AT. DEMON SLAYER

AT. DEMON SLAYER
chapter 27 - Makam Suci Erl Marline 2



...***...


Xavier, kenz, artemis, dan feeya terus menuruni deretan kecil anak tangga yang melingkar itu seperti tidak ada habisnya, karena cukup lama mereka turun tetapi mereka belum juga menemui dasarnya.


Sedangkan semakin mereka turun kebawah, lapisan udara pun berubah semakin melembab dan semakin dingin sehingga membuat mereka hampir terkena hipotermia.


" Feeya tidak kuat lagi...! " seru feeya menggigil yang langsung terbang masuk kedalam jubah kenz.


" Kenapa ruangan ini sangat dingin? "


" Darahku seolah-olah berhenti mengalir. " ucap artemis dengan lemah dan bibir yang mulai tampak membiru.


" Sebenarnya berapa dalam lagi? " kenz menerawang menatap langit-langit anak tangga yang telah mereka lewati.


Semua tidak lagi terlihat jelas lagi , semua tampak tertutup oleh lapisan udara yang sangat dingin.


" Entahlah, aku juga tidak mengerti mengapa sihirku juga tidak bisa digunakan ditempat ini. " timpal jawab xavier.


" Tidak mungkin, aku tidak sanggup turun kebawah lagi. "


" Semakin kebawah semakin dingin. " sambung artemis yang tampak menggelengkan kepalanya, berusaha membuat dirinya tetap sadar.


" Hosh...! "


" Bila begini lama-lama kita terkena hipotermia. " lanjut artemis yang tatapan matanya mulai hilang fokus, pandanganya kedepan mulai tampak kabur.


" Ada apa dengan dirimu? " xavier melihat kearah artemis yang mulai kehilangan kesadarannya.


" Apa kau baik-baik saja? " tanya xavier.


" Aku... aku baik-baik... " belum selesai artemis mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangannya.


" Hey...! "


" Hati-hati...! " teriak xavier dan kenz bersamaan, akan tetapi seketika itu jua artemis langsung terjatuh pada sisi tepi anak tangga.


Xavier dan kenz yang melihat itu dengan segera menangkap tangan artemis, dan keadaan mereka sangatlah buruk.


Saat itu artemis telah tidak sadarkan diri dan dalam posisi yang sedang menggantung dengan kedua tangan disanggah dan dipegangi oleh xavier dan kenz.


" Hey, sadarlah...! " seru kenz.


" Artemis bangunlah...! " xavier pun berusaha menyadarkan artemis, namun tampaknya artemis tetap tak sadarkan diri.


" Bagaimana ini ? " tanya kecil kenz.


" Kita coba tarik dia keatas terlebih dahulu. " sahut xavier, yang kemudian mereka berdua mencoba mengangkat tubuh artemis secara bersama-sama.


...•••...


Belum lama setelah tubuh artemis terangkat keatas...


Xavier dan kenz menjatuhkan diri mereka duduk bersandar pada tepi dinding anak tangga.


Hosh... hosh... hosh...!


Tampak terdengar suara hembusan nafas mereka berdua yang juga mulai kelelahan, bahkan kondensasi gumpalan asap yang nafas mereka hembuskan tampak semakin tebal.


" Aneh sekali, benar-benar sangat aneh. " ujar kenz dalam lelahnya.


" Ada apa? " tanya xavier menoleh kearah kenz.


" Entah mengapa udara disekitar tempat ini semakin bertambah dingin, padahal kita tidak lanjut turun kebawah. " lanjut jawab kenz, yang kemudian ia memasuki tangannya kedalam jubah baju yang dikenakannya.


" Hmmm..., kau benar kenz. "


" Aku juga merasa ada yang aneh dengan tempat ini. " xavier menelaah


" Aku juga merasakan kalau sirkulasi udara disini berubah semakin dingin dalam sepersekian menitnya. "


" Seolah-olah ini bukan hanya udara dingin biasa, kondensasi suhu ditempat ini sudah melebihi batas ketahanan suhu tubuh manusia pada biasanya. " tilik xavier yang merasakan keanehan itu.


" Bahkan untuk tekanan suhu tubuh para demons juga? " tanya kenz.


" Tidak, tidak seperti itu. "


" Tapi ditempat ini kita telah diubah seperti layaknya manusia pada biasanya. "


" Kau mengerti maksudnya bukan? " jawab xavier berbalik menegaskan pertanyaannya.


" Tidak mungkin, maksudmu kita disini menjadi seperti manusia biasa? "


" Bagaimana bisa...? " kenz serasa tidak percaya atas pengalaman yang baru kali ini ia rasakan.


" Aku sendiri tidak begitu mengetahui kejelasan yang terjadi disini, tapi kau juga bisa merasakannya bukan? "


" Kondisi ketahanan pada tubuh kita, ditambah lagi hilangnya kekuatan yang kita miliki. "


" Lalu sekarang kondensasi suhu udara yang terasa semakin bertambah dingin, ada kemungkinan kondisi suhu ditubuh kita menjadi normal seperti manusia pada biasanya. " tegas xavier memperjelas keadaan mereka.


" Tapi aku tidak bisa terlalu memastikan atas hal itu, dan tidak tau apa ada yang membuat semua ini bisa terjadi. " lanjut prediksi xavier.


" Apa menurutmu ada yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi disini? " kenz bertanya ktitis.


" Entah apa ada yang berusaha mengendalikannya atau membuat sesuatu yang terjadi disini? "


" Tapi pastinya semua yang terjadi disini tidaklah normal seperti ada yang merancang semuanya. " xavier tampak bertanya-tanya didalam pikirannya sendiri.


Namun belum beberapa lama semua prediksi dan pertanyaan dalam pikiran xavier dipecahkan oleh seruan suara kenz.


" Gawat...! "


" Feeya...?! " kedua tangan kenz kembali segera meraba-raba keseluruh jubah bajunya, " feeya hilang...! " lanjut ujar kenz.


" Apa feeya hilang?! " seru xavier yang terkejut.


" Bagaimana mungkin?! "


" Coba dicari lagi, tadi ia bersembunyi dibalik jubahmu. " sambung ucap xavier, menatap cemas.


" Aku melihatnya masuk kedalam jubahmu tadi. " kembali tegas xavier.


" Tadi dia memang ada disini, tapi dari sewaktu artemis akan terjatuh tadi aku tidak merasakannya lagi. " ujar kenz tampak ragu dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya.


" Kau yakin? "


" Coba periksa kembali. " tukas xavier.


" Tidak ada, aku sudah memeriksanya berulang-ulang. "


" Aku tidak merasa gerakannya dari tadi, makanya aku mengechecknya. "


" Tapi aku tidak menemukanya. " ujar kenz yang mencoba mencari feeya dijubahnya kembali.


" Apa mungkin...? "


" Mungkinkah dia terjatuh saat kita mencoba menarik naik tubuh artemis tadi? " tanya kenz dalam keraguan.


Kenz yang tidak pasti saling bertatapan dengan xavier, lalu mereka bergegas melihat kebawah, akan tetapi mereka berdua tidak melihat apapun kecuali gumpalan asap gas dingin yang semakin tebal dan mulai menyelimuti ruangan tempat itu.


" Bagaimana ini? "


" Apa ia benar-benar jatuh kebawah? " tanya kecil kenz serasa tidak pasti.


Lalu kenz segara membuka sekigan, dan mencoba menggunakan jurus fukasi sutansu miliknya untuk melihat tembus pandang jarak jauh.


Namun semua itupun juga sia-sia, karena seluruh kemampuan mereka berdua, bahkan sihir yang dikuasai xavier pun juga tidak dapat digunakan sama sekali.


Didalam ruangan itu mereka semua seperti menjadi manusia biasa, tanpa kekuatan apapun lagi.


" Sial...! " keluh kecil kenz, serunya.


" Kekuatanku juga menghilang, tidak bekerja sama sekali. " ucap kenz kembali, saling bertatap pandang dengan xavier.


Kenz dengan ekspresi pandangan mata yang dingin, ia mengepal erat telapak tangannya menahan emosi dan berusaha untuk tetap tenang.


" Fiuh..., sudah kuduga... "


" Walau kita coba berapa kalipun, hasilnya tetap saja sama. "


" Kemampuan kita sama sekali tidak berkerja di tempat ini. " tukas xavier.


" Kenapa kemampuan kita sama sekali tidak berfungsi? " tanya kenz.


" Makam kaum para bangsawan dan noblesse. " celetuk kecil xavier.


" Makam kaum... bangsawan, noblesse, maksudnya? " kenz tampak bingung dengan jawaban xavier.


" Pada zaman dahulu terjadi pembantaian seluruh kaum bangsawan dan noblesse. "


" Semua tewas tak tersisa, dan itu terjadi atas kaum ras demon beast kalian. " jelas xavier.


" Semenjak itu tempat ini menjadi neraka darah yang paling menakutkan, tidak ada yang berani mendekati tempat ini termasuk kaum demon beast seperti kalian. " kembali cerita xavier menjelaskan.


" Aku tidak mengerti, bangsawan, noblesse, memang apa perbedaannya? bukankah sama saja? " tanya kenz sedikit bingung.


" Lagi pula saat itu terjadi, itu karena kaum ras demon beast seperti kami telah mencapai puncak kejayaan. "


" Dimana yang kuat adalah yang berkuasa. " ucap kenz dengan tegas, " dan itu membuktikan kalau ras kami lebih kuat dari pada kaum noblesse seperti kalian. " kembali ucap kenz.


" Kau yakin? "


" Apa kau yakin kalau kalian lebih kuat dari pada noblesse? " xavier mencoba menegaskan kata-katanya.


...***...


Kedua pandangan merekapun tampak berseteru, kenz memang tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada masa lalu dan alasan mengapa hilangnya para kaum bangsawan dan noblesse.


Namun secara turun temurun kaum ras demon beast menegaskan kalau kaum bangsawan noblesse adalah kaum terkuat, akan tetapi semua berakhir setelah ras demon beast mengalahkan mereka.


" Tentu saja aku yakin...! "


" Sepanjang sejarah demon beast, kamilah kaum terkuat. "


" Kehadiran ratu azarya sendiri menjadi bukti, kalau kami telah menaklukkan kaum bangsawan noblesse seperti kalian. "


" Bahkan kini kami juga telah melampaui kalian dan berada dipuncak kekuatan tertinggi. " ujar kenz yang merasa bangga akan kaum ras demon beast.


Xavier memberi cibiran kecil pada senyuman dibibirnya, " saat itu terjadi kita belum ada didunia underground ini, kau tidak bisa memastikan apa benar semua sejarah yang kalian catat adalah benar adanya. " cetus xavier yang sedikit sinis.


" Apa maksudmu?! " seru kenz bertanya.


Namun tiba-tiba, terdengar suara gemuruh dalam ruangan itu...


Ssstttt...!


" Dengarkan... " xavier memberi isyarat pada kenz untuk diam.


" coba kau dengarkan. " acap xavier kembali sekali lagi sembari memberi isyarat.


Mereka mencoba mendengarkan lebih jelas lagi, " ini...! " seru kecil kenz.


" Suara ini seperti suara gemuruh. " ujar kenz, lalu mereka saling melirik bersamaan.


" Ti...tidak mungkin suara ini adalah badai saljukan? " ujar kenz kembali, mereka berdua tidak bisa berhenti saling menatap satu sama lain.


" Aku rasa juga begitu, tapi suaranya menderu semakin kencang. " sahut xavier.


" Kalau ini benar badai salju yang besar, ini akan bahaya buat kita. " tegas xavier.


" Bagaimana, bagaimana bisa? "


" Diruang seperti ini? " kenz melihat sekeliling, otaknya berpikir dan bertanya-tanya, " bagaimana mungkin bisa ada badai salju dalam sebuah ruangan tertutup, kalau tidak ada yang membuatnya. " pikir kenz kala itu jua.


" Tidak ada yang tidak mungkin. "


" Kau lihat struktur bangunan tempat ini berbentuk melingkar, walau ruangan ini tertutup tapi ada angin dingin yang berhebus... "


" Entah dimana celah lubang angin itu berada, sehingga bisa membuat berpusar disuatu titik... " jawab xavier yang terhenti-henti saat mencoba menjelaskan, akan tetapi belum selesai xavier berucap.


Suara gemuruh yang mereka dengarkan 'kian bertambah kuat dan semakin terasa mendekati mereka.


" Gawat...! "


" Suaranya berasal dari bawah dan sedang menuju naik...! " sontak mereka tercengang kaget, yang tiba-tiba pijakan anak tangga tempat dimana mereka berdiri 'pun terasa bergetar.


" Aku mengerti sekarang! " seru xavier.


" Seluruh tempat ini, semua dibuat agar dapat menciptakan badai dingin ini. " teriak xavier karena suara gemuruh yang 'kian kencang.


" Ini semua formasi polar vortex. " tegas xavier pada kenz.


" Polar vortex?! " tanya kenz yang sontak kaget serta kebingungan.


Xavier melihat bayi putra mahkota yang berada dalam balutan selimut tebal dalam dekapannya, " hanya benda ini yang bisa memberi sedikit rasa hangat padanya dari tadi. " ujar xavier dalam hati sembari memperhatikan bayi itu, dan batu giok bulan biru yang masih bersinar bersama dengan putra mahkota dari dalam balutan tebal selimut yang membungkus tubuh putra mahkota.


" Tidak tau apa serpihan ini bisa membuatmu bertahan. " pikir xavier kritis, mencemaskan bayi itu.


" Seandainya saja kalau ini masih utuh. " gumamnya kembali.


...•••...


Namun xavier melihat sekelilingnya, ia kembali melihat kalau artemis telah terbaring tidak sadarkan diri, sedangkan burung elang yang yang dibawanya tadipun tampak mulai kaku karena udara dingin yang kian lama semakin menyelimuti hampir membuat mereka semua membeku.


Belum lagi ditambah hilangnya feeya yang tidak jelas dimana keberadaannya sekarang, dan kini hanya tinggal mereka berdua dengan bayi putra mahkota.


"Hufft...! hah... " berdesis sebuah keluh dalam senyuman kenz yang sangat dingin.


Kenz dengan santai bersikap untuk tetap tenang, namun dalam pikirannya tersirat sedikit rasa kalut sampai serasa ingin mentertawakan dirinya sendiri.


Didalam hati kenz ia berkata, " bagaimana mungkin aku dibuat tidak berdaya seperti ini, seluruh kekuatan demon beast yang ada didalam diriku semua menghilang begitu saja...! " rasa kesal berkecamuk didalam hati dan pikirannya secara bersamaan.


" Inikah rasanya menjadi manusia biasa? "


" Pantas saja kami dahulu begitu berupaya mengejar dan begitu mendambakan kekuatan yang tanpa batas. " gumam kecil kenz dalam pikirannya.


" Manusia memang lemah, tetapi dari kelemahan itu terdapat sebuah kekuatan yang tidak terbatas yang tidak dimiliki oleh kita. " ujar xavier mematahkan paradigma kenz seakan xavier bisa membaca isi kepala kenz.


Kenz tercengang kaget, dalam hatinya berkata, " dia bisa mendengar suara pikiranku? " kenz pun tampak kebingungan.


" Apa dia benar-benar bisa membaca pikiranku? "


" Tidak, mungkin itu hanya kebetulan saja. " ucap kenz kembali dalam hatinya, akan tetapi tersirat senyuman tipis dari bibir xavier yang dialihkan dengan pembicaraan yang lain.


" badai polar vortex ini semakin membesar dan semakin naik keatas. " ucap xavier mengalihkan pembicaraan.


" Tidak mungkin juga untuk kita kembali naik ke atas... " xavier menatap ke atas.


" Menurutmu apa kita bisa keluar dari sini? " sela kenz menatap kebawah melihat pusaran angin yang semakin naik keatas kearah mereka.


" Sepertinya kita akan berakhir disini. " spontan ucap kenz dengan wajah dinginnya yang teramat datar.


" Ya, kalau kita tersapu badai polar vortex ini. " sahut xavier yang lagi menilik sebuah tanaman rambat yang menjalar di dinding sekitar anak tangga.


Kenz menoleh kearah xavier dan melihat apa yang sedang dilakukan olehnya.


Kenz kembali berpaling dan menutup matanya seolah tidak peduli apa yang sedang dikerjakan oleh xavier, karena baginya menatapi dinding adalah hal yang sia-sia.


" Hey, kenz ! " panggil xavier.


" Ya...! " jawab kenz singkat, dan masih tidak mau melihat ke arah xavier.


" Apa kau tau rasanya disapu oleh badai salju? " canda xavier mencoba memecah keheningan.


" ...? " pikir kenz terdiam, " pertanyaan bodoh macam apa itu? " pikir kenz yang tetap diam tidak menjawab pertanyaan konyol dari xavier.


" Kenz, boleh aku bertanya? " tanya xavier kembali.


" Kenapa kau mengkhianati kepercayaan Raja Demon Beast? " ujar xavier bertanya lagi.


Kenz yang mendengar ucapan xavier lantas membuka kelopak matanya, lagi-lagi pertanyaan yang konyol dalam pikiran kenz.


" Aku tidak mengkhianati kepercayaan dari Raja Demon Beast. " jawab kenz datar.


Tetapi xavier yang melihat tanaman yang merambat pada permukaan dinding yang sangat banyak dan membelit-belit, tiba-tiba mendapatkan sebuah ide untuk keluar dari masalah yang sedang dihadapinya.


" Aku tidak percaya, kalau aku tidak bisa menghadapi badai itu. " ucap xavier berpikir tegas dalam benaknya.


Namun sebelum itu, xavier berpikir untuk mengetes kenz terlebih dahulu dengan memberinya pertanyaan yang baru saja ia lontarkan tadi.