Assassin Girl

Assassin Girl
1. Defeat



Bunyi motor nampak terdengar begitu bising di telinga, tak hanya satu motor yang melintas dengan sangat kencang tetapi juga ada beberapa motor besar yang melintas jalanan kota yang tampak sedikit basah .


awan tampak mendung malam itu tetapi tak membuat para pengendara motor berhenti dan pulang ke rumah masing-masing .


"I will win her little girl!" bisik nya di balik helm full face hitam nya .


semakin di naikan gas nya untuk mencapai garis finish yang sudah di siapkan, sorak meriah sudah terdengar dari kejauhan bendera-bendera sudah berkibar dengan stay di atas udara menanti juara nya yang akan memenangkan taruhan malam ini .


WUSH


angin kencang menerpa para penonton saat motor besar hitam itu melintas di hadapan mereka, beberapa detik lagi ia akan sampai pada garis finish.


"WINN!" ucap lantang seorang wanita yang sedari tadi menunggu di garis finish terdepan .


smrik kecil itu terukir di sudut bibir nya, membuka helm full face nya tak lupa juga ia membetulkan rambut nya yang nampak berantakan .


bibir merah, bola mata berwarna hitam pekat dan alis yang tebal membuat siapapun yang melihat nya akan jatuh dalam jerat pesonanya .


"how's the little girl?"


"sayang sekali malam ini kamu harus kalah" suara berat yang khas membuat Wanita di hadapan nya yang terduduk dengan wajah kesall di atas motor besar nya itu hanya bisa memasang wajah jengah .


"ck.."decih nya .


"tagihan atas taruhan mu!"lelaki itu melampar cek yang senilai dengan membeli mobil Lamborghini mungkin membuat wanita yang sontak menangkap cek itu terkejut bukan main .


tulisan tangan yang tertulis di sana, wanita itu memegang erat cek yang di lempar oleh musuh nya .


"aku tidak akan mau membayar taruhan dengan nilai seharga mobil mewah!"sangkal nya dengan raut wajah yang menantang.


langkah lelaki itu terhenti kala mendengar ucapan wanita di belakangan nya, ia memutuskan untuk berbalik badan dan menatap wanita itu dengan senyum kecil yang sangat meremehkan .


langkah nya melangkah dengan lebar dan mendekati wanita yang terduduk manis di atas motor nya . rambut panjang, bibir ranum, bola mata coklat dan bulu mata yang lentik .


"tidak mampu nona?" ucapan lelaki di hadapanya membuat nya merasa kesal ia mengibaskan telapak tangan nya ke udara dan menatap lekat wajah tampan milik lelaki di hadapan nya .


"pilihan mu hanya itu, memilih membayar atau memilih untuk menikah dengan ku"


sungguh! itu adalah pilihan yang tidak memberikan jalan keluar, bagaimana bisa lelaki di depan nya ini berkata seperti itu?apakah pernikahan adalah bahan taruhan dan apakah otak nya itu sehat .


"sialan"


"pilih sebelum saya mengganti nya dengan pilihan yang lebih sulit!"


"*NIKAH!"


"NIKAH!"


"NIKAH*!!


para penonton sibuk menyoraki mereka dengan ucapan 'menikah' itu semua membuat dirinya merasa sangat kesal dan tidak betah berada di sini .


"kamu tidak akan rugi menikah dengan saya, apa yang kamu butuhkan selalu ada bersama saya"


Damon Jamessh Smith, lelaki berbadan tinggi yang memiliki kasta tertinggi di kota sidney . Lelaki yang menyandang status CEO di salah satu perusahaan paling terkenal 'Smith Croup' . siapapun akan kenal dengan salah satu putra tunggal dari perusaha paling tersohor itu .


Monica Louta Alexander, wanita yang memiliki kulit seputih salju dan berparas layak nya Dewi Yunani . Monica selalu hobi dalam taruhan wanita itu selalu memenangkan berbagai taruhan apapun macam nya dan kali ini ia berhasil di kalah kan oleh putra tunggal dari keluarga 'Smith' .


"bodoh!aku tidak akan Sudi menikah dengan lelaki seperti mu"cemoh Monica dengan raut wajah meremehkan . wanita itu memakai kembali helm full face nya dan bersiap untuk pergi dari arena balap meninggalkan senyum smrik milik Damon .


"mencoba kabur nona kecil" .


Brak


dokumen itu di lempar ke arah meja besar , dokumen yang selama ini telah di cari kini berhasil di temukan . Damon membalik kursi kerja nya menghadap ke arah asisten nya .


lelaki itu memasang wajah datar tetapi dalam hati nya bergejolak rasa kagum dan bahagia.


"jadi dia adalah keluarga Alexander?"


"betul tuan"


kekehan kecil keluar dari mulut Damon lelaki itu tampak sedang tertarik dengan sesuatu yang baru .


"Monica Louta Alexander"


…"jadi itu nama mu"


Edgar hanya bisa terdiam di atas pinjakanya, lelaki itu sangat terkejut saat melihat reaksi sang tuan yang seperti nya mulai memiliki gairah kehidupan.


"keluarga nya mengalami kebangkrutan perusahaan"jelas Edgar dengan menatap manik hitam milik Damon .


Damon mengangguk mengerti, lelaki itu mengambil secarik kertas yang di dalam nya terdapat sebuah foto Wanita yang pernah ia temui tadi malam .


menarik ini adalah permainan menarik bagi nya, lelaki itu terus memandangi wajah wanita yang berada di dalam foto itu .


"bawa dia kesini untuk menemui saya" titah Damon yang langsung mendapatkan angukan mengerti dari Edgar .


setelah mendengarkan perintah dari Damon, Edgar kembali pamit keluar dari ruangan dan kembali melaksanakan tugas baru yang di berikan oleh Damon .


setelah melihat punggung Edgar yang semakin menjauh dan tenggelam di balik pintu, Damon Kembali memutar kursi kerja nya dengan menghadap ke arah pusat kota dengan pemandangan yang memesona dan memanjakan mata .


Damon berkali kali membuang nafas lelah, lelaki itu menutup kedua bola mata nya dan menghirup udara dengan perlahan-lahan .


"sudah lama saya tidak pernah bertemu kamu kembalii Nona" bisik nya yang terbawa oleh hembusan angin .


Damon kembali mendongak dan menatap awan cerah itu dari atas gedung di dalam ruanganya, lelaki itu menatap sengit ke arah awan yang nampak cerah tak ada sedikitpun rasaa sedih seperti dirinya .


"Andai waktu tidak pernah terjadi, mungkin Kamu dan saya masih selalu berada dalam atap yang sama"


tok tok tok


"Permisi Tuan"


…"Dokumen ini harus di tanda tangani "ucap lembut suara wanita yang begitu khas membuat Damon melirik dari arah kursi .


"Letta, lihat lah awan cerah itu .. bahkan awan itu selalu tampak cerah dan tidak pernah mengerti tentang rasa sedih yang saya alami"


Letta Owisa, sekertaris milik kelurga Smith yang selalu setia pada tuan nya selalu mengerti tentang keadaan tuan nya dan selalu berada di samping Damon .


Letta mendongak dan menatap awan cerah itu, wanita itu tersenyum kecil lalu mengangguk dengan anggukan yang pelan .


"Nyonya pasti sudah sangat bahagia di atas sana"celetuk Letta dengan menatap foto yang terpanjang jelas di meja kerja milik Damon .


Damon mengangguk dan memutar kursi nya lalu lengan kekar nya meraih sebuah bolpoin yang Letta sediakan untuk menandatangani dokumen penting itu .


"terimakasih tuan Damon" ucap Letta setelah mendapat kan tanda tangan dari Damon .


Damon hanya mampu memasang wajah datar dan menyuruh Letta untuk pergi dari ruanganya memberikan ia sendirian di sana merenung kan segala sesuatu yang sudah terjadi dan akan jelas tidak akan pernah bisa terulang atau pun di perbaiki.


Damon hanya mampu membuang nafas panjang, lelaki itu menutup foto yang ia pajang di meja kerja nya lalu menyibukkan diri pada tumpukan kertas yang menggunung di atas meja kerja nya .