apa rumah sakit menjamin kesembuhan mama saya dok?" tanya Fara


"saya tak bisa pastikan itu. yang jelas untuk sekarang ibu sangat butuh oksigen karena otaknya kini minim oksigen" ucap dokter itu


"baiklah sekarang cepat hubungi ambulans" ucap Fara mengambil tindakan


"setidaknya mama bisa lebih baik dulu untuk sekarang" ucap Fara dalam hati


"mama dimana?" tanyanya kepada Fara


"mama di rumah sakit" ucap Fara lembut


"mama kenapa?" tanyanya lagi


"mama kan sakit, jadi di bawa ke rumah sakit dulu ya" ucap Fara lembut


"mama mau pulang" lirih mamanya


"iya nanti mama pulang kalau udah sembuh" ucap Fara mengelus lengan mamanya yang basah karena keringat


"mama kepanasan?" tanyanya lembut


mamanya mengangguk pelan "iya" lemahnya


Fara menatap mamanya iba "dokter ngelarang mama pakai kipas angin" ucap Fara prihatin


tak lama kemudian dokter dan satu perawat masuk ke ruangan ila. "permisi mbak, apa ibunya mau pakai selang kencing?" tanya perawat itu


Fara terdiam "kami biasa menggunakan selang ini supaya pasien tak terlalu banyak gerak untuk ke kamar mandi" sambung perawat itu


Fara menoleh ke arah mamanya sekejap, ia berkaca kaca "ya udah sus, pakaikan saja" ucap Fara


"mama pakai selang ya ma, biar gak capek ke kamar mandi terus" ucap Fara memberi penjelasan dan mamanya mengangguk menyetujui


perawat itu mulai menggunakan selang kepada ila, ia memejamkan matanya merasakan sakit


"sakit ma?" tanya Fara mengusap air mata mamanya yang mulai mengalir karena sakit


mamanya mengangguk "iya" lirihnya lemah


Fara mulai menangis "sebentar lagi ya ma..mama sembuh kok" ucapnya lembut


*******


"apa yang harus kita lakukan kalau sampai polisi kemari?" tanya seorang wanita paruh baya


"gak mungkin! gak ada bukti yang menunjukkan bahwa dia mati karena kita!" ucap suaminya


"tapi aku yakin suaminya pasti laporin ini ke polisi" ucap istrinya lagi


"sudah lah tak perlu diambil pusing. mereka gak punya bukti kuat" ucap suaminya lagi


"kita punya anak dan cucu loh! aku gak mau sampai mereka juga kena imbasnya" ucap istrinya lagi


"bisa gak sih kamu diam aja?! banyak ngomong tau gak!" bentak suaminya


"aku gak bakalan gini kalau bukan kamu yang suruh!" balas suaminya lagi


"ah bacot!" ucap suaminya kemudian dengan cepat ia membenturkan wajah istrinya ke dinding


suaminya pun pergi entah kemana. "haaishh! kalau bukan karena kamu! aku gak mungkin ngelakuin kayak gini!" ucap istrinya lagi sembari mengelap darah yang keluar dari keningnya