
***
Feeya melirik pada bukunya yang sedang ditatap oleh xavier, " uumm... " langsung memeluk bukunya itu, tetapi malah semakin melirik tajam pada buku itu.
Tanpa meminta izin pada feeya lagi, xavier langsung mengangkat buku itu.
" Jangan! "
" ini punya feeya... " teriak feeya mencoba mempertahankan bukunya itu, sampai ikut terangkat karena tubuhnya yang kecil itu.
Feeya memanjat naik keatas bukunya itu dan bersikukuh mempertahankannya, " ini punya feeya! " memasang wajah marahnya.
" Aku juga tau ini punyamu, tapi biarkan aku melihatnya. " ujar xavier.
" Tidak! " balas feeya.
" Lihat! " paksa xavier kembali.
" Tidak! feeya bilang tidak, berarti tidak boleh! " seru feeya dengan tegas.
" Berisik diam! "
" Eh, atau kau ingin semua orang tau kau memiliki buku ini. " lanjut ancam xavier, karena ia tau dari gerak-gerik feeya yang dari tadi mencari-cari tempat sembunyi hanya untuk membuka buku itu agar tidak ada yang melihat apa yang sedang dia lakukan.
Lirik mata xavier memberi isyarat, feeya memasang wajah cemberut dan sepasang matanya yang bagai mata boneka itu melirik ke kanan dan ke kiri memastikan kalau belum ada yang menyadari kalau mereka berdua sedang berada di ujung pojokan lemari buku.
" Dia menyebalkan. " pikir feeeya yang lalu menyerahkan bukunya secara terpaksa dan terbang ke salah satu rak di lemari buku yang tingginya sejajar dengan xavier, " hmmm..., ini ambil...5 menit dari sekarang! " ujar feeya membuang muka.
" Sudahlah, dia juga tidak akan bisa memakainya. " ucap feeya dalam hati, karena menurut pikirannya selain dirinya dan erl marline tidak ada lagi orang yang dapat menggunakan buku tersebut.
" Nah, begitu. "
" Serahkan baik-baik padaku dari tadikan bisa. " ujar xavier yang telah memegang buku tersebut ditangannya, " hmm..., pasti ada sesuatu didalam sini. " senyum tipis merekah tampak dari wajah xavier, sedang feeya hanya bisa duduk dipinggiran rak lemari yang ada dihadapan xavier, dengan sesekali ia melirik kearah xavier hanya untuk memastikan bukunya itu masih aman.
Xavier pun tampak mulai mempelajari buku tersebut dari bentuk, sisi, dan di setiap sudutnya secara saksama.
" Mari kita lihat apa saja yang kau simpan dan yang ada didalamnya. " ujarnya menilik buku tersebut, dan dengan sengaja melemparkan sorotan tajam kearah feeya sambil tersenyum menukik diujung garis bibirnnya.
Feeya yang menyadari itu langsung kembali membuang muka seolah berpura-pura tidak mau melihat, padahal dalam hatinya sangat kesal, " buku feeya..., hik... hik... hikk...! " ucapnya dalam hati seraya memasang ekspresi wajah cemberutnya, sedih.
" Buka saja buka...! " seru feeya membalas kata-kata xavier tadi.
" Aku yakin kau tidak akan menemukan apapun. "
" Karena memang tidak ada apapun, itukan cuma buku biasa. " lanjut ujar feeya berbohong.
" Oh..., benarkah?! " lirik xavier menampik ucapan feeya, dengan tetap mencoba membuka buku tersebut.
Ketika xavier membuka buku tersebut, buku itu hanyalah sebuah buku usang dengan halaman kosong yang sudah berwarna kecokelatan dan sehingga mudah rawan sobek.
" Sudah kubilang tidak ada apa-apa. " sambung feeya yang masih kesal, bermaksud menegaskan kalau buku itu hanya buku biasa.
" Sama persis. " xavier menilik buku tersebut lagi, " baik dalam maupun luar, semua sangat mirip. " ujarnya.
" Apa maksudmu? " feeya sedikit kebingungan dan merasa apa ia tidak salah dengar, " tadi kau bicara apa? apa yang sama dan sangat mirip? " tanya feeya yang sedikit ragu tapi feeya malah melihat xavier memasukan bukunya ke dalam jubahnya.
" Hey! "
" Itu punyaku mau dibawa kemana? " feeya mencoba merebut dan menariknya, tetapi malah terpental.
" Aku pinjam dulu. "
" Tidak baik bila dilihat disini. " ujar xavier yang hanya membalas dengan senyumannya yang mengesalkan itu dan membawa buku itu pergi.
" Dasar menyebalkan! " teriak feeya kesal, yang lalu segera menyusul xavier.
" Tidak akan aku biarkan kau mengambil barangku. " ketus feeya.
•••
Sebelum keluar dari ruang obat-obatan, xavier segera menggendong bayi putra mahkota di bahunya dan mengambil beberapa botol obat-obatan dan kemudian mengobati sayap burung elang itu dengan menaburkan bubuk obat pada sayapnya.
Seusai mengobati burung elang itu, iapun hendak pergi meninggalkan ruangan obat sambil membawa burung elang itu ikut bersamanya.
Feeya yang melihat xavier hendak pergi, segera mengikutinya karena buku itu berada ditangan xavier.
" Hey, kau mau kemana?! " xavier hanya tersenyum, dan salah satu tangannya dimasukkan kedalam jubahnya hanya untuk memperlihatkan sedikit buku itu dari balik jubahnya.
Matanya sengaja dikedipkan ke feeya seperti sedang mengejek feeya, " hmmm...! " feeya menjadi bertolak pinggang, dan kembali memasang wajah cemberutnya.
" Kau mau kemana? " ucap kenz yang saat itu berdiri didepan dengan bersandar pada sebuah pilar.
" Kau ada disini? " ujar xavier berbalik bertanya.
" Kau tetap saja disini, aku ada urusan sebentar. " lanjut ucap xavier.
" Kemana? " tanya kenz yang lalu menghampiri xavier.
" Kemana, ya? "
" Hmmm..., itu yang lagi aku pikirkan. " pandang xavier mengarah keliling langit-langit berbatu-batu, yang lalu ia melirik kearah feeya.
" Hahaha..., Yang pasti tidak akan jauh dari tempat ini dan tergantung pada pentunjuk arah kali ini. " bias senyum tajam itu lagi yang ditunjukkan xavier dengan sengaja untuk diisyaratkan ke feeya.
" Aku ikut kalau begitu. " ujar kenz tidak banyak tanya lagi.
" Eh...?! "
" Kau yakin? " tanya xavier yang lalu menatap kearah kenz dan feeya.
Feeya yang sadar tatapan mata itu langsung berteriak dengan tegas, " tidak! tidak! pokoknya tidak boleh! " ketusnya yang dengan segera terbang kehadapan kenz dan merentangkan tangannya dengan bola mata yang membesar, menatap kenz tajam.
" Hahaha..., kau dengarkan. "
" Bukan aku yang tidak ingin mengajak, tapi.... " ucap xavier mengalihkan kata-kata, yang lalu membalikan tubuhnya dan sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
" Kau tunggu saja aku disini. " lanjut ujar xavier sedikit melirik kearah feeya yang sambil berjalan pergi, dan salah satu tangannya mengeluarkan buku itu lalu sengaja dilambai-lambaikan, " aku jalan duluan! " seru xavier yang mulai jauh.
Feeya melihat buku itu, langsung menyusul xavier sehingga lupa dengan kenz yang tadi hendak ikut bersama mereka.
" Hey! "
" Tunggu aku! " seru feeya, segera menyusul xavier namun sengaja dilama-lamain.
" Cepat sedikit ! " sahut xavier dari jauh.
" Bagaimana bisa cepat, aku ini kecil, kakiku juga kecil, mana bisa mengejar kaki besarmu! " sahut feeya ketus.
" Dasar peri aneh, aku 'kan tidak menyuruhmu berlari. "
" Kau kan punya sayap untuk terbang. "
" Giliran waktu dikejar mahluk besar itu kau bisa terbang dengan cepat. " sindir xavier.
" Tapi ya sudahlah, sepertinya benda ini tidak berarti untukmu. "
" Mungkin ini bisa jadi koleksi baruku. " sindir xavier dari kejauhan yang sedang bediri menunggu feeya, yang dengan sengaja melempar dan menangkap kembali selayak memainkan buku kesayangan feeya.
" Bukuku! "
" Jangan dilempar! " teriak feeya yang segera datang dengan sangat cepat dari kejauhan.
" Nah...kan, bisa terbang lebih cepat. " ujar xavier ketika feeya sudah berada didekatnya, " ayo segera lanjutkan perjalanan kita. " lanjut ujar xavier.
Hosh... hosh... hosh...
" Keterlaluan, aku baru sampai... "
Hosh... hosh... hosh...
***
Hosh... hosh... hosh...
" Hey! "
" Sebenarnya kau mau kemana? " feeya tampak kelelahan yang mengikuti xavier berputar-putar, sudah tidak sanggup lagi mengejarnya.
" cepat jawab aku! "
" Jawab aku, sebenarnya kita mau kemana? " ketus feeya dengan kesal dan kelelahan, yang lalu berhenti terbang turun singgah pada sebuah batu permata topaz dan duduk diatasnya.
•••
Xavier yang melihat feeya sedang duduk dengan memasang wajah kelelahan, akhirnya xavier menghampiri feeya juga.
" Sudah selesai istirahatnya? " tegur xavier.
Feeya hanya menengok keatas dan menarik nafas panjang, " hufftt..., memangnya kau tidak bisa lihat dari tadi aku mengikutimu? " kesal.
" Aku baru saja duduk 5 menit. " ucap feeya kembali, " egois...! " sambung feeya lagi.
" 5 Menit juga adalah waktu. "
" Salahkan siapa mengikuti diriku. "
" Aku tidak menyuruhmu mengikuti diriku. " sela xavier yang dengan sengaja melakukan semua itu.
" Tapi kau mengambil buku feeya. " feeya dengan cepat menjulurkan telapak tangannya yang kecil itu meminta bukunya dikembalikan, " mana sini, kembalikan buku feeya. " pinta feeya.
" Eh, bagaimana mungkin buku itu milikmu? "
" Lihat kau sekecil ini, sedang buku itu sangat besar... " xavier memberi penjelasan dengan mengukur tubuh feeya menggunakan tangannya, bermaksud menyindir.
" Kau...! "
" Eerrghhh... feeya marah! " wajah feeya yang memerah karena tersinggung melempar kerikil kecil yang ada disebelahnya dan mengenai xavier, akan tetapi kerikil kecil itu tiada arti bagi xavier.
" Astaga kau bisa marah? " goda xavier, menambah kekesalan dan emosi feeya.
" Satu lembar halaman dibuku ini pasti sangat berharga. " xavier membelakangi feeya dan membuka lembaran buku kosong itu.
" Aku yakin sekali bila lembaran ini tersobek satu saja..., maka tulisan dan yang disimpan didalamnya akan hilang juga. " xavier sengaja mengancam feeya dengan buku yang ditangannya.
" Berhenti...! " seru feeya, yang dengan segera menghentikan jari-jemari xavier yang saat itu hampir merobek salah satu halaman pada buku tersebut.
Feeya yang melihat xavier dari tadi seperti sedang mengerjai dirinya, tidak ingin banyak komentar lagi.
" Sesungguhnya apa yang kau inginkan? " tanya feeya langsung.
" Ah, aku tidak ingin apa-apa sebenarnya. "
" Tapi karena kau menawarkan sesuatu, mungkin akan aku pikirkan. " ujar xavier saat itu sambil tersenyum sinis penuh drama.
" Sudah katakan saja, apa yang kau inginkan? " ucap feeya kembali.
" Memang apa yang bisa kau berikan padaku? " sahut xavier, membalikan pertanyaan feeya.
" Apa saja, tidak penting... cepat katakan saja dan segera kembalikan buku milikku. " ucap feeya.
" Baiklah, kau yang katakan jadi jangan mengingkarinya nanti. " ucap xavier dengan ekspresi senang karena rencananya telah berhasil pada saat itu.
•••
Bagi xavier saat itu, hanya ini cara satu-satunya untuk mencari tau apa yang sedang ia cari dan yang ingin ia ketahui.
Ketika xavier melihat buku itu, tetapi feeya sembunyi-sembunyi untuk melihatnya, disaat itu xavier menyadari ada banyak hal yang diketahui oleh feeya namun tidak diketahui oleh aluna maupun artemis.
Apa lagi..., tidak segelintir bangsawan bisa memiliki buku itu.
Meskipun bangsawan duke ataupun seorang elder sekalipun tidak pernah ada yang memilikinya, apa lagi seorang peri nymph yang jelas-jelas tidak ada garis bangsawan sama sekali.
Jadi bagaimana mungkin sesosok mahluk peri nymph bisa memiliki buku tersebut...?
Ditambah lagi dengan buku itu sendiri, konon buku itu hanya ada tiga buah selama ini, yang mana salah satunya dimiliki juga oleh xavier.
" Jika benar apa yang aku prediksikan, seharusnya pemilik buku ini adalah dia. " pikir xavier didalam benaknya, yang sempat tertegun beberapa detik.
" Cepat katakan apa maumu? " tegas feeya pada xavier kembali.
Ckckck... ckckck...
" Apa mauku? " senyum xavier kecil dengan sedikit terkikik.
" Antarkan aku pada pemilik buku ini...! " seru kecil xavier yang lalu membalikan tubuhnya melihat ke feeya dan feeya menatapnya dengan sedikit shock.
" Tu-tu... tunggu, apa maksudnya?! " sedikit kaget terdengar, namun feeya berusaha untuk tetap tenang.
" pemilik buku itukan adalah aku. " kembali ucap feeya, bersikap sewajarnya.
" Ayolah, tidak perlu berpura-pura. "
" Memangnya kau pikir aku ini siapa? "
" Anak kemarin sore yang bisa dibodohi oleh mahluk nymph. " ujar xavier sambil melangkah lebih dekat, iapun juga sengaja kembali melempar-lempar buku itu keatas dan lalu menangkapnya lagi.
Ketika melihat buku itu melayang keatas dan jatuh ditangan xavier dan terus berulang-ulang begitu, " buku feeya... " ucap kecil feeya menatap bukunya sampai terperangah, mendadak timbul pemikiran dalam benak kecil feeya sewaktu memandangi buku tersebut.
Tatapan tajam mata feeya saat itu hanya tertuju pada bukunya, begitu ada kesempatan feeya yang bergegas terbang dengan cepat untuk mengambil buku miliknya yang ada ditangan xavier.
" Wah..., cepat sekali ! " ujar xavier menghindari pergerakan kecepatan terbang feeya yang berusaha mengambil bukunya kembali.
" Dapat...! " serasa tidak percaya buku itu sekarang berada di kedua tangan kecilnya.
Belum begitu lama mata feeya berbinar-binar karena melihat buku itu kembali padanya, tidak lama dalam sepersekian detik tiba-tiba ketika feeya kembali melihat tangannya, buku itu telah lenyap.
Feeya tampak kaget, matanya terbuka lebar-lebar melihat tangan dan sekelilingnya, dan menengok kebawah memastikan buku itu tidak jatuh.
Tetapi xavier hanya tersenyum menyeringai melihat feeya kebingungan, " rupanya masih punya banyak tenaga, pantas saja masih tidak mau mengaku. " sindir xavier.
Selaras mendengar ucapan xavier, feeya pun berhenti sesaat dan menoleh kearah xavier.
Dilihatnya buku itu sedang berada ditangan xavier, " bagaimana bisa? " pikir feeya yang sambil bertanya-tanya dalam hatinya.
" Mencari sesuatu? " tanya xavier secara ironi, yang tampak menujukan buku yang sedang berada ditangannya lagi.
" Mungkin saja benda itu terlalu besar jadi tangan kecilmu itu tidak kuat memegangnya, maka terjatuh. "
" Coba dicari lagi...! " lanjut sindir xavier, sehingga membuat mimik wajah feeya berubah merah, geram.
" Kenapa? "
" Atau mau aku bantu mencarikanya? " xavier kembali menyindir feeya.
" Tidak perlu! " sahut feeya, kesal.
" Ada yang sangat kesal rupanya. "
" Daripada marah-marah tidak jelas, bukankah lebih baik jawab pertanyaanku. " ujar xavier yang terus bermain dengan kata-kata dengan feeya.
" Erl Marline. " ucap feeya singkat sambil tertunduk pasrah dengan hati penuh kesesalan.
Begitu mendengar ucapan feeya, xavier pun tersenyum dan berucap kecil, " Kalau begitu, semua perkiraan yang aku tebak adalah benar. " pikir xavier yang tiba-tiba teringat pada masa lalunya disaat ia masih kecil berusia 5 tahun.
" Itu artinya dia adalah erl marline. " ucap tegas xavier didalam hatinya, sambil berpikir kritis mengenai erl marline yang merupakan sosok penolong bagi dirinya sewaktu ia tersesat dahulu.