
***
Setelah memasuki pintu dimensi yang terdapat pada pohon itu, kini aluna, kenz, dan xavier telah berada di suatu tempat yang sudah tidak asing lagi bagi xavier.
Monstareum mozzarck, tempat dimana para bangsawan suci mendapatkan kekuatan sejatinya dan berubah sesuai keinginan mereka.
Tempat dimana ratu azarya memerintahkan xavier untuk membawa putra mahkota agar dapat bertemu dengan dia sang legedaris, sih penjaga monstareum mozzarck yang sebenarnya.
" Tempat apa ini? "
" Seperti gua, tetapi banyak lorong. " tanya kenz yang sudah sampai daritadi dan masih menunggu kedatangan xavier.
Tidak beberapa lama kemudian, tibalah xavier disana.
Xavier yang baru saja datang langsung memasang kerutan di dahinya, " tempat ini... ? " memandang sekelilingnya.
" Kau sudah datang? "
" Kami sudah menunggumu dari tadi, kau kemana saja? " tanya aluna menghampiri xavier, yang tidak lama datang pula artemis dan feeya dari arah yang lain.
" Kalian baru datang? " tanya artemis.
" Aku kira tidak akan datang. " lanjut ucapnya dengan ketus.
" Kenapa kak artemis kemari? " tanya aluna kembali.
" Aku bisa mengantarkan mereka. " mendadak tiba-tiba sifatnya aluna pun berubah jadi kekanak-kanakan.
" Feeya datang padaku sendiri, jadi aku khawatir ada terjadi sesuatu pada kalian sehingga begitu lama. " ujar artemis yang langsung membalikan tubuhnya kembali dan berjalan pergi.
" Ayo, kenapa kalian malah jadi hanya berdiri disana saja. " lanjut ucap artemis dengan ketus.
Mereka pun berjalan mengikuti artemis, " aluna kenapa jadi aneh? " tanya kenz yang tertinggal dibelakang.
" Mereka semua memang aneh. " sambung xavier mendahului kenz yang saat itu berjalan didepannya.
" Hey, kalian berdua cepatlah! "
" Apa kalian itu wanita? "
" Adikku saja bisa lebih cepat daripada kalian berdua. " teriak artemis yang telah berada jauh dari kenz dan xavier, menyindir dan mencemooh mereka berdua.
" Kami tidak meminta dirimu untuk menunggu. " balas ketus xavier yang tau-menau sudah ada didekat mereka, begitu pula dengan kenz
Lalu mereka melanjutkan perjalanan memasuki sebuah lorong labirin yang panjang yang dipenuhi banyak mahluk berbahaya, disana hanya ada jalan lurus kedepan yang menandakan sebuah pilihan untuk terus maju atau berbalik mundur.
" Sebenarnya kau membawa kami kemana? " tanya xavier yang baru saja menebaskan pedangnya pada seekor laba-laba besar bermata lima dengan kaki 10.
Disaat yang bersamaan juga kenz sedang melawan seekor kelelawar ungu yang cukup besar, dan dari mulut kelelawar itu mengeluarkan sebuah semburan api biru.
Kenz menarik sebuah anting yang dipakai ditelinga sebelah kirinya.
Saat anting itu terlepas, anting itu berubah menjadi sebuah pedang katana enryuukenz miliknya.
Kenz langsung menangkis semburan api biru kelelawar dengan menggunakan katana enryuukenz berkali-kali, " aku harus bergerak cepat untuk menghindari api ini agar bisa mendekati kelelawar itu dan menebas kepalanya. " ucap kenz dalam hati sambil menghindari setiap semburan api-api itu.
Ketika ia sudah hampir mendekati kelelawar tersebut, kenz pun langsung berputar dan bersalto mencari celah untuk melakukan sebuah lompatan tinggi agar dapat menjangkau kelelawar yang sedang terbang tinggi.
Kenz dengan sangat cepat melompat keatas belakang punggung kelelawar itu, kemudian ia menebaskan katana enryuukenz tepat mengenai leher kelelawar itu hanya dalam satu kali tebasan saja.
Sedangkan artemis, aluna, dan feeya dari tadi ia hanya melihat dan memperhatikan pertarungan mereka saja sedari tadi tanpa membantu sama sekali.
" Sepertinya mereka cukup kuat, benar bukan kak artemis? " ujar tanya aluna pada artemis kakaknya.
•••
Seusai pertarungan melawan beberapa ekor monster, " sesungguhnya siapa kalian?! " seru tanya xavier yang tiba-tiba mengarahkan pedangnya kepada artemis dan juga aluna, memberi ancaman kecil.
Artemis dan aluna saling menatap bersamaan, " aku penjaga earthareum. " singkat jawab artemis membuang muka.
" Kalau aku penjaga monstareum mozzarck. " jawab aluna pula memandang kilatan pedang xavier.
" Bukankah dari awal kami sudah memberi tau siapa kami padamu. " lanjut ujar aluna.
" Tapi dari tadi kalian membawa kami hanya berputar-putar saja di tempat ini. " kenz menyela ucapan aluna dan berjalan menghampiri mereka.
" Bukan hanya itu saja, kalian terus memperhatikan gerak-gerik kami. " lanjut ucap kenz.
Haa... ha...
" Apa aku harus tertawa mendengar ucapanmu? "
" Memperhatikan?! "
" Apa aku tampak kurang kerjaan? "
" Kalian kira, kalian berdua ini hebat. "
" Mengalahkan aku saja tidak bisa. " ketus artemis, meremehkan.
" Tidak perlu berpura-pura. "
" Apa kalian berpikir kami tidak tau? " sambung xavier.
" Saat kami sibuk melawan monster-monster itu, tapi kalian hanya diam saja dan mengawasi kami berdua. " dengan tegas xavier yang semakin menengadahkan ujung pedangnya kearah mereka.
" Feeya tidak ikutan, feeya terlalu kecil jadi tidak tau apa-apa. " feeya yang kaget melihat ujung mata pedang milik xavier yang tepat terarah didepannya, dengan lekas cepat-cepat memutar sayapnya dan terbang kebelakang kenz, bersembunyi.
Saat itu kenz langsung menangkap feeya yang bersembunyi dibalik pundaknya, " kenapa kau malah bersembunyi dibalik pundakku? " tangkap kenz mengeratkan genggaman telapak tangannya.
" Lepaskan, sakit tau! " teriak feeya.
" Tidak akan, lebih baik kau diam atau kumakan. " ujar kenz, menakuti feeya sehingga feeya tampak pucat pasih ketakutan, dan didalam pikiranya dikaluti oleh kata-kata dimakan.
" Aku akan dimakan! dimakan! dimakan! " pikir feeya, kalut dan frustasi.
Feeya langsung diam seribu bahasa, karena ia paling takut dimakan oleh mahluk yang lebih besar darinya seperti echi damarun adalah salah satu contohnya.
Mahluk besar itu sangat senang memakan seluruh bangsa jenis peri nymph, apalagi peri nymph yang berasal dari nymph kleine.
Walaupun tubuh peri nypmh kleine sangat kecil hanya sebesar ibu jari dan bahkan bila dimakannya tidak akan membuat perut kenyang, tetapi siapa yang menyangka kalau dalam tubuh kecil para peri nymph kleine terdapat energi kehidupan.
Oleh karena itu feeya bisa hidup sangat lama, bila energi kehidupan habis asalkan feeya dapat menyembunyikan tubuhnya dengan baik.
Feeya tidak akan pernah mati ataupun binasa, tapi melainkan ia hanya akan tertidur panjang dalam waktu yang sangat lama untuk memulihkan energi kehidupannya kembali.
Tapi energi kehidupan itulah yang membuat dirinya selalu berada dalam kesulitan, karena mahluk-mahluk yang telah tau akan energi kehidupan yang ada pada dirinya dan juga kaum nymph kleine sebangsanya, maka feeya dan kaumnya akan dijadikan sebagai buruan untuk dimakan dan menambah kekekalan hidup.
Seperti echi damarun itu, yang merupakan monster pemakan peri paling menakutkan bagi feeya.
Sekarang begitu mendengar kenz akan memakan dirinya, hal itu membuat feeya menjadi seperti berhenti bernafas.
***
" Hey, kenapa denganmu?! " tanya kenz saat melihat ekspresi wajah feeya yang menjadi tampak pucat dan tubuh yang lunglai seakan lemas tidak bertenaga, lalu pingsan seketika itu juga.
Ketika itu aluna dan artemis langsung melihat kearah kenz dan feeya, disaat itu aluna berniat untuk menghampiri kenz untuk melihat keadaan feeya.
Namun belum sempat aluna melangkah, mata lancip dari ujung senjata pedang xavier itu telah menoreh rambut panjang aluna yang tergantung dan hampir mengenai kulit lehernya.
" Diamlah, kau ingin kemana?! " ujar xavier menodongkan pedang frantz blitz yang dari tadi digenggam olehnya untuk mengintrogasi mereka.
" Lebih baik kalian segera menjelaskan semuanya sekarang. "
" Waktu sangat berharga, jadi aku tidak berniat bermain dengan kalian berdua. " lanjut tegas xavier.
" Aku tidak sedang bermain. " singkat aluna.
" Apa lagi aku, siapa yang ingin bermain-main dengan kalian. " sambung ucap artemis yang masih membuang muka, matanya sedikit melirik ke arah xavier yang sedang menengadahkan ujung pedangnya pada aluna adiknya.
Namun xavier melihatnya melirik kearah ujung mata pedang yang hanya berjarak satu setengah inchi dari leher aluna, xavier pun memandanginya sejenak sambil berpikir.
Delik sorot mata yang seolah menegang dengan alis yang menukik tajam, diam-diam artemis mencuri pandang dengan gelisah karena melihat senjata tajam yang dipegang oleh xavier sedang diarahkan ke adiknya, dan xavier menyadari hal itu dan melirik ke artemis.
" Berhenti memandangiku! " seru artemis menyatakan ketidaksukaanya pada xavier.
" Kenapa? " tanya singkat xavier menyunggingkan senyuman dingin, membalas.
" Aku hanya tidak suka kau memandangiku ! " seru ketus artemis, kesal.
" Ini juga! "
" Apa-apaan ini?! " seru artemis kehilangan kesabarannya, menepis pedang xavier yang ditujukan pada adiknya
" Singkirkan senjata itu dari adikku! "
" Kalau berani hadapi aku! " tangan artemis menarik mundur adiknya kebelakang tubuhnya, dan iapun memasang badan untuk adiknya.
Xavier hanya membalas dengan senyuman tipis, " sepertinya kau sangat mengkhawatirkan adikmu. " xavier menurunkan pedangnya, dengan mata yang tertuju pada aluna yang berada dibelakang tubuh artemis.
" Bukan urusanmu! " seru singkat artemis.
" Aneh, aneh sekali. "
" Kenapa kau begitu khawatir? " ujar tanya xavier.
" Diamlah! "
" Selama ada diriku kau tidak akan bisa melukai adikku ! " artemis yang sedikit tersudut dengan kata-kata yang dilontarkan xavier dapat merasakan kalau xavier sedang mengincar adiknya.
" Naif. "
" Kalian berdua bukan orang biasa bukan? "
" Lalu kenapa harus takut terluka? " ujar xavier.
" Lagi pula... "
" Aku tidak mungkin bisa melukai dirinya bukan? " ucap xavier, tersenyum menyeringai dan tau-tau telah berada dibelakang aluna dan menyandera aluna, namun anehnya aluna sama sekali tidak memberi perlawanan sama sekali pada dirinya.
Xavier sendiri juga merasa bingung, karena aluna bukanlah seorang biasa melainkan seorang bangsawan dengan kekuatan yang cukup kuat dan dahsyat.
Dia melihat itu semua saat pertarungan di earthareum tadi, tapi kenapa tiba-tiba xavier merasakan energi kekuatan aluna kian lama semakin menurun dratis, " apa yang terjadi? " pikirnya.
" Tapi kenapa ia tidak menghindarnya? "
" Jangan-jangan... " xavier yang terus berkutat di dalam pikiranya lantas terhenti seketika itu juga lantaran ia melihat artemis yang hendak menyerangnya.
Waktu itu artemis langsung mengepal erat telapak tanganny dan ingin menyerang xavier, tetapi sayangnya semua itu terhenti oleh ucapan xavier.
" Eit..., lebih baik kau tidak macam-macam kalau tidak mau dia terluka. " ancam xavier pada artemis.
" Cih..., memalukan! "
" Sejak kapan semua berubah begitu cepat. "
" Seorang bangsawan menyandera bangsawan lainnya, dan bermain belakang! " sebuah hinaan terlontar begitu saja dari kata-kata artemis.
" Aku tidak peduli dengan ucapanmu. "
" Itu bukan urusanku. "
" Lebih baik sekarang kau tunjukkan jalan yang sebenarnya! " seru xavier memerintahkan artemis.
" Sial...! "
" Kenapa harus disaat seperti ini? " ucap artemis dalam hati.
" Kalau saja aluna tidak sedang kehilangan kekuatan dan kesadaranya, maka tidak akan jadi seperti ini. " ujar artemis dalam hatinya, memandang dengan sorot mata yang tajam.
" Ayo, cepat tunjukkan jalannya! " dengan sedikit mendorong tubuh aluna, namun aluna hanya bersikap biasa saja tanpa respon sama sekali tanpa perlawanan ataupun pertanyaan.
" Kenz! "
" ayo, kita segera berangkat. " ujar xavier.
" Apa yang terjadi?! "
" kenapa kau menyandera wanita itu? " tanya kecil kenz yang lalu memasukan peri feeya kedalam jubah baju yang dipakainya, akan tetapi dari mimik wajah xavier terlihat jelas seharusnya dirinya tidak perlu banyak bertanya, karena itu kenz tidak melanjutkan pertanyaannya.
•••
Mereka pun berjalan menelusuri setiap lorong labirin, dan setiap kali bertemu monster, kali ini artemis ikut bertarung melawan monster-monster itu.
Namun terlihat sesekali artemis memalingkan wajahnya kearah belakang untuk melihat keadaan adiknya aluna yang sedang disandera oleh xavier, ia sangat mengkhawatirkan saudari kembarnya itu.
" Hey! cepat jalan. "
" Kenapa terus melihat kearah belakang? "
" Tenanglah adikmu tidak apa-apa, akupun tidak akan melukai dirinya. " ujar xavier.
" Lagi pula kalau kau memang mengkhawatirkan dirinya, seharusnya kau segera membawa kami agar sampai ketujuan. " senyum tipis merekah disudut bibir xavier.
" Daripada kau berpikir kalau saudarimu ini akan diapa-apakan oleh diriku. "
" Lebih baik kau khawatirkan keselamatannya karena energinya yang terus menurun. " singgung xavier, menandakan kalau ia tau kondisi aluna.
" Apa?! "
" Jadi dia sudah mengetahui kondisi adikku. " ucap kecil artemis dalam hati namun hanya bisa terdiam terpaku menatap adiknya yang terlihat lebih banyak diam.
" Lucu sekali ! "
" Kau terus tampak mengkhawatirkan adikmu..., tetapi kau daritadi hanya membawa kami berputar-putar lagi. "
" Kenapa?! " seru tanya xavier, sambil menyindir artemis dengan ciri khasnya.
" Apa maksudmu? "
" Aku tidak sedang berputar-putar. " sahut artemis tampak gelisah dibuat xavier, " dan ini adalah jalan sebenarnya. " lanjut ucap artemis.
" Lagi pula sebentar lagi kita juga akan segera sampai. " ujar artemis, padahal ia sendiri sudah bingung tidak tau harus sampai kapan membuat mereka hanya berputar-putar saja di labirin monstareum mozzarck.
" Terserah, asal jangan kau salahkan aku jika terjadi sesuatu pada saudarimu. " lirik xavier mengarahkan ke aluna.
" Kau lebih tau sendiri keadaannya. "
" Kalau terlambat, entah apa yang akan terjadi padanya bukan tanggung jawabku. " sindir xavier kembali.
" Kau! " artemis menahan geram atas ucapan xavier, tapi disatu sisi ia juga menyadarinya kalau yang diutarakan oleh xavier adalah benar apa adanya.
Namun artemis sendiri tidak bisa menunjukkan jalan dan membawa mereka sebelum mendapatkan izin darinya, " apa yang harus aku lakukan? " pikir artemis saat itu.
Tiba-tiba peri kecil feeya mulai tersadarkan dari pingsannya, begitu feeya membuka mata ia melihat dirinya berada dalam tempat aneh.
" tempat apa ini? "
" Lembut, tapi juga ada yang keras. " pikir feeya menerawang.
Tuk... tuk... tuk...
Feeya mencoba mengetuk pada bagian yang keras tersebut, tapi ia masih belum menyadari dirinya berada dimana.
Wow... wow...
Feeya yang berada didalam baju jubah kenz terombang-ambing, " apa ini? " tangan-tangan kecil itu meraih kain yang lembut dan berpegangan erat.
Giginya yang gemeritik berpikir sesaat kalau dirinya sedang berada didalam perut pria demon itu yang bilang akan memakan dirinya tadi, " tiiidddaaakkk...! " teriak kecilnya dari balik baju jubah kenz.
Samar-samar kenz seperti mendengar suara teriakan yang aneh dan entah darimana asalnya, kenz pun terdiam sejenak menelaah asal suara yang baru saja didengarnya barusan.
Fiuuhhh...
" Untung sudah berhenti. " ucap kecil feeya lalu terjatuh pada kain lembut itu, " tapi kepalaku pusing sekali. " feeya yang kesal uring-uringan dan tidak berhenti bergerak, sehingga membuat kenz menyadari asal suara yang didengarnya tadi.
" Sudah sadar rupanya, sih kecil pembuat masalah ini. " ujar kenz.
" Ada apa? " tegur xavier.
" Tidak, bukan apa-apa. " kenz dan yang lainnya akhirnya melanjutkan perjalanan mereka kembali, akan tetapi feeya yang berada didalam baju jubahnya kembali terombang-ambing lagi.
" Feeya menyerah...! " feeya merundukan wajahnya yang mabuk karena terombang-ambing, didalam tatapan matanya semua tampak hitam dan berputar-putar, lalu feeya terkapar dan kembali pingsan.