
...¤¤¤...
Xavier terus berpikir, " jangan-jangan dirinya masih berada didalam mimpinya tadi yang melihat sesosok bayangan ratu azarya. " xavier menitik berat pandangannya ke arah kenz.
" Hmmm... " kenz tau dirinya sedang diperhatikan, dia hanya duduk bersandar pada sebuah dinding batu dan lalu menutup kedua kelopak matanya berpura-pura tidak melihat, tidak peduli, walau sedikit terlihat tampak risih, aneh, serasa tidak nyaman atas pandangan xavier.
Feeya melihat tatapan xavier kepada kenz, entah apa yang ada dipikiran feeya tapi ia mencoba memecahkan suasana yang tidak nyaman itu dengan berteriak dan bertengkar dengan artemis.
" Aku lapaaarrr... " feeya langsung menyergap buah yang baru hendak dipegang oleh artemis, padahal buah yang dimakannya tadi saja belum habis.
" Hei... itu punyaku! " seru artemis, spontan.
" Habiskan dahulu punyamu baru ambil yang baru. " tegur artemis.
" Tidak, feeya mau yang baru. "
" Ini punya feeya! " seru feeya memeluk buah itu.
" Dasar kau ini...! " gerutu artemis, " ya, sudah ambilah ! " artemis mengalah dan hendak mengambil buah lain yang ada disebelah feeya.
Tapi seketika itu juga feeya langsung menjenggal tangan artemis dan menghadang tangan itu dengan membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
" Ini juga punya feeya! " memanyunkan bibir kecilnya, " awas...! " seru feeya kembali memberi sorotan tajam.
" Kau! " ucap artemis terhenti.
Diapun kembali mengalah dan tidak ingin berdebat, jadi artemis kembali hendak mengambil buah yang lainnya lagi.
Akan tetapi kali ini feeya kembali berulah lagi, " tidak boleh! " seru feeya menghalangi lagi.
" Ini, ini, itu, ini semua punya feeya! " feeya menunjuk semua buah yang ada disitu.
" Eh..., kalau semua punyamu aku makan apa?! " seru artemis kesal.
Feeya memanyunkan kembali bibirnya, " tidak peduli, cari lagi saja buah yang lain. " ucap feeya, serakah.
" Kau! "
" Baik makanlah, setelah kau makan maka gantian aku yang akan memakanmu! " seru artemis menakuti feeya.
" Akan aku adukan pada nyonya erl marline! " balas feeya mengancam balik dan meledek artemis dengan mimik wajah yang jelek.
" Dasar kau nymph nakal, sebelum kau adukan kau sudah ada didalam perutku! " seru artemis kesal dan tangan artemis mencoba menangkap feeya, namun feeya berhasil kabur.
" Bweehh..., tidak kena! " ledek feeya lagi.
" Awas kau akan kutangkap! " seru artemis tambah kesal, mencoba menangkap feeya lagi.
Namun dengan gesit feeya menghindari tangkapan artemis, " Ayo, coba tangkap feeya kalau bisa! " balas feeya, meledek sambil menunjukkan wajah jelek yang dibuatnya lagi.
" Bweehh... bweh... bweh... " ledek feeya, sengaja agar memancing artemis untuk mengejarnya.
Tapi disaat artemis mengejar dan berusaha menangkapnya, feeya justru malah sengaja berteriak-teriak meminta pertolongan dan membuat kebisingan.
" Tolong... tolong...! "
" Tolong... monster artemis mau makan feeya...! " seru teriak feeya terbang kesana kesini menghindari tangkapan artemis.
Lalu mereka saling kejar dan membuat kegaduhan kecil, sehingga memecah kebisuan antara kenz dan xavier.
Kenz yang mendengar kebisingan feeya dan artemis mendadak beranjak berdiri dan hendak pergi, saat hendak berjalan pergi kenz sengaja melewati depan xavier.
" Ikut aku. " ucap kecil kenz memberi isyarat pada xavier.
Xavier yang mendengar ucapan kecil kenz segera beranjak berdiri juga dan kemudian berjalan mengikuti kenz dari belakang.
Seketika itu juga feeya langsung berhenti waktu melihat kenz dan xavier pergi berduaan, sehingga membuat dirinya tertangkap oleh artemis.
" Haish...! sudah tidak mau main lagi. " ronta kecil feeya membuat kepalan genggaman tangan artemis melonggar.
" Lihat itu ! " tunjuk feeya ke arah kenz dan xavier yang baru saja pergi, sehingga membuat artemis teralihkan dan mengikuti maksud tujuan feeya.
" Ayo kita ikuti mereka! " seru kecil feeya berbisik dan kemudian mereka berdua juga mengikuti kenz dan xavier secara diam-diam dari belakang.
...•••...
Kenz membawa xavier kedalam ruangan itu, disana terdapat banyak sekali reruntuhan puing-puing pilar batu dan waktu itu tepat di depan xavier berdiri sebuah pintu besar.
Sebuah pintu perunggu besi yang sama dengan pintu masuk diatas sana sewaktu pertama kali mereka memasuki makam suci erl marline, hanya saja kali ini yang berada dihadapan xavier pintu itu dua kali lebih besar dari yang ada diatas sana.
" Ini? " timbul tanya dihati xavier, namun belum sempat xavier mengutarakan keluar. kenz langsung berucap, " mereka semua ada didalam sana. " ucap kenz singkat.
Xavier menilik kata-kata yang baru diucapkan oleh kenz, dalam hati xavier hanya dapat berkata, " sebenarnya apa maksud dari ucapan kenz barusan? " pikir xavier.
" Mereka? siapa yang dimaksud dengan mereka? " pikir xavier lagi.
" Ratu azarya, Erl marline, dan putra mahkota. " sambung ucap tegas kenz menerangkan.
" Mereka semua ada didalam sana. " lanjut kenz kembali.
Lalu kenz hendak berjalan pergi setelah mengantarkan xavier ke tempat yang menjadi tujuannya, " lain kali jangan mencurigai aku lagi. " bisik kenz dengan ucapan kecil disaat ia melewati samping sisi kanan xavier.
Setelah kenz pergi kembali ketempat mereka tadi, xavier melirik ke salah satu balik reruntuhan pilar yang telah membatu.
" Kalian berdua tidak perlu bersembunyi-sembunyi seperti itu. " ujar xavier yang sesungguhnya sudah menyadari kalau mereka berdua sedang bersembunyi disana mengikuti xavier dan kenz tadi.
Heee... heee... heee...
" Ketawan rupanya. " ucap feeya, keluar dari persembunyiannya bersama artemis.
" Kalian berdua jelaskan kepadaku sejelas mungkin, dan jangan ada yang ditutupi lagi dariku. " ucap xavier pada feeya dan artemis sambil terus memandangi pintu perunggu besi yang sangat besar itu.
" Eh, maksudnya? "
" Apa yang harus feeya jelaskan? " tanya feeya bingung.
" Jelaskan apa maksud yang dibicarakan oleh kenz tadi?! " ucap xavier yang lalu menoleh ke arah feeya dan artemis.
" Kalau urusan itu aku tidak ikut campur. "
" Untuk lebih jelas, biar si kecil bersayap ini yang jelaskan. "
" Aku saja ingin tau apa yang terjadi. " ucap artemis yang ikut memandang ke feeya.
" Kok, aku...? "
" Itu... itu, aku, haduh... "
" Feeya juga bingung bagaimana menjelaskannya. " feeya menjadi gugup dan salah tingkah.
" Cepat jelaskan! " perintah xavier.
" Tapi... " ucap feeya lagi.
" Kau bilang erl marline telah tiada, tapi sekarang didalam ada... " ucap xavier.
" Benar itu, aku dan aluna hanya tau kalau erl marline sudah tiada. " potong artemis.
" Kenapa sekarang erl marline masih hidup? "
" Ini juga harus kau jelaskan padaku. " lanjut ucap artemis lagi.
" Aku tidak tau ! " seru feeya, yang langsung kabur menyusul kenz.
" Hei, mau kabur kemana kau feeya! " seru artemis, kembali mengejar feeya.
Tapi xavier masih terpaku disana, " sebenarnya apa yang terjadi? " tanya xavier di dalam hatinya.
" Erl marline masih hidup, bahkan ratu azarya ada disini juga. "
" Apa yang terjadi? "
" Feeya, ya dia pasti tau, tidak mungkin kalau dia tidak tau sama sekali. " ucap xavier dalam hatinya lagi, ditambah ia mengingat saat kejadian badai itu.
Ketika itu jelas-jelas xavier melihat kalau feeya bisa menggunakan kemampuan sihirnya, sedangkan mereka justru kehilangan kekuatan sihirnya.
...¤¤¤...
Xavier kemudian kembali mencari feeya, sesampai disana xavier melihat feeya langsung masuk ke balik jubahnya kenz, sedangkan artemis memanggilnya dengan kesal.
" Keluar kau feeya! " seru artemis.
" Tidak mau. " sahut feeya dari balik jubah kenz.
" Hei, ada apa ini?! "
" Kenapa kalian berdua malah berdebat disini? " tanya kenz, yang dipusingkan oleh mereka berdua.
Kenz pun melihat xavier datang, " dimana dia? " tanya xavier.
" Dia tidak mau keluar dan bersembunyi pada kenz. " sambung artemis menjawab pertanyaan xavier.
" Kenz... " tegur xavier, belum xavier mengatakan apapun pada kenz, namun kenz langsung memahami tujuan xavier.
" Baiklah, aku mengerti. " ucap kenz singkat, tangan iapun segera merabah ke dalam jubah bajunya untuk mengeluarkan feeya yang sedang bersembunyi dalam jubahnya.
" Jangan-jangan feeya ga mau keluar, ga mau. " jerit feeya, tapi kenz tetap mengeluarkan dirinya.
Kenz yang menggenggam feeya lantas memberikan feeya ke tangan kenz, dengan ekspresi yang dingin seolah menandakan kalau ia tidak mau ikut campur.
" Aku sangat lelah dan ingin beristirahat, jadi jangan terlalu berisik. " ucap kenz dengan nada datar, dan xavier memahami maksud kenz.
Feeya yang menyadari kalau dirinya tidak bisa lagi menghindar dari artemis dan xavier, segera memikirkan cara agar dapat selamat dari pertanyaan-pertanyaan yang akan memberatkan dirinya.
Xavier mengendurkan sedikit genggaman tangannya dan berkata, " sekarang lebih baik kau segera jelaskan padaku. " ucap xavier sedikit terlihat mengancam, begitu pula dengan artemis seakan siap mendengarkan namun juga siap menyudutkan feeya.
" Cepat jelaskan padaku feeya! " seru xavier terakhir kalinya.
Namun feeya yang sangat cerdik segera berpura-pura menangis histeris dengan sangat kencang, " Huah...hwa... hwa... " tangis feeya.
" Tolong feeya, mereka menindas feeya, huah... hwa...! " jerit tangis feeya yang kian semakin keras terdengar.
" Eh, kami apa-apakan saja belum. " tapi dia malah menangis sekeras ini.
Tanpa disadari tangisan feeya justru malah membuat ratu azarya, dan erl marline menjadi keluar dari balik pintu perunggu besi yang sangat besar itu.