
“Aghhh gue belom mau punya pacar!” seru Arima merengek, sebab kejadian di sekolah nya tadi membuat dirinya overthingking.
Mana mungkin cowo tadi tiba tiba mengajaknya pacaran, sedangkan belum mengenal. “Berasa di sinetron sinetron gue, tiba di cowok ngajak cewe pacaran, gamau pokoknya gamau.”
“kak..kak Ima kenapa sih? Dari tadi teriak teriak.” Ujar Rhea yang ada di depan pintu kamar Arima.
“Gapapa.” Arima hanya membalas singkat, jelas itu kebohongan. Raut wajah Arima sangat menunjukkan wajah sebaliknya.
“Oh iya kak, kotak yang isinya makanan gak kakak makan? Mubazir loh kak.” Gumam Rhea mendekat ke arah Arima yang sedang berbaring.
Arima sangat lupa dengan kotak itu, kemudian buru buru dirinya ambil. Ada selembar kertas surat yang sebelumnya sudah dia baca. Dan di bawahnya ada nomor telepon, surat itu bertuliskan ‘kamu itu seperti nafas, yang jika tiada aku tidak bisa hidup'
Segera dia masukan nomor tersebut ke handphonenya, satu menit kemudian telepon tersambung.
“Halo?”
Deg
Jantung Arima berdetak kencang mendengar suara dari balik handphonenya, suara berat itu. Suara yang dulu menjadi tempatnya pulang.
“Halo.. dengan siapa ya?”
“Ji...”
“Ima? Ini Lo?”
“Hm.”
“Akhirnya Lo telpon gue juga, kenapa hm?”
“El, gue kangen dia.”
Terdengar suara nafas kasar darinya, “Ima.. gue tau Lo belom sepenuhnya lupain cowo brengsek itu, tapi gue mohon banget tolong jangan sebutin nama nya kalo Lo lagi sama gue”
“Maaf, tapi Ji.. gue pengen ketemu El, apa udah gak bisa ya?”
“Lo tau Ma, satu kata yang mendeskripsikan Lo adalah kata bodoh. Gue udah bilang sama Lo kan kalo Elris itu jahat sama Lo!” Kalo ini nada bicaranya lebih keras dari biasanya.
“Gak, Ji. El tuh gak jahat, tapi gue yang terlalu mengharapkan ekspektasi tinggi sama dia, jadi dia gak pernah jahat Ji.”
“Serah.. gue muak Lo bahas cowo sialan itu terus.”
Tut Tut Tut..
Telpon terputus sepihak.
Flashback on
“Hahaha liat deh anak bodoh itu, selalu dapet peringkat terakhir tuh!”
“Iya ih, Bella mah gak mau jadi temen dia!”
“Cantik sih, tapi.. bego! Hahaha.”
Itu adalah ucapan mereka yang selalu diucapkan ketika Arima datang ke sekolah, sewaktu itu dirinya masih menginjak kelas empat. Arima selalu sendiri, karena tidak mau ada yang ingin berteman dengannya. Bukan lain alasannya adalah karena selalu mendapat peringkat terakhir di kelasnya.
Mereka semua tidak tau jika Arima melakukan itu untuk mendapat perhatian dari ibunya yang selalu sibuk dengan bekerja, tapi tetap saja bukan, tidak ada yang peduli jika ada yang tau sekalipun.
“Ima..” panggilan itu tidak dihiraukan, Arima tetap berjalan dengan kepala menunduk. Menahan kesal, marah dan sedih.
“Ima, plis berhenti.” Panggilan itu lagi, tapi kalo ini dengan tangan yang mencegah Arima. “Jangan nunduk, nanti mahkota Lo jatoh.”
Arima melihat suara itu, dia tersenyum manis. Badannya tinggi, hitam namun manis.
“Ada apa Jian?” tanya Arima, sentak melepaskan genggaman itu.
“Lo gapapa kan?” Jian malah bertanya balik ke Arima.
“Gue gak selemah itu, jadi stop nanya keadaan gue.” Sahut Arima lebih tegas.
“Tau kok, Lo emang cewe yang kuat. Tapi ga ada salahnya kalo Lo cerita.”
Arima menatap kembali Jian, tapi kali ini tatapan itu berbeda. “Jiano Ardian, gue bilang sekali lagi kalo gue gapapa, jadi stop Lo nanya keadaan gue lagi! Minggir!”
“Gak! Kalo Lo gapapa, terus ini apa? Luka ditangan Lo, Ima Lo ga bisa bohongin gue, Lo bahkan gak pandai buat berbohong. Apa ini ayah Lo yang lakuin? Ima jawab gue, pliss!!”
Arima mengangguk dan air matanya menetes, “kemarin.. gue udah bilang kalo ini sakit, tapi.. dia, dia malah nambahin cubitannya makin keras.” Ujar Arima dengan lirih.
Jian yang mendengar itu jelas sangat sakit, perempuan yang dia kenal kuat, kini menangis didepannya untuk pertama kalinya.
“Gue harus gimana ji? Gue harus apa biar gak di kasarrin mulu sama dia?!”
“Ayah lukain Lo lagi Ma?” tanya seseorang dari arah lain yang baru datang.
Bugh
Satu pukulan itu di dapat dari Jian untuknya, “lo bego banget si jadi Abang, kenapa adek Lo disakitin sama ayah Lo aja, Lo gak bisa cegah”
“Gue kemarin futsal, maaf gue gagal lagi jadi Abang buat Lo.”
“Gak bang, bang Ray gak salah.. kemarin emang Arima yang gamau ngepel lantai, mangkanya ayah marah sama Ima” jelas Arima lagi dengan lirih.
“Apus air mata Lo ya, udah.. kita sekarang ke kelas aja.” Ajak Jian yang menggandeng tangan Arima, dengan meninggalkan posisi Rqy yang merasa bersalah.
Sesampainya Arima dan Jian dikelas, semua tatapan tidak suka tertuju kearah Arima,
“Heh! Berani banget Lo jalan sama Jian!” seru Manda.
“Apaan si Man?!” Jian mencoba membela Arima.
“Lo diem dulu Ji, gue tanya sama Lo Arima! Lo pake pelet apa hah?! Woy!” Amanda semakin menjadi jadi, Jian lah yang justru tidak terima.
“Stop Man! Lo ngomong apaan si? Kenapa pemikiran Lo bisa sesempit itu?! Gue kasih tau ya sama Lo, tanpa Arima kasih gue pelet sekalipun.. gue bakal tetep suka sama Arima. Dan Lo, kalo sampe gue tau Lo nyakitin Arima, Lo bakal abis sama gue”
“Lo.. Lo belain cewe bego ini?!”
“Lo bilang apa tadi? Bego?! Ooh gapapa, dari pada Lo. Pinter tapi attitude Lo kosong.”
--
Elris yang masih sibuk berbincang dengan Jian, tiba tiba merasa terpanggil oleh satu saudara dari bangku yang ada dibelakangnya.
“El!”
Dia pun menoleh, lalu mengangkat satu alisnya.
“El, Arima suka sama kamu.”
Arima sangat terkejut mendengar pernyataan Amanda , dirinya langsung mengelak “gak!”
El menoleh ke arah Arima, lalu tersenyum remeh ke dirinya, “Kalo mau jadi pacar El itu harus pinter.” Ujar El
Arima terbelalak, ucapan tadi sangat diluar ekspektasinya.
Jadi tipe El itu yang pinter?
“Ya tapi kan dia gak pinter El, berarti dia gak bisa jadi pacar kamu kan?” Tanya Manda memancing pertarungan.
“Mungkin sekarang gak, tapi gatau kalo besok besok.”
--
“Kalo mau jadi pacar El itu harus pinter.”
Kalimat itu terngiang ngiang di kepala Arima, apa saatnya ini membuktikan jika dia layak menjadi pacar dari sang cinta pertamanya.
Ah! Sungguh semua terasa menyebalkan!
Siapa sangka, ternyata benar. Ucapan itu yang akhirnya memotivasi Arima untuk belajar, malam itu menjadi saksi Arima dengan buku.
“Gue harus kejar materi yang ketinggalan.”
Satu dua hari, Arima telah menyelesaikan semua yang tertinggal, “hm, ternyata belajar gak seburuk itu kok.”
“Hai, gue ganggu ga?” suara itu dari balik pintu kamar Arima.
“Jian? Lo ngapain?”
“Kangen sama Lo”
“Ck, gombal Lo.”
Jiano yang merasa asing melihat Arima melihat buku, menatapnya heran. “sejak kapan ini semua?”
“Sejak El bilang tipe dia, Lo inget kan Ji.”
“Oh.”
“Loh, kok oh doang si, Lo jeaoules ya, hm? Goda Arima.
“Gak ya, udah deh lanjut belajar gih.”
--
Semua tidak ada yang sia dia bagi usaha Arima, dirinya berhasil mendapatkan peringkat kedua dikelasnya, menggeser Amanda dari posisi itu.
“Hebat banget si Arima gue ini.” Ujar Jian, lalu mengusap kepala Arima. Arima hanya tersenyum manja ke Jian.
Setelah El, memang Jian yang mendapat tempat khusus di hati Arima, namun tidak lebih dari seorang kakak yang melindungi adiknya. Jian selalu bisa di andalkan, selalu menjadi tempatnya pulang saat rumah aslinya berantakan.
“Selamat ya” ujar seseorang dari samping Arima, itu Elris. Mata Arima begitu kagum melihat El dari dekat seperti ini.
“Iya El, makasih ya.”
“Manis banget senyum Lo, kayaknya kalo gula di rumah gue abis nih” Elris mencoba menggombal ke Arima.
Arima hanya terkekeh malu, “hehe”
“El, makasih lagi buat satu hal lain.”
“Apa?”
“Lo pernah bilang sama gue untuk gak nangis, katanya air mata gue buat di surga aja. Lo tau El, dari situ gue selalu berusaha untuk gak nangis lagi.”
“Oalah soal itu ya, hahaha gue cuman iseng padahal. Tapi, sama sama. Gue seneng bisa liat Lo kayak sekarang, kan tuh buktinya lebih manis dibanding kalo Lo nangis.”
Jian yang melihat perbincangan itu, memilih untuk pergi. Sepertinya Arima juga tidak sadar dengan perginya Jian.
--
“Hari ini kan ulang tahunnya El, gue harus jadi orang pertama yang ucapin ke dia.” Ujar Arima sendiri, berniat untuk menuju ke Elris yang sedang bermain bola di lapangan sekolah mereka.
Tetapi tidak sengaja Arima menyaksikan hal yang menyakitkan buat dirinya, tidak pernah terbayang sama sekali kejadian itu akan terjadi.
“Hana, mau ya jadi pacar aku?” ujar Elris sembari memegang kedua tangan Hana, semua teman teman Elris yang ikut bermain bola pun ikut bersorak.
“Ciee.. terima, terima!”
“Terima, terima!”
Hana tersenyum, lalu mengangguk “iya gue mau.”
Air mata Arima menetes mendengar penerimaan Hana, kepalan tangannya membuat tangan Arima tergores dan berdarah. Jiano yang melihat Arima di lantai atas, segera naik dan menghampiri Arima. Dirinya tidak peduli dengan kondisi kakinya yang masih cedera akibat bermain tadi, yang dia pikirkan hanya Arima.
“Hei.. gapapa Ma. Masih banyak cowo selain dia.”
Arima menggeleng dan menghapus air matanya, lalu menatap ke Jiano “Ke-kemarin El kasih perhatian ke gue Ji.. kemarin El bilang kalo gue ga boleh nangis, dia juga bilang gue ga boleh kebanyakan makan mie. Tapi kenapa sekarang dia malah pilih Hana jadi pacarnya? Gue ga masalah Ji sebenarnya, tapi kenapa harus Hana? Dia temen sebangku gue Ji, teman sebangku gue!” Arima mengatakannya dengan tangis yang semakin menjadi jadi, Jiano mencoba memeluk perempuan yang ada dihadapannya itu, berharap Arima akan tenang.
Saat sudah merasa tenang, Arima melepaskan pelukan itu dan kembali melihat Elris dan Hana yang bergandengan tangan, “selamat ulang tahun El.” Kalimat terakhir yang Arima katakan, dengan satu tetes air mata dan senyum yang ternyata terpaksa.
Flashback off