ARIMA

ARIMA
Bg 11



Sebulan sudah hubungan Arima dan Gerlang merenggang, begitu pun dengan pertemanan Arima dan Reilana. Tetapi bagaimanapun, Arima tidak menyerah untuk memperbaiki pertemanannya itu.


"Ar, udah sebulan, Lo gak cape?" tanya Viana


"untuk sekarang si belum ya, tapi gak tau nanti" jawab Arima, lalu tersenyum tipis.


Sebenarnya Arima sudah sangat lelah, tetapi hubungan temannya belum juga membaik.


"Ar, kebahagian Lo juga penting, please udah ya jangan di paksa. Gue gak apa apa kok kalo kita berdua doang begini" jelas Viana


"kalo kebahagiaan gue adalah Lo dan Rei, gimana? Vi, Lo tau gak, gue tuh kangen banget pas awal awal kita ketemu dan di situ pertama kalinya gue ngerasa seneng banget bisa punya temen sekaligus seperti Lo dan Rei. Jadinya, gue pengen banget kita kayak dulu lagi. Apapun bakal gue lakuin kok demi kita bisa kumpul lagi, percaya gue ya Vi" ujar Arima, entahlah terbuat dari apa sosok manusia seperti Arima ini.


...


"Rei!"


Pemilik nama itu tidak kunjung berhenti, hingga akhirnya tangannya berhasil di raih.


"Rei, Lo kenapa si? Udah sebulan Lo jauhi Arima, Lo gak cape? Lo gak pengen kita kumpul lagi? Dan apa Lo gak kasian sama Arima, Rei?" beribu pertanyaan di lontarkan


Reilana terdiam dan menatap matanya, "Lo pikir Arima doang yang cape? Gue juga Vi, gue lebih cape. Tau apa Lo tentang gue, yang Lo tau kan cuman Arima, Arima dan Arima, sedangkan gue? gak ada satu pun Lo tau tentang gue"


"apaan si Rei? Lo kalo ada masalah Lo bisa cerita, ya gimana gue sama Arima tau kalo Lo ada masalah, sedangkan Lo aja gak pernah cerita. Terus, Lo bilang Lo cape, Rei? Lo sadar gak si, Lo salahkan Arima untuk kesalahan yang gak pernah dia buat. Dia bahkan gak tau kalo Lo mantannya Gerlang, dia gak tau kalo di paksa untuk jadi model sama mama Lo itu. Gue gak sesabar Arima Rei, tapi gue mau kasih tau Lo satu hal, Lo rugi kalo Lo tetep jauhi temen sebaik Arima, Lo lupa kalo Lo yang selalu dia bela kalo Lo lagi labrak, sadar Rei, sadar akan hal itu!" tegas Viana, setelah itu dirinya pergi


"apa gue udah sejauh ini sama Lo dan Arima, Vi? Gue pengen pulang, pulang ke temen temen gue. Tapi, gue takut kalo kalian gak terima gue"


...


"apus air mata Lo" ujar seseorang di sampingnya yang baru saja datang dengan memberikan beberapa lembar tisu


"ngapain Lo di sini?"


"Rei, Lo emang cinta pertama gue. Tapi, Arima cinta terakhir gue, apa salah kalo gue bersama sama dia?"


suasana mulai serius dan hening.


"maaf Lang, karena gue Lo harus putus dari Arima"


"gue udah maafin Lo, tapi Rei, balik ke Arima sebagai teman. Gue emang lagi putus dari Arima, tapi gue gak bisa liat dia selalu sedih, hati gue yang sakit. Tolong ya Rei" pinta Gerlang memohon


Reilana mengangguk, "akan gue coba"


...


Selama sebulan yang berlalu, Arima sebenarnya sangat kesepian. Tentu tanpa kabar dari Gerlang, Jiano yang kini juga sedang sibuk menjadi jarang untuk datang ke rumah Arima.


"hei?"


"Jian!" Arima langsung memeluk sosok di depannya itu


"Lo sibuk ya, kok jarang ke rumah?" lanjut Arima bertanya


"maaf ya cantik, oh iya, gue bawa seblak buat Lo. Dimakan ya" Jian tidak menjawab pertanyaan Arima


"Jian, gue gak butuh seblak, gue butuhnya Lo" gumam Arima


Kini mata Arima dan Jian saling menatap satu sama lain.


"mata Lo indah kalo di lihat dari dekat, gue sayang Lo, dan gue harap itu selalu, Ima"


"Jian, kok malah diem si"


Lamunan Jiano bubar, "e-eh udah di makan dulu seblaknya"


"yaudah, bentar gue ambil mangkok dulu ya"


Arima menuju ke dapur dan Jiano menunggu di kamar Arima.


"El, cewe yang suka Lo sekarang udah bisa buat hati gue bener bener gak bisa lepas dari dia, tapi, sekarang gue gak bisa sesering itu nemenin dia untuk sekarang. Mending Lo balik El, tepati janji Lo ke dia. Jadiin dia pacar Lo, biar gue tenang"


...


Arima dan Viana sedang menikmati minuman kesukaan mereka berdua, tiba tiba ada seseorang yang datang ke meja mereka.


Arima tersenyum lebar, "boleh banget Rei, duduk sini"


"maaf, maafin gue Ar" kalimat itu yang di ucapkannya saat sudah duduk


"Rei, gue yang seharusnya minta maaf. Maaf ya Rei, ternyata sesakit itu" ujar Arima


"jadi, kita sekarang udah lengkap lagi dong!" seru Viana


"iya dong, kan udah ada Rei" lanjut Arima bersemangat


Reilana tersenyum, ternyata memang benar, kebahagiaan dirinya ada di kedua temannya itu.


"Rei, gue kangen, peluk ya"


Sebelum Reilana menjawab, Arima sudah memeluk Reilana. Di susul oleh Viana.


"semoga kita selamanya kayak gini ya, Vi, Rei"


"ehm, semoga"


"iya Ar, semoga"


"gila, terharu banget gue liat pertemanan mereka balik" ujar Pras


Gerlang hanya tersenyum, dirinya lega melihat Arima tersenyum lagi dan yang pasti itu tidak palsu.


"oh iya, Ar ada satu lagi" gumam Rei


"apa?" tanya Arima


"balik sama Gerlang ya" permintaan itu membuat Arima senang dan sedih bercampur menjadi satu.


Arima kemudian menatap Gerlang yang tidak jauh dari mejanya, "gue pikir nanti ya Rei"


"Ar, gue udah selesai sama Gerlang. Lo tau, dia sayang sama Lo, gak ada yang harus di ragukan lagi, percaya sama gue" jelas Reilana


Kemudian Gerlang berjalan menuju meja Arima, "Ar, balik lagi ya, aku kangen kamu"


Arima tersenyum, lalu mengangguk, "iya Ger"


"waduh, ada yang balik nih!" seru Pras


Arima pun tersenyum untuk kedua kalinya dan senyum yang kali ini sedikit merasa salah tingkah.


"selalu tersenyum Ima, gue gak suka liat Lo sedih kayak kemarin"


...


"gue tepati janji gue kan, gue nyatanya bisa buat Arima senyum lagi"


"iya, gue liat dia senyum"


"Lo udah berapa lama gak ketemu dia, gak ada niatan buat ketemu?"


"untuk sekarang gak Ger, gue takut, gue takut Arima tau yang sebenarnya"


Gerlang mengangguk, "makasih ya, Lo percaya sama gue buat jaga cewe paling indah kayak Arima ke gue"


"sama sama, dan Lo harus inget. Dia tetep cewe gue, enak aja Lo cewe Lo, cewe Lo. Walaupun gue gak ada hubungan sama dia, tapi batin gue ke dia itu bener bener kuat" jelasnya


"percaya kok gue, saingan gue berat kalo Lo lawannya. Gue akan jagain yang katanya cewe Lo itu" gumam Gerlang


Dia tertawa kecil, "Arima tetep milik Lo Ger, tapi gak dengan Ima"


"Ima, lucu juga panggilan itu"


"kayak orangnya"


Keduanya lalu tersenyum.