
Nyatanya kehidupan itu sifatnya berputar, kebahagiaan seseorang hanyalah sementara. Benar saja, baru dua bulan Arima merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, dirinya sudah harus merasakan pahit lagi.
“Kamu harus sering kontrol ya Arima, jangan penyakit akan menguasai tubuh kamu” ujar sang dokter yang ada di hadapan Arima.
Akhir akhir ini memang Arima sering mengalami sakit kepala, dan itu bukan sakit kepala biasa pada umumnya.
“resikonya apa kalo misalkan Arima gak kontrol dok?” tanya Arima dengan gemetarn
“Arima, kamu lihat di ruang itu” ucap dokter, lalu menunjuk ke arah kamar mayat
“ada ribuan tangisan di ruang itu, apa kamu mau seseorang yang sayang sama kamu harus menangis untuk kepergian kamu” lanjut dokter itu
Arima menggeleng,”yaudah, Arima pamit ya dok”
Arima pun pergi dari ruang perawatan.
...
“kamu dimana Ar?” tanya Gerlang dari balik telpon
“lagi di jalan Ger, apa kita bisa ketemu hari ini?” tanya Arima
“bisa, yaudah kita ketemu di tempat biasa aja ya”
Setelah itu telpon mati dan mereka bertemu di taman Basteria, tidak jauh dari Arima berada.
“Ar, kenapa? Kan aku bisa kerumah kamu”
Namun Arima tidak menjawabnya, “Ar, apa aku ada salah?”
Dan Arima ternyata sudah meneteskan air mata, “a-aku mau putus”
Pernyataan itu membuat Gerlang terkejut, dan menatap dalam mata Arima. Lalu mencari kebohongan, namun nyatanya tidak ada. Apa benar Arima sudah bosan dengan hubungan mereka?
“Ar, kalo aku ada salah, aku minta maaf. Tapi tolong, tolong banget jangan putus, aku gak mau” gumam Gerlang
“Untuk kali ini kamu yang harus ikutin aku” jelas Arima
Arima ingin beranjak pergi, tetapi tangannya di cegah oleh Gerlang, “kasih aku kejelasan kenapa kamu mau putus? Jawab Ar, kenapa? Kamu bosen?!”
“Iya, aku bosen, aku bosen Gerlang!”
Gerlang tidak percaya Arima akan sungguh mengatakan hal itu.
“Oh oke, kamu mau putus kan, yaudah kita putus” Gerlang pergi, Arima msih di posis yang sama.
“Gak Ger, justru aku semakin sayang sama kamu, tapi untuk kali ini aku harus egois”
...
“pagi zeyeng ku Arima!” Sapa Viana saat datang dan langsung menuju ke mejanya, lalu di susul oleh Reilana.
“Ar, tumben Lo pake masker” ujar Reilana
“lo sakit Ar?” tambah Viana
“Gak, gue cuman lagi gak mau kena debu aja kok” jawab Arima bohong
“Hari ini ada ulangan , Lo pada udah belajar?” tanya Viana
“Arima!!” seru Pras dari arah luar kelas
“Heh! Lo gak tau aturan ya, ini kelas bukan panggung, teriak teriak aja Lo!” seru Viana
“Sayang jangan marah dulu ya, bentar aku mau ngomong dulu sama temen kamu ini” Jelas Pras
“Kenapa?” tanya Arima sadar jika dirinya yang di maksud
“Lo yang kenapa njir? Tiba tiba putusin temen gue, udah mana alasannya bosan lagi, stres Lo!” Seru Pras
Kali ini terlihat jika Pras sangat kesal kepada Arima.
“apa?! Lo putus dari Gerlang?”
“iya”
“kenapa Ar, Lo ada masalah sama dia?” tanya Reilana
“gak, gue cuman bosen” Viana dan Reilana melotot tidak percaya.
“dan Rei, Lo balik gih ke Gerlang. Masih cocok kok” ujar Arima lagi
“maksud Lo?”
“gue bener kan Rei, Lo emang masih cocok sama Gerlang, dan gue ini penghalang, jadi gak ada salahnya kalo Lo balikan lagi sama dia” jelas Arima
Sebenarnya Reilana sudah cukup kesal dengan tingkah Arima yang berubah, sedangkan Viana hanya diam memandang tidak percaya, Viana seperti melihat diri lain di Arima.
“Ar, jangan kek gini. Lo kenapa? Cerita sama kita” tanya Viana dengan tenang
“gue gak papa, gue mau ke toilet”
...
Arima berbohong soal dirinya akan ke toilet, dia lebih memilih berada di rumah pitung. Biasanya tempat itu selalu digunakan oleh siswa/siswi saat istirahat.
“Jelek Lo kalo nangis”
Arima menatapnya dengan mata yang masih sembab, kemudian menghapus air matanya perlahan.
“Gue, Rifqi Ardita. Anak dari dokter yang kemarin periksa Lo” jelasnya, Arima terkejut dengan ucapan Rifqi.
“Tunggu, bukannya Lo sekolah di Bogor, kenapa bisa ada di Jakarta?” Tanya Arima
“Di suruh bunda gue buat jagain Lo, soalnya dia tau Lo bandel dan bakal telat cek up nantinya”ujar Rifqi
“gak perlu, gue udah gede kalo. Tanpa Lo jagain juga gue bisa sendiri” sahut Arima
“Dih? Gak salah tuh, baru aja tadi gue liat Lo putusin cowok Lo itu karena bosen, padahal aslinya Lo sakit, terus baru aja Lo nangis” seru Rifqi
“berisik, itu bukan urusan Lo ya”
“jelas urusan gue dong, kan gue di suruh bunda. Lagi Lo tuh udah kayak di drama aja si segala pura pura bosen gitu”
“bisa gak, kalo Lo emang mau jagain gue, gak usah Lo bikin gue kicep”
Rifqi terkekeh, “iya iya, yaudah Lo laper gak, makan yuk gue yang traktir, udah ayok!”