
***
Artemis pun akhirnya membawa mereka memasuki sebuah ruangan dihadapkan sebuah dinding batu berjalan buntu, mimik muram terpaut diwajahnya, dengan perlahan tangannya menggapai sebuah artefak batu yang bergambar bunga flawles terukir disela dinding yang tertutupi oleh tumbuhan lumut daun.
Artemis menyingkirkan lumut tersebut dan iapun melukai telapak tangannya, darah yang menetes dari tangannya sengaja dialirkan ke dalam ukiran gambar bunga flawless.
perlahan dinding tembok berbatu didepannya pun bergerak, serpihan-serpihan renruntuhan berjatuhan yang tidak lama dinding batu itupun terbuka perlahan-lahan.
" Masuklah. " ujar artemis membuang muka, namun semua hanya terdiam menelaah dinding pintu batu itu.
" Haish... " menghela nafas, artemis melirik ke arah xavier dan kenz yang tampak ragu.
" Kalau begitu aku masuk terlebih dahulu. " sambung ucap artemis.
Tanpa banyak bicara artemis lalu memasuki ruangan dibalik dinding batu tersebut terlebih dahulu untuk meyakinkan xavier dan kenz kalau tidak ada niat ataupun rencana jahat apapun pada mereka.
Setelah melihat artemis memasuki ruangan itu, tidak selang beberapa lama kenz pun ikut masuk yang kemudian disusul oleh aluna dan xavier.
Akhirnya setelah memasuki pintu batu tersebut, mereka pun sekarang berada di monstareum mozzarck.
" Tempat apa ini? " semua terlihat asing dimata kenz, ia sama sekali tidak mengira ada tempat seperti ini di kawasan kerajaan demon beast.
Artemis yang telah menunggu dari tadi berdiri bersandar didekat dinding batu dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat, ia menoleh kearah xavier dan kenz yang baru saja datang terutama kepada saudarinya yang tampak kebingungan.
Mendadak aluna menjadi lemas, tatapan matanya menjadi buram berkabut, tak lama kemudian iapun terjatuh pingsan.
Seketika itu juga xavier menangkap tubuh aluna yang terjatuh berikut dengan keranjang bayi yang dibawa olenya, " aluna...! " teriak artemis dari kejauhan yang segera berlari kearah saudarinya itu.
" Apa yang kau lakukan pada adikku?! " artemis langsung mendorong xavier dan mengambil aluna.
" Kau bicara apa?! "
" Aku tidak melakukan apa-apa padanya. " tegas xavier saat itu juga.
" Dia justru menolong adikmu. " sambung kenz, menjelaskan.
" Aku tidak tau apa yang terjadi pada adikmu, tapi yang pasti adikmu kehilangan banyak energi kehidupannya. " lanjut ucap xavier.
" Sebenarnya kenapa dia bisa kehilangan energi kehidupannya? "
" Aku rasa kau sendiri sudah tau itu. " lanjut ucap xavier, namun artemis hanya terdiam tidak membantah atau memberi respon apapun, ia hanya tampak mencemaskan keadaan aluna.
Sementara feeya yang kembali sadarkan diri, samar-samar mendengar percakapan mereka dari balik jubah kenz.
Kali ini feeya bangun pelan-pelan, semua masih tampak gelap seperti sebelumnya.
Tetapi ketika feeya melihat keatas, ia melihat seberkas cahaya redup memasuki celah-celah jubah baju yang dipakai kenz.
" Mungkin itu jalan keluar darisini. " pikir feeya saat itu, iapun mulai merangkak keluar dari dalam jubah kenz dengan berpegangan pada permukaan kain dari jubah tersebut dan mencoba untuk mendakinya.
Sesampai diatas feeya mengintip dari celah jubah tersebut, dan dilihatnya aluna telah tidak sadarkan diri.
" Aluna! " mata feeya yang tadinya masih sayup-sayup menjadi terbelalak kaget.
" Apa yang terjadi?! " feeya langsung melirik kearah xavier dengan tajam, " apa dia yang melukai nona aluna? " menatap curiga.
Feeya dengan segera terbang keluar dari balik jubah kenz lalu menghampiri aluna dan artemis, " nona aluna...! " teriak feeya yang ikut khawatir.
Ketika mendengar teriakan feeya artemis pun menoleh kearah feeya, " tuan artemis, apa yang terjadi pada nona aluna? " tanya feeya, cemas.
" Feeya, sudah tidak ada waktu lagi. "
" Cepat lakukan sesuatu untuk aluna...! " seru artemis seketika itu juga.
Feeya sendiri tidak tau harus berbuat apa, akan tetapi ia teringat pada bangsawan erl marline yang menjadi penjaga tempat ini sebelum aluna dan artemis.
•••
" Feeya ingat...! "
" Nyonya erl marline menyimpan banyak ramuan obat kehidupan didalam ruang obat-obatan.
Begitu mendengar ucapan feeya, tanpa banyak bicara artemis pun segera mengangkat tubuh aluna adiknya, ia dan feeya membawa aluna memasuki sebuah ruangan yang ada diujung tempat dimana berdiri dua buah tiang pilar disisi kanan dan kirinya.
Ketika mendengar nama erl marline dari feeya, xavier seolah mengingat nama itu.
" Erl marline...? " ucap kecil xavier yang dalam benaknya nama yang diucapkan oleh feeya terasa tidak asing didengarnya, namun ia masih belum mengingat dengan jelas siapa sosok erl marline tersebut.
" Ayo kita ikuti mereka. " ujar kenz menepuk bahu xavier.
" Kau duluan saja aku ingin disini dahulu. " jawab xavier yang tampak memperhatikan sekeliling tempat itu.
" Baiklah. " yang kemudian kenz langsung pergi menyusul feeya dan artemis.
Xavier yang tampak masih berpikir keras dengan tempat dimana ia berada sekarang sesuai atas perintah ratu azarya pada dirinya, " sekarang aku telah berada disini, tapi dimana sih penjaga itu? " sambil menatap ruang hampa yang berada didalam goa monstareum mozzarck yang dimana disana hampir seluruh dinding terbuat dari lapisan bebatuan metamorf dan di setiap sudut banyak ditemukan bebatuan malihan pneumatolotik yang telah mengalami pengkristalan sehingga menjadi batuan permata.
" Bagaimana aku dapat menemukanya? "
" Sudah pasti mereka berdua bukanlah penjaga tempat ini. "
" Lalu siapa mereka berdua? "
" Dimana juga penjaga tempat ini yang sesungguhnya berada? "
" Kenapa aku tidak melihat atau merasakan sosoknya dari tadi? " begitu banyak pertanyaan dalam pikiran xavier yang terus mengusik dirinya.
" Apa erl marline yang mereka maksud adalah penjaga yang sebenarnya dari tempat ini? "
" Nama itu seakan tidak asing untukku. " lanjut pikir xavier, menerawang dan mencoba mengingat-ingat sosok erl marline yang dipanggil erl marline oleh feeya.
" Mungkin aku harus masih mengandalkan mereka agar bisa menemukannya. "
" Lebih baik sekarang aku segera menyusul mereka, dan membantu menyelamatkan gadis itu. "
" Setidaknya aku bisa sampai ditempat ini juga karena mereka. "
" Tidak bisa aku pungkiri kalau mereka berjasa atas hal ini. "
" Apalagi mereka juga bangsawan dari kaum witcher, mereka berasal dari kaum yang sama denganku. " ujar xavier saat itu, berusaha mengkontrol kendali emosional di dalam dirinya.
" Hmmm... " xavier kembali berpikir sambil memegang dagunya, " bila dipikir-pikir juga... " tiba-tiba xavier teringat ketika pertama bertemu dengan aluna dan artemis, saat itu ia merasa pernah mengenal mereka berdua.
" Baiklah, sepertinya aku harus mencari tau siapa mereka lebih banyak lagi. " ucap xavier dengan senyum tipis yang mengembang, iapun mulai melangkah berjalan meninggalkan ruangan tersebut menuju ruangan obat-obatan, tempat dimana kenz, artemis, aluna dan feeya berada.
***
Sementara kenz yang sedikit pangling melihat tempat dimana ia berada, " Tempat ini sangat luar biasa. " dari pertama ia memasuki earthareum sampai tiba ditempat ini, ia tidak pernah menyangkah kalau ada tempat seperti ini dibawah tanah dalam kerajaan demon beast.
Terutama ketika kenz sampai di ruang obat-obatan tersebut, " ini lebih dari sekedar ruang obat-obatan. " kenz masih terperanah pada setiap peralatan yang ada di dalamnya, bahkan didalam kerajaan demon beast sendiri tidak memiliki peralatan yang selengkap itu.
" Apa yang kau perhatikan? " tanya xavier mendekati kenz.
" Merasa heran dengan semua ini? "
" Apa yang perlu diherankan dari semua ini? " lanjut xavier yang menelaah seisi ruangan.
" Maksudnya? " kenz melihat ke xavier, mempertanyakan ucapan xavier.
" Dari dahulu peradaban para bangsawan jauh lebih maju dibanding para manusia, baik dari segi kekuatan, keabadian, termasuk teknologi dan persenjataan. "
" Namun sayangnya keegoisan, keserakahan, ketamakan, dan rasa iri kalian para manusia untuk menyamai kami para bangsawan membuat kalian menjadi seperti ini. " jelas xavier saat itu yang seperti membuka beberapa botol obat-obatan dan mencium baunya.
Dalam hati kecil kenz waktu itu seperti mengingat diriya sendiri dan bertanya-tanya apa yang dimaksud ucapan xavier pada dirinya tadi, " sosok yang kupakai saat ini adalah seorang yang membuat perjanjian denganku. " ingat kenz dalam batinnya, mencoba mencerna ucapan xavier.
" Ketika itu 5 orang onimusha yang terdesak tanpa sengaja bertemu dengan kami para demon dari suku sammu Ashgumarodied, entah darimana mereka berasal tapi waktu itu mereka muncul dari suatu ruang dimensi dan mereka sampai di negeri demon beast hanya untuk mendapatkan kekuatan yang luar biasa lalu mereka memutuskan untuk menjadi abdi dari kami. " ingat kenz kembali akan status dari sosok onimusha yang dipakainya.
" Walau mereka tau untuk mendapatkan kekuatan dan keabadian harus ada yang dikorbankan, meskipun itu mengorbankan dirinya sendiri, mereka tidak mempedulikan semua itu. "
" Sekarang mereka telah tiada, seperti perjanjian yang dibuat, setelah mereka tiada maka roh kehidupan mereka hanya menjadi makanan bagi kami para sammu dan jasad mereka bisa kami pakai sesuka hati kami. " pikir kenz saat itu dalam lamunannya.
" Apa itu maksud ucapannya? "
" Apa benar seperti itu? "
" Manusia menjadi begitu serakah dan tamak atas apa yang mereka inginkan, membuat mereka bersekutu dengan para iblis. "
" Apa semua pantas untuk mendapatkan semua ini? " pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir dalam benak kenz seperti sedang membuka setiap arti kekosongan didalam hatinya selama ini.
" Dari semenjak itu, tidak ada alasan untuk diriku tetap berada di kerajaan demon beast ini. "
" Kalau bukan untuk mencari dirinya dan melindunginya. "
" Saiyaka..., aku telah berusaha menjaga dirinya selama ini. "
" Aku rasa sekarang adikmu sudah bisa melindungi dirinya sendiri, dan setidaknya ia sekarang telah menjadi kepercayaan raja demon beast. "
" Tidak akan ada yang berani menyakiti dirinya lagi. " ucap kenz pada saat itu mengungkap isi pikirannya di dalam hatinya sendiri, namun suara pecahan sebuah botol obat-obatan menyadarkan dirinya dari lamunannya.
__Prank!!!__
" Bagaimana mungkin tidak ada?! "
" Tidak bukan ini..., yang ini juga bukan, bukan, bukan, dimana obat itu? " Gerutu seru artemis dilanda kegelisahan karena tidak berhasil menemukan obat kehidupan yang dicarinya, karena begitu gusar ia mencari dengan ketidak sabarannya artemis banyak sekali botol obat yang terbuang sia-sia.
Xavier mendeteksi jenis obat-obatan yang terbuang dengan percuma itu, " ini semua obat-obatan berharga. " tatap xavier yang lalu menilik kearah artemis.
" Dia menjadi sedikit tidak waras. " cemooh xavier dengan suara kecil, kesal melihat tingkah artemis yang terlalu grasak-grusuk tidak beraturan.
Kenz yang melihat itu juga tampak terganggu, namun ia tidak mau terlalu ikut campur sehingga memilih menjauh dan berdiri didekat pilar yang ada didepan pintu sambil merenung kembali.
•••
" Hey! "
" Apa kau tidak bisa lebih tenang sedikit?! " seru tegur xavier, tapi artemis tidak mempedulikan tegurannya dan tetap sama bertingkah seperti itu didepan xavier.
" Feeya, bagaimana apa kau tida menemukan obat itu? " tanya artemis begitu panik dan tidak sabaran, sehingga membuat xavier hanya bisa menarik nafas panjang saja.
Namun pandangan mata xavier terusik pada sebuah keranjang bayi yang dibawa aluna tadi, dalam ingatannya tadi bayi yang ada didalam keranjang itu adalah bayi demon.
Hal itu mengusik dirinya untuk mencoba melihat bayi itu kembali, " darimana bayi ini berasal? " pikir xavier memandang bayi tersebut yang masih berada dalam keranjang dan diletakkan di atas meja satu kaki yang terbuat dari bebatuan marmer.
" Kenapa mereka memiliki bayi demon? " lanjut pikir xavier, yang tanpa sengaja kakinya tersandung seekor burung elang putih yang cukup besar sedang terbaring dibawah lantai samping meja batu.
" Hmmm, burung ini? "
" Kalau tidak salah tadi artemis juga membawanya, tapi begitu ia pergi terlebih dahulu aku tidak melihatnya lagi. "
" Rupanya ia sudah menaruhnya disini. " xavier menundukkan tubuhnya dan mencoba memeriksa burung elang putih itu.
" Sepertinya burung ini terluka sangat parah. "
" Dipunggungnya terdapat dua jenis luka, dan salah satu lukanya sepertinya sangat beracun. " ucap kecil xavier, tiba-tiba bayi putra mahkota yang ada dalam gendongan xavier pun menangis.
Seketika itu juga suara tangisan bayi putra mahkota membangunkan ratu azarya yang mana saat itu sedang terluka dan tidak sadarkan diri dalam bentuk wujud elang putih, samar-samar mata burung elang putih itupun terbuka secara perlahan dan melihat xavier yang berada didepannya sedang menggendong bayi putra mahkota.
Bayi itu terus menangis seolah dapat merasakan sakit yang dirasakan oleh burung itu, " sepertinya kau menyukai burung elang itu, dan sedih karena melihatnya terluka. " ujar xavier menatap bayi putra mahkota yang seakan ingin didekat burung elang putih itu.
Xavier melepaskan gedongannya dan menaruh bayi putra mahkota disamping burung elang putih, sehingga perlahan tangisannya mulai mereda.
" Kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan burung ini. " senyum xavier sambil memeriksa luka burung elang itu, dan dibalas oleh tawa kecil bayi putra mahkota.
xavier menatap kearah beberapa lemari obat-obatan yang menjulang tinggi hingga hampir menyentuh permukaan langit-langit atas goa, " sepertinya akan sulit menemukan obat yang dibutuhkan, terlalu banyak jenis obat disini. " xavier terpaku sesaat menatapi lemari obat-obatan itu yang mana setiap raknya tersusun rapi segala jenis botol obat.
Suara berisik artemis membuat xavier yang terusik jadi menatap kearahnya, " feeya cepat lakukan sesuatu, tidak mungkin kau tidak tau dimana letak ramuan kehidupan itu ! " seru artemis memaksa feeya untuk segera menemukan ramuan kehidupan agar dapat segera menyelamatkan aluna saudarinya itu.
Akhirnya mau tidak mau feeya harus mengeluarkan peralatan canggih dari dalam kalung yang dipakainya kembali, secara sembunyi-sembunyi feeya mengitari sebuah lemari dan mengumpat dibelakang lemari yang paling ujung agar tidak terlihat oleh siapapun saat nanti ia hendak menggunakan kalung magic amulet stone miliknya.
" Sudah jauh, tidak ada yang lihat juga. " ujar kecil feeya yang celingak-celinguk melihat kiri dan kanan lalu melihat kearah artemis yang dilihatnya masih sibuk mencari obat-obatan di lemari yang lainnya.
" Sepertinya aman tidak ada yang akan lihat. " tak lama setelah itu feeya kembali mengeluarkan buku catatan kuno itu lagi dari dalam kalungnya yang menjadi buku pengetahuan buat feeya, karena semua tertulis didalam buku itu dan tersimpan didalamnya.
Setelah itu feeya segera membuka buku tersebut dan membuka pada daftar nama obat-obatan erl marline, " ramuan obat kehidupan " ucap feeya berbisik pada buku itu dengan suara kecil agar tidak terdengar oleh yang lain.
Lalu buku tersebut melacak daftar nama-nama ramuan obat kehidupan yang dibuat erl marline, Lalu dengan cepat buku tersebut mengeluarkan daftar nama ramuan kehidupan yang dicari feeya dan tertulis disana kalau semua obat-obatan itu tidak tersimpan dalam lemari tetapi pada sebuah peti kotak dalam magic amulet milik erl marline.
Tanpa disadari oleh feeya kalau dari tadi xavier diam-diam memperhatikan dirinya dan benda antiknya itu dari kejauhan, " benda yang unik! " ujar xavier yang tiba-tiba muncul dibelakang feeya sambil tersenyum penuh intrik.
" Senyumnya mengerikan...! " seru feeya dalam hati.
" Kenapa dia tiba-tiba ada disini?! " seru tanyanya kembali dalam hati, yang mengambil langkah mundur sampai terdesak membelakangi buku pengetahuannya.