AT. DEMON SLAYER

AT. DEMON SLAYER
Chapter 26 - Makam Suci Erl Marline 1



...***...


Setelah menghancurkan mekanisme patung batu besar, xavier, kenz, artemis, dan freeya segera melanjutkan perjalanan mereka ke makam erl marline yang berada dibangunan suci monstareum mozzarck, sedangkan aluna sendiri terjebak didalam ruang obat-obatan yang berada di monstareum mozzarck hanya seorang diri bersama bayi perempuan demon dalam keadaan tak sadarkan diri.


Selama perjalanan menuju ke makam suci erl marline, mereka melewati pertarungan yang sama lagi dengan melawan mekanisme patung batu yang serupa di setiap gerbang portal yang baru saja mereka masuki.


Namun pertarungan itu 'kian lama 'kian semakin sulit, karena tingkatan level dari mekanisme patung batu terus bertambah kuat.


...•••...


Sebelum itu,


Seusai xavier dan kenz menghancurkan mekanisme patung batu...


" Apa-apaan ini?! " seru artemis, " bisa-bisanya kalian..., ka-kalian benar-benar telah menghancurkan tempat ini?! " serunya kembali bercampur penuh amarah yang terkejut melihat area sekitar tempat tersebut yang telah porak-poranda oleh xavier dan kenz.


" Eh... " kenz terpaku sejenak begitu pula dengan xavier ketika melihat artemis berada disana.


Namun seketika itu jua xavier kembali merebahkan tubuhnya dan merenggangkan otot-ototnya dan seluruh syaraf tubuhnya, sedangkan kenz justru tidak bergeming menatap seluruh ruang tempat itu yang ternyata baru disadarinya kalau semuanya memang telah tampak hancur.


" Apa yang kalian lakukan?! " seru tanya artemis kembali.


" Berani-beraninya kalian mengacau disini...! "


" Bahkan setelah membuat kekacauan begitu besar, kalian hanya berdiam dan bersantai begitu saja...! " geram artemis menatap xavier yang malah merebahkan tubuhnya tidak menanggapi pertanyaannya, dan malah membalas dengan senyum yang menukik sinis bagai sedang mencibir dirinya, sedang kenz hanya menatap dingin lalu memalingkan wajahnya seolah-olah tidak ada kejadian apapun.


" Bisa-bisanya kalian... " geram artemis yang tidak tertahan, iapun langsung menghampiri xavier dan kenz hendak membuat perhitungan.


Artemis pun mengeluarkan spirit shadow yakni sebuah kekuatan bayangan miliknya yang mana dengan kekuatan spirit shadow, maka ia dapat mengendalikan semua orang hanya melalui bayangannya saja.


" Eh, apa-apaan ini?! " ujar seru kecil xavier yang mendadak bangun refleks dari posisi rebahannya tadi, kebingungan.


Dengan perlahan kepala xavier menoleh ke arah kenz, kemudian tanganya bergerak sendiri memanggil pedang frantz blitz yang saat itu masih tertancap pada jantung mekanisme patung batu.


Pedang itu bergerak dan merespon panggilan majikannya, maka dengan segera terbang kembali ke tangan tuannya xavier.


Blash... sling...


Xavier dengan sigap tangannya segera menangkap pedang itu kembali, namun ia sadari kalau ada sesuatu hal yang aneh sedang terjadi padanya.


Tiba-tiba saja dalam keadaan sadar xavier langsung mengarahkan pedangnya menyerang kenz dengan sangat cepat, saat itu ia sadari kalau ada yang sedang mengendalikan dirinya.


kenz yang sedang berbalik badan saat itu dapat merasakan ada yang sedang menuju padanya dan berusaha menyerang dirinya dari belakang, maka dengan sigap kenz menghindari serangan tersebut dengan sedikit bergeser ke posisi samping iapun langsung memukul lekuk lengan xavier yang kala itu mengarahkan pedang padanya.


" Apa-apaan ini?! " tukas kenz, namun tangan xavier saat itu malah semakin menggenggam erat pedangnya agar tidak terlepas dan tubuhnya segera berputar kembali menyerang kenz.


" Ada apa denganmu?! " seru tanya kenz, sambil menghindari serangan yang terus diberikan oleh xavier.


Xavier yang sadar hal itu ingin memberi tahukan pada kenz kalau dirinya sedang dibawah kendali seseorang, namun sayangnya bibirnya tidak dapat berucap sepatah katapun dan bagai hilang akal ia semakin menggila menyerang kenz.


...•••...


Disaat pertarungan itu berlangsung, sewaktu xavier melakukan lompata memutar, tanpa sengaja ia melihat artemis yang tidak jauh dari jarak mereka sedang mengendalikan dirinya.


" Cukup hentikan! " seru kenz menangkis serangan dan lalu menahan, memegang erat tangan xavier serta menguncinya.


" Apa yang terjadi denganmu? "


" Apa kau sudah kehilangan akalmu?! " tegas kenz.


Namun xavier masih sama tidak bisa menjawab pertanyaan kenz, dan malah berusaha melepaskan kuncian tangan kenz.


" Hentikanlah! " seru kecil kenz, yang semakin mengeratkan kuncian tangannya agar tidak terlepas oleh xavier dan membuat mereka berdua saling menatap tajam satu sama lainnya.


Ketika itu xavier memberi isyarat dengan matanya, lirikan matanya ditujukan kebawah dan kearah belakang batu besar yang sedang menutupi artemis.


Melihat lirikkan dan sorotan mata xavier yang seperti itu, membuat kenz menerima isyarat itu dengan membaca gerakan matanya.


Sewaktu melihat kebawah, ia melihat bayangan xavier yang seperti terikat benang halus berbentuk bayangan pula, dan bayangan benang halus itu mengarah pada balik batu besar yang ada disana.


Seketika itu juga kenz tau kalau xavier sedang berada dalam kendali orang lain.


Kenz melihat posisi mereka yang berada didekat mekanisme patung batu yang telah hancur, tidak berapa jauh tepat dibelakangnya tertancap pedang katana enryuukenz miliknya.


Lalu kenz melepaskan kuncian tangan xavier dan dengan segera melompat memutar kearah belakangnya, tangannya dengan sigap langsung menarik kuat pedang katana enryuukenz yang saat itu masih tertancap pada jantung mekanisme patung batu.


Ketika itu kenz berlari menyamping memegang erat katana miliknya sambil menghindari serangan xavier kembali, dengan cepat kenz segera memutar ke arah belakang tubuh xavier dan memotong benang yang mengikat bayangan xavier hanya dengan sekali tebas saja.


Crashh...


Artemis yang saat itu sedang mengendalikan tubuh xavier dari balik batu besar menyadari kalau tali bayangan yang terikat pada jari-jemarinya telah putus dari tubuh xavier, iapun tampak kesal karena permainan yang sedang menyenangkan itu telah berakhir.


Tiba-tiba artemis mendengar suara derap pelan langkah kaki dari belakang yang sedang menuju padanya sambil diiringi suara tepukkan tangan yang selaras, " wah.. wah... wah...! " ujar xavier memberi sedikit ekspektasi pada artemis.


" Permainan yang menarik. "


" Benarkan kenz? " ujar xavier berpura-pura menanyakannya pada kenz.


Artemis yang melihat xavier dan kenz telah berada dihadapannya, hanya diam menatap penuh emosi.


" Membosankan. " balas satu kata kenz tanpa ekspresi.


Gggrrrrr...


Artemis tidak bergeming ataupun menimpalkan ucapan mereka, tangannya mengepal erat menahan amarah.


Artemis lalu dengan sengaja menubrukan tubuhnya pada bahu xavier, dan kemudian berjalan melalui mereka.


" Pecundang. " cibir kecil xavier yang terdengar ditelinga artemis sehingga membuat langkahnya langsung terhenti.


" Sama sekali tidak berkelas. "


" Bagaimana bisa seorang bangsawan para noblesse berlaku sembunyi-sembunyi seperti itu? " kembali cibir kecil xavier memancing amarah artemis.


Artemis yang mudah sekali terpancing amarahnya tanpa sadar telah melepas energy yang cukup besar sehingga membuat tanah disekitar mereka bergetar kuat, dan membuat seluruh reruntuhan dinding goa kembali berjatuhan.


Ggggrrrr... Brugghh... !


Suara bebatuan besar terjatuh sehingga membuat guncangan kuat dan menutupi pintu masuk goa.


" Hey...! "


" Apa yang kalian lakukan? "


" Kalian ingin menghancurkan goa ini? " teriak feeya yang mengintip dari balik payung karena merasakan guncangan yang hebat.


Begitu Artemis menyadari akibat energi yang dikeluarkan olehnya telah menutup jalan pintu masuk goa tempat dimana mereka berada saat itu, " celaka pintu masuk! " artemis segera berlari ke arah pintu masuk goa yang hampir tertutup oleh reruntuhan.


Akan tetapi tiba-tiba xavier menarik lengan artemis dan menghalanginya, " apa kau sudah gila?! " seru xavier membentak dengan tegas.


" Apa yang hendak kau lakukan?! "


" Apa kau ingin terkubur bersama reruntuhan itu?! " seru xavier kembali, namun sebuah kepalan tinju memukul wajah xavier dengan keras.


Brugh...!


" Diam kau! " artemis yang dipenuhi amarah kembali berlari ke pintu masuk yang telah tertutup reruntuhan batuan.


Pikiran artemis serasa buntu, ia berusaha menyingkirkan batu-batuan besar itu dan hampir tertimpa oleh reruntuhan bebatuan yang berjatuhan.


Braagghhh...!


" Kau! " ucap kecil artemis yang lantas terdiam karena tidak menyangka kalau xavier rela terluka untuknya.


" Awas ! " xavier dengan sigap segera menghardik artemis ketika melihat sebuah batu besar sedang terjatuh tepat diatas artemis.


...***...


Begitu pula dengan kenz yang segera melemparkan bola energi dakuboru tepat mengenai batu besar itu, sehingga membuat batu besar itu hancur menjadi puing-puing serpihan batu kerikil.


" Kalian tidak apa-apa? " tanya kenz menghampiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu xavier dan artemis berdiri.


" Aku rasa goa ini memang akan hancur. "


" Kita harus segera meninggalkan tempat ini. " lanjut ucap kenz yang melihat puing-puing reruntuhan terus berjatuhan.


" Kalian saja yang pergi. "


" Aku harus kembali menyelamatkan aluna. " ujar artemis yang tampak khawatir.


" Selamatkan siapa?! "


" sebelum kau selamatkan saudarimu, yang ada malah kau yang akan terkubur ditempat ini. " sambung seru xavier menimpali kata-kata artemis.


" Kau! " geram artemis mengepal tinjunya menahan amarah.


" Tenangkan dirimu. " ucap kenz menepuk bahu artemis.


" Jangan gegabah. "


" Yang diucapkan xavier tidak salah. " lanjut ucap kenz.


" Dengarkan aku sekali ini saja. " sambung xavier menegaskan.


" Erl marline membuat setiap struktur bangunan dalam goa ini dengan pola berbeda dan setiap pondasi ruang tidak menyatu dengan ruang lainnya. "


" Semua terlihat menjadi satu dengan bantuan kekuatan sihirnya, jadi seharusnya hanya tempat ini saja yang hancur. " tegas jelas xavier.


" Bagaimana kau bisa tau dan seyakin itu? " sela kenz.


" Kalian percaya saja padaku. " jawab xavier, yang tidak dapat menjelaskan mendetil kepada kenz dan artemis.


" Tetap saja aluna dalam bahaya. "


" Disana ia hanya seorang diri, dan juga ada bayi demon itu... " ucap artemis yang terhenti karena tidak tau harus melakukan apa.


" Tenanglah...kalau kalian memang keturunan erl marline, kalian pasti tidak akan selemah itu. "


" Maksudku, kelelahan melakukan perjalanan waktu tidak mungkin membuat aluna tiada bukan. " ujar xavier yang tanpa menerka lagi langsung mengucapkan semua itu sehingga membuat tanya di hati artemis.


" Siapa kau sebenar...? " belum artemis menyelesaikan kalimat tanyanya, lagi-lagi goa itu kembali berguncang dan serpihan reruntuhan kembali berjatuhan bahkan semakin banyak.


" Cepat kita pergi dari sini, tempat ini tidak akan bertahan lebih lama lagi...! " sambung seru kenz.


" Kau benar. " ujar xavier menilik kondisi tempat tersebut.


" Ikutlah dengan kami. "


" Kami akan ke makam erl marline. "


" Lagi pula disana akan ada obat untuk menyembuhkan sakit aluna. " lanjut ucap xavier kepada artemis, mencoba meyakinkan agar artemis tidak berkeras kepala lagi.


" Baiklah. " jawab artemis.


Lalu xavier segera bergegas menggendong bayi putra mahkota dan kenz membantu membawa burung elang tersebut, kemudian mereka bersama-sama segera keluar dari tempat itu dan segera pergi menuju makam suci erl marline.


...•••...


Makam suci Erl Marline...


Tanpa terasa mereka telah memasuki lapisan goa terdalam dan paling bawah yang ada di monstareum mozzarck, tempat dimana erl marline beristirahat setelah menutup matanya.


Saat itu dihadapan mereka terdapat sebuah pintu yang sangat besar, tinggi, dan kokoh, pintu itu terbuat dari lapisan perunggu besi yang sangat dingin.


" Bagaimana cara membuka pintu ini? " ujar xavier menilik bentuk pintu perunggu itu.


" Pintu perunggu besi... " pikir artemis, " Pintu ini hanya bisa dibuka oleh para kaum bangsawan noblesse yang terberkati. " lanjut ujar artemis.


" Lihat aksara yang tertulis di pintu perunggu ini. "


" Asal dapat membacanya maka pintu ini akan terbuka. " ucap artemis kembali menunjukkan ukiran aksara huruf-huruf yang terdapat pada pintu perunggu besi itu.


" Huruf-huruf ini hanya bisa dibaca oleh kaum bangsawan noblesse terberkati, sedang kita hanyalah bangsawan noblesse biasa. " jelas artemis menegaskan, seolah-olah tidak mungkin bagi mereka untuk masuk kedalam.


" Walaupun seandainya kita bisa membaca tulisan aksara itu, tapi tak akan berguna tanpa ada benda bercahaya itu. " lanjut jelas artemis.


Xavier lalu mencoba melihat tulisan huruf-huruf itu yang sama sekali tidak dimengerti oleh dirinya, persis seperti apa yang dikatakan oleh artemis.


" Apa tidak ada cara yang lain? " tanya xavier.


" Feeya? " tatap xavier bertanya, namun feeya hanya menggelengkan kepalanya dan lalu merunduk.


" Bahkan feeya juga tidak tau. "


Xavier mencoba meraba-raba pintu perunggu tersebut, ia mencoba untuk memahami tulisan aksara tersebut, begitu pula dari gambar-gambar yang terukir dipintu perunggu.


Sewaktu melihat ukiran gambar-gambar hieroglif, xavier memandang dengan sangat kritis dan tajam.


Walau ia tetap tidak mengerti, tetapi ada satu gambar yang membuat dirinya teringat pada suatu benda yang diberikan ratu azarya.


" Benda bercahaya... ? "


" Batu giok bulan biru. " cetus kecil xavier yang masih bertanya-tanya dan tanpa sengaja terdengar oleh artemis.


" Kau tau benda itu? " potong tanya artemis.


" Benda bercahaya itu? " tanya artemis lagi sambil menatap ke xavier.


Xavier kemudian mengeluarkan benda itu dari balik jubahnya, batu giok bulan biru itu lantas memancarkan cahaya terang kebiru-biruan.


" Bagaimana kau bisa memiliki batu ini? " tanya artemis.


Belum selesai artemis bertanya, pintu perunggu itu seperti merespon pancaran cahaya yang dipendarkan oleh batu giok bulan biru.


Perlahan pintu perunggu itupun terbuka dengan sendirinya, udara dingin terlepas keluar dari ruang yang dingin pada balik pintu perunggu besi itu.


Disana terdapat sebuah deretan anak tangga yang melingkar dan terselimuti oleh lapisan kristal es yang sangat dingin, anak tangga itu menuju ke dasar bawah tanah.


" Hati-hati...! " ujar xavier.


" Kita tidak tau apa yang ada dibawah sana. "


" Ditambah lagi anak tangga ini sangatlah licin karena terbuat dari lapisan kristal es. " ucap xavier kembali yang lalu menuruni anak tangga tersebut.


Mereka semua kemudian masuk dan mengikuti xavier dari belakang, tak lama setelah mereka memasuki tempat itu, pintu perunggu besi itupun kembali tertutup.


...***...