ARIMA

ARIMA
BG 10



"Gue benci Lo Gerlang, benci!!" seru Arima di kamarnya, setelah pulang sekolah Arima memang lebih mengurung dirinya di kamar.


Bahkan sampai jam makan malam saja, Arima tidak kunjung keluar. Rhea yang khawatir langsung menghampiri kamar Arima.


"Kak, makana dulu dong, nanti kakak sakit loh"


Tetapi tidak ada jawaban dari Arima, Rhea masih mencoba lagi sampai akhirnya Rhea lebih memilih untuk menghubungi Jian.


Beberapa saat kemudian, Jian datang. Raut wajahnya terlihat khawatir mendengar kabar Arima belum makan malam.


"gimana? Belum mau keluar juga Rhe?"


"belum kak" sahut Rhea, yang juga sekarang panik


"yaudah, kamu tunggu ya, kakak masuk lewat jendela depan aja" ujar Jian


Yang benar saja, Jian masuk melalui jendela kamar Arima. Setelah berhasil masuk, dirinya mendapati kamar milik Arima berantakan dan juga Arima sedang duduk bungkuk.


"Ima?"


"Dia jahat Ji, gue benci!" seru Arima dan langsung memeluk Jian


"siapa? Siapa yang jahat?" Jian bertanya


"Gerlang.."


"bukannya dia baik sama Lo, kok bisa? Coba cerita sama gue, tapi sebelum itu Lo hapus ya air mata Lo" ujar Jian


Arima pun menceritakan semuanya kepada Jian. Setelah selesai cerita dari Arima, kepalan tangan Jian mulai terlihat. Iya, Jian sangat marah jika ada yang menyakiti perempuan yang dia cintai.


Saat Jian hendak pergi, tangannya di cegah oleh Arima, "jangan Ji, jangan"


"gue gak suka Lo di gini in!" seru Jian, sekarang Jian benar benar terbalut emosi


"iya, tapi untuk kali ini jangan ya, gue butuh Lo, jangan pergi Ji" ucap Arima dengan tetap memeluk tubuh Jian.


Entah mengapa setiap Arima memeluk tubuh Jian, kesedihan yang dirasakan dirinya hilang. Jian memang obat di segala rasa luka.


...


"brengsek Lo! Maksud Lo apa buat Arima nangis, hah?!" ujarnya dengan tetap menghajar seseorang dihadapannya itu


"gue juga gak mau buat dia nangis, tapi masa lalu gue yang bilang di waktu yang gak tepat" jelasnya


"mangkanya bego, kalo Lo belom selesai sama masa lalu, jangan mulai sama yang baru! Gue gak mau tau ya, gue benci sama orang yang udah buat Ima gue nangis! Gue juga gak peduli, mau itu saudara gue sendiri, kayak Lo Ger!"


"iya, gue bakal minta maaf sekarang sama dia. Tapi tolong, gue udah cinta sama Arima, jangan buat gue sama dia pisah" Gerlang memohon


"gue kasih Lo kesempatan" setelah itu dia pergi, sedangkan Gerlang langsung menuju ke rumah Arima


Sebelum itu, dirinya mampir ke tempat jual seblak, dengan maksud agar maafnya di terima hari itu juga. Sampai di rumah Arima, terlihat ada sepeda motor yang tidak pernah Gerlang lihat. Dia memencet bel, dan keluar wanita tua.


"eh, ini siapa ya?"


"saya Gerlang, Arima nya ada?"


"oo, cari Arima, saya omah nya. Kamu sendiri?"


"s-saya pa-"


"yaudah, omah tinggal dulu ya"


"ngapain Lo?!" tanya Arima ketus


"mau minta maaf sama kamu Ar" jawab Gerlang, wajahnya benar benar memohon


"gue udah maafin"


"serius? Berarti kita masih pac-"


"gak ada, gue belom bisa soal itu"


"yaudah gak papa, eh iya, aku bawa seblak ke sukaan kamu. Jangan lupa di makan ya" ujar Gerlang dengan tersenyum


Sebenarnya, hatinya mengatakan hal lain. Kecewa pasti ada, tetapi keputusan tetaplah keputusan.


"masuk dulu, gue gak sejahat itu langsung ngusir Lo dari rumah gue"


Gerlang tersenyum, dirinya juga tau yang satu ini sebenarnya adalah gengsi Arima.


"Ar, di depan motor siapa?" tanya Gerlang hati hati


"gue"


Sontak jawaban itu membuat Gerlang yang sedang minum tersedak.


"kek anak kecil deh Lo, gitu aja keselek"


"hah? Serius Ar, itu motor kamu?" Gerlang bertanya lagi untuk memastikan


"ya emang kenapa si? Gak boleh gue punya motor?" Arima kesal dengan pertanyaan Gerlang


"itu moge Lo Ar, serius punya kamu?" cukup, Arima sudah muak di tanya dengan pertanyaan yang sudah diketahui oleh Gerlang


"diem atau Lo pulang sekarang!" ancam Arima


Akhirnya Gerlang berhenti bertanya, dan Arima yang melihat itu tertawa kecil dalam hati.


...


"Lo beneran putus dari Gerlang Ar?" tanya Viana yang sedang menyedot es nutrisari nya


"iya"


"terus? Sekarang gimana?" tanya Viana lagi


"ih, Lo tuh sama bawelnya tau gak sama Gerlang. Intinya gue mau kita kumpul bertiga lagi, gue, Lo sama Rei. Urusan hati gue, itu biar nanti aja, lagi ya Vi, Tuhan tau kok mana yang terbaik" jelas Arima sembari tersenyum


Dari arah belakang, Gerlang mendengar itu.


"gak salah pilih emang temen gue" ucap Pras sarkas


Gerlang tersenyum, "iya gitu deh"


Dan dari arah samping, ternyata juga ada Rei yang mendengar percakapan kedua temannya itu.


"gue udah jahat sama Lo Ar, tapi kenapa Lo pengen kita kumpul lagi bertiga? Gue udah merusak hubungan Lo sama Gerlang, tapi kenapa Lo gak pertahannin itu dan milih buat di serahin ke Tuhan. kenapa Ar? kenapa? Lo bisa setenang ini, sedangkan gue gak bisa, gue benci kalo ada sesuatu yang gak bisa gue kendali in"