
" bukankah kami sudah bilang kami tak pernah membully mu , emng kau punya bukti kami pernah membully mu " ujar Sibut dengan kesal dan lansung bangkit dari tempat duduk nya karena ingin membentak Yukari , seketika Yukari terdiam karena ia tak mempunyai bukti , namun , ia takkan menyerah begitu saja.
" ada buktinya kok "
_______________________
" bukti?" tanya sibut
" ya "
" emang apa buktinya " ucap Vyrta yg juga bangun dari tempat duduk nya.
" iya emng apa ?" ujar Wardah .
" apa kalian buat ?" Ujar Yukari menunjuk ke arah wajahnya dan perutnya
" apa maksudmu ?" Sibut terlihat panik karena ia baru sadar akan luka di wajah Yukari .
" luka ini yg menjadi buktinya " tegas Yukari yg menunjuk ke pipinya , karena hanya bagian itulah luka yg terlihat.
" b-bukannya luka itu adalah salah mu sendiri , ya memang kami yg membuat mu terluka seperti itu , tapi kami terpaksa karena harus melawan mu " jelas Sibut yg nada suaranya agak terdengar bergetar.
" apa kalian masih akan mengelak lagi , apa kalian tau saat aku sedang mengamuk itu aku tak akan mudah terluka , bahkan saat aku meninju kaca pun tangan ku bahkan tak luka sedikitpun , jadi tidak mungkin hanya dengan pukulan kalian yg lemah bisa membuat ku luka luka seperti ini jika bukan kalian melakukannya saat aku tidak mengamuk " tegas Yukari pada sibut yg berhasil membuat Sibut seketika menciut.
" b-bisa saja kau berbohong " ujar Erdi
" kalian juga bisa saja berbohong " balas Yukari
kali ini Sibut , erdi , Vyrta dan Wardah sudah terpojok seketika ruangan pun hening sebelum Elena membuka mulut
" sudah lah Yukari , lebih baik kau menyerah saja , kita minta maaf pada mereka ya " bujuk Elena pada Yukari yg masih menatap tajam ke sibut dan yg lainnya.
" tidak , kenapa kita harus tanggung jawab kalau mereka yg mulai dulu dengan membullyku " Yukari kali ini tak kan kalah dari sibut , ia tak mau terlihat lemah lagi.
" Yuka..."
" sudahlah Tante , Yukari memang keras kepala , Tante tak usah menyuruh nya mengalah " ujar Yukaru tiba tiba
" Yukaru.. " Elena agak terkejut karena Yukaru tiba tiba bicara padahal dia dari tadi masuk diam saja.
" Yukaru.... " guman Yukari
" apa ?"
" ah tidak "
" apa , memangnya apa hak mu bicara ?" geram Vyrta.
" hak ? kau tanya apa hak ku ?" tanya Yukaru dengan arogan.
" iya " jawab Vyrta.
" heh , tentu saja aku ada hak " ujar Yukaru yg juga ikutan berdiri .
" apa hak mu ?" tanya Wardah.
" karena aku punya benda yg akan membuktikan kalau kalian bersalah " ucap Yukaru dengan smirk membuat orang di depannya itu gelisah.
" eh , dia benar benar membantu ku " guman Yukari.
" benda ? benda yg akan membuktikan kami salah ? benda apa itu " tanya Sibut yg mulai gelisah namun ia tetap bersikap seolah ia tak bersalah.
" benda itu ada di tas ku , jadi aku akan mengambil nya " ujar Yukaru yg sudah bersiap akan keluar.
semenjak Yukaru keluar , atmosfer ruang guru jadi canggung juga penuh kegelisahan di antara Wardah , Vyrta , sibut dan erdi .
tak ada yg membuka suara dan hanya terdengar suara ketikan keyboard komputer pra guru yg sedang bekerja di ruangan itu , tak perlu waktu lama Yukaru pun kembali ke kantor guru dan membawa sebuah kamera kecil.
" buktinya berada di dalam kamera pengawas ini "
Thanks udah baca ya 😊
jangan lupa like dan vote ya 😄
vote seikhlasnya saja ya 😉
dan like itu gratis 🤗