ACE

ACE
Combat



Haze membawaku ke sebuah gedung, hampir mirip dengan gedung yang Ace pakai


"Kelompok kami disebut Vipers, khusus karena kami semua pendiam, cepat dan licik. Tidak apa-apa jika kamu tidak sempurna dalam segala hal untuk pertama kalinya, nanti juga kamu akan menguasai pada akhirnya. Semua butuh proses." Haze menjelaskan dengan positif sambil membawa aku berkeliling, dia menunjukkan ruangan tempat mereka berlatih tinju, melempar pisau, menembak dan mereka juga melakukan tes toleransi rasa sakit.


"Aku tidak pandai berkelahi." Aku mengakui dengan malu-malu saat kami berkeliling.


"Tidak apa-apa, kamu mungkin akan melebihi segalanya." Jawab Haze, tersenyum padaku, membuatku merasa lebih baik tentang seluruh situasi ini.


"Apakah itu sebabnya Ace tidak memasukkanmu ke dalam organisasinya?" Tanya Haze mengangkat alisnya ke arahku.


"Ya, kurasa begitu." Jawabku berbohong sambil menatap lantai.


"Ini Nina, dia akan mengantarmu ke kamarmu." Haze memperkenalkanku pada seorang gadis tinggi berkulit gelap dengan rambut ikal yang terletak tepat di atas bahunya. Dia terlihat sangat mengintimidasi tetapi sebenarnya sangat baik sejauh ini. Dia tampak sangat mirip dengan Haze dari fitur wajah dan senyumnya.


"Hey, aku Nina seperti yang dikatakan Haze." Ucap Nina, tatapan nya mengarah padaku. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum kecil.


"Haze biasanya tidak merekrut orang baru seperti ini, mungkin karena kamu sangat cantik." Lanjut Nina, mengangkat alisnya pada Haze.


"Dia pandai menggunakan pisau." Haze menyeringai penuh percaya diri.


"Oh, jadi kamu pandai dalam keahlian khusus yang Haze kuasai." Nina tersenyum padaku.


"Mungkin aku lebih baik." Aku mengedipkan mata. Nina tertawa terbahak-bahak sebelum melihat ekspresi Haze yang tidak terkesan.


Haze menyeringai dan memutar matanya sebelum berkata, "Aku belum pernah benar-benar melihatmu menggunakan pisau, aku hanya membocorkan apa yang dikatakan seseorang." Haze memelototiku main-main.


"Aku tidak tahan lagi dengan godaan ini." Nina berjalan keluar dari kamar.


"Kau ikut denganku." Ucap Nina padaku sambil berjalan keluar.


"Ya." Aku berlari mengejarnya meninggalkan Haze di belakang saat dia melihatku mengejarnya.


"Asal kau tahu, kami tidak saling menggoda di sana. Aku hanya tidak ingin dia terlalu berharap." Kataku cepat, berharap untuk tidak memberinya pemikiran yang salah.


Nina mencibir "Haze menyukaimu, aku bisa tahu dari sikapnya. " Nina memberitahu padaku saat kami berjalan menyusuri lorong kamar tidur.


"Apakah dia memang seperti itu?" Tanyaku bingung.


"Aku saudara kembarnya, percayalah padaku." Nina memutar matanya memikirkan saudara kembarnya tetapi juga memiliki sedikit senyum yang memberitahuku bahwa mereka akur.


Aku terkejut. "Kau dan Haze saudara kembar. Kupikir kalian berdua punya sesuatu." Aku bersandar di bahunya sambil tertawa.


Nina hanya menatapku dengan jijik sebelum menggelengkan kepalanya. "Ew itu sangat menjijikkan." Dia mengangkat alis, bergidik setelah kami selesai tertawa.


"Haze meminta agar kamarmu bersebelahan dengannya, jadi nikmatilah." Ucapnya dengan nada sedikit menggoda sambil mengedipkan mata sebelum membuka pintu kamarku. Ruangan itu bagus, sangat hambar tapi tetap nyaman


Aku duduk di tempat tidur, mencium bau apek dari kamar membuatku kewalahan. Aku melamun, kenapa aku tidak bisa mengeluarkan Ace dari kepalaku, ini adalah babak baru dalam hidupku dan aku tidak membutuhkan dia di dalamnya, tetapi memikirkan tentang dia membuatku sangat terangsang, kami bahkan tidak sempat bercinta sebelum aku pergi. Aku tahu pasti dia luar biasa di tempat tidur hanya dengan apa yang bisa dia lakukan dengan jari-jarinya.


Aku ingin tahu apakah Haze bagus di ranjang...


"Astaga Sofia, hentikan pemikiran mesum mu"


Ucapku dalam hati.


Lamunanku buyar ketika mendengar pintu kamar terbuka.


"Baiklah, Sofia. Pelatihan resmi dimulai malam ini, kita akan mencari tahu apa spesialisasimu, tetapi kita akan mulai dengan lempar pisau yang membutuhkan lebih banyak orang jika kita ingin menjadi lebih baik daripada Organisasi milik Ace." Ucap Haze bediri di depan pintuk kamarku sambil tersenyum nakal.


***


Saat ini ku berada di sebuah ruang pelatihan dengan Haze dan mungkin anggota Vipers.


Kami semua berbaris, satu per satu, mereka mulai melemparkan pisau ke arah alat peraga yang sudah tersedia, dan orang-orang bahkan tidak bisa menempelkan pisau ke papan sialan itu.


"Jika ada di antara kalian yang bisa melakukan lemparan ini, Aku akan membawamu ke pelatihan selanjutnya." Hazevmenggodaku, tahu aku ingin pergi ke pelatihan selanjutnya.


Akhirnya giliranku, Raul pernah mengajariku pepatah untuk melempar pisau dengan tepat. Satu untuk jantung, satu untuk kepala, dan satu untuk di mana pun kamu ingin melempar.


Aku menggenggam pisauku. Aku melemparkan yang pertama, mendarat di tengah-tengah bentuk hati yang digambar di kayu. Haze mengangguk setuju, tapi kurasa dia tidak terkesan, dibutuhkan banyak hal untuk membuat pemimpin Mafia terkesan dengan keahlianmu. Kamu harus memiliki apa yang mereka cari, jika tidak, maka itu sial. Selanjutnya aku melemparkan pisau ke kepala dan kemudian yang terakhir ke tenggorokan. Aku melihat kearah Haze yang terlihat menyeringai kecil.


"Kenapa kamu memilih tenggorokan?" Haze menanyaiku meskipun dia tahu persis mengapa aku melakukannya.


"Agar dia tidak bisa berteriak minta tolong.... dan dia kehabisan darah lebih cepat." Ucapku dengan percaya diri di depan kelompok itu.


"Yah, dia favorit Haze sekarang."


Sayup-sayup aku mendengar seseorang mengejek. Koreksi, aku sudah menjadi favoritnya.


Aku berfikir, segala sesuatu tentang kepribadiannya menjadi daya tarik tersendiri untukku. Ya, Haze sangat menarik sejak pertemuan pertama ku dengan nya. Aku tidak akan menjaga jarak darinya. Jika aku akhirnya mempunyai perasaan untuknya, aku akan memberi tahu dia.


"Sekarang waktunya pertarungan dengan tangan kosong," Haze memberitahu kami semua. "Aku akan menempatkan kalian melawan satu sama lain dan kemudian melawan salah satu orang terlatih terbaikku untuk melihat bagaimana kalian bertahan melawan mereka."


Seperti yang dikatakan Haze, aku melihat beberapa orang berkelahi. Mereka jelas lebih baik dalam bertarung daripada melempar pisau. Aku harus meningkatkan kemampuanku.


"Sofia vs Taylor." Haze mengumumkan sambil mengamati kerumunan, seperti mencariku.


"Ya." Aku menyelinap di bawah tali dan masuk ke ring.


"Aku di sini." Taylor, seorang gadis dengan rambut pirang pendek memasuki ring. Aku bisa mengalahkan nya, semoga.


"Kau berkelahi satu sama lain dengan tangan kosong" Haze menyeringai jahat.


Aku mendengar bel berbunyi. Aku masuk ke ring pertandingan dan bersiap menghadapinya, tatapanku datar tidak menunjukkan emosi sedikitpun, berusaha mengintimidasi mungkin.


Dia melangkah maju, melemparkan tinjunya ke wajahku, tetapi aku bergerak cepat menahan serangan yang ditujukan padaku. Kita berdua cukup beradu dengan sengit. Aku memutar mataku ke arah Taylor yang membiarkan senyum terkecilnya terlepas.


Dia melangkah maju, itu adalah sinyalku bahwa dia akan memberi pukulan. Aku merunduk di bawah lengannya dan memberi tinjuku ke rahangnya, tepat sekali. Dia tersandung kembali dalam keadaan linglung dan bingung. Aku membiarkan dia mengumpulkan dirinya sendiri.


Dia memegangi rahangnya dengan kaget melihat betapa kuatnya aku. Dia mungkin berfikir aku lemah karena postur tubuhku cukup kurus. Dia mulai mengayunkan lagi tinjunya ke arahku, dan bertabrakan dengan pipiku.


Bugh


Aku menatap ke samping, melihat ke lantai dengan darah menetes dari mulutku. Saat itulah saya menyadari dia telah berlatih tinju sebelumnya.


Semua orang menonton dengan intens saat ketegangan semakin besar. Taylor hanya membuatku kesal, aku langsung menatapnya, membuatnya lengah. Dia pikir itu akan menyakitkan, sedikit yang dia tahu ayahku memukul dua kali lebih keras.


Aku tidak akan membiarkan dia menang, Taylor tampak lebih percaya diri. Aku memaksanya ke sudut sebelum melakukan tembakan brutal ke tulang rusuknya. Dia meringis kesakitan, hampir jatuh ke tanah, aku mengambil kesempatan itu untuk menjatuhkannya. Aku segera melemparkan tinjuku ke arah pipinya, dia jatuh ke lantai, mungkin pingsan.


Aku menatap ke arah penonton yang kaget dengan rahang terbuka. Aku menyentuh bibirku, ada rasa perih di sekitar bibirku, mungkin karna pukulan tadi.


"Apakah aku berdarah parah?" Aku bertanya pada Haze yang terlihat agak pucat.


"Ya. Tidak bisakah kamu merasakannya?" Dia menatapku khawatir.


"Tidak." Aku mengangkat bahu menyeka bibirku dengan jari tanganku sendiri.


"Ayo, bersihkan dirimu. Lanjutkan putarannya." Haze memberitahu kepada salah satu anak buah nya.


"Ya Boss." Pria itu praktis berlari atas perintah Haze.