
"gue seneng banget tau Ar Lo nerima si Gerlang" ujar Viana
"tapi Vi, gue masih ragu"
"jadi Lo nerima Gerlang karena kasian Ar?" tanya Reilana
"entah Rei" balas Arima, dan itu membuat Reilana pergi entah kemana.
"Rei, Lo mau kemana woy?" tanya Viana yang heran
Tetapi Reilana tidak menjawabnya.
...
"Lang?"
Gerlang menoleh ke suara itu, "kenapa?"
"Lo ternyata serius nembak si Arima, gue kira Lo bercanda"
"kenapa harus bercanda? Ini soal perasaan, gak bisa di buat bercanda" ujar Gerlang
"gue ikut seneng Lang untuk itu, tapi gue heran, Lo secepat itu lupain gue" ujarnya
"gue gak pernah lupain Lo, tapi waktu yang maksa gue buat harus lupain Lo" sahut Gerlang
Setelah itu Gerlang memilih meninggalkan orang itu.
"apa gue seburuk itu sampai Lo gak bisa maafin gue Lang?"
...
Malam selalu menjadi waktu paling indah untuk merenung, dan bermimpi menjadi lebih dari kenyataannya.
"seneng banget malam malam gini di teras"
"Ji, Lo kapan datang?" tanya Arima heran
"baru" jawab Jian, sembari ikut duduk di sebelah Arima
"gimana pacar Lo itu? Dia baik kan?" lanjut Jian bertanya
"hm, baik, tapi jahat gak sih kalo gue belum cinta sama dia Ji?" tanya balik Arima
"sejujurnya itu jahat, tapi kan pacar Lo udah tahu, berarti dia harus terima konsekuensinya dong, udah ya Lo jangan pikirin itu nanti Lo pusing" balas Jian lembut, lalu mengelus rambut Arima
"Lo cantik Ma, selalu cantik" tambah Jian, dan itu membuat pipi Arima memerah seperti tomat
"ekhem" ternyata itu suara deheman Rhea
"cie, kiw kiw"
"Rhe, kamu apaan sih?" sejujurnya Arima sedang menahan saling tingkah
"kak Jian, kalo kakak udah punya pacar, berarti kak Jian bisa dong sama Rhea" ujar Rhea santai
"heh, kamu masih kecil loh, sembarangan aja ngomongnya" tegur Arima
Jian terkekeh," boleh dong, tapi Rhea harus sekolah dulu ya yang bener"
"pasti dong kak"
...
Dua bulan Arima menjalani hubungan dengan Gerlang, dan mungkin perasaanya sudah mulai tumbuh sedikit. Tetapi anehnya, Reilana seperti menjauh dan menyembunyikan sesuatu dari Arima.
"Rei, Lo kenapa? Gue ada salah sama Lo, kok lu menjauh si dari gue gini" Arima bertanya dengan hati hati kepada Reilana
"gak apa apa" Reilana mencoba pergi dari hadapan Arima, tetapi dicegah oleh Arima
"lepas Ar" pinta Reilana
"jawab gue dulu Rei, gue ada salah? Kalo emang ada gue minta maaf sama Lo"
"gue pengen sendiri, tinggalin gue"
"gak, jawab dulu"
"Ar! Bisa gak Lo ngerti posisi gue?! Gue pengen sendiri, tolong jangan kayak anak kecil, gak semua harus ngertiin Lo. Gue juga perlu di ngertiin" tegas Reilana dan itu mengundang perhatian satu kelas, terutama Gerlang.
"ngapain Lo marah marah sama cewek gue?"
"bilang sama dia, gue pengen sendiri" kemudian Reilana pergi dan tidak ada yang mencegahnya.
"kamu gak apa apa Ar?" tanya Gerlang khawatir
Wajah Arima lesu, bertanya tanya dalam pikirannya ada apa dengan Reilana.
"Ar? Hey, kamu gak papa kan?" tanya Gerlang sekali lagi
"gak papa Ger, tapi Rei, Rei kenapa ya?"
"kamu gak usah pikiran dia ya, dia pasti baik baik aja" ujar Gerlang mencoba menenangkan Arima
"gak usah di pikirin? Rei itu temen gue Ger, jadi sepantasnya gue khawatir sama dia!" entah kenapa Arima justru salah paham
"Ar, maksud aku gak gitu" tetapi Arima tidak mendengarkan Gerlang
...
"kenapa Lo ngelamun? Pacar Lo yang buat Lo begini?" tanya Jian yang datang tiba tiba
Memang semenjak kepergian ibunya Arima, Jian menjadi sering datang ke rumah Arima.
"bukan Ji, tapi Rei" jawab Arima lemas
"Rei? Siapa dia?" tanya Jian lagi dengan serius
"temen kelas gue, sikap dia jadi aneh Ji, gue belum tau penyebabnya dia kayak gitu kenapa"
"aneh juga temen Lo itu" ujar Jian santai
"menurut Lo kenapa ya Ji? Gue udah tanya gue ada salah atau gak? Tapi dia bilang dia pengen sendiri" Arima balik bertanya
"ehm menurut gue Lo ikutin dia maunya dia dulu aja, gue yakin kok lama lama dia pasti luluh" balas Jian meyakinkan Arima
"Ji, gue boleh peluk?"
"boleh, sini"
...
Terkadang yang terlihat sempurna belum tentu sempurna, bisa jadi sebaliknya. Hidup itu bukanlah dilihat dari cover depannya saja, namun bagiannya juga harus di lihat. Karena, cover tanpa isi tidak akan menjadi buku.
"sudah mama bilang berapa kali sama kamu si, kamu itu harus ikut model!" seru perempuan paruh baya
"tapi aku cape ma" rintihnya
"tidak ada alasan untuk itu, kamu tetap akan ikut model. Paham Reilana?!"
"iya ma"
Itu memang Reilana, perempuan cantik parasnya, namun memiliki banyak luka di dalam dirinya. Mungkin ini hal yang membuat Reilana untuk menghindari kedua temannya itu.
"Ar, andai Lo liat Ar, gue kayak gini. Gue sebenernya butuh Lo, butuh..."
"gue malu terus terusan liat Lo bela gue, gue gak mau terlihat selemah itu di hadapan Lo Ar, gak mau"
"Rei!!"
"iya ma?"
"lama banget sih kamu, inget ya Rei, mulai hari ini dia guru kamu, dan jangan sekali kali kamu bolos, karena saya gak mau rugi jika kamu bolos, walaupun itu sehari saja, paham gak?!" seru mama Reilana
"i-iya ma, Rei paham" sahut Reilana dengan terisak
...
Karena setelah kejadian tadi, Gerlang di diamkan oleh Arima, bahkan pesannya saja belum di balas. Dirinya pun kini mencoba untuk menelpon Arima saja.
"please Ar, angkat"
"kenapa?" jawaban singkat suara dari balik telpon
"akhirnya kamu angkat Ar, aku minta maaf ya soal tadi, aku gak bermaksud untuk bilang kayak gitu"
"iya, gak papa"
"kamu udah gak marah kan?" tanya Gerlang hari hari
"gak"
"tapi kenapa jawabnya ketus begitu"
"karena lagi males ngomong"
"Ar, aku minta maaf banget, please jangan singkat singkat begini"
"hm, iya, telpon cuman mau bilang maaf?"
"eits, tentu tidak pacar, kamu udah makan?"
"belum, bentar lagi"
"sebentar lagi makanan kamu datang"
"hah? Lo kirim makanan buat gue?"
"iya, dimakan ya"
"ih kan gue gak minta Paijo"
"Ar, nama aku jelek banget sih jadi Paijo"
"bodo amat, lagi lu ngapain si Gerlang, nyebelin ish"
"tapi sayang" bagian yang ini sedikit kecil, tetapi masih terdengar oleh Gerlang
"cie, yang udah mulai sayang" goda Gerlang
"diem Lo, pokoknya besok gue bawain Lo bekel ya, sebagai tanda gantian karena Lo udah kirim makanan buat gue"
"iya cantiknya Gerlang"
"stres"
Telpon pun dimatikan oleh Arima, Gerlang tau jika Arima tidak akan meninggalkan kalimat 'stresnya itu di akhirnya percakapan'