Assassin Girl

Assassin Girl
6. Becoming Uncontrollable



Dor ..


Dor ..


Dor


Suara tembakan yang begitu nyaring hebat di dalam ruangan yang remang, darah segar mengalir di lantai tanah yang terasa dingin, cipratan darah mengenali sebagian dari wajah cantik nya.


Peluru pertama di sasarkan pada bagian tubuh yaitu dada kanan, yang kedua di sasarkan di bagian tengah dada, dan yang terakhir peluru yang hampir saja meleset jika saja salah sasaran peluru itu tertuju pada bagian kepala yang langsung mengenai saraf otak . Tak sembarang, peluru itu di lapisi oleh sebuah racun yang mematikan membuat objek yang terkena akan mati dalam sekali serang .


Nafas nya memburu, acungan pistol masih tertahan di udara kedua bola mata nya menatap lurus ke arah darah yang mengalir dari organ tubuh yang menjadi objek tempat sasaran peluru itu melesat .


"Itu bagus!" suara bariton milik seorang laki-laki di belakang nya membuat nya tertoleh ke belakang .


dress hitam nya sudah kotor berlumur akan darah mungkin ini adalah awal dari segala nya .


"turunkan pistol itu Nona, pekerjaan mu sudah selesai"..


Sontak saja ia menurunkan pistol itu dan tanpa sengaja jatuh di atas tanah yang berlumur akan darah .


"Monica, itu sungguh prestasi yang luar biasa!" siapa lagi suara yang memiliki ciri khas itu jika bukan Alex sang majikan yang sedari tadi terus mengamati gerak-gerik Monica sedari awal saat akan membunuh target .


Monica menoleh ke arah mayat yang ada di belakangnya, jeritan akan meminta pertolongan itu membuat telinga nya semakin panas dan ingin segera di sudahi, wanita itu kalut akan segala rasa emosi nya .


"Alex, apakah Aku akan di penjara?"tanya Monica menatap khawatir kepada Alex . Lelaki itu menggeleng kan kepala nya dengan menatap takjub ke arah Monica .


"..Anak buah ku akan membersihkan jejak mu di sini"ucap Alex dengan raut wajah yang begitu santai .


"ayolah!bersenang-senang lah, lama-lama kau akan terbiasa mendengar jeritan ketakutan, meminta pertolongan tetapi jeritan itu suatu saat nanti jika kau sudah terbiasa akan menjadi alunan melodi musik yang sangat indah terdengar di telinga mu dan kamu akan terbiasa untuk membunuh musuh dengan tawa yang selalu menggema di ruangan eksekusi" jelas Alex membuat Monica tertunduk lalu wanita itu kembali mendongak dan hanya bisa menganguk .


Alex hanya tertawa kecil saat melihat tingkah Monica yang masih belum terbiasa untuk mengotori tangan nya . Lelaki itu berjalan maju ke arah Monica lalu memotong jarak di antara nya, Alex meraih tangan mulus milik Monica lelaki itu mengusap dengan lembut tangan wanita cantik di hadapanya .


"Kau sudah terlanjur kotor Nona, jadi tidak usah ragu-ragu untuk mengotori tangan mu lagi"bisik Alex dengan terus mengusap telapak tangan Monica yang sedikit terkena cipratan darah dari musuh nya .


"sialan!"umpat Monica lalu wanita itu menarik telapak tangan nya dan menatap tajam ke arah Alex, lelaki itu hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Monica .


...----------------...


Monica melajukan motor besarnya, wanita itu sudah berganti pakaian dan sudah membuang dress hitam yang penuh darah itu . Wanita itu berniat akan pulang ke rumah, sepanjang perjalanan Monica merasakan sensasi yang sangat berbeda mengapa sedari tadi semenjak dia membunuh musuhnya dengan mudah itu malah menjadi sensasi yang menyenangkan bagi nya seperti sedang bermain wahana yang begitu seru .


mendengarkan suara teriakan, jeritan dan penderita, lalu dengan mudah dia akan menarik pelatuk nya sembari mendengarkan suara pemohonon atas musuh nya . Benar kata Alex, semua ini akan terasa begitu menyenangkan bagi nya .


....


clek


Ruangan kosong yang hanya terlihat di depan mata, ruang tamu yang megah mewah dengan di hiasi interior rumah yang mewah dan lampu-lampu yang terbuat dari emas .


"baik sayang"


.."apakah semua itu tidak cukup untuk mu bulan ini baby?"


Selangkah sebelum menarik gagang pintu, Monica mendengar percakapan dari dalam itu adalah suara Damon yang sedang berbicara dengan seseorang dengan nada yang begitu lembut, Monica hanya bisa menarik nafas lalu ia membuka gagang pintu dan benar saja, Damon sedang memegang ponsel nya dan di dekatkan di dekat telinga nya . Monica hanya berjalan acuh tak memperdulikan soal ini biarkan saja, karena sedari awal pernikahan ini hanya di landasi dengan hutang taruhan nya .


Monica berjalan ke arah kamar mandi dengan raut wajah datar, setelah beberapa menit mandi wanita itu kembali dan mengambil baju hitam dan celana hitam yang sangat ketat, ia memakai nya di kamar mandi dan keluar sembari mengambil jaket kulit hitam nya lalu wanita itu mengikat rambut panjangnya ke atas, memoleskan sedikit make up lalu melangkah pergi ke arah pintu .


"kau mau kemana?sudah sangat malam"ucapan Damon membuat Monica terhenti dan menoleh .


"balapan"hanya jawaban singkat itu yang bisa Monica ucapakan wanita itu kembali melangkah dan meninggalkan rumah mewah itu dengan melaju ke tempat balap malam ini .


......................


"Yo Louta!"


Monica hanya bisa menatap tajam ke arah lelaki yang berdiri di hadapanya dengan cengir lima jari nya menyambut kedatangan Monica .


"sudah beberapa hari kau tidak datang?"


"Aku melakukan pernikahan dengan lelaki yang sangat merepotkan Diego"jawab Monica wanita itu berniat untuk turun dari motor nya dan berjalan ke arah arena balap melihat kondisi di sana .


"Nona Louta, rupa nya kamu datang malam ini"


.."Boleh kah saya dengan hormat untuk mengajak anda untuk bertaruh menggunakan mobil sport milik ku?"


"Aku tidak bawa mobil Lotus!"jawab Monica menatap lelaki yang berpenampilan seperti layaknya seorang pengusaha muda yang sukses .


Lotus, hanya bisa tertawa dengan kecil menatap kearah Monica, wanita di hadapanya ini tidak pernah berubah selalu saja ingin menggunakan barang nya sendiri di saat sedang melakukan taruhan.


"tidak masalah, anda bisa menggunakan mobil sport ku yang satu nya" ..


"taruhan kita kali ini akan di bayar dengan mobil, jika saya kalah akan memberikan anda mobik sport terbaik milik saya, dan jika anda kalah anda akan melayani saya selama satu bulan"tantang Lotus dengan menatap licik ke arah Monica .


Monica hanya menatap datar ke arah Lotus lelaki itu selalu saja bermain seperti ini, Monica sebenarnya tertarik akan ajakan itu tetapi ia juga harus bisa memperhitungkan risiko dua langkah kedepan .


"bermain lah Honey, bukan kan itu hobi mu" suara bariton yang serak dan basah itu membuat perhatian ketiga orang yang sedang berbicara itu tertoleh kearah samping dan menatap wajah datar milik Damon lelaki itu menggunakan pakaian kemeja hitam yang kancing nya sedikit terbuka di bagian dada, dan celana hitam panjang tak lupa juga kemeja nya yang di masukan .


cring


Damon melempar kunci mobil nya kepada Monica untung saja wanita itu dengan sigap menatap nya, Damon berjalan maju dan menarik pinggang Monica lalu mengapa datar kearah Lotus yang seperti nya memasang smrik kecil di wajah nya .


"kamu adalah tipe saya, dari segi mana pun kamu akan selalu menang Honey"bisik Damon di dekat telinga Monica .


mendengar ucapan itu, tanpa sengaja Monica mengulas senyum licik yang tipis lalu menatap lurus kearah Lotus mungkin permainan kali ini akan lebih seru dari sebelumnya.