
Hallo guys
Author Up lagi nih
Hayo siapa yang nunggu nih
Jangan lupa like, koment dan vote
Dukung terus karya Author yaa
Selamat Membaca
Semoga terhibur
***
Hari sudah semakin sore dan semua masih sibuk bermain basket bersama dan kebetulan juga hari ini Ajeng ke sekolah tidak membawa mobil karena ia ingin di antar oleh sopirnya saja.
Kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore dan hari sudah sangat mendung mempertandakan akan turun hujan setelah ini.
"Anak - anak kita sudah dulu latihannya hari sudah mau hujan" perintah Pak Juli kepada mereka semua
"Iya Pak" jawab mereka dengan cepat dan segera ketepi lapangan
Tidak lama mereka berjalan ke tepi hujan turun dengan derasnya yang di sini jadi perhatian Dita, Ellis dan Ara adalah Ajeng.
Kenapa Ajeng? Karena Ajeng memiliki alergi terhadap cuaca yang dingin apalagi di sebabkan oleh hujan.
Segera mereka berlari ke koridor sekolah untuk berteduh dan mereka juga belum bisa pulang karena jarak parkiran itu jauh.
Dan yang membawa mobil hanya Dita sedangkan Ellis dan Ara tadi pagi pergi bersama Dita karena rumah mereka se arah.
Sampai di koridor sekolah Ajeng sudah merasa tidak nyaman dengan dirinya.
"Jeng lo gak pa pa kan?" tanya Dita saat melihat Ajeng seperti gelisah
"Gue takut akan alergi Dit" jawab Ajeng cepat
"Aduh kita gak ada jaket juga supaya lo gak terlalu dingin" ucap Dita
"Ambilin obat gue tolong di tas" mintak tolong Ajeng kepada temannya tersebut
"Nih jeng, cepet minum supaya gak parah" ucap Ara sambil menyerahkan obat dan minum yang tak lain minum tersebut milik Devan
Segera Ajeng meminum obat yang telah di berikan oleh Ara kepadanya.
Tidak jauh dari tempat Ajeng dkk ternyata Devan dkk juga sedang memperhatikan mereka.
"Eh tu Ajeng kenapa?" ucap El sambil melihat ke arah Ajeng di ikuti yang lain
"Minum obat juga dia" ucap Dimas juga
"Kayaknya tu anak gak bisa dingin" balas Vano kepada mereka
"Kasih tu jaket lu Dev" ujar Dimas kepada Devan yang memang sejak tadi melihat cemas ke arah Ajeng
"Iya Dev, lo gak liat kedinginan banget tu anak" timpal Vano cepat
Tanpa menjawab lagi Devan langsung berjalan ke arah Ajeng dengan membawa jaketnya yang bewarna hitam itu.
Sampainya di depan Ajeng segera saja Devan memakaikan jaket itu menyelimuti tubuh Ajeng ya karena posisi tubuh Devan besar sedangkan Ajeng kecil jadi jaket itu bisa membuat hangat tubuh Ajeng sempurna.
Ajeng yang merasakan ada sesuatu di badannya langsung terkejut dan melihat ke arah atas dan ternyata bertemu dengan mata Devan.
"Eh ini apa?" tanya Ajeng panik
"Pakai" jawab Devan datar
Setelah Devan mengatakan itu langsung saja ia pergi ke tempat teman - temannya tadi sedangkan ada beberapa anak basket di sana aneh melihat kelakuan Devan.
Kini tidak terasa hujan sudah mulai reda dan ada beberapa siswa yang sudah akan pulang tapi belum untuk Ajeng dkk karena ia masih bingung Ajeng pulang dengan siapa.
Sebenarnya Dita ingin mengantar Ajeng tapi karena ia di telpon oleh mamanya agar pulang cepat karena akan pergi ke luar kota setelah magrib.
Sedangkan Ajeng dia tidak membawa mobil dan sopirnya ternyata lagi menemani papanya dinas ke luar kota dan sopir yang satunya lagi tidak bisa karena harus ke rumah sakit.
Devan yang melihat mereka bingung segera saja berjalan mengahampiri Ajeng dkk di ikuti oleh El, Vano dan Dimas.
Sampai mereka di hadapan Ajeng dkk Devan mulai buka suara
"Biar gue yang antar" ucap Devan kepada teman - teman Ajeng
"Beneran Dev lo mau anter Ajeng, jangan lo macem - macem" ucap Ara dengan cepat tanpa jeda
"Sans aja kali Ra Devan gak jahat" balas El kepada Ara
"Gue naik taksi aja" balas Ajeng cepat
"Jangan Jeng gak aman, sama Devan aja" ucap Ellis kepada Ajeng
"Emang gue aman sama nih anak" ucap Ajeng sambil menunjuk Devan
"Aman" balas Vano, El dan Dimas secara serentak
Dan itu membuat Ajeng terpaksa menyetujuinya dan posisi pulang Dita bersama Ara dan Ellis pulang bersama sedangkan Ajeng bersama Devan.
Kini mereka berjalan ke arah parkiran sampai di parkiran Dita, Ellis dan Ara pamit pulang duluan karena Dita akan pergi ke luar kota bersama kedua orang tuanya.
"Iya hati - hati yaa" balas Ajeng
"Oke Jeng, kita duluan juga ya" ucap Ara kepada Devan dkk
"Iya" balas mereka cepat
Dan kini Dita, Ellis dan Ara sudah masuk ke mobil Dita dan dari mobil Dita mereka mengucapkan salam kepada Ajeng dan Devan dkk.
Setelah mobil Dita meninggalkan area parkir kini juga di ikuti oleh Dimas dan lainnya tapi belum dengan Devan karena sejak tadi Ajeng tidak tau Devan membawa motor.
Sampai kini Devan sudah mendekati motor sportnya dan Ajeng langsung terkejut.
"Kita naik motor?" tanya Ajeng dengan takut
"Kenapa lo gak suka naik motor" jawab Devan
"Gue takut ege bukan gak suka" balas Ajeng
"Gak usah takut, nanti terbiasa" ucap Devan kepada Ajeng
"Jangan ngebut - ngebut ya" ucap Ajeng
"Iya" balas Devan datar
Kini Ajeng sudah bersiap akan naik tapi di tahan oleh Devan.
"Itu jaket di resleting dulu nanti dingin" ucap Devan yang melihat Ajeng tidak memakai jaketnya dengan benar
"Iya" balas Ajeng dan segera ia memakai jaket Devan itu dengan benar walaupun agak kebesaran tapi itu tidak masalah
"Nih helm" ucap Devan menyerahkan helm itu kepada Ajeng
"Gimana makainya, gue gak tau" balas Ajeng karena ia memang tidak tahu mengaitkan pengaman pada helm
"Sini" ucap Devan menyuruh Ajeng mendekat ke arahnya yang kini sudah di atas motor dan langsung saja Ajeng mendekat ke arah Devan
Setelah itu Devan langsung mengaitkan pengaman helm yang di pakai Ajeng dan posisi mereka sangat dekat dan ada beberapa siswa basket yang melihat kedekatan itu.
Selesai memasang helm Ajeng segera di suruh Devan naik awalnya Ajeng tidak tau harus naik bagaimana karena motor Devan sangat tinggi sampai Devan menyuruh Ajeng berpegang di bahunya.
Mereka kini akan mulai menjalan motor milik Devan itu dan Devan tak sengaja melihat Ajeng yang dengan raut muka takut karena baru kali ini naik motor, walaupun Max Abangnya Ajeng ada motor seperti ini tapi ia tidak pernah di ajak naik motor.
"Pegangan aja" ucap Devan kepada Ajeng
"Dimana?" tanya Ajeng
"Di sini jadi di sini juga jadi" jawab Devan sambil menunjuk pinggang dan bahunya
Karen Ajeng sangat takut jadi ia mengambil pegangan yang aman yaitu pinggang Devan dan Devan yang melihat itu juga hanya tersenyum tipis.
Aneh memang Devan yang tidak suka ada yang naik ke motornya apalagi cewek dan juga menyentuh nya tapi tidak dengan Ajeng bahkan Devan dengan berani menawarkan segalanya pada Ajeng.
Kini mereka sudah meninggalkan parkiran Sman Darma Bandung dan mulai memecah jalanan sore kota Bandung yang sejuk.
***
.
.
.
.
.
Oke guys sampai di sini dulu yaa
Tunggu kelanjutannya
Dukung terus Author dalam bekarya
Jangan lupa like, koment dan vote
Follow juga Author
Note :
Akan di usahakan Up setiap hari dan maaf jika banyak typo.
Doakan juga segala urusan Author di permudah dan di lancarkan, Aamiin.
Follow Akun IG Author :
@sriwhyniii_____
Jaga terus kesehatan yaa
Tetap di rumah Aja selama masa pandemi ini.
Terima kasih
Salam Author