
"Ace?" Tanyaku agak berteriak, mengisyaratkan padanya bahwa aku menginginkan sesuatu.
"Apa?" Jawab Ace mendesis dari dalam ruangannya. Dia sangat marah akhir-akhir ini.
"Tidak jadi." Gumamku sambil berjalan pergi. Aku tidak jadi bertanya karena dia sepertinya tidak peduli.
Aku tahu dia pemimpin mafia tapi bisakah dia mencoba dan bersikap baik sekali saja, apakah itu akan menurunkan harga dirinya?
Aku mengeluarkan laptopku yang Ace berikan ketika aku pertama kali tinggal disini. Aku ingin mendaftar untuk sekolah swasta dan aku mungkin telah menggunakan kartu bank Ace tapi tidak apa-apa, pada akhirnya dia akan mengetahuinya. Aku memilih sekolah yang secara khusus memiliki jurusan kedokteran atau kesehatan. Aku hanya bisa berharap ini akan menjadi tahun yang tidak penuh dengan drama. Aku duduk menunggu dengan sabar untuk mendapat balasan E-mail.
Aku diterima. Bagaimana aku bisa diterima? Aku telah melewatkan satu juta hari, tetapi aku kira nilaiku menebusnya. Dikatakan dalam E-mail bahwa aku benar-benar harus hadir atau itu akan hangus. Aku membalasnya dengan ucapan terima kasih dan mereka memberi tahuku bahwa hari pertama aku akan dimulai pada hari Senin.
Aku akhirnya akan melakukan sesuatu di hidupku daripada hanya duduk-duduk di mansion Ace sepanjang hari.
Aku mendengarkan musik dan menonton beberapa film sebelum turun untuk makan. Aku sudah memesan beberapa pizza dan mencuci beberapa piring sambil menunggu pesanan ku datang.
"Hei." Ucap seseorang, aku berbalik dan melihat Dante di belakang ku
"Hei." Aku tersenyum padanya sebelum kembali mencuci piring.
"Bagaimana harimu?" Dante bertanya.
"lumayan bagus." Aku tersenyum senang. Aku berbohong, tidak peduli seberapa keras aku mencoba, aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Ace marah padaku. Apakah karena aku pergi ke klub? Atau karena apa yang saya katakan sebelum masuk ke mobil?
pranggg
"Astaga." Aku tidak sengaja menjatuhkan piring ke wastafel sehingga pecah
"Menjauh dari pecahan itu ok." Ujar Dante, mendorongku menjauh dengan tubuhnya karena lengannya terpasang gips. Aku baru menyadari jika salah satu lengan nya terpasang gips, ada apa dengannya? Aku menggelengkan kepalaku sambil menghela nafas.
Bell pintu berbunyi, aku berjalan keluar dari dapur, meninggalkan Dante yang mencoba membersihkan pecahan piring tadi.
"Hei Dante, kamu mau?" Aku menawarkannya pizza pesananku menuju ruang tamu.
"Tentu." Soraknya berlari ke ruang tamu.
Dante menyalakan Tv. "Apa kalian berdua bertengkar lagi?" Dante bertanya dengan gugup yang agak mencurigakan bagiku.
"Tidak juga," desahku pelan. "Tapi kurasa ada yang harus kuluruskan dengan Ace." Aku berdiri, berjalan menaiki tangga dan menyusuri lorong kamar tidur.
Aku tidak tahu apakah Ace ada di kamarnya atau ruang kerjanya.Aku memeriksa ruang kerjanya dan dia tidak ada di sana jadi aku berjalan ke kamarnya.
Aku mengetuk pintu kamar Ace, tidak ada sautan dari dalam, tetapi pintunya tidak terkunci jadi aku memutuskan untuk masuk kedalam.
"You used my card?" Ace bertanya sambil melihat ke luar jendela dengan membelakangikilu.
Bagaimana dia tahu itu aku? "Yeah" Aku mengakui, berjalan mendekat ke arahnya.
"Untuk pergi ke sekolah baru?" Ucapannya membuatku berhenti melangkah, suaranya terdengar marah.
"Itu terlalu buruk bukan?" Aku cemberut padanya. Posisinya tidak berubah sedikitpun, masihmembelakangiku.
"Kau seperti anak kecil." Geramnya padaku.
"Apa masalahmu. Apa karena kejadian kemarin," aku balas mendesis padanya. Dia menoleh padaku. "Kenapa kamu seperti ini?" Aku memohon sebuah jawaban.
"It's me." Ace memutar bola matanya.
"No. No it's not." Aku menggelengkan kepalaku.
"I'm bad." Ace menyerigai jahat, dia mulai membuatku khawatir sekarang. "Aku hanya ingin keperawananmu tapi kamu tidak akan menyerah begitu saja jadi aku harus berpura-pura peduli." Ace terkekeh sambil menyalakan rokok.
"Aku sudah selesai berpura-pura." Mengakhiri ucapannya.
"Oke." Aku mengangkat bahu. Kata-katanya seperti pisau yang menyayat di hatiku, sangat menyakit, tapi aku tidak akan membiarkan dia puas menyakitiku, aku tidak akan menunjukkan kepadanya bahwa aku merasa tersakiti.
"Aku sedang mengemasi barang-barangku dan aku akan pergi." Aku memecah kesunyian.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan." Dia tersenyum senang. Hatiku sakit saat aku berbalik dan berjalan ke kamarku.
Aku tidak punya tempat lain untuk pergi, aku mengambil tasku dan mulai memasukkan pakaian ke dalamnya. Ace mengikutiku ke kamarku, mungkin untuk memastikan aku sedang berkemas. Aku tahu aku hanya punya satu tempat untuk pergi, aku menggigit bibirku untuk mencoba dan menghentikan mataku agar tidak berair.
Aku menatap Ace, mendekatinya dan dia mencoba mencari tahu apa yang akan aku lakukan. Aku membuka gelang kunci yang pernah ia berikan kepadaku alih-alih mengembalikannya, aku menarik gelang itu hingga putus, dia harus merasakan sebagian kecil dari rasa sakit yang aku rasakan.
Ace hanya menatapku dengan pandangan kosong, aku menyampirkan tas ke bahuku, bergegas keluar ruangan.
Don't look back Sofia. Don't.
Aku berjalan melewati Dante.
"Mau kemana?" Tanya Dante.
"Kemana saja kecuali bukan disini." Jawabku dengan marah bahkan tidak repot-repot untuk berbalik. Aku membuka pintu dan melihat salju turun tetapi aku terus berjalan, saat ini sudah memasuki musim dingin.
Sebelum aku pergi terlalu jauh aku berbalik kearah Ace. "Aku salah menilaimu, you are a bad person, tapi apa itu membuatmu bahagia?" Aku menatapnya. Ace hanya memperhatikan saat aku berjalan ke gerbang dan pergi.
***
Aku sangat marah sehingga yang bisa kulakukan hanyalah berjalan, aku bahkan tidak memakai mantel dan salju turun dengan lebat. Aku berjalan seperti zombie selama berjam-jam dan akhirnya sampai di rumahku.
Aku berjalan ke arah pintu, jari-jariku membiru karena kedinginan. Aku mengetuk pintu tetapi setelah aku melakukannya, aku langsung menyesali keputusan ini. Pemukulan yang harus aku tanggung karena- Raul. Dia melihatku dan matanya melebar karena terkejut, aku tidak berpikir mereka pernah berharap untuk melihatku lagi.
"Kamu pulang." Raul memelukku tapi aku tidak bergerak, aku tidak bisa merasakan sebagian besar tubuhku.
"Apakah ayah ada di sini?" Tanyaku padanya sambil menggigil.
"Ya." Raul menggelengkan kepalanya dengan kecewa. "Tapi dia sedang sakit sehingga seharian ini di tempat tidur." Lanjutnya.
"Sofia" Aku mendengar suara lemah berteriak .
"Breng*ek," cemooh Raul sambil memutar matanya, membawaku masuk.
Aku tertatih-tatih jalan ke atas. "Ya ayah?" Gumamku sambil berjalan ke kamar tidurnya.
"Kenapa kau kembali?" Teriaknya padaku sebelum terbatuk-batuk.
"Aku tidak punya tempat untuk pergi ayah, tolong" Pintaku padanya.
"Berlutut dan memohonlah." Dia tersenyum jahat.
Sudah ku pikirkan, aku bahkan tidak memiliki harga diri atau martabat yang tersisa. Aku berlutut di sampingnya dan memohon padanya untuk membawaku kembali.
"Sekarang berdoa untuk kesembuhanku." Dia menyeringai, tahu aku membenci ini.
"Aku berdoa untuk kesembuhanmu." Aku memaksakan senyum tipis demi diriku sendiri.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah, kotoran yang menjijikkan, bahkan tunangannya sendiri tidak menginginkannya." Desisnya kejam padaku.
"Tenang." Ibuku menenangkannya, menyuapinya dengan sendok sup.
Aku tidak percaya Ace tidak merasakan apa-apa untukku sama sekali. Itu terasa nyata, hal-hal yang aku rasakan untuknya adalah nyata. Aku tidak bisa membuatnya kembali padaku. Aku masih sekolah pada hari Senin jadi setidaknya aku memiliki sesuatu untuk diharapkan.