
menit berganti menit dan waktu terus berlalu. kini jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. waktu di mana Fara dan Ila dalam perjalanan menuju rumah mereka. kepulangan mereka itu adalah keinginan Ila, Ila tak mau dirawat di rumah sakit.
"Mama kenapa nggak mau?" tanya Fara lembut di dalam mobil
Ila menggeleng lemas "Mama mau di rumah aja" lirihnya pelan
Fara tersenyum manis dan mengangguk samar "Iya ma, kita pulang ya"
tak berselang lama mereka pun sampai di rumah Ila yang cukup besar itu. sudah banyak sanak saudara yang menunggu kepulangan mereka. mereka berharap kepulangan Ila adalah kesembuhannya, tapi mereka salah.
tubuh Ila berada di dalam gendongan sang suami yang tengah membawanya ke tempat biasa Ila tidur. sejak ila terlepas dari selang oksigen di rumah sakit, dirinya kembali merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya itu sehingga membuatnya susah untuk berbicara sepatah kata pun. kini ia hanya terkapar lemas di atas kasur Queen size nya.
di kamarnya hanya terdapat Fara dan Rita yang tengah menangis tersedu-sedu karena keadaan mamanya itu. di samping mereka juga terdapat Kakak dari Ila, yaitu tante Ria. Dengan air mata buaya nya Ria pun ikut menangis di samping kedua ponakannya itu. ia pikir keluarga Frederick tidak tahu apa yang mereka lakukan kepada istrinya sehingga membuatnya terkulai lemah seperti ini
"kamu yang sabar ya sayang" lirihnya mengelus kepala Fara dan Rita
"kalian gak perlu sedih, mama kalian sudah tenang kok" lirihnya lagi
Rita bangkit dari duduknya, ia membalikkan badannya menghadap Tante tersayangnya itu "maksud lo ngomong Mama gue udah tenang apa hah?!" bentaknya dengan menyeka air mata yang terus mengalir tanpa henti
"sudah tidak ada harapan lagi, Rita" ucapnya mengelus rambut mamanya lagi
"kita harus segera menyiapkan pemakamannya" sambungnya
"mata lo buta ya!? atau telinga lo tuli?! lo gak bisa lihat mama gue masih nafas? lo gak bisa dengar apa yang gue omongin tadi?!" ucapnya dengan emosi yang memburu
cara menahan tangan adiknya supaya tak berbuat lebih ia menuntun tangan itu untuk duduk kembali di samping mamanya yang tengah melihat ketidaksopanannya kepada tantenya itu
"udah Rit, mama lihat lo gak sopan loh tadi" ucapnya disela tangisnya itu
"gue gak terima Kak, mama gue masih hidup! ngapain dia nyuruh gue untuk nyiapin pemakamannya? mama gue bakalan tidur di kamarnya ini!" ucapnya histeris
Fara memeluk adiknya itu. walaupun mereka sering bertengkar atau adu bacot yang tidak penting, tapi ketahuilah jika mereka tetap saudara sedarah dan sedaging yang masih memiliki rasa sayang satu sama lain. Rita menumpahkan kekesalan dan tangisannya di pelukan sang kakak itu
"Gue gak mau mama pergi kak..hiks hiks" tangisnya
"gue masih butuh mama hiks"
"Iya gue tahu perasaan lo hiks,,gue juga gak mau mama pergi hiks hiks" timpal Fara
Ria yang melihat interaksi antara dua bersaudara itu hanya tersenyum miring "udah gak mempan, racun itu udah menyebar, kalian anak kecil Mau apa sih? nggak guna tahu gak! hahaha" ucapnya dalam hati
setelah cukup lama tak ada respon dari mamanya, Fara memberanikan diri berucap "kakak dan adik ikhlas kok mah"
dan sedetik kemudian ila menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum yang tipis di bibirnya, seakan memang kalimat itu yang ia harapkan sedari tadi
"MAMAAAA!!" teriak Rita histeris memeluk mamanya
"MAMA JANGAN TINGGALIN RITAAA!!" teriaknya lagi dengan terus meneteskan air matanya
karena teriakan Rita yang cukup keras, banyak orang terutama Frederick masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk melihat apa yang terjadi kepada istri dan anak-anaknya itu. saat sampai di dalam ruangan Frederick terpaku dengan apa yang ia lihat, lidahnya kelu tak bisa berucap sepatah kata pun. dengan langkah berat ia melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju ranjang yang ditiduri sang istri, ia menarik Rita ke dalam pelukannya. rasa sedih dan sakit hatinya kini semakin menjadi ketika melihat kedua putrinya menangisi istri yang sudah sejak dulu berada di dalam hatinya itu.
"PA.. MAMA NINGGALIN RITAAA" teriaknya di pelukan sang ayah
"BANGUNIN MAMA, PAA!" BANGUNIINNN!!" teriaknya lagi memukul dada ayahnya itu
Frederick mengelus kepala Rita dengan lembut dan penuh kasih sayang. "sudah nak, mama sudah berpulang dan mari kita antar ke tempat peristirahatan terakhirnya" lirihnya lembut
"NGGAAKK!!" tolak Rita membentak
Rita melepas pelukan ayahnya dan segera berhambur ke pelukan mamanya yang sedang tertidur untuk selamanya itu "ma,,mama bangun yokk" ucapnya tersenyum kecut
"Rita mau makan kue buatan mama, mau makan masakan mama" ucapnya berharap mendapat jawaban dari objek yang tengah ia peluk itu
"Rita lapar ma, ayo mama masakiinn" tangisnya kemudian menundukkan kepalanya pasrah
Fara sedari tadi tak mampu berucap apapun. yang ia tau, mamanya sudah berpulang dan dengan bodohnya ia berharap sosok yang tengah terbaring di depannya itu membuka mata dan tersenyum padanya, keinginan yang sangat mustahil terjadi.
"mama tau? Rita menang olimpiade itu loh ma..ayo mama anterin Rita ambil hadiahnya" ajaknya yang tak mendapat jawaban
"panitia olimpiade tanya kenapa Rita olimpiade daring, Rita jawab karena mama Rita sakit"
"terus dia bilang ke adek, katanya semoga mama adek cepat sembuh"
"mama udah sembuh kan? tadi dari rumah sakit kan ma? ayo ambil hadiahnya adeekk" tangisnya lagi tersadar
anak buah Frederick masuk ke dalam ruangan dan menundukkan kepalanya hormat "tolong bawa mereka berdua keluar dari kamar ini" lirih Frederick lemah dan langsung dilaksanakan oleh mereka
Rita dan Fara dibawa keluar oleh bodyguard yang senantiasa mengabdi kepada keluarga mereka itu. Rita dan Fara sangat menolak dan memberontak ketika ia ditarik paksa untuk keluar dari kamar mamanya itu, namun pada akhirnya bodyguard itu berhasil membawa mereka keluar ruang, bahkan hingga keluar rumah