ARIMA

ARIMA
BG 9



"Ima?"


"E-el, ini kamu?"


Sosok itu hanya tersenyum dan demi sedikit jalan menuju ke posisi Arima berada. Semakin dekat, hingga tersisa satu langkah saja, dia berhenti.


"senyum kamu cantik, terus senyum kayak gini ya. Maaf, El belum bisa tepati janji untuk jadiin Arima pacar"


Air mata Arima ternyata sudah menetes, entah rindu yang tidak bisa dibicarakan oleh mulut namun bisa dirasakan oleh hati.


"gak papa El, aku yang salah. Seharusnya aku gak suka El, tolong jangan pergi lagi ya, El harus balik" ujar Arima dengan terisak


Jawaban El hanya tersenyum, "iya, El emang ada disamping Ima kok, udah jangan nangis ya cantik. El selalu di sini" sahut El sembari menunjuk dada nya yang berarti hatinya.


Tiba-tiba bayangan El perlahan mulai menghilang, Arima berusaha untuk tidak membiarkan sosok El itu menghilang.


"El, gak, El mau kemana?!"


"El!"


Dan ternyata itu hanyalah mimpi Arima, dirinya sudah basah kuyup karena keringatnya itu. Dan momen itu kembali mengingatkan Arima dengan sosok yang begitu dia cintai.


"El, aku sekarang punya pacar, dia baik, perhatian dan matanya mirip kamu, dia nyebelin tapi juga lucu, El andai aja kamu tau.. Kamu tetep di posisi pertama, El.. Aku kangen, gak bisa apa ya aku liat kamu sebentar aja"


Walau hanya dalam mimpi, Arima merasakan jika perkataan Elris akan ada didekatnya memang nyata. Rindu semacam apa ini?


...


"wih, buat siapa itu?" tanya omah saat melihat Arima sedang membuatkan bekal


"buat Gerlang omah" jawab Arima santai


Bagaimanapun, Gerlang tetap pacarnya Arima dan itu tidak dapat disembunyikan.


"pasti orang spesial ya?" goda omah


"bisa dibilang kayak gitu si omah, oh iya, Rhea juga aku udah buatin, nanti tolong kasih ya. Arima mau pamit duluan, dadah omah" ujar Arima, setelah itu pergi.


Memang sengaja Arima berangkat lebih pagi, alasannya untuk mampir ke makam sahabat tercintanya, Ara. Sudah terbilang cukup lama Arima tidak mampir, itung itung hari ini Arima juga mampir ke makam ibunya.


"Ra, Lo tau gak? Gue udah punya pacar, dia lebih ke nyebelin si, tapi gue sayang kok. Dia juga sayang gue Ra, Ra Lo pernah bilang gini 'nanti kalo Lo sama gue punya pacar, bisa dong ya kita double date' sekarang gue punya, tapi Lo malah tidur gini, gak seru Lo Ra. Ra, Lo ketemu ibu gue gak disana? Dia pasti cerita ya kalo gue udah tinggal sama dia? Jagain ibu gue ya Ra, tungguin gue di sana"


Setelah cukup lama mengobrol dengan Ara, sekarang giliran Arima untuk ke makam sang ibu.


"Bu, gimana? Disana gak enak kan gak ada bantal? Siapa suruh, lagi di tidur di situ si. Ibu udah ketemu ayah belum? Tanyain ke ayah dong Bu, Ayah sebenarnya kangen gak si sama Arima? Tolong doain aku ya Bu, semoga aku kuat sampai selesai, aku pamit ya, love you Bu"


...


Pagi yang sudah tidak lama Arima rasakan, kicauan burung itu terdengar lagi, daun daun bergoyang mengikuti angin. Sembari menunggu bus, Arima mendengarkan musik dengan headset


"senyum Lo cantik Ar" suara itu membuat Arima terkejut


"Dika, Lo ngapain?"


"berangkat sekolah, tapi pas gue mau lanjut jalan, gue melihat ada bidadari nyasar di sini, jadinya hati gue nyuruh buat berhenti. Lo mau bareng?" ujar Dika


Sejujurnya Arima sedikit canggung, dirinya pun melihat jam di handphonenya, jika menolak dirinya bisa telat. Tetapi jika menerima, bagaimana dengan perasaan Gerlang? Sudahlah itu pikirkan nanti, sekarang biarkan dirinya untuk tidak telat.


"boleh deh Dik"


Dika tersenyum dan memberikan satu helmnya untuk Arima.


"Lo selalu belajar gombal ya? Kenapa hari hari Lo itu isinya gombal terus Dik?" Arima berbalik tanya


Dika terkekeh, "gue itu gombal sama Lo doang Ar, kalo sama yang lain mah harus cool lah"


"cepet cepet cari cewe Dik, biar gak gombalin gue terus!" seru Arima


"ngapain? Kan Lo cewek gue"


Jawaban itu membuat Arima sedikit kikuk dan sepertinya Dika tau akan hal itu, dia pun tertawa lagi.


"gue bercanda Ar, Lo kan udah punya. Oh iya kenapa dia gak antar jemput Lo?"


"dia kan bukan tukang ojek Dik"


"tau, tapi sayang gak sih cewek secantik Lo di biarin berangkat sendirian"


"Dik, udah sampe sini aja, ntar yang ada Lo telat ke sekolah Lo lagi, makasih ya!" Arima pun segera turun dan berlari masuk.


Dika masih di tempat,"gue gak pernah bohong soal omongan gue untuk tetap nungguin Lo Ar"


...


Sebelum memasuki kelas, Arima sudah melihat ada pertengkaran antara Viana dan Reilana. Arima pun berlari menuju mereka berdua.


"kalian kenapa berantem si?"


"Lo tanya dia Ar, dia temen tapi busuk tau gak!" seru Viana sembari menunjuk Reilana


"busuk gimana maksud Lo Vi?" Arima semakin bingung


"ya busuk, secara dia mau berusaha rebut Gerlang dari Lo Ar" jawab Viana


Arima tidak berkata kata, "rebut Gerlang? Rei, itu bener?"


"bukan gue yang rebut Gerlang, tapi Lo Ar! Lo yang rebut Gerlang dari gue, Lo tau, gue mantan Gerlang!" tegas Reilana


"jadi, itu yang buat Lo menjauh dari gue Rei?" Arima bertanya lagi


Reilana menggeleng dan ternyata air matanya sudah menetes,"bukan hanya itu Ar, gue capek, capek banget. Mama gue suruh gue jadi model, tapi gue gak mau dan Lo tau, karena itu gue jadi pisah sama Gerlang. Karena perjanjian model gue itu gak boleh berhubungan sama siapapun. Tapi ternyata Gerlang malah pacaran sama Lo, temen gue sendiri, sakit Ar, sakit banget liatnya"


Arima juga ikut menangis, baru saja dirinya merasakan senang. Tapi kenapa? Kenapa kebahagiannya itu hanya sementara?


"Arima, kamu kenapa?" tanya Gerlang yang baru saja datang


"gue mau tanya dan gue hanya kasih Lo option untuk pilih ya atau gak, Lo mantan Rei?"


"Ar, aku bi-"


"Lo budeg? Gue kasih Lo option ya atau gak, jawab antara itu aja"


"iya, Rei mantan aku"


"kenapa Lo gak cerita? Kenapa si Ger? Lo bilang Lo sayang gue, tapi kenapa hal kayak gini Lo gak cerita? Kalo udah gini bukan gue doang yang sakit, tapi temen gue juga Ger. Lo tau kan, gue gak suka kebohongan dan Lo lakuin itu. Padahal ya, Lo tau Ger, hari ini gue bangun pagi, gue siapin Lo bekel dan berharap besoknya gue bilang gini 'nih bekel buat pacar gue'. Kalo sekarang gini, kalimatnya ganti 'nih bekel buat mant-"


"gak, kamu tetep pacar aku, gak ada putus putus. Aku mohon Ar, dan Lo Rei, kita udah selesai, tolonglah jangan kayak gini, gue juga masih perlu kehidupan gue kali"


Arima mengabaikan itu dan memilih untuk pergi.


"Ar! Ar tunggu aku!"