
Memilih hal tersulit adalah memilih untuk melanjutkan disekolah seperti apa, tentang tawaran Deni yang membuat Arima ikut berfikir jika dirinya bersekolah saja di sana.
Namun dirinya tidak mau, menyebabkan rumor menyebalkan itu kembali lagi.
Tatapan intimidasi yang dia dapat saat rumor itu terjadi sangat membuat Arima seperti buronan kelas kakap.
Flashback on
Siang itu, Ferdi sengaja menjemput Arima tanpa sepengetahuannya. Saat keluar gerbang dengan segera Ferdi menyapa Arima.
“Imaa!!”
Ima menoleh dan menghampiri Opahnya yang berdiri dengan lambaian tangan “Opah jemput Ima? Pak Budi kemana?”
“Ada, tapi emang opah gak boleh ya jemput cucu kesayangan opah ini, hm?”
“Boleh kok opah”
Mereka pun memasuki mobil dan menuju ke rumah. Di sisi gerbang sedang ramai pembahasan yang sebenarnya tidak terlalu penting.
“Lo beneran nyari nomor Arima, si adek kelas itu Den?” tanya Angel, memastikan jika Deni tidak benar benar melakukan hal itu.
Sejujurnya Angel memang cemburu, karena Angel mempunyai rasa kepada Deni. Tetapi harus dia tahan perasaannya tersebut, Angel tau jika dia mengungkapkan perasaannya ke Deni, Deni tidak akan membalas perasaan tersebut.
“Den jawab gue”
“Iya Ngel, kenapa si emang?” Deni bertanya balik ke Angel
“L-lo suka dia?”
“kayaknya iya”
Deg
Jantung Angel seketika berhenti, menatap Deni dengan tatapan cemburu. Apa yang kurang dalam dirinya, mengapa Deni tidak pernah menoleh ke arahnya, mengapa harus orang lain yang bahkan belum mengenal?
Semenjak pernyataan itu, Angel dan anak OSIS yang lain selalu menatap Arima dengan sinis. Awalnya tidak masalah, namun ini terjadi terus menerus.
“Sori kak, gue ada masalah apa ya sama Lo?” tanya Arima yang sudah cukup emosi dengan tatapan mata itu.
“Gak ada” jawaban singkat dari Angel.
“Ya kalo gak ada, kenapa Lo menatap gue kayak gitu kak?” tanya Arima yang masih menahan emosinya.
“ck, inget batasan Lo. Lo cuman adek kelas dan gue, itu kakak kelas Lo”
“Sejak kapan sekolah kita main senioritas? Oh ini program OSIS ya, gue kira bermutu. Tapi nyatanya malah buang buang waktu”
Ucapan itu membuat Angel marah dan mendorong tubuh Arima yang ada di hadapannya “ maksud Lo apa gak bermutu? Lo lagi pengakuan ya, kalo ternyata Lo yang gak bermutu”
“Tadinya dengan cara gue ngomong baik baik ke Lo itu tindakan yang benar, ternyata kakak kelas kayak Lo emang gak pantes buat dihormati”
“Apa Lo bilang?!”
Hampir satu tamparan mendarat ke pipi Arima, namun di hentikan oleh Deni yang menahan tangan Angel.
“Lo apaan si Ngel? Lo OSIS, gak sepatutnya Lo lakuin hal kayak tadi”
“Lepas”
“Gak, sebelum Lo ceritain kenapa Lo mau nampar dia?”
“Itu karena Lo Den, gue cemburu. Gue cemburu ngeliat Lo menyukai dia, g-gue suka sama Lo Den, gue suka Lo” jelas Angel yang terisak, air matanya kini ikut menetes.
“Ngel, Lo tau kan gu-“
“Tau, gue tau banget Den. Lo gak bakal suka balik sama gue, tapi apa Lo gak bisa liat seseorang yang selalu ada didepan Lo ini, gue selalu ada disaat Lo butuh Den. Tapi Lo lebih memilih menyukai perempuan yang bahkan Lo gak kenal”
Deni langsung memeluk tubuh Angel, perasaan bersalah kepadanya sangat tinggi “maaf Ngel, gue gak suka liat adek gue nangis gini. Jadi jangan nangis ya”
Flashback off
--
Malam yang membingungkan untuk Arima memilih dari puluhan brosur sekolah yang diberi oleh Omahnya, dirinya bahkan melewati makan malam bersama hanya untuk berfikir.
Tok tok tok..
Pintu kamar Arima berbunyi, tidak biasanya. Omahnya selalu memanggil bukan mengetuk pintu, Arima pun menuju ke pintu dan melihat siapa di depan pintu itu.
“Surprise!!”
“Ya ampun Rhe, kakak kira siapa?”
Rhea pun terkekeh kecil karena berhasil membuat kejutan untuk sang kakak. “Kak Ima belum makan kan, nih Rhea bawain makanannya ke kamar kak Ima”
Mereka pun masuk ke kamar Arima dengan suasana cat berwarna biru, di langit langit atapnya ada hiasan awan sebagai penghias. Serta harum strawberry sangat membuat siapa saja akan betah di dalamnya.
“Kamu kapan dateng?” tanya Arima sembari menyuap nasi kedalam mulutnya.
“belom lama kok, tadi pas dateng omah sama opah lagi makan, tapi kakak gak ada. Terus kata Omah kakak lagi bingung milih sekolah, sampe sampe belom makan” jelas Rhea.
Arima mengangguk dan tetap melanjuti makannya itu.
“Kak.. kok di kotak ini banyak makanan? Ini punya kakak?” tanya Rhea saat mendapati sebuah kotak berwarna biru itu.
“Iya”
“Dari siapa? Jangan jangan kakak udah punya pacar ya, ihh cie kak Ima udah punya pacar” goda Rhea ke Arima.
“Tau kok, pacar itu rumah kedua. Di saat rumah pertama kita sedang hancur, kita bisa Dateng ke pacar untuk pulang.”
“Kamu dapet kalimat itu dari siapa?”
“Dari orang yang sama ngasih kakak makanan ini”
--
Hari kelulusan yang meriah sangat membuat murid SMP Ganesha merasa bahagia, perpisahan yang tidak mungkin bisa di pungkiri telah tiba. Rasa haru juga ikut mereka rasakan.
“Gue pasti bakal kangen banget sama kalian deh” ujar Serly
Karin mengangguk, walaupun dirinya sedikit Lola tetapi untuk kali ini otak nya berjalan lancar dengan mencerna ucapan Serly “gue juga”
“Apalagi gue.” Tambah Arima.
Mereka bertiga pun berpelukan sebagai tanda yang terakhir dari kebersamaan mereka.
“Arima” panggil seseorang dari depannya, membuat Arima melepaskan pelukan dengan kedua temannya itu.
“Kak Deni?”
“Selamat ya” ujar nya sembari memberi jabatan tangan, tetapi Arima malah mematung tanpa membalas jabatan itu.
“Hey? Lo biarin tangan gue lumutan nih?”
“Sori kak, tapi gue kayaknya gak harus menjabat tangan sama Lo deh.”
Deni pun terkekeh kecil “oke oke, gue mau kenalin Lo ke seseorang Ar, kalo itu boleh gak?”
“Boleh kak, emangnya siapa?”
Seseorang yang dimaksud pun datang, memakai gaun merah dengan rambut yang di tiap dengan setiap gelombangnya. “Hai”
“Kak Angel”
“Biasa aja kalo liat nya”
“Jadi yang mau kak Deni kenalin itu kak Angel?” tanya Arima ke Deni.
“Iya”
“Tapi kak, kan gue udah kenal sama kak Angel.”
“Tau kok gue, mangkanya gue mau kenalin Lo sama Angel itu bukan sebagai seorang wakil ketua OSIS dan teman gue, melainkan tunangan gue” jelas Deni, yang membuat Arima terkejut. Bukan hanya Arima, Serly dan Karin juga ikut terkejut.
“Serius kak Deni bakal tunangan sama kak Angel?” tanya Serly penasaran.
“Iya, gue baru sadar kalo ternyata cinta gue itu udah ada dihadapan gue, jadi dari padaa keduluan orang gue harus jadi yang pertama kan.”
Semua orang disitu mengangguk mengerti.
“Ar, maafin gue soal kejadian waktu itu ya, gue gelap mata karena cemburu” ujar Angel ke Arima, Arima pun tersenyum untuk mengatakan semua sudah berlalu.
“Santai aja kali kak, tapi sebagai permintaan maaf Lo, gimana kalo nanti Lo undang gue ke acara tunangan Lo, hm?”
“Ya ampun Ar, tanpa Lo pinta, nih si Deni udah jadiin Lo tuh tamu spesial.” Balas Angel dengan nada yang di buat buat seolah dirinya cemburu.
Semua pun tertawa mendengar ucapan Angel.
--
Mata Arima begitu sulit untuk dibuka, badannya terasa menggigil, padahal AC di kamarnya sudah di matikan.
Dirinya sudah tidak bisa menahan matanya tetap terbuka dan kini semua pandangannya gelap, telinganya seperti mendengar suara Qia, sang ibu.
“Bu...” Ucap Arima dengan lirih, sebelum semua terasa benar benar gelap.
Saat dirinya sadar, Arima sudah berada di tempat tidur rumah sakit. Dia tidak mengingat satu pun yang terjadi, kepalanya sakit saat mencoba mengingat semua.
“Aishh..”
“Ima.. kamu udah sadar? Kenapa sayang? Kepalanya sakit ya, ibu panggil dokter bentar ya”
“Gak Bu, Ima gak papa” ujarnya memegang pergelangan Qia, dan memintanya untuk tetap disini. “Ima kenapa bisa ada di rumah sakit Bu?” kemudian Ima bertanya.
Qia lalu membelai rambut sang putrinya itu “semalem kamu demam, ibu sama Opah, Omah langsung bawa kamu ke rumah sakit, terus kata dokter kamu tipes. Mangkanya kamu di rawat”
Ima hanya meng oh kan ucapan Qia.
“Ibu, Ima udah tau mau sekolah dimana.”
Mendengar hal itu, Qia langsung menatapnya penuh pertanyaan “dimana?”
“SMA Fregas”
“Tapi bukannya itu jauh dari rumah opah sama omah?”
“Iya, tapi deket dari rumah ibu kan?”
“Jadi kamu mau tinggal sama ibu lagi?” tanya Qia mencoba memastikan lagi, hati nya merasa begitu bahagia saat ini.
“Oo.. jadi aku gak ***-“
“Gak sayang, kamu boleh tinggal di sana. Itu juga rumah kamu.” Qia pun memeluk tubuh Arima, dirinya tidak menyangka anak perempuan yang di nanti untuk pulang, akhirnya pulang. Dan untuk pertama kalinya juga bagi Arima sejak kejadian itu, dirinya bisa merasakan pelukan sang ibu. Air mata yang kini turun bukanlah kesedihan, melainkan kebahagiaan.