
Setelah melewati hari pendaftaran, kini Arima sudah menjadi murid SMA Fregas.
SMA Fregas adalah sekolah yang cukup terkenal, prestasi setiap muridnya tidak dapat diragukan lagi. Sebenarnya Arima merasa tidak pantas bersekolah disana, tetapi dirinya juga ingin masa depannya tercapai. Rumor yang beredar, SMA Fregas itu bisa menyalurkan murid muridnya ke luar negeri untuk lanjut dalam dunia pendidikan.
Jelas, siapa yang tidak mau?
“kamu yakin berangkat sendiri?” tanya Qia yang sedang menyiapkan roti selai strawberry kesukaan Arima.
“Yakin”
“Yaudah, nanti kalo semisal ada apa apa langsung kabarin ibu ya”
Arima hanya mengangguk, kemudian memakai roti selai itu. Dan setelah selesai, dirinya menuju ke depan rumah, karena ojol pesanannya sudah datang. Arima pamit, lalu meninggalkan Qia dengan Rhea.
--
“Gede banget nih sekolah” gumam Arima monolog.
Dirinya melihat sekeliling sekolah, gedung nya berlantai tiga. Lapangannya juga sangat luas, mungkin menyesuaikan jumlah murid yang diterima. Arima pun menuju ke kelas yang sudah di infokan lewat group kelasnya.
Lagi lagi mata nya sangat berbinar melihat ruang kelas yang akan ditempati, sangat rapi tertata dengan tiga meja. Di kelas itu juga dilengkapi oleh pendingin ruangan, dan ternyata setiap meja sudah bertuliskan nama masing masing. Arima dengan segera mencari nama nya, dan ketemu. Dirinya juga penasaran dengan siapa yang ada di sebelahnya.
“Viana Gareswara?”
“Hai!”
Arima terkejut dan menoleh ke suara itu, perempuan itu pun terkekeh melihat Arima. “Lo.. owh Arima Qia Dewaga. Salam kenal, gue nama yang tadi Lo sebut” perempuan itu menjulurkan tangannya.
Arima pun membalas juluran tangan itu “salam kenal juga Vin”
“Sebelahnya lagi Lo tau siapa?” tanya Arima penasaran
Karena jika bangku tiga orang itu diisi oleh tiga orang, maka siapa lagi satu orangnya. Viana yang juga tidak tahu hanya menggedikkan bahunya.
“Gue, Reilana Ezky Zora”
Perempuan yang mempunyai paras cantik, namun terlihat judes bagi siapa saja yang pertama kali melihatnya.
“Gue Arima”
“Gue Viana”
Balas Arima dan Viana bergantian.
Dari perkenalan itu mereka bertiga menjadi teman sekelas, teman ke kantin, teman ke kamar mandi dan lain lain lainnya yang biasanya tidak bisa perempuan lakukan sendiri.
--
“Kalian udah apal sama temen sekelas yang lain?” tanya Arima membuka obrolan, karena sedari tadi Viana dan Reilana hanya fokus pada handphone masing-masing.
“Belom sih, baru beberapa doang” ucap Viana.
“Lo Rein?”
Perempuan itu menoleh dengan wajah datarnya “Gue kenal kalian udah cukup, yang lain gak minat”
“Buset, ini kelas dah pake AC, ngeliat sikap Lo berasa kek lagi kutub gue” ujar Viana sarkas.
Sedangkan Reilana tidak memperdulikan hal itu.
“Dari kemarin kita belom kenalan nih, kenalin gue Pras” ujar laki laki itu dari arah samping, badannya lumayan tinggi, dia pun tersenyum smirk ke arah Viana.
“Pras apa? Prasmanan?” kini Arima yang bertanya dengan sarkas, Vina yang mendengar itu tertawa kecil.
“Gue ganteng gini dibilang prasmanan, parah Lo.” Lelaki itu tidak terima
“Iya terus apa? Lo sih gak jelas kenalannya, wajar dong kalo temen gue ngira nama Lo itu prasmanan.” Ujar Viana mencoba membela Arima.
“Praswara Argantaro, gimana?” ternyata lelaki itu adalah Praswara.
“Lo hobi banget ya ngomong setengah setengah kek gitu?” Viana sangat geram melihat tingkah Pras “Gimana apanya maksud Lo?”
Lelaki dengan badan tinggi dan juga berbidang itu terkekeh “gimana kalo Lo jadi pacar gue?”
Viana yang mendengar itu langsung menganga, tidak percaya jika baru seminggu sekolah sudan ada yang mengajaknya pacaran. “Kalo gue gak mau, Lo bisa apa?”
“Gue kan gak ngasih Lo option buat milih, gue bilang gimana kalo Lo jadi pacar gue. Bukan Lo mau gak jadi pacar gue, jadi ya mau gak mau Lo jadi pacar gue sekarang.” Jelas Pras tidak mau kalah.
“Wihh Vi, keren banget Lo bisa dapet pacar, padahal kita aja baru seminggu sekolah.” Goda Arima.
“Ck, diem Lo. Malu gue.”
“Alah.. Malu tapi mau kan” tambah Arima lagi.
--
“Gimana sama sekolah kamu Kak?” tanya Qia sembari menyantap makanannya, memang semenjak Arima tinggal di rumah itu lagi, Qia memilih untuk memanggil dengan sebutan kak. Arima tentu tidak masalah dengan hal itu.
“Ima udah kenal beberapa sama teman teman di kelas.” Sahut Arima dengan posisi memotong steak. “Rhe, malam ini kamu tidur di kamar kakak aja ya” tiba tiba entah kenapa Arima ingin sekali tidur berdua dengan adik kecilnya itu.
Disisi lain, Qia hanya memandangi kedua anaknya itu.
“Kakak kurang satu guling.”
“Ih, jadi aku cuman di jadiin guling gitu? Ga mau ah kalo gitu.” Rhea berdecak kesal.
Arima dan Qia terkekeh kecil melihat tingkah Rhea. “Yaelah canda mbul, gitu aj baper.”
“Bodo amat wlee, aku ga mau tidur sama kakak.”
Ini adalah hal yang paling ditunggu oleh Qia, suasana seperti inilah yang dia rindukan. Putri pertamanya dulu sempat membenci Rhea, dengan alasan kasih sayang berbeda.
Namun Qia tahu, putri nya itu tidak pernah benar benar membenci kepada adiknya. Hal itu bukan tanpa alasan, karena Qia tau, jika Rhea sakit, Arima lah yang selalu merasa bersalah. Jika Rhea terluka, Arima lah yang menangis.
Arima tau kelemahannya sekarang adalah Rhea, air mata nya adalah Rhea, hidupnya juga tentang Rhea.
Tanpa tersadar air mata Qia telah membasahi pipinya itu.
“Ibu kenapa?” tanya Rhea khawatir yang ternyata melihat Qia, Qia pun segera menghapus air mata itu dan menggelengkan kepala, lalu tersenyum kecil yang sangat penuh arti.
Qia juga mengusap kepala kedua putrinya itu “Ibu seneng banget bisa liat kakak sama adek bareng bareng gini, semoga ini bukan terakhir ya. Maaf ibu udah bikin kalian jadi berpisah, ibu tau kakak sama adek pasti sering ngerasa kangen satu sama lain. Tapi kalian gak mau buat ibu repot, makasih ya.. udah memberi kesempatan untuk menjadi ibu kalian, sekali lagi ibu minta maaf, maaf in ibu ya kak.. dek..” ujar Qia lirih, dirinya pun memeluk kedua putrinya dengan hangat, air mata Arima juga telah menetes.
Dirinya begitu merindukan pelukan ini, sangat hangat, kasih sayang nya yang tidak bisa dibalas, sangat Arima rindukan.
--
“Yaampun Arima! Mata Lo kenapa bengkak gini?!” seru Viana heboh saat melihat mata milik Arima yang bengkak, sebab menangis tadi malam.
“Gapapa kok Vin, ini tuh gue abis curhat sama my sister.” Sahut Arima lalu tersenyum.
Viana ber oh ria saat mendengar jawaban Arima, “yaudah yuk masuk, Rei kayaknya udah di dalem deh” ajak Viana yang langsung menarik tangan Arima.
Dugaan Viana ternyata salah, Reilana belum ada di bangkunya. Tetapi tidak lama kemudian yang ditunggu akhirnya datang juga.
Penampilan Reilana dengan wajah yang judes sering salah diartikan oleh siapa saja yang tidak mengenalnya, walaupun seperti itu Reilana merupakan perempuan dengan gelar Beauty Queen. Dari julukan itu, banyak sekali yang tertarik dengan dirinya. Dibalik semua pujian tentu akan ada yang namanya iri, salah satu nya geng tutup botol, mereka tidak suka dengan Reilana karena rata rata crush mereka tertarik dengan Reilana.
“Wih, ada cewe centil nih” sindir Juli, ketua dari geng tutup botol.
“Hahaha, pasti pake pelet tuh” tambah Risa, yang merupakan anggotanya.
Reilana hanya diam, tapi lain hal nya dengan Arima yang geram melihat temannya di sindir seperti itu, tangannya sudah gatel buat beri satu tonjolkan ke mulut cabe cabe itu.
“Heh Julianto! Lo bilang apa tadi?! Centil.. heii! Gak ngaca ya mbanya, oh atau gak punya kaca?! Kalo iya bilang ya ntar gue kasih, kebetulan gue banyak kaca. Gue mah baik, jadi gue mau dermawan dengan membagi kaca ke Lo!!”
“Lo punya kaca banyak biar Lo sadar diri ya? Pantes sih, orang jelek kayak Lo jadi harus lebih banyak sadar diri.” Balas Juli menyindir balik.
“Gapapa dong sadar diri, dari pada Lo gak tau diri! udah di tolak sana sini, segala menjual harga diri dengan murah lagi, tapi apa hasilnya di tolak. Hahaha gue sih ya, malu kalo kayak gitu”
Skakmat
Kepalan tangan Juli hampir mendarat di pipi Arima, namun ada satu tangan yang berhasil mencegah itu.
“Lepas!!”
“Kalo Lo berani nonjok pacar gue, gue bakal lakuin hal yang sama ke Lo.” Ujarnya, lalu melepaskan cegahan tangan itu. Juli dan geng nya pun meninggalkan kelasnya.
“Lo gapapa?” tanyanya melihat Arima yang masih mencerna kalimat ‘pacar gue’. “Lo bisu?” Tanyanya lagi.
“Se-sejak kapan kita pacaran? Gue kenal Lo aja gak.” Sahut Arima dengan terbata bata
“Gerlang, Gerlang Nicolas.. nama gue itu, jadi udah seharusnya Lo kenal sama pacar Lo sendiri.” Tegas Gerlang
“Gak! Gue gak pernah ngerasa kalo punya pacar kek Lo, jadi Lo stop bilang kalo Lo pacar gue ya.” Bantah Arima dengan lebih tegas dari Gerlang, mana bisa cowok yang ada dihadapannya ini tiba tiba menjadi pacarnya.
Tapi bukannya menjawab, dirinya malah menuju ke bangku untuk duduk.
“Ger! Gue gak mau jadi pacar Lo! Lo budeg ya.. atau Lo bis-“
Satu jari mendarat di bibir Arima, “seterah, tapi gue pacar Lo” setelah mengatakan itu Gerlang tersenyum ke arah Arima “lo kalo marah ternyata cantik juga ya”
“Ck, gak mempan sama gombalan murah Lo.” Arima berdecak kesal, lalu menuju ke bangku nya. “heran gue sama kelas ini, demen banget maksa orang jadi cewe nya. Aghh gue gak mau punya pacar, kecuali cowo itu El.” Ujar Arima kepada dirinya sendiri.
“Arima.. Lo gapapa?” tanya Viana yang sudah ada sampingnya.
“Hm, gapapa.”
“Makasih.” Satu kalimat itu keluar dari mulut Reilana “makasih karena Lo udah belain gue ”
Arima pun tersenyum, “no problem, kita kan temen. Udah seharusnya melakukan hal kayak tadi, lain kali kalo Lo di bilang kayak gitu lagi lawan aja ya Rei.” Reilana hanya mengangguk.
“Lo beneran pacaran sama Gerlang?” pertanyaan dari Viana yang sama sekali tidak Arima harapkan terlontar, justru sebaliknya.
“Lo sendiri gimana? Sama Pras?”
“Ih ga ya, gue gak pacaran sama dia.” Viana langsung mengelak.
“Nah yaudah sama kek gue berarti.”