
Hari besok yang sebenarnya sangat membuat Arima tidak ingin masuk ke sekolah, sebab pasti dirinya akan bertemu dengan Gerlang.
"Arima?" sapa seseorang dari bawah tangga, ternyata itu Viana dan disebelahnya ada Reilana.
"gue kira hari ini Lo gak mau masuk"
"tadinya, tapi takut ketinggalan pelajaran gue"
"hai pacar!" seru suara dari atas, itu suara Pras yang sudah sedari menunggu Viana.
"semalem gue mimpi apa si Ar, pagi pagi gini udah ketemu kadal kek dia" ucap Viana.
Arima hanya tersenyum sembari mencari seseorang, entah kenapa dirinya mencari orang itu?
Saat kakinya sudah berpijak ke lantai atas, tiba-tiba ada suara di telinganya, "cari gue ya?"
Arima terkejut, ternyata benar, sosok yang sedari tadi dirinya cari.
"geer Lo"
"kenapa si gengsi Lo itu gede banget, hm?" tanya Gerlang sembari mengikuti langkah Arima
"stop, Lo ngapain coba ngikutin gue?" tanya Arima yang sudah mulai jengkel
"Kan kelas kita sama,jadi wajar dong" balas Gerlang santai
"iya tau, tapi Lo kan bisa jaga jarak sedikit"
"ga ah, ntar pacar gue ilang"
"ihh, Lo tuh kenapa si? Berobat Lo Sono gih, denger ya, gue sama Lo itu gak pacaran, paham?"
Bukannya takut atas gertakan dari Arima, justru Gerlang tersenyum kecil, "lucu banget si Lo kalo lagi marah"
"stres!"
...
Jam istirahat adalah jam yang paling dinanti, karena bisa untuk mengisi kekosongan perut.
Di tengah tengah, sedang terlihat Arima dan kedua teman bangku menikmati makanan itu tiba tiba suara mikrofon dari arah koridor berbunyi.
"perhatian, atas nama Arima segera menuju ke ruang guru! Sekali lagi atas nama Arima segera menuju ke ruang guru, terima kasih"
"Lo di panggil Ar" ucap Viana
"bisa aja itu Arima yang lain" sahut Reilana
"gak mungkin, Arima ya cuman temen kita doang ini" jelas Viana
"yaudah, gue keruang guru bentar ya"
"mau kita temenin?" tanya Reilana
"gak usah Rei, gue bisa sendiri kok"
"oke"
Arima segera menuju ke ruang guru, ternyata di depan kantin sudah ada Gerlang yang menunggunya.
"biar gue temenin ya" ucap Gerlang, namun wajahnya tidak seperti sedang ingin bercanda
Mereka berdua telah sampai, dan Arima masuk ke ruang guru itu, sedangkan Gerlang menunggu di depan.
"ada apa ya Bu, kenapa saya di panggil ke sini?" tanya Arima yang ikut cemas saat memandangi wajah guru guru di ruang itu.
"Arima harus kuat ya, Arima harus bisa nerima semuanya"
"maksudnya Bu? Arima gak paham"
"ibu kamu, Ar"
"ibu? Ibu kenapa pak?"
"pak, Bu kalo becanda jangan bawa bawa kematian doang"
"kami tidak bercanda Arima, kami benar mendapatkan informasi seperti itu"
"gak, gak mungkin"
"oleh sebab itu, kamu akan kami izinkan untuk pulang. Sabar ya nak"
Arima segera berlari keluar dan Gerlang yang masih setia menunggu di depan langsung memeluk Arima.
"Ibu, Ger, Ibu gue.." ucap Arima yang makin terisak
"iya, aku udah tau duluan Ar, mangkanya aku ikut kamu. Kita pulang ya, aku temenin"
...
"ibu jahat! Aku udah mau tinggal sama ibu, tapi ibu yang malah tinggalin aku, bangun Bu Arima butuh ibu"
"Kak?"
"Rhe, Rhe bilang sama ibu, bilang buat bangun Rhe, ibu sayang sama kamu pasti dia nurut Rhe, bangunin ibu buat kakak"
"udah kak, udah.. Ibu udah gak sakit lagi, biarin ibu tenang ya"
"gak Rhe, kakak gak mau"
Pelukan kakak adik itu saling menguatkan, dan pandangan Arima langsung tertuju ke arah lelaki tua.
"brengsek, Lo brengsek tau ga!"
"Arima, sudah nak. Kamu tidak boleh seperti itu"
"biarin untuk hari ini Arima marah Omah, Arima benci laki laki tua ini, Arima benci! Kalo aja Ibu gak kerja buat nafkahin dia yang bisanya cuman berjudi, pasti ibu gak akan pernah sakit, gak akan!" seru Arima
"dan Lo bang, Lo kenapa gak bisa jagain ibu gue? Kenapa?! Setidaknya kalo Lo gak bisa jagain gue, jaga ibu gue bang, jagain! Dia yang udah buat Lo jadi seperti sekarang, tanpa ibu gue Lo cuman gelandangan!" tambah Arima
"kakak udah, udah kak, jangan pukul ayah sama Abang"
Arima pun lemas, pandangannya juga kabur, dan dia jatuh pingsan.
...
Saat Arima pingsan, jenazah sudah di kuburkan. Memang sengaja dikuburkan tanpa Arima melihat, karena tidak ingin Arima semakin histeris.
"Ger, Lo balik ke sekolah gih. Lo harus belajar sama yang lain" ucap Arima saat melihat Gerlang yang masih ada di sampingnya
"gue udah izin kok Ar, nanti pulang sekolah temen temen Lo juga bakal datang" jawab Gerlang
"Ger, gue punya dosa apa si? kenapa setiap kebahagian muncul, selalu sementara kayak gini? Gue baru merasakan hangatnya pelukan ibu gue, Tuhan malah ambil itu dari gue Ger, gue cape, tapi gue hidup untuk menjalani itu" tanya Arima yang tatapannya semakin sendu
"Lo itu kuat Ar, mangkanya Tuhan kirim semua buat Lo. Gue janji Ar, bakal sama Lo terus" balas Gerlang
Arima menatap mata Gerlang, "jangan janji sama gue Ger, dulu ada juga yang janji kayak gitu tapi dia sekarang gak hadir di sini"
"iya, sini peluk gue"
Arima pun memeluk tubuh Gerlang, entah kenapa rasanya nyaman sekali pelukan itu.
...
"Ar, gue turut berduka cita ya" ucap Viana
"Iya Ar, gue juga" lanjut Reilana
"makasih ya, kalian udah mau dateng ke sini"
"pasti lah, kita kan sekarang udah jadi friend forever" seru Viana
"iya deh"