
Satu bulan berlalu, dan dua tiga hari lagi ujian sekolah akan segera diadakan. Persiapan belajar sudah Arima lalukan.
“Gak kerasa ya tiba tiba kita udah mau US aja nih” ucap Karin yang membuat Serly melongo, menatapnya penuh heran. Lalu tangan Serly menuju ke dahi milik Karin
“Lo lagi gak sakit kan Kar?”
Karin pun menggeleng “gak, emangnya badan gue panas?” lalu Karin ikut memeriksa dahinya sendiri.
“Omongan Lo barusan bener murni dari mulut Lo kan?”
Serly benar benar tidak percaya, satu temannya yang terkenal polos bisa berkata se mengharukan itu.
“Ih apaan sih Serly, emangnya kalo bukan dari mulut gue, mulut siapa coba?” ujar Karin berdecak kesal.
Arima yang melihat kedua temannya pun tersenyum tipis, benar saja dirinya akan merindukan kedua teman yang ada di hadapannya. Secepat itu ternyata waktunya.
“Nanti sekolah kita bakal ada graduation gak sih?”
Serly pun menoleh ke arah Arima, sembari ikut menerka,
“gue rasa si iya”
“Semoga ada deh, gue pengen abadikan momen itu buat foto foto sama kalian” ujar Arima.
Lalu, Arima, Serly dan Karin melanjutkan obrolan seru mereka sampai jam bel istirahat berbunyi. Tanpa pikir panjang mereka bertiga menuju ke kantin yang mungkin sekarang sudah di penuhi oleh siswa yang lapar, tetapi ditengah jalan Arima melihat lelaki yang kemarin menemaninya di tengah hujan.
“Ser, Kar, kalian duluan aja ya. Gue ada urusan bentar” ujar Arima ke Serly dan Karin, dan di anggukki sebagai jawaban iya.
Arima pun menuju kearah lelaki itu yang sedang asik berbincang dengan teman sekelasnya.
“Dika..”
Dika menoleh kearah Arima dengan tatapan senang “eh Ar, ada apa?”
“Makasih”
“Buat?”
“Kemarin, gue tau gue telat makasih nya. Tapi kata Omah, lebih baik terlambat dari pada gak sama sekali” jelas Arima
Dika hanya tertawa kecil mendengar ucapan dari Arima, tidak salah memang jika Dika menaruh rasa terhadap perempuan di depannya itu.
“Iya sama sama Ar, tapi gue boleh minta sesuatu gak sama Lo?”
“Apa?”
“Jangan cantik cantik ya kalo di sekolah, gue takut, takut makin jatuh cinta sama lo” gumam Dika ditelinga Arima dengan pelan, hingga hanya Arima yang bisa mendengar hal itu.
Arima sungguh tidak percaya jika Dika akan mengatakan hal itu, yang membuat Arima sedikit malu. Tanpa tersadar pipi chubby nya itu telah berwarna merah muda.
--
“Setelah ini kamu bakal lanjut di sekolah mana?” tanya Ferdi sembari menyantap makan malamnya itu.
“Belum tau Opah”
“Coba deh Ima liat liat brosur yang kemarin Omah kasih, siapa tau ada yang cocok sama kamu” saran Sri dengan suara lembut.
“Iya Omah”
“Ima.. Opah tau kamu masih membenci ibu kamu, tetapi Opah berharap saat kamu sudah tau ingin lanjut kemana, ibu kamu tau soal itu” ujar Ferdi dengan nada seperti memohon.
Ferdi adalah salah satu orang yang paling sedih melihat pertengkaran antara ibu dan anak ini, dirinya tidak bisa berpihak ke salah satu diantara mereka. Keduanya memiliki ego yang sama sama tinggi, tidak akan ada yang mengalah satu sama lain.
“Iya”
--
“El, apa aku harus maafin ibu? Tapi El, rasanya masih sakit banget” monolog Arima, dan tatapannya berhenti dengan bingkai foto.
Foto tersebut memperlihatkan Arima waktu kecil, dan disebelahnya ada Qia yang sedang merangkul pundak kecil milik Arima. Air mata yang terbendung pun mengalir di pipi Arima, mengingat kembali kejadian tiga tahun lalu. Sesak memenuhi dadanya, sulit untuk Arima menerima kenyataan seperti itu.
Flashback on
“Ibu harus pisah sama laki laki itu Bu” ujar Arima dengan terisak akibat tangisannya yang tidak kunjung berhenti
Plak
Tamparan yang tidak pernah terbayang oleh Arima justru mendarat di pipinya, terlebih tamparan itu dari ibunya sendiri.
“Kamu sudah melewati batas kamu Ima, ibu tidak pernah mengajarkan kamu menjadi seperti ini. Kamu.. kamu seperti bukan anak saya”
“Keinginan untuk menjadi anak ibu juga bukan harapan Ima Bu, kalo Ima bisa milih, Ima gak mau lahir dari seorang ibu yang tega menampar anaknya sendiri”
“Ya itu karena kamu melewati batas Ima!!”
“Ima gak bakal kelewat batas kalo bukan karena lelaki yang ada di samping ibu, ibu lupa?! Dia yang buat Ima jadi banyak luka lebam begini Bu, dia yang buat Ima sakit sampe harus dirawat. Bahkan bekas luka itu juga masih ada kalo ibu lupa”
Qia yang tersadar pun menyesal sudah menampar Arima, dirinya mencoba mendekati putrinya itu, namun Arima malah menghindarinya.
“Ima, maaf sayang ibu gak maksud soal tamparan tadi” ujar Qia memohon
“Kemarin, laki laki itu yang buat luka.. sekarang, ibu Ima sendiri. Lucu ya Bu hidup Ima, makasih buat tamparan tadi, setidaknya Ima tau kalo orang yang Ima paling sayang malah nyakitin Ima” Arima pun meninggalkan Qia yang masih berdiri.
“Gak Ima, gak, ibu mohon maafin ibu Ima, maaf”
Flashback off
Lamunan Arima tersadar saat handphone miliknya berbunyi, segera Arima angkat.
“Lo telpon gue malam malam gini Ser, kenapa?”
“Gue gabut Ar, tadi nelpon si Karin tapi malah gak aktif”
“Oo.. jadi gue jadi bahan gabut Lo nih?”
“Ihh gak juga kok, gue tuh mau sekalian nyontek tugas hehe”
“Iya nanti gue kirim, udah ah gue mau bocan”
“oke, jangan sampe lupa ya”
Arima hanya berdehem, setelah itu telepon dimatikan dan Arima mengirim tugas nya ke Serly, kemudian dirinya akan tidur.
--
Hari weekend adalah hari yang menjadi rutinitas olahraga untuk Arima, meskipun hanya berlari disekitar perumahannya saja. Tetapi itu sudah cukup, dari pada tidak sama sekali bergerak.
Arima berhenti disebuah taman, mungkin karena hari libur taman terlihat ramai. Lalu matanya melihat ada tukang eskrim yang berhenti, langkahnya pun berniat menuju kesana untuk membelinya.
“Abang saya mau satu ya, rasa strawberry”
Abang eskrim itu pun mengambilkan satu potong eskrim sesuai keinginan Arima, saat ingin mengambil uang dirinya lupa jika tidak membawa dompet.
“Aduh, bego banget si gue. Bisa bisanya gak bawa dompet” gumam Arima setengah panik.
Saat hendak ingin membatalkan pembeliannya, ada satu tangan yang menyerahkan satu uang lembaran berwarna biru. “ambil lagi tiga bang, samain aja rasanya”
“Makasih ya bang.” ujarnya sesudah dilayani “nih, untuk perempuan pecinta strawberry.” sembari memberi bingkisan isi eskrim ke Arima.
“Eum, ini kebanyakan kak.”
“Gak papa, lagian bisa di masukin kulkas kan dan jangan sampe lupa lagi bawa dompet.”
“Hehe iya kak, oh iya kak Deni ngapain ada di taman ini?”
“Buat ngeliat yang manis manis.” ujar Deni asal, lalu dirinya tertawa kecil sendiri. Arima yang melihat itu hanya bingung “aduh apaan sih gue, kenapa jadi gini ya kalo deket Lo?”
“Emang kenapa kak kalo deket gue?” Arima malah balik bertanya, entah dirinya pura pura tidak tau atau memang tidak tau.
“Gak, gak, gue tadi becanda. Lo bentar lagi US kan ya, lanjut kemana sekolahnya?” pertanyaan itu membuat Arima tidak bisa menjawab, dirinya saja masih mencari.
“Bingung kak.”
“Cari sekolahnya pake hati ya Ar, soalnya kalo udah terlanjur nanti susah di Lo juga, nanti mau pindah juga sayang” jelas Deni “eh kayaknya gue harus duluan deh, Lo gak papa kan gue tinggal?”
“Oh, iya gak papa kak, makasih ya buat eskrim nya”
“sama sama, gue duluan ya, dahh” ucap Deni lalu mengusap kepala Arima, kemudian dirinya baru benar benar pergi.
--
Hari yang ditunggu tunggu pun tiba, Ujian Sekolah diadakan selama tiga hari, setelah itu akan di liburkan dan menunggu info kelulusan.
“Udah gue duga si, kak Deni tuh beneran suka sama Lo. Berarti tahun lalu itu bukan sekedar rumor kan” ujar Serly
“Gue gak tau Ser, sekalipun suka, gue gak mau kalo itu beneran terjadi”
“Tapi gue sadar satu hal dari Lo Ar” ujar Karin yang sedari tadi hanya diam, tiba tiba bersuara.
“Sadar tentang apa?” Arima yang penasaran pun segera menanyakannya.
“Lo udah jarang nyebutin El, bahkan terakhir kali itu sebulan yang lalu”
Arima terdiam dan itu benar, El yang menjadi cinta pertamanya sudah tidak ada lagi di pikirannya. Mungkinkah ini pertanda jika Arima berhasil melupakan El? Entah lah, tetapi ini suatu kemajuan yang sangat bagus.
“Lah iya ya, gue juga baru sadar. Biasanya setiap hari, tiap menit, tiap detik Lo tuh selalu nyebut nama El, tapi udah sebulan ini Lo gak sebut dia. Jangan jangan Lo udah move one ya, syukur deh gue ikut seneng kalo gitu” ujar Serly, lalu memeluk tubuh Arima, di susul dengan Karin.
“Gue juga gak tau, padahal gue cuman sibukkin diri, tau tau dah lupa”
“Ya bagus dong, Lo tuh pantes buat dapet yang lebih dari si El!” seru Serly yang sangat mendukung dan Karin pun ikut mendukungnya “iya Ar, bener tuh”
“El, apa ini akhir untuk aku mencintai kamu?”