
***
Feeya keheranan melihat xavier yang malah tersenyum sumringah seakan ada kebahagiaan yang terpendam saat mendengar nama erl marline.
Mata feeya berkedip-kedip melihat raut wajah xavier, " kenapa kau jadi senyum-senyum sendiri ? " tanya feeya, bingung.
" Apa? "
" Ada yang salah denganku memangnya sampai kau menatapku seperti itu? " lihat xavier, tersadar sewaktu ditanya feeya yang sedang menatapnya.
" Sudahlah lupakan saja. "
" Sekarang kau jawab dimana erl marline berada? " tanya xavier kembali.
" Erl marline? "
" Kenapa kau malah jadi ingin tau tentangnya? " tanya feeya.
" Kenapa kau banyak tanya sekali? "
" Cukup katakan saja dimana dia sekarang, karena aku harus bertemu dengannya. " sahut xavier.
" Dia... dia... " feeya tidak berani mengatakan mengenai erl marline yang sudah dianggap sebagai majikan baginya, semua rahasia yang ia ketahui akan ditutupi olehnya.
Tiba-tiba sebilah pedang frantz blitz tertancap pada batu tepat dimana feeya sedang duduk, " gleekk...! " feeya terkaget melihat pedang tajam memantulkan sekelebat cahaya silau itu telah tertancap didepannya.
Feeya membayangkan pedang itu tertancap dan mengenai dirinya, karena jaraknya dengan pedang itu hanya berbeda seujung jari dari dirinya.
Mata feeya yang membelalak membuatnya tidak dapat bicara apa-apa lagi, sampai-sampai wajahnya kinipun berubah menjadi pucat fasih.
" Aku tidak ingin bertele-tele lagi, lebih baik kau jawab semua pertanyaanku atau pedang ini yang akan berbicara denganmu. " ucap tegas xavier tanpa basa-basi iapun menyudutkan feeya.
" Tapi kau tenang saja, aku tidak akan membuatmu mati tidak berguna. "
" Akan kuiris dan kusayat-sayat dagingmu dan aku masukan kedalam tungku pelebur jiwa dan kau akan diramu menjadi obat. " lanjut ucap xavier memojokan feeya, feeya yang mendengarnya semakin ketakutan sampai gemeritik giginya dapat terdengar.
" Eh, atau bagaimana kalau aku makan dan aku telan langsung saja hidup-hidup? "
" tinggal kau pilih saja ingin menurut dan menjawab semua pertanyaanku atau merasakan itu semua! " xavier kembali mengancam feeya, senyuman yang menakutkan menusuk tajam sehingga membuat feeya terjatuh ketika mengambil langkah mundur.
" Mau lari kemana?! " seru xavier yang semakin tampak menakutkan.
" Tidak kemana-mana, hehe... tidak kemana-mana. " ujar feeya yang tampak bodoh menutupi rasa ketakutannya akan kata-kata hendak dimakan.
" Bagaimana? "
" Dimana erl marline berada?! " bentak xavier, mengagetkan feeya.
" Sudah tiada... ttttiidak ada lagi. "
" Erl marline sudah lama tiada... " jawab feeya gugup karena takut.
" Bohong...! "
" Bagaimana mungkin dia tiada?! " seru xavier kembali.
" Benar tidak ada. "
" 500 tahun yang lalu, beliau baru saja meninggalkan tempat ini. "
" Ia tewas melawan iblis echi damarun untuk melindungi tempat ini dan anak-anaknya. " ucap feeya menceritakan apa yang terjadi, mengenai kematian erl marline ditangan echi damarun.
" Maksudmu echi damarun mahluk besar yang mengejar kita waktu itu? " tanya xavier.
" Tidak. "
" Itu hanya pengawalnya. " ujar feeya.
" Pengawal?! " xavier semakin bertanya-tanya tentang sosok echi damarun.
" Echi damarun yang asli seperti sosok seorang anak laki-laki, namun ia bisa berubah menjadi bertubuh tinggi tegap, kekar berotot, dan ia selalu memakai topi berbulu gagak hitam. "
" Dia adalah lawan yang tangguh bagi erl marline, bahkan walaupun erl marline telah mengorbankan dirinya... "
" Erl marline hanya mampu menyegel kekuatannya dan membuat sosok echi damarun tertidur panjang. " jelas feeya kepada xavier.
•••
Dalam pikiran xavier, bila erl marline telah tiada lalu bagaimana dengan tujuan dirinya yang datang ke tempat ini.
Xavier lalu mengembalikan buku milik feeya, feeya menatap kegirangan tetapi juga masih dipenuhi rasa takut dan tanya.
" Ini...? " rasa tanya dihati feeya menatap xavier yang tiba-tiba secara frontal mengembalikan bukunya.
" Kenapa ada yang aneh? " sanggah xavier.
" Jangan melihat aku sejahat itu, lagi pula buku itu juga tidak akan bisa aku gunakan walaupun dapatku buka. " ucap xavier, mengalihkan topik pembicaraan.
" Feeya, apa kau bisa mengantarkan aku ke suatu tempat? " lanjut ucap xavier bertanya pada feeya.
" Kemana? " tanya feeya menatap balik xavier.
" Ke tempat dimana erl marline dimakamkan. " jawab xavier.
" Kau yakin?! " seru feeya mempertanyakan jawaban xavier, namun xavier hanya diam tidak menjawab ucapan feeya dan malah menatap ke langit-langit sekeliling tempat itu.
" Keluarlah...! " ujar xavier yang sesungguhnya dari awal telah menyadari keberadaan kenz yang mengikuti mereka selama itu.
Kenz pun keluar dari balik sebuah patung batu besar dan tinggi, yang berbentuk kepala burung elang dan separuh tubuhnya berbentuk tubuh manusia berekor devil dengan posisi berdiri memegang sebuah spear batu.
" Jadi kau sudah tau kalau aku ada disini? " ujar kenz dari kejauhan sambil berjalan mendekati xavier.
" Eh..., kenapa kau...? "
" ada... di...sini...? " tanya feeya yang meredam saat melihat kenz melaluinya dan menuju ke xavier.
" Sudah sejak awal aku tau, dan kau pasti sudah mendengar semuanya. " balas xavier.
" Jadi kau sudah tau?! " seru feeya kecil mempertanyakan tentang kenz yang ternyata xavier telah mengetahuinya, tapi tidak digubris oleh kenz maupun xavier.
" Ya, mau bagaimana lagi. "
" Suara kalian begitu keras sehingga membuat aku mendengar semuanya. " ucap kenz pada xavier.
Hal itu membuat feeya kesal sendiri karena merasa tidak dianggap oleh kenz maupun xavier, " uggghhh... menyebalkan! " seru kecil feeya bertolak pinggang.
" Kalian pikir aku ini patung batu disini apa?! "
" Aku dari tadi bicara tapi tidak didengarkan ! " teriak feeya mencari perhatian kenz dan xavier.
" Kami dengar. " ucap kenz dan xavier, singkat dan secara bersamaan.
" Memang kau ingin bicara apa? " tanya kenz.
" Dasar tikus terbang! " seru kecil kenz yang lalu mengacuhkannya lagi dengan buang muka.
" Apa tikus terbang?! " seru feeya, kesal ketika kenz memanggilnya dengan sebutan tikus terbang.
" Aku ini feeya, bukan tikus terbang! "
" Aku ini peri nymph! " serunya berteriak dengan kesal, namun mengukir cibiran kenz pada garis ujung bibirnya dan kenz tetap tidak mempedulikan feeya dengan sikap dinginnya seolah-olah feeya tidak ada.
" Jangan mengacuhkan aku! "
" Aku ini ada dan aku ini hidup bukan batu...! " teriak feeya dengan lantangnya.
" Kami tau... " ujar xavier.
" Ya, kami tau kau itu patung batu hidup. " sambung ucap kenz, mencibir feeya kembali.
" Kau...! " mendadak feeya menutup mulutnya, dengan mata terbelalak ia menatap kearah belakang kenz dan xavier.
" Kenapa denganmu? " tanya xavier melihat keanehan digerak-gerik feeya.
Lalu xavier menoleh kebelakangnya dan xavier pun cukup kaget dengan apa yang dilihat olehnya, " bagaimana mungkin?! " seru kecil xavier yang menatap tajam dengan tangan mengepal erat gagang pedang frantz blitz miliknya.
" Ada apa...? " kenz melihat xavier yang berucap seperti itupun segera menoleh sambil bertanya, dan mendadak menjadi bungkam ketika mengetahui apa yang dilihat oleh xavier dan feeya.
***
Tanpa mereka sadari, mereka telah membuat sebuah patung batu penjaga area tempat dimana kenz tadi bersembunyi dibaliknya tiba-tiba saja menjadi hidup dan bergerak.
Patung batu besar dan tinggi yang berkepala burung elang bertubuh manusia berekor devil itu, bergetar dan bergerak perlahan.
Tangannya yang memegang sebuah tongkat spear dari batu mulai terangkat, dan tubuhnya bergerak menghadapi kearah dimana xavier, kenz dan feeya berada.
" Pa... patung batunya bergerak! " seru feeya, tiba-tiba mata dari patung itu menyala terang dan kakinya terangkat tidak lagi menyatu dengan permukaan tanah yang dipijaknya.
" Bagaimana ini, bagaimana ini? " feeya ketakutan langsung masuk kedalam jubah kenz.
" Eh, apa-apaan kau ini?! " seru kecil kenz saat itu.
" Feeya katakan apa yang terjadi?! " seru tanya xavier.
" Patung apa itu?! " sambung tanya xavier.
" Apa maksudmu? "
" Kenapa aku? " tanya kenz merasa tertuduh.
" Ya, kalau bukan kamu siapa lagi. "
" Kau yang tadi mengatakan patung batu hidup. " sahut feeya dengan tegas mejawab ucapan kenz.
" Sudahlah... " ujar xavier.
" Sepertinya kita harus melawan batu besar ini. " lanjut ucap xavier yang lalu mencabut pedangnya yang tertancap ditanah dan bersiap mengayunkan pedangnya kembali.
" Siapa takut. "
" Lagi pula kekuatanku sudah kembali setengahnya. "
" Jadi hanya patung batu saja tidak masalah untukku. " sambung ucap kenz sambil tersenyum dingin yang lalu meregangkan sedikit telapak tangannya kemudian melepaskan kembali anting yang dipakainya yang berbentuk seperti pedang katana ukuran kecil, namun ketika benda itu terlepas dari telinganya maka benda itu berubah menjadi besar.
Anting itupun berubah menjadi sebuah pedang katana enryuukenz, yang merupakan darksoul weapon miliknya berwarna indigo-gelap yang dipenuhi aura kematian yang mana pada gagang pedang katana itu terdapat sebuah gantungan lonceng hitam berukir naga emas.
" Senjata yang bagus! kau tahan si besar ini sebentar." sedikit puji xavier, agar membuat suasana tidak menjadi tegang, yang lalu mengambil langkah mundur kebelakang dengan cepat.
Xavier lantas berpindah tempat lebih jauh dan menaruh burung elang yang dibawanya dan juga putra mahkota yang digendong olehnya dibalik sebuah batuan besar yang letaknya cukup jauh dari patung batu hidup itu, untuk memastikan keamananya tidak lupa xavier memasangkan sebuah perisai pelindung sihir untuk melindungi putra mahkota dan burung elang tersebut.
Tidak lama setelah itu xavier segera kembali untuk bertarung, dengan cepat ia berlari dari jauh menebaskan pedangnya ke patung batu besar itu dan bergabung dengan kenz yang saat itu juga sedang bertarung dengan patung batu besar itu.
Cling... sling... cling... crash...
Dentingan suara pedang yang bergesekan dengan batu terus terdengar berdesing dengan hebatnya...
" Patung batu ini tidak mudah dihancurkan. " ujar xavier.
" hati-hati...! " lanjut seru xavier yang tiba-tiba menghalau serangan api dari patung batu tersebut yang mengarah ke kenz dengan pedang frantz blitz miliknya.
Patung batu itu menyemburkan api tanpa henti, " api ini tidak berhenti, dan malah semakin membesar. " xavier terus mencoba menahan kobaran api yang keluar paruh patung itu, akan tetapi tangan dari patung batu itu mendadak bergerak dan mengarahkan tongkat spear keatas dan mengeluarkan cahaya silau yang menusuk mata sehingga membuat xavier lengah.
" Cahaya apa ini?! " ucap xavier saat itu dengan mata terpejam sambil memegang pedang frantz blitz ditangan dalam posisi bertahan dari serangan api itu.
" Awas! " teriak kenz menerjang tubuh xavier agar terhindar dari serangan pisau kecil terbang dari logam yang berbentuk seperti bulu sayap burung dan keluar dari tangan patung batu yang tidak memegang tongkat spear.
" Terima kasih. " singkat ucap xavier yang telah diselamatkan oleh kenz.
" Cahaya ini mengganggu penglihatan, dan gawatnya pisau kecil yang berterbangan ini sangat mengganggu. "
" Patung batu apa ini? " jelas kenz.
" Kau benar, kita tidak bisa menganggap remeh patung ini. "
" Belum lagi dengan semburan apinya. " sambung xavier menitik rencana.
" Ada strategi? " tanya kenz.
" Entahlah, kita harus mencari kelemahan patung batu ini terlebih dahulu. " sahut xavier, masih berpikir keras cara menghadapi patung batu besar itu.
•••
Feeya mengintip keluar dari balik jubah kenz, " ini adalah patung batu terakhir peninggalan erl marline. " ujar feeya.
" Erl marline sering melakukan perjalanan ruang waktu dimensi, dan dibuat dengan sistem mekanisme paling mukhtahir tanpa sihir. " lanjut jelas feeya.
" Maksudmu? " lirik xavier bertanya.
" Awas...! " seru feeya melihat pisau kecil terbang mengarah kepada kenz.
Mendengar itu kenz refleks dengan cepat ia menangkis pisau kecil terbang itu dengan pedang katana yang dipegangnya sehingga pisau itu tejatuh, " tikus terbang, terima kasih. " ucap kecil kenz akan tetapi beberapa pisau kecil yang lainnya tiba-tiba datang menyerang kenz dari arah belakang.
Cling... cling...
Xavier dengan sergap menangkis pisau itu, " matamu sudah membaik? " tanya kenz, mereka pun saling membelakangi dan berjaga-jaga.
" Sudah tidak masalah. " jawab xavier sambil tetap mawas diri.
" Feeya apa yang kau tentang benda besar itu lagi? " lanjut tanya xavier.
" Aku tidak tau banyak. " ucap feeya sambil berpikir.
" Aku ingat, erl marline pernah memberi tau kepadaku kalau patung ini dibuat untuk melindungi tanah para bangsawan yang baru ! " seru feeya menjelaskan pada mereka berdua.
Mereka berdua pun sambil bergerak juga sambil mendengarkan penjelasan feeya, " lalu? " ucap xavier yang mengubah pedang sihirnya kembali menjadi tongkat sihir wand ash, sedang kenz dari tadi menghalau serangan pisau-pisau kecil yang beterbangan kearah mereka tanpa ada habisnya.
" Kenz! " seru xavier memanggil kenz untuk segera mendekat denganya, karena pada saat itu xavier telah membuat lingkaran dan merapalkan mantera sihir untuk membuat sebuah perisai sihir sama sewaktu ia berada di hutan kabut ketika melindungi diri mereka dari asap kematian kai.
Kenz yang mengetahui hal itu langsung mendekat ke sisi xavier, dengan cepat kenz berlari karena dinding perisai itu hampir menutup menyentuh permukaan tanah.
Kenz berlari sambil menjatuhkan beberapa pisau kecil yang terbang menghalanginya, saat itu ia melompat lalu ia mendorong sedikit tubuhnya berguling agar dapat masuk kedalam perisai sihir yang hampir menutup.
Begitu kenz berhasil masuk kedalam dinding transparan perisai itu pun menutup pada permukaan tanah, " kau baik-baik saja? " ujar xavier menanyakan keadaan kenz.
Kenz saat itu segera bangun duduk, dan menarik nafas dalam-dalam beberapa detik.
" Pendaratan yang bagus. " xavier menepuk bahu kenz.
" Sebagus lingkaran perisai ini. " balas kenz yang segera bangkit berdiri.
" Kali ini akan bertahan berapa lama lagi? " ujar kenz bergurau dengan ekspresi senyum yang datar.
" Cukup lama sampai kita mendengarkan feeya membertahu kita cara untuk mengalahkan batu besar itu. " balas gurau xavier ke kenz.
Lalu kenz mengeluarkan feeya dari balik dalam jubahnya dengan cara menjinjingnya menggunakan kedua jarinya memegang sayap perinya, " hei...tikus terbang, sekarang kau bisa melanjutkannya. " ucap kenz.
" Lanjutkan penjelasanmu yang tadi feeya. " begitu pula dengan xavier yang langsung menanyakan maksud ucapan feeya tadi.
" Feeya tidak tau apa-apa lagi. "
" Nyonya erl marline hanya pernah mengatakan kalau patung batu itu memiliki pusat jantung yang dapat membuatnya hidup. " jelas feeya.
" Jantung? " ujar kenz dipenuhi tanda tanya.
" Benar, jantung... " kembali tegas feeya membenarkan ucapannya, namun terpotong oleh ucapan xavier, " pusat jantung, bukan jantung. " sambung xavier menelaah.
" Aku rasa yang dimaksud pusat jantung bukanlah jantung, melainkan mekanisme yang menggerakan patung batu ini. "jelas xavier mencoba menelaah lebih lanjut, sambil memandang ke arah patung batu yang masih mengeluarkan pisau kecil kesegala arah.
•••
Mendengar ucapan xavier barusan membuat kenz dan feeya melihat kearah xavier, namun kata-kata xavier juga membuat kenz teringat pada suatu hal.
" Sistem mekanisme... " xavier pun menatap kenz pada saat itu juga, " apa kau tau sesuatu ? " tanya xavier.
" Saiyaka mempelajari sistem mekanisme dan ia bilang ini sama seperti sihir, namun bedanya semua menggunakan program sebagai otak. " ucap kecil kenz.
" Saiyaka? "
" Siapa dia? nama itu tidak asing didengar. "
" Kalau tidak salah nama itu yang kau dan kai sebut-sebut sewaktu di hutan kabut, benar bukan? " tanya xavier, kritik.
" Ya, kau benar. "
" Saiyaka adalah seorang manusia yang terjebak didunia demon untuk mencari adiknya yang hilang karena memasuki negeri demon beast ini. " jelas kenz saat itu.
" Namun karena kepiawaian saiyaka akan mekanisme, hal itu membuat raja demon beast tidak membunuh dirinya dan malah menerima dirinya di kerajaan demon beast. " jelas kenz kembali.
" Saiyaka pun agar dapat tinggal mencari adiknya, ia menerima permintaan raja azzriel untuk membantu membuat banyak senjata dan transformasi setiap perubahan para demon agar lebih kuat lagi. "
" Namun tanpa sepengetahuan saiyaka semua transformasi itu bukan hanya digunakan untuk para demon beast saja, tetapi kepada para manusia yang berhasil ditangkap oleh kerajaan demon beast selama ini. "
" Begitu saiyaka mengetahui hal tersebut, ia sangat menyesali semua yang terjadi dan lalu ia melakukan test pada dirinya sendiri atas transformasi yang ia ciptakan. "
" Hal itu mengubah dirinya menjadi setengah demon beast, dan lalu pemberontakan itu terjadi... " lanjut jelas kenz yang terputus karena disela oleh feeya.
" Gadis itu datang dari masa yang berbeda ! " seru feeya, mengundang tatapan mata kenz dan xavier.
" Apa maksudmu? " tanya xavier.
" Kau mengenal saiyaka? " begitu juga kenz mengajukan pertanyaan secara bersamaan dengan xavier.
" Tidak... "
" Tapi, aku melihat dari matamu. " ujar feeya sambil terbang mendekat ke kenz, yang lalu menjelaskan kejadian sewaktu berada di ruang bawah tanah earthareum.
Saat itu feeya melihat semua dari mata kenz dengan menggunakan kemampuan safi nymph eyes miliknya untuk melakukan retrokognision melihat masa lalu kenz, dimana kenz mengenal gadis bernama saiyaka sampai kedekatan hubungannya dengan saiyaka.
" Waktu itu aku melihat gadis itu keluar dari portal dimensi yang rusak. " ujar jelas feeya.
" Portal dimensi? " tanya xavier.
" Ya sebuah portal dimensi yang dibuat erl marline, namun portal tersebut rusak karena ulah manusia pada zamannya. "
" Kejadian itu membuat beberapa manusia memasuki dunia demon ini, namun hal itu kemudian diketahui erl marline. "
" Semenjak itu portal itu dikunci oleh energi sihir erl marline dan disembunyikan olehnya agar tidak diketahui oleh para demon beast ataupun para iblis. " tegas jelas feeya.