
“Pagi!” sapa Rifqi yang terlihat siap untuk menjalani hari di sekolah, lain halnya dengan Arima, dirinya tidak bersemangat. Tidak lain alasannya adalah karena harus berpura pura kembali.
“gue pengen izin deh kayaknya” ujar Arima dengan nada pelan
“kenapa? Lo sakit? Apanya yang sakit?” Rifqi begitu sigap dengan langsung mengecek kondisi Arima.
“Gue gak kenapa napa, cuman males aja kalo harus pura pura di sekolah. Lo tau kan gue benci situasi kayak gitu” jelas Arima
Rifqi menghela nafas kasar, “Ar, dengerin gue, kalo emang Lo benci terus kenapa Lo buat situasi yang kayak gini? Lo gak harus pura pura, mereka berhak tau juga kan dan ya terlebih kalo Lo kayak gini terus mereka yang mikirnya Lo itu egois”
“Gue bingung, gue gak pengen mereka khawatir tapi gue juga kangen temen temen gue” gumam Arima yang tanpa sadar air matanya mulai menetes
“Udah, udah berangkat sekolah aja ya, Lo tau gak hari ini gue resmi pindah kelas Lo, jadi jangan sampai deh hari pertama gue gak ada temen” ucap Rifqi
“apa?! Lo pindah kelas gue?” Seru Arima tidak percaya
Dengan santainya Rifqi mengangguk dan tersenyum lebar, di sisi lain Arima kembali jengkel dengan perbuatan Rifqi.
...
Seperti yang dikatakan oleh Rifqi tadi pagi, dia benar benar pindah ke kelas Arima. Saat jam p pelajaran pertama, Bu Dian, wali kelas dari kelas yang di tempati Arima memperkenalkan Rifqi di depan teman teman kelasnya yang lain.
“Perkenalkan, nama gue Rifqi Ardita. Pindahan dari Bogor, sebenarnya gue udah dua hari si di sekolah ini, cuman bukan di kelas ini melainkan kelas sebelah. Jadi, gue harap gue bisa berteman sama kalian semua” ujar Rifqi dengan percaya diri
Rifqi tersenyum saat melihat wajah yang di tampilkan Arima saat dirinya sedang memperkenalkan dirinya yang bagi Arima menjengkelkan .
“yasudah, kamu duduk di samping Gerlang ya Rifqi” pinta Bu Dian
Rifqi berjalan menuju ke arah bangkunya, tepat sekali. Bangku Gerlang memang tidak jauh dari bangku yang di tempati Arima, sangat cocok untuk Arima tetap dalam pengawasannya.
“Gerlang!” seru Gerlang saat Rifqi sudah duduk
Rifqi tersenyum, “Rifqi”
Jam istirahat pun berbunyi, perut Arima yang memang sudah didemo oleh cacing segera menuju ke kantin, namun dengan cepat Rifqi menarik tangan Arima.
“Lo mau ninggalin gue?”
“Lepas, Lo kan punya kaki. Seharusnya bisa susul gue kan!” seru Arima, Arima Menag tidak suka tangannya di sentuh oleh orang baru.
“gue gak mau ribut, Lo pasti laper kan, udah ayo kantin” Rifqi mengalah untuk menahan egonya, karena ini bukan waktunya untuk marah.
Saat Arima dan Rifqi sudah menuju kantin, Gerlang melihat kejadian tadi. Apa mungkin Arima secepat itu melupakannya?
“lo liat kan, cewek yang sekarang mantan Lo itu malah jalan sama cowok lain yang seharusnya dia gak lakuin sekarang” kompor Pras yang juga melihatnya
“Pras!! Stop untuk jelekkin Arima, mungkin Rifqi itu teman kecilnya dia, lagi gak ada salah dong Arima mau jalan sama siapa aja” sahut Viana
“Vi, Lo sadar gak si, Arima itu jelas salah lah. Mereka baru putus, terkecuali kalo udah lebih dari sebulan, ini aja masih dua hari” Reilana bersuara, dia geram karena Viana selalu membela Arima.
“Lo gak ngaca Rei? Lo aja begitu kan, bedanya kalo Lo gak ada hubungan!” seru Viana tidak mau kalah
“lo kenapa si Vi? Kenapa jadi bahas gue? Jelas jelas kita lagi bahas Arima kan, Lo gak bisa dong bela dia terus kayak gini” ujar Reilana yang merasa dirinya terpojok
Viana terkekeh remeh, “seharusnya Arima gak terima Lo jadi teman dia lagi, kalo Lo emang temen yang setia, lo bakal tau dia yang sekarang itu pasti bukan dirinya. Oh atau jangan jangan Lo masih suka sama Gerlang ya Rei?!”
“stop ya Vi! Lo kelewatan nuduh gue kayak gini”
“kalo itu sebuah fakta gimana? Bener kan yang gue bilang tadi?”
“kok kalian si yang jadinya berantem?” tanya Pras sembari menenangkan keadaan
“gak usah sok peduli sama gue Pras, urusin temen Lo yang di mata Lo selalu benar” ujar Viana kemudian meninggalkan kelas.
“brengsek, ini gara gara Arima gue jadi di giniin sama Viana. Awas Lo Ar!” ancam Pras.
“Please Ar, jangan diemin gue kayak gini, gue tau Lo lagi ada masalah, cerita sama gue Ar”
Arima melepaskan pelukan mereka dan menghapus air mata Viana, “gue akan cerita, tapi gak di sini ya Vi”
“Yaudah, nanti gue ke rumah Lo aja ya pas pulang” dan Arima membalas dengan anggukan
...
“kenapa Lo sembunyiin si Ar? Kenapa?” tanya Viana dengan terisak, Arima sudah menceritakan semuanya dengan lengkap
“Huft, gini Vi Lo tau gak si, gue udah paksa dia untuk cerita tapi katanya dia gak mau buat kalian jadi ketambahan beban” sahut Rifqi
“ya Lo juga sama ya, kenapa bukan Lo aja yang cerita?!” seru Viana
Rifqi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “buset, serba salah gue dah”
“Denger ya Ar, pokoknya kalo Lo butuh sesuatu bilang aja ya Ar sama gue kalo gak Rifqi” ujar Viana
“Vi, jangan memperlakukan gue kayak udah sekarat aja deh, gue kan masih bisa sendiri sekarang” balas Arima
“iya si, tapi tetep aja, please ya Ar. Jangan anggap gue gak berguna jadi temen Lo”ucap Viana dengan menekuk wajahnya
“iya Viana”
Pintu kamar terketuk, Arima segera membukanya dan menampilkan sang omah di depan.
“ada apa omah?”
“itu dibawah ada yang kirim makanan, kamu pesan?” tanya omah
Arima membalikkan badan, Viana dan Rifqi yang mengerti kemudian menggelengkan kepala, “gak ada omah, mungkin Rhea kali”
“Gak, tadi omah udah tanya. Yaudah kamu temuin dulu gih tanya sama abangnya”
Arima segera ke bawah, di susul oleh Rifqi dan Viana.
“maaf bang, saya gak ada pesan apapun”
“Tapi ini atas nama mba Arima, dan alamatnya juga di rumah ini kok mba” jelas Abang kurirnya
“Eh yaudah bang, ini udah lunas kan ya,sini saya ambil. Makasih ya bang!” Seru Rifqi yang mengambil kantung kresek merah
Dan abang kurirnya pun pergi.
“kenapa Lo ambil si?” tanya Arima heran
“mubazir tau gak” jawab Rifqi
“ya tapi kalo itu ada yang iseng gimana?” tanya Arima lagi
“gak Ar, udah deh tinggal makan doang ini kok” ujar Rifqi santai
“memang gak ada nama pengirimnya?” tanya Viana
“Gak ada si ini, udah ah makan aja yuk. Lagi keliatannya enak kok ini” ucap Rifqi menerawang
“keliatannya juga masih baru kok makanannya” tambah Viana
“Yaudah, yaudah makan aja deh. Gue juga laper” sahut Arima
Rifqi dan Viana terkekeh, benar memang jika perut Arima sudah berbunyi sedari tadi tetapi dia tidak mau termakan oleh hawa laparnya dengan makanan tanpa nama pengirim.