
Decitan pintu terdengar sedikit nyaring di telinga, gelap dan sunyi ruangan besar yang sangat gelap dan tak ada cahaya setitik pun . Suara ketukan sepatu semakin mendekat, hembusan nafas terdengar lirih, satu buah lilin berada di atas piring berwarna emas yang indah mampu menerangi ruangan yang begitu amat gelap tak ada cahaya apapun yang masuk .
Prak
piring itu di simpan di bawah lantai yang dingin, jari jemari nya terangkat di udara meraih dagu seseorang yang terduduk lemas di hadapan nya . Tatapan nya begitu datar dan dingin, sementara seseorang di hadapanya hanya bisa tertunduk dan memejamkan kedua bola mata nya tanpa ingin menatap lelaki yang ada di hadapan nya .
sosok lelaki yang bertubuh tinggi terduduk dengan rantai di kedua lengan nya di gantung di atas tembok yang berwarna putih itu, luka lebam di bagian pipi dan bercak darah di bagian bibir bawah kondisinya sangat parah dan tampak begitu lemas .
"bagaimana kabar mu?"tanya nya dengan suara bisikan yang terdengar berat dan serak .
"hari ini, saya akan menikah dengan wanita yang paling kamu idam-idamkan"
…"Bagaimana?Kita seri bukan?"
tak ada jawaban dari seseorang yang terduduk lemas di hadapan nya membuat nya berdecih dan membuang arah pandang .
"saya tau kamu mendengarkan ucapan saya, jangan bodoh bergerak layak nya manusia biasa"sarkas nya dengan menatap tajam ke arah lelaki yang terduduk lemas di hadapan nya .
lelaki itu mendongak dan menatap lirih ke arah sosok yang berdiri tegap di hadapan nya, tatapan nya terlihat sayu dan tidak memiliki semangat untuk hidup, deru nafas nya memburu dengan kencang.
"K-kau! jan-jangan pernah Me-mencoba untuk menyakitinya "ucap nya terbata-bata tatapan sengit ia layangkan kepada lelaki yang ada di hadapan nya .
gelak tawa terdengar nyaring di ruangan gelap itu, sosok lelaki yang berdiri tegap itu melepaskan cengkraman dagu lelaki yang sedang terduduk lemas itu .
"Menyedihkan"celetuk nya dengan menghentikan gelak tawa nya, lalu lelaki itu pergi dan menutup kembali ruangan itu tanpa berniat untuk mengobati luka seseorang yang ada di dalam sana .
...
"permainan baru di mulai"
...----------------...
Tamu undangan sudah datang, ramai sekali suasana saat ini pernak-pernik pernikahan sudah terpajang dengan indah di setiap sudut dinding, kursi-kursi sudah tertata dengan rapih di barisan masing-masing.
Sorak Sorai memenuhi gedung megah itu, karpet merah tergerai dengan indah, bunga bunga bertaburan di atas nya .
Gaun panjang nya menyapu bunga-bunga yang ada di atas karpet merah itu, berjalan perlahan sembari membawa setangkai bunga mawar merah yang nampak indah, pandangnya terus tertunduk menatap langkah kaki nya . Polesan make up itu nampak begitu sempurna di wajah nya.
Di depan altar, Damon sudah menunggu dengan senyum kecil yang terukir di sudut bibir seolah-olah pernikahan ini di landasan dengan cinta .
"Ready honey?"bisik Damon sembari mengulurkan tangan nya guna menyambut uluran tangan dari Monica, lelaki itu menuntun Monica untuk Berdiri di hadapan pendeta .
detak jantung Monica semakin berpacu dengan hebat, tatapan ragu ia layangkan pada Damon berharap lelaki itu bisa membatalkan pernikahan ini . Di barisan kursi paling depan sudah terliha Erwin yang menatap kedua nya.
"siap?"tanya pendeta kepada kedua mempelai Damon mengangguk mantap sementara Monica menganguk dengan ragu.
Mereka berdua mengucap kan janji suci di hadapan pendeta, hening sesaat janji suci itu di ucapkan oleh kedua nya . Sepanjang mengucapkan janji suci Monica terlihat gugup dan tidak yakin, jantung nya berpacu dengan cepat, berbagai pertanyaan terus melintas di kepala nya sedari tadi Damon terus menatap wajah Monica dengan serius berbeda dari wanita di hadapanya Monica justru tertunduk sesekali menatap manik gelap itu .
Sorak meriah terdengar saat janji suci telah berhasil di ucapkan, Damon meraih pinggang kecil milik Monica lelaki itu menatap dengan wajah berseri .
'Apakah Aku sudah resmi jadi Istri dari seorang Laki-laki lain?' pertanyaan itu terlintas terus di kepala Monica .
Wanita itu bisa tersenyum kecut menatap semua tamu undangan yang datang, pandanga Monica tertuju pada Erwin yang berdiri dan memberikan Tepukan tangan raut wajah nya nampak begitu terharu tapi ada yang berbeda kali ini, Erwin tidak bersama dengan Evlyn kemana mamah nya itu mengapa tidak hadir dalam acara sepenting ini .
"Papih"panggil Monica sembari berjalan ke arah Erwin, menubruk tubuh tegap pria paruh baya itu, menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Erwin, Erwin hanya mengelus punggung Monica dan menganguk sesekali saat Monica berbicara pada nya .
"Jadi istri yang baik Nak"ucap singkat Erwin .
"Honey, Apakah Kamu akan seperti itu saja?"tanya Damon dengan menatap ke arah punggung Monica .
Monica langsung tersadar dan mengusap air mata nya melepaskan pelukan nya pada Erwin,lalu menatap datar ke arah Damon lelaki itu sungguh sudah menjadi Suami nya, ini semua di luar nalar Monica .
...----------------...
Silih waktu berganti malam, acara sudah selesai sore tadi dan kini saat nya Monica untuk membersihkan diri dan kembali tidur di kasur empuk milik Damon, jika Monica akan membersihkan diri berbeda dengan Damon lelaki itu malah langsung menuju meja kerja nya dan mengerjakan seluruh pekerjaan nya .
Seusai mandi, Monica kembali ke kamar dan mengambil sisir untuk merapihkan rambut panjang nya, malam ini ia memakai piyama celana panjang bermotif karakter kartun berwarna putih ia juga memakai sendal bulu dengan bentuk seperti kucing .
Monica menatap diri nya di pantulan cermin, masih bertanya-tanya akan kejadian tadi pagi yang tanpa sengaja bibir nya berucap janji suci bersama Damon . Monica memegang dada nya yang terasa begitu berdebar dengan hebat, tidak ada perasaan cinta atau pun sejenis nya .
Monica tidak ingin berlarut dalam pertanyaan nya itu, wanita itu memilih berbaring di ranjang dan menarik selimut nya sampai di atas dada menutup kedua kelopak mata nya dengan sempurna lalu menjemput alam mimpi tanpa mempedulikan Damon yang masih bekerja .
12.00
Sudah larut malam, tetapi Damon masih terus terduduk stay di atas kursi kerja nya lelaki itu masih terus menatap layar Laptop dengan sesekali menulis sesuatu di kertas putih . Damon berkali-kali membuang nafas lelah sampai kapan ia kan bekerja terus seperti ini .
raut wajah Damon sudah nampak lelah, lelaki itu mengangkat kedua tanganya ke atas merenggangkan otot-otot lengangnya sebentar dan menatap ke arah bingkai foto yang ada di hadapannya lagi lagi foto itu belum bisa ia buang ke tempat sampah .
Dcitt ..
Suara decitan pintu terdengar membuat pandangan Damon teralihkan dan menatap gagang pintu yang di putar oleh seseorang di luar .
Damon membuang nafas lega saat melihat Monica yang berjalan dengan memakai piyama putih dengan dua cangkir teh di tangan nya, rupa nya Wanita itu tidak pulas tidur malam ini .
"Kau belum tidur?"tanya Damon dengan menatap wajah lesu milik Monica .
"jika Aku ada sini tidak mungkin Aku sedang tidur"celetuk Monica dengan menatap lurus ke arah Damon, Wanita itu menaruh segelas teh di atas meja kerja milik Damon .
lalu ia kembali duduk di sofaa ruangan, menyeruput teh nya lalu kembali menatap wajah Damon yang terlihat mengerikan .
"Kau seperti Zombie" ucap Monica dengan kekehan kecil yang membuat Damon membuang arah pandangnya.
Damon melirik sekilas ke arah teh yang di bawakan oleh istri nya itu .
teh hijau?
"teh herbal itu bisa meringkan sedikit rasa pegal"ucap Monica seolah mengerti tatapan tanya yang Damon arahkan di hadapan teh buatan nya .
.."coba lah itu bisa merilekskan otot-otot mu"ucap Monica sekali lagi membuat Damon mengangkat cangkir itu dan meneguk nya sampai tandas tak tersisa apapun .
benar kata Monica, teh ini sedikit bisa meringkan rasa pegal nya dan rasa nya pun tak terlalu manis dan sangat cocok di lidah nya.
Monica mengangkat pandanganya menatap sekitar ruangan milik Damon, sepertinya suami nya ini menyukai model Clasic modern Eropa terlihat jelas dari desain Ruangannya ini .
"pekerjaan itu sulit?, kasian sekali kamu harus di Bebani oleh perkejaan seperti itu" celetuk Monica dengan raut wajah yang d buat menggemaskan .
"ini sudah menjadi tanggung jawab saya"jawab Damon menatap wajah Monica dengan lamat-lamat .
Monica hanya mengangguk lalu ia berdiri dan berjalan menuju pintu berniat untuk tidur kembali agar besok ia terlihat segar dan semangat untuk menjalankan misi di kerjaan baru nya .
"jangan lupa berisitirahat" ucap nya setelah itu ia menutup pintu ruangan dengan rapat, sementara Damon menatap pintu yang sudah tertutup itu, nyatanya Monica terlihat begitu baik dan perihatian tidak begitu bar-bar dan kekanak-kanakan.
yah meski sedikit membuat orang lain begitu kesal dan jika berkata selalu asal keluar saja .