ARIMA

ARIMA
BG 7



Setelah kepergian sang Ibu, Arima lebih banyak diam dan lebih memilih untuk merenung di kamar. Apa yang Arima butuhkan, dirinya sendiri juga tidak tahu. Dia butuh sesuatu tetapi entah itu apa.


"Arima"


"omah, ada apa?"


"ada yang mau ketemu kamu katanya"


"siapa omah?"


Seseorang itu menampilkan dirinya dihadapan Arima, air mata yang ada di kelopak mata Arima tidak bisa berbohong, apa yang ada dihadapannya itu memang yang di butuhkan dirinya.


"Jian.." kemudian Arima memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.


"sut.. Lo gak boleh nangis terus kayak gini dong, nanti cantiknya ilang" sahut Jian dengan lembut


"omah tinggal dulu ya, Jian nanti kalo mau minum ambil di depan, oke?" omah pun meninggalkan mereka berdua


"oke omah"


"kenapa Lo baru datang?" tanya Arima sedikit kecewa


"karena gue gak mau ganggu Lo sama pacar Lo itu" jawab Jian santai


"pacar?"


"iya, tadi gue liat dia perhatian banget sama Lo, bahkan tadi dia nemenin Lo terus pas Lo pingsan" lanjut Jian


"Gerlang maksud Lo?" tanya Arima memastikan lagi


"iya, gak tau gue namanya siapa. Tapi ya, gue liat liat dia beneran tulus tau sama Lo"


"emangnya Lo rela gue sama dia?" sesungguhnya itu pertanyaan menjebak, Jian tidak mampu menjawab itu. Karena bagaimanapun Arima sudah menjadi cinta pertamanya


"ehm Lo makan ya, gue suapin" ucap Jian mengalihkan pembicaraan


"gak mau, Lo aja belum balas pertanyaan gue tadi"


"gak semua pertanyaan harus ada jawaban kan, udah ya makan dulu"


Akhirnya Arima lebih memilih mengalah, dan menuruti Jian.


...


Saat disekolah banyak yang memberikan bela sungkawa untuk Arima, tetapi itu membuat Arima justru membenci keadaannya.


"pacar?"


Arima menoleh, dirinya tahu itu suara siapa.


"Kok kamu sekolah si? Emangnya kamu udah gakpapa?" tanya Gerlang penuh khawatir


"gak apa apa Ger, justru kalo gue di rumah terus gue makin sedih"


"yaudah, kelas bareng yuk" ajak Gerlang, lalu menggandeng tangan Arima


"Arima!" seru suara dari arah belakang


"Dika, Lo?"


"Hai, Ar!"


"siapa dia?" tanya Gerlang


"temen waktu gue SMP" jawab Arima


"Ar, maaf ya gue kemarin gak bisa dateng. Mangkanya sekarang gue datang ke sekolah Lo" jelas Dika


"makasih ya Dik, seharusnya Lo gak perlu repot repot segala ke sekolah gue gini"


"gak papa, yaudah gue pamit ya Ar, semoga kita bisa ketemu lagi di lain waktu. Dan oh ya, gue masih tetep nunggu Lo Ar, dah!"


Betapa terkejutnya Arima mendengar kalimat terakhir dari Dika, kali ini bukan hanya Arima saja, tetapi Gerlang juga.


"pantes Ar, kamu kayak gini sama aku, ternyata yang suka sama kamu effortnya melebihi aku ya" ucap Gerlang dengan nada rendah dan sedikit tersenyum kaku


"Cemen Lo, gitu aja udah ciut"


Setelah mengatakan itu, Arima meninggalkan Gerlang sendirian.


"Arima, tungguin dong"


...


"serius Lo tadi ada temennya Arima datang cuman buat belasungkawa doang? Cowok lagi?" tanya Pras dengan penuh penasaran


"iya"


Gerlang memang menceritakan hal itu kepada Pras, karena dirinya merasa jika sudah kalah start lebih dulu.


"ngomong ngomong itu cowok kalo dibandingin, cakepan Lo apa dia Ger?" Pras bertanya lagi


"ya gue lah, gak ada yang bisa ngalahin ketampanan babang Gerlang" jawab Gerlang


"tai Lo, pede doang kalo gak ada Arima, giliran ada ciut Lo" seru Pras sarkas


"kalo Lo yakin, ya Lo kejar dong jangan ngerasa kalah begini" saran Pras


"iya gak lah, gue akan perjuangin cinta gue ke Arima" seru Gerlang semangat


"gitu dong, ini baru brader gue"


Dari arah lain, ternyata Arima mendengar semuanya.


"segitunya dia cinta sama Lo Ar" ucap Viana


"dia bener gak main main soal perasaannya" tambah Reilana


"gue tahu, tapi gue masih ragu" sahut Arima


"gak papa, pelan pelan dulu aja" ucap Reilana meyakinkan Arima


Arima hanya mengangguk dan tersenyum.


...


Setelah setengah hari berada di sekolah, badan Arima seperti remuk, dan dirinya mencoba untuk mengistirahatkan badannya itu.


Saat matanya mulai tertutup, ada suara yang memanggilnya, "kak.."


Arima kembali membuka matanya, "ada apa Rhe?"


"maaf aku gak tau kalo kakak lagi tidur, aku keluar ya"


"gak papa, kenapa sini? Ada apa?" tanya Arima penuh lembut


"tadi ada kak Jian datang kak, terus titip ini ke aku katanya buat kakak" jelas Rhea


memang terlihat ada kantung plastik berwarna hitam yang dibawa oleh Rhea. Rhea pun segera memberikannya kepada Arima.


"yaudah kak, Rhea keluar dulu ya"


Arima hanya mengangguk.


Kemudian Arima membuka plastik itu dan ternyata berisi makanan yang dirinya suka, tidak lain ada dadar gulung.


"Lo itu aneh ya Ji, selalu ada cara untuk buat gue senyum senyum sendiri" ujar Arima monolog


Tiba tiba handphone milik Arima berdering.


"halo, kenapa Ger?"


"kok Ger si, gue pacar Lo kalo Lo lupa"


"Ger, please deh, kita itu belum jadian loh, jangan ngaco"


"ehm, yaudah, Arima yang paling cantik, imut, lucu dan selalu marah, mau gak jadi pacarnya Gerlang yang tampan ini?"


Arima terkekeh malu, "pengecut deh Lo, masa tembak gue lewat telfon gini, kalo emang bener Lo harusnya langsung dong"


"oke, tapi kalo aku tembak langsung bakal diterima kan?"


"tergantung"


"kok tergantung?"


"iya tergantung gue bakal jatuh cinta sama Lo besok atau gak, udah ya gue pengen tidur Ger, ngantuk nih"


"oke cantik, selamat bobo ya"


"stres"


...


Besoknya saat di sekolah tiba tiba ada kegaduhan di lapangan yang membuat semua murid jadi berebut untuk menyaksikan itu.


"ada apa si Vi?"


"itu si Gerlang berantem Ar"


"berantem"


Dengan berlari panik, Arima ikut menuju lapangan untuk memastikan apa benar jika lelaki itu benar berantem. Dengan nafas yang terengah engah, Arima mencari sosok itu dan menemukannya. Tetapi bukan dalam posisi berantem, melainkan sedang memegang sebuah karton yang bertuliskan 'I Love Arima ♡'.


Bukan sampai di situ saja, ternyata juga sudah ada surprise yang lain di sisi sekolah itu, semua bertuliskan dengan kalimat yang sama.


"Ar, aku udah buktiin ke kamu. Sekarang, kamu mau kan jadi pacar aku?"


"rese Lo Ger" ujar Arima memukul tubuh Gerlang, "Lo tau, gue panik pas denger Lo berantem tau gak" tambah Arima


"maaf sayang, aku cuman mau kamu tahu kalo aku bener bener serius, jadi gimana?" tanya Gerlang lagi


"Ger, jujur gue belum punya perasaan apa apa sama Lo, tapi gue mau coba untuk memulai dan berusaha buat cinta sama Lo"


Gerlang tersenyum walau ada kalimat yang sedikit mengecewakan dirinya.


Semua bertepuk ria karena akhirnya akan ada couple baru di sekolah itu.


"Akhirnya kamu menemukan cinta kamu ya Ma, Aku ikut seneng melihat kamu tersenyum kayak gini"