AT. DEMON SLAYER

AT. DEMON SLAYER
Chapter 28 - Makam Suci Erl Marline 3



...¤¤¤...


Xavier kembali melihat tanaman rambat yang ada di dinding, lalu xavier mengeluarkan sebilah belati pendek yang berada di ikat pinggangnya dan memotong akar tanaman rambat itu.


" Kenz... " panggil xavier kembali, sambil mencoba menarik tanaman rambat itu dan membuka belitan tanaman tersebut.


" Hmmm...? " kenz hanya menjawab dengan bergumam tanpa melihat kearah xavier.


" Kau bilang tidak mengkhianati kepercayaan raja azzriel bukan? "


" Itu artinya kau akan membunuh putra mahkota ?! " tegas tanya xavier.


" Mungkin, tapi kemungkinan juga tidak. " jawab singkat kenz.


" Apa maksudmu? " tanya xavier kembali.


" Raja Azzriel meminta kami membunuh bayi itu, tapi di satu sisi aku tidak membunuh manusia. "


" Makanya saat kai atau kyorin palsu itu bertindak, aku hanya diam saja. " jelas kenz menjawab pertanyaan xavier.


" Lalu apa tujuanmu sekarang mengikuti kami? "


" Kau ingin mengumpulkan energimu kembali, dan disaat kami lengah kau akan menghabisi kami secara diam-diam? " cetus xavier yang terus bertanya.


" Pih...! aku bukan orang seperti itu. " sahut kenz yang lalu menoleh curiga kearah xavier, menurutnya ada yang aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan xavier.


" Kau mencurigai aku...? " celetuk kenz bertanya dengan tatapan yang dingin penuh curiga.


" Tthhee..., ayolah! kenapa kau tampak begitu serius? "


" Kau tau kalau aku hanya bergurau denganmu. " dengan tampak santai xavier lalu mendekati kenz.


" Semua demon beast siapa yang tidak mengenal demon beast jenis onimusha sammu ashgumarodied seperti kalian bertiga, kalian selalu bertindak diam-diam layaknya shinobi. " ujar xavier.


" Rahasia bukan diam-diam. " sambung kenz menyela.


" Apa bedanya? aku rasa sama saja. " sindir xavier mencela, yang lalu melanjutkan perkataannya yang lain.


" Kai yang sangat arogan dan bertemperamen membunuh dengan begitu kejam dan memb**i buta, sedangkan Kyorin yang cekatan dan sangat teliti membunuh tanpa meninggalkan bekas luka maupun bekas pertarungan , ada yang bilang kalau dia selalu menyelesaikan bekas terakhir dari pertarungan kalian. "


" Lalu terakhir adalah dirimu kenz yang sangat dingin tanpa perasaan, membunuh lawanmu tanpa berkedip walau bersimbah darah dihadapanmu, kau tidak pernah mengeluarkan ekspresi sedikitpun. "


" Ngomong-ngomong keterangan yang aku dapat benar bukan? " tanya xavier yang sedikit membuka indentitas kenz.


Senyum sinis meluncing pada garis bibir kenz dengan begitu dingin dan datar, " maksudmu aku bisa membunuh kalian kapan saja bukan? " celetuk kenz tanpa basa-basi.


" Nah, benar seperti ini...! "


" Haish, tanpa basa-basi lagi kau langsung ke topik pembicaraan. " sambung sindir xavier yang dari tadi mengetes kenz.


" Sudah aku bilang aku tidak membunuh manusia. " ucap kenz datar yang lalu memalingkan wajahnya, namun xavier justru malah tertawa.


Haahahaha...


" Bagaimana aku tau kalau kau tidak akan melenyapkan kami?! " gurau xavier lagi.


" Siapa bilang aku tidak akan melenyapkan kalian? "


" Aku hanya mengatakan tidak membunuh manusia. " sahut kenz kembali.


" Eh, melenyapkan kami? tapi tidak membunuh manusia? " sela xavier langsung, menyindir.


" Kenapa? kenapa ada demon beast yang tidak membunuh manusia? " sindir xavier lagi, yang terus mengorek jawaban dari kenz.


" Itu karena... aku sudah berjanji. " jawab kenz dengan datar, yang lalu berjalan menuruni anak tangga.


" Hei...! kau mau kemana? " panggil xavier.


" Aku ingin lihat-lihat kebawah dahulu sebentar, sekalian siapa tau feeya tidak terjatuh sampai ke dasar bawah. " ucap kenz yang lalu pergi, lagi pula pikirnya dari pada dia berada disitu terus dan mendengarkan pertanyaan-pertanyaan xavier yang membuat dirinya bingung, lebih baik ia kebawah sebentar untuk melihat pusaran badai yang semakin naik menuju mereka dan sekalian siapa tau feeya terjatuh disekitar sana.


...•••...


Xavier yang melihat kenz berjalan pergi hanya bisa bergumam kecil dibelakang kenz, " huufftt..., sudahlah setidaknya aku tau kalau dia tidak mencelakai manusia. " ujar xavier.


" Berhubung putra mahkota adalah manusia, jadi tidak mungkin dia mencelakai putra mahkota. "


" Tapi tetap saja aku harus waspada dalam segala hal. " ucap xavier pada dirinya sendiri.


Xavier kembali fokus kepada tanaman akar merambat yang ada di dinding itu kembali.


Xavier kali ini mencoba menarik akar rambat yang menjalar itu untuk mengetes kekuatan akar itu.


" Tidak tau tanaman akar rambat ini berpusat dari mana, tapi sepertinya ini cukup kuat. "


" Aku harus melepaskan belitan akar ini terlebih dahulu. " ucap xavier berpikir sebuah cara untuk melepaskan belitan akar itu.


" Kerjaanku sangat banyak rupanya. " ucap xavier kembali ketika melihat kearah artemis dan burung elang yang berada tidak jauh darinya.


Tanpa banyak pikir lagi xavier langsung bekerja, iapun membuka belitan pada akar rambat itu sampai panjang dan dibuat sangat banyak.


Lalu xavier mengikatkan akar tanaman itu pada burung elang sehingga tubuh burung elang tampak terikat di dinding bebatuan itu, " beres satu tinggal satu lagi. " lihat xavier ke arah artemis.


" Semoga saja cara ini berhasil. " harap xavier.


" Kalau prediksiku tidak salah, karena ini hanya satu ruangan yang berputar, maka seharusnya badai ini hanya akan berputar disatu titik dalam ruangan ini saja. "


" Entah kenapa aku yakin kalau di atas pasti ada sebuah lubang pembuangan angin, begitu pula di dasar bawah sebuah lubang yang akan meniupkan angin badai. "


" Makanya badai ini berputar naik keatas, namun seberapa kuat dan kencang hempasan badai ini tidak dapat aku prediksi. "


" Tapi bila didengar dari suara gemuruhnya yang begitu kencang, pasti badai ini sangat kuat. " analisis xavier dalam pikirannya.


" Aku sangat terkejut akan hal ini, aku tidak menyangka nyonya erl marline menciptakan sistem mekanisme seperti ini. "


" Entah apa yang terjadi, tapi telah ratusan tahun aku tidak bertemu dengannya. " ujar xavier didalam hatinya.


Baru Xavier mencoba mengangkat tubuh artemis sendiri untuk didekatkan ke dinding, tiba-tiba datang kenz kembali dengan berlari sangat cepat.


Hosh... hosh... hosh...


" Bahaya pusaran angin badai itu suda sampai dibawah. " kenz melihat xavier sedang mengikat tubuh artemis di dinding batu menggunakan akar rambat itu, " apa yang sedang kau lakukan? " ujar kenz bertanya.


Xavier yang mendengar ucapan kenz langsung menoleh dengan sedikit tersentak kaget, " apa kau bilang?! " xavier pun merasa cemas.


" Kalau begitu tunggu apa lagi lekas bantu aku mengikat artemis menggunakan akar tanaman ini. " ucap xavier.


Lalu kenz segera membatu xavier mengikat tubuh artemis dengan akar tumbuhan itu sampai hampir separuh tubuh terbalut oleh akar itu dan masih diikat menempel ke dinding.


" Apa cara ini akan berhasil ? " tanya kenz.


" Semoga saja. " senyum xavier.


" Ini bagianmu. " ucap xavier lagi, sambil menyerahkan akar tanaman ditangannya kepada kenz.


" Kau disebelah kiri artemis, ikat tanganmu dengan tangan artemis juga, agar kita dapat bertahan bersama-sama, sedangkan aku akan disebelah kanan artemis. "


" Lalu setelah kita mengikat erat tubuh kita, kemudian kita akan mengikat tubuh kita ke dinding dengan akar yang besar ini. "


" Entah dari tumbuhan mana akar yg besar ini tapi sepertinya sudah menyatu dengan dinding bebatuan ini jadi aku rasa ini cukup kuat untuk menahan kita agar tidak tersapu badai. " jelas xavier.


...¤¤¤...


Lalu mereka mengikat diri mereka masing-masing, namun xavier juga mengikat tubuh putra mahkota yang dalam selimut tebal, kemudian diikatkan kuat lagi ditubuhnya dalam dekapannya.


Mereka pun menarik akar rambat yang besar dan mengikat tubuh mereka ke dinding dengan akar itu.


Sementara angin badai yang semakin menderu kencang semakin terasa, dan mereka telah siap menghadapinya.


Hempasan angin yang datang cukup kencang, xavier dan kenz menyaksikan sendiri angin badai salju yang berputar-putar itu dihadapan mereka secara langsung.


Badai itu sangat kencang dan menyapu apa saja yang ada disekitar, " gawat bebatuan kerikil ini...! " seru kenz.


Kenz yang dari tadi terlempar bebatuan kecil itu hanya pasrah, begitu pula dengan xavier.


Mereka tidak bisa menghindar karena tubuhnya yang terikat membuat diri mereka tidak bisa banyak bergerak, dan hanya satu tangan mereka saja yang dapat mereka gunakan untuk menangkis timpukan dari batu-batu kerikil itu.


tekanan angin yang semakin besar membuat salah satu akar rambat yang mengikat tubuh artemis terputus, " Trash...! " tetapi kala itu artemis masih belum saja sadar dan masih dalam keadaan pingsan.


Xavier dan kenz pun menoleh ke arah artemis dengan mata yang sedikit terpejam, karena angin badai yang semakin membesar juga membuat mereka sulit untuk melihat ditambah kabut dingin tebal.


Hah... hah... hah...


Nafas xavier dan kenz mulai tersenggah-senggah, tubuh manusia mereka tidak bisa menahan dinginnya badai saju polar vortex.


Hah... hah... hah...


" Aku tidak kuat lagi. " ujar kenz.


" Aku juga. " balas xavier.


Tiba-tiba ikatan tanaman akar rambat yang besar yang mengikat tubuh xavier terputus.


Hahahaha....


Sesak tawa xavier yang samar-samar terdengar kenz terasa begitu lirih, " hosh... hosh..., sepertinya aku tidak akan bertahan. " gurau xavier.


" Tebak bila tidak mati tersapu angin badai, lama-lama kita akan mati karena hipotermia. " tukas xavier menertawakan diri sendiri.


" Lalu apa bedanya denganku?! " seru kenz berteriak keras karena suara mereka nyaris tidak terdengar, dan yang terdengar hanyalah suara gemuruh angin badai.


Belum beberapa lama kenz berucap, tiba-tiba sebuah serpihan es yang mengkristal terlempar ke arah kenz dan tepat mengenai ikatan akar rambat yang mengikat tubuhnya.


Blash...!


Aaarrrggghhh...!


Kristal es itu melukai tubuh kenz, dan memutus ikatan akar rambat yang membelit tubuh kenz.


" kenz kau baik-baik saja?!" seru tanya xavier.


Kenz yang hampir tertarik arus angin badai membuat dirinya berada dalam masalah baru, ia tampak sedang menggelantung dengan tubuh terikat.


Untungnya masih ada akar tanaman rambat besar yang masih membelit tubuhnya, sehingga menahan tubuhnya.


" Kenz kau baik-baik saja bukan?! " seru tanya xavier lagi.


" agh... sial angin badai ini sangat besar, aku sulit membuka mataku. " gumam xavier yang tidak bisa melihat jelas keadaan kenz.


Kenz yang terdiam saat itu juga sedang kesulitan untuk menjawab xavier, karena ia sedang berusaha menarik akar rambat dengan tangan yang satunya agar dapat membetulkan posisinya yang tergantung.


...•••...


Kemudian ada sesuatu yang terlempar lagi dari arah angin itu ke arah kenz, yang tak lama tiba-tiba tanaman akar rambat itu seperti bergerak perlahan menjalar ketubuh kenz dan menarik tubuh kenz perlahan-lahan keatas dan membuat kenz kembali terikat di dinding itu.


" Tumbuhan ini? " pikir kenz bertanya-tanya karena melihat akar tanaman rambat itu hidup dan menjalar sendiri membelit tubuhnya pada waktu itu.


Siapa sangka ketika kenz lagi merasa bingung, tiba-tiba ada sesuatu datang dari jauh dan langsung masuk ke dalam jubah milik kenz sehingga membuat kenz kaget.


" Ada apa ini? " tanya kenz dalam hatinya.


Begitu kenz melihatnya sedikit-sedikit dengan mata yang masih setengah tertutup seperti sedang membidik.


" Feeya?! "


" Feeya, apa ini kau? " tanya kenz.


Lalu feeya mengeluarkan sedikit kepalanya melihat ke wajah kenz.


" Ternyata ini benar kamu! " seru kenz.


" Kamu kemana saja ? tanya kenz kembali.


" Kalian yang tega membuang aku ! "


" Untung aku tidak membeku! " seru jawab feeya dengan kesal.


" Apa aku... " belum kenz selesai bicara, xavier pun memotong ucapan kenz.


" Kenz...! apa yang terjadi?! " seru xavier memanggil.


" Bagaimana denganmu ? "


" Apa kau baik-baik saja? " tanya xavier kembali.


" Ya, aku sudah baik. "


" Juga ada feeya disini. " seru kenz.


" Syukurlah kalau begitu. "


" Eh, feeya? maksudmu feeya sudah ketemu? " tanya xavier, namun secara tiba-tiba akar rambat yang mengikat tubuh xavier terputus dengan sendirinya.


" Gawat...! " seru xavier.


Lalu kenz dan feeya menoleh kearah xavier, " hey...! ada apa denganmu? " tapi kenz tidak mendengar suara xavier.


" Ada apa ini? "


" Coba biar feeya kesana lihat apa yang terjadi. " ucap feeya, yang kemudian saat itu juga keluar dari jubah kenz.


Waktu itu xavier berusaha berpegangan pada akar tanaman rambat itu, dan tangannya yang terikat dengan artemis membuat dirinya tetap tergantung.


" Eerrghh... Aku harus bisa menggapai akar itu, atau kalau tidak aku akan terbawa oleh badai salju ini. " xavier mencoba menggapai akar rambat yang ada didekatnya.


Feeya yang baru datang melihat langsung menggunakan kekuatan perinya, feeya membuat tanaman merambat itu hidup dan mengikuti kendalinya.


Perlahan beberapa akar datang menjulur, dan melilit tubuh xavier, kemudian menariknya agar terikat di dinding kembali.


Xavier yang melihat tanaman rambat itu hidup merasa aneh, iapun memaksa membuka matanya untuk melihat sekeliling, dilihatnya feeya yang sedang mengendalikan tanaman rambat itu dengan kekuatannya dan setelah selesai feeya kembali ke jubah kenz lagi.


" Aneh, feeya bisa menggunakan sihirnya ditempat ini? " xavier bertanya-tanya dalam hatinya.


" Ada yang mencurigakan sepertinya...? " xavier hanya diam menatap dari kejauhan penuh curiga dan tanya.


Sementara badai polar vortex yang terus bergulir itu terus saja menggulung dan berputar-putar, sampai 10jam badai dingin ini masih saja berputar dihadapan mereka.


Mereka semua hampir membeku, bahkan nafas mereka hanya tersisa satu per satu setiap tarikan hembusan nafas namun badai itu masih belum berlalu pergi juga.


" Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. " ucap kenz yang sudah terkena hipotermia.


" Akupun juga sama. " balas ucap xavier kecil, dan bernada lemah.


" Tapi putra mahkota... aku... aku... " belum habis xavier berucap, sayup-sayup akhirnya kelopak mata xavier pun tertutup.


Begitu pula pandangan kenz pun juga mulai kabur, akhirnya kenz pun sama seperti xavier yang jatuh pingsan tak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang masih terikat di dinding karena terkena hipotermia.