
Tetesan embun menetes di goresan kulit nya yang terluka, ruang sepi yang kumuh dan hanya di tinggal seorang diri di dalam ruangan yang remang itu . Ruangan lembab yang tidak terasa begitu nyaman .
clek
suara decitan pintu terdengar, setitik cahaya memenuhi sebagian ruangan yang cukup besar itu, derap langkah kaki terus mendekat ke arah nya, ia hanya bisa tertunduk dengan diam menahan segala rasa sakit yang entah kapan semua ini akan berakhir .
Sosok lelaki yang selalu berdiri dengan tegak sama dengan sosok yang pertama kali ia temui saat upacara pernikahan itu, lelaki itu melempar kan tubuh seseorang ke tepi dinding yang sangat terasa lembab dan dingin akibat hujan yang deras .
tubuh nya melemah, nafas nya begitu tercekat mendongak menatap sosok yang sangat ia jaga selama ini lelaki yang berwajah datar nan begitu dingin .
"bagaimana Ayah, apakah Anda sudah bisa melihat seseorang yang berada di sebelah Anda yang telah melemah bagai mayat busuk" ..
Kedua sorot mata nya melirik kearah samping, tubuh yang sudah tidak lagi selalu berdiri dengan tegak, sorot pandangan yang sudah tidak lagii menatap dengan hangat ke arah semua orang, dan sikap kedewasaan yang seperti nya sudah memudar sekian lama waktu berjalan .
Penyiksaan itu belum pernah berakhir, sudah belasan tahun lama nya pertumpahan darah teruss mengalir di lantai yang teramat sangat dingin .
Tangan nya mencoba meraih ke arah lelaki yang kini hanya bisa tertunduk, kedua lengan nya di ikat di atas tembok .
Langkah kaki itu terdengar nyaring di ruangan yang begitu terasa lenggang, mendekat ke arah lelaki yang hanya bisa tertunduk dengan lemah .
"Mungkin, saya belum bisa untuk mengacungkan pistol ke arah mu .. Kamu akan menjadi pertunjukan terakhir untuk saya dan seseorang yang sangat kamu cintai dan kamu jaga selama ini"
"tapi, yang akan berkorban nyawa untuk mu kali ini adalah, Ayah kita sendiri..."
"Hahaha, adil bukan? Kau kehilangan seseorang yang paling kamu jadikan panutan dan nanti di akhir kamu juga akan pergi atau orang yang kamu cintai yang akan pergi meninggalkan kamu sendiri di ruangan yang sangat kumuh ini sampai kamu matii dan menyusul nya di pintu Neraka"
Pistol itu teracung ke atas, mengarah ke arah lelaki yang sudah berusia tua lelaki itu hanya bisa terdiam menatap dalam ke arah Putra nya, dendam yang selama ini telah membutakan kedua nya .
Dor
Peluru pertama tepat pada sasaran, membuat lawan nya gelapakan tak karuan menahan sakit yang menjalar pada lengan nya yang terkena peluru pertama .
ruangan itu terasa begitu mencekam, lelaki yang sedari tadi tertunduk itu mendongak menatap penuh harap kepada lelaki yang telah menyiksanya selama ini .
"H-hentikan .. Ayah tidak pernah bersalah atas semua itu" lirih nya penuh harap .
Ucapan itu tidak ia gubris, amarah nya semakin meluap kala mengingat semua momen di mana pertumpahan darah yang sangat membuat nya tersiksa selama ini, kehilangan dan kehilangan membuat nya buta akan dendam yang terpendam .
ia mencekram kuat pistol itu, mengarah lurus ke arah jantung lawan nya, mungkin ini yang di namakan Nereka. Mereka juga harus merasakan kesedihan atas kehilangan. Setitik sorot mata keraguan terpancar di sela-sela ruangan yang remang itu, lintas kenangan bersama sosok lelaki tua di hadapanya terlintas begitu saja .
Lelaki yang ia anggap adalah lelaki yang baik, ayah yang sangat menjaga kebahagiaan anak-anak nya . Berkali-kali ia menggeleng kan kepala nya mencoba menyakinkan kembali keputusan nya .
Dor
"AYAH!!!!" nafas nya tersenggal-senggal, menatap mayat yang sudah tak berdaya di samping nya, ingin mencoba berdiri tetap percuma karena kondisi nya pun tidak memungkinkan .
"Dendam, adalah makanan yang paling saya sukai dan darah adalah minuman yang sangat saya impikan"ucapan yang terdengar dingin, lelaki itu membalik badan nya dan berjalan keluar .
Kematian ayah nya akan ia palsukan kepada seluruh publik, biarlah tak perlu ada yang tau tentang semua ini .
"Bereskan mayat itu dengan cepat"titah nya pada para Bodyguard nya yang setia menjaga pintu depan ruangan .
......................
Di ruang keluarga, Monica terduduk di sofa panjang yang menghadap ke arah Tv yang besar, di genggaman nya sudah terdapat sebuah album foto yang ukuran nya tidak terlalu besar . perlahan-lahan tangan nya membuka lembar pertama Album foto itu.
Album itu berisikan foto-foto pernikahan milik Damon, yang seperti nya bersama wanita yang selalu foto nya di pajang di setiap sudut rumah .
Seulas senyum terbit di sudut bibir nya, ternyata Damon bisa tersenyum lebar di dekat wanita yang ia cintai dan ia jaga selama ini .
"Kira-kira Dia kemana ya kok sampai seperti ini" celetuk Monica .
Wanita itu membuka lembar berikut nya, foto di dalam album masih terlihat sama menampilkan kebahagiaan kedua insan yang sedang teramat begitu bahagia bahkan senyum lebar milik Damon yang selama ini tidak pernah Monica lihat justru di dalam album itu malah membuktikan bahwa Damon adalah lelaki yang hangat dan ceria kala itu.
jemari nya kembali membuka halaman berikutnya, tetapi halaman ketiga ini membuat kedua bola mata terbuka lebar dan menatap lekat ke arah foto yang terpajang dengan jelas .
"Mamah?.." Wanita muda yang terpajang jelas di foto itu membuat Monica sangat mengenali nya, tetapi di sebelah wanita itu bukan ayah nya yang menemani nya berfoto tetapi justru Ayah dari Damon yang nampak terpajang dengan jelas bahkan pose mereka pun begitu dekat seperti bukan seorang teman biasa .
Monica terdiam, keadaan saat itu lenggang hening dan hanya menyisakan kesunyian yang melanda ruangan besar itu . Berkali-kali Monica mencoba menatap kembali foto itu, tidak percaya apa yang tidak ia ketahui selama ini? ..
Monica memutuskan untuk mengambil foto itu dan menyimpan kembali Album itu, siapa tauu nanti foto itu akan berguna dan bisa menjawab seluruh pertanyaan nya selama ini .
Wanita itu berdiri dan meninggal kan ruangan besar itu, menuju ke rumah besar nya mungkin semua ini harus ia tanyakan pada kedua orang tua nya, bukan kah Perusahan kedua nya tidak sama sekali mengenal satu sama lain, lantas mengapa foto itu ada? ...
......
"Di mana Monica?"tanya Damon setiba nya di rumah . Salah satu Maid yang ada di rumah itu memberitahu kan bahwa Monica sedang berada di rumah kedua orang tua nya .
ekspresi datar dari wajah Damon hanya membuat keheningan di sana, lelaki itu memutuskan untuk kembali ke kamar dan akan berisitirahat malam ini biarkan saja Monica pulang, lagi pula wanita menginginkan untuk kedua menjaga jarak satu sama lain .
.......
Damon kini selesai dengan urusan membersihkan badan nya, lelaki itu berjalan menuju meja rias milik Monica lelaki itu melihat ponsel Monica yang tertinggal di atas meja rias nya .
Damon membuka layar ponsel istri nya, dan menatap foto yang ada di wallpaper depan membuat nya tertawa kecill bukan tawa senang tetapi melainkan tawa merendahakan .
"Terus lah menunggu nya sampai Kamu sendiri yang akan terjatuh dalam kekecewaan yang teramat dalam "