ACE

ACE
Angry?



Setelah kejadian yang sedikit menegangkan tadi, gadis-gadis itu butuh beberapa saat untuk menenangkan diri dari keterkejutan mereka.


"Aku akan mengambil selimut dan lain-lain" Aku melompat dari sofa dan berlari ke atas.


Aku sebenarnya hanya ingin memeriksa Ace tetapi aku tahu, aku harus memberinya waktu untuk menenangkan diri setelah kejadian barusan.


Aku mengetuk pelan pintu Ace, mengintip untuk melihat kedalam kamarnya. Ace duduk di tepi tempat tidurnya, mengacak-acak rambutnya dengan penuh tekanan.


"Sofia, ada apa? Butuh sesuatu?" Tanya Ace, saat dia melihat aku yang datang.


"Hmm tidak. Aku hanya ingin bertanya, apakah kamu marah padaku?" Tanyaku gugup. Ace menggelengkan kepalanya, tidak. Aku menutup pintu kamarnya dan berjalan kearah Ace.


"Apa kamu marah padaku karna kejadian tadi?" Dia bertanya dengan nada tertentu dalam suaranya. "Aku tidak bisa membunuhmu bahkan jika aku mau" Ace mengakui dengan nada suara yang sedikit lemah.


"Aku tahu." Aku mengusap punggungnya sambil berdiri di sampingnya.


Aku tahu dia terluka karena kematian ibunya, itu membuatnya berpikir dan bertindak secara tidak rasional.


Kemeja Ace terbuka dan untuk pertama kalinya dia mengenakan celana olahraga. Kamarnya gelap dan satu-satunya sumber cahaya adalah matahari yang menembus tirai hitam tebal.


Dia berdiri dan aku tahu tanpa dia harus meminta, Ace butuh sebuah pelukan. Aku memeluknya seerat mungkin, aku merasakan kehangatan dalam pelukannya. Ace menyandarkan kepalanya di bahuku, menghembuskan napas secara perlahan dan terasa berat.


"Aku tidak suka melihatmu terluka." Aku mengaku sambil mengusap pelan bahunya.


"Aku pantas mendapatkannya."


Aku menggelengkan kepalaku "Tidak, tidak ada yang pantas kehilangan seorang ibu," kataku padanya. "Kamu sangat tinggi." Lanjutku mengubah topik pembicaraan menjadi lebih positif. Aku bisa merasakan dia tersenyum meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Aku mungkin harus kembali ke bawah." gumamku pelan pada Ace.


Ace menghela nafas, melepaskanku dari pelukannya.


"Jika kamu butuh sesuatu, beri tahu aku." Kataku sambil berjalan ke pintu, tangannya masih memegang tanganku selama yang dia bisa. Begitu tangan kami sudah tidak saling menggenggam, aku merasa begitu kosong, ingin terus bersama Ace tetapi aku harus kembali kepada para gadis dibawah. Aku menatapnya sejenak, bertanya-tanya apakah dia bisa merasakannya juga.


Aku mengguncang diriku keluar dari kesadaranku sebelum berjalan ke bawah


***


"Maaf terlalu lama, aku harus melakukan sesuatu." Jelasku sambil memberikan selimut dan bantal pada mereka.


"Tidak apa-apa." Riley tersenyum dengan mulut penuh popcorn. Aku terkekeh geli padanya.


Cara meraup semua cokelat yang ada dan Scarlett sedang makan wortel. "Kenapa wortel?" Aku tertawa, dengan raut wajah bingung.


"Ini bagus untuk penglihatan." Scarlett tersenyum polos, masih mengunyah wortel.


"Jangan mempertanyakannya." Cara tertawa saat kami menonton film itu.


Kami telah menonton beberapa film dan sekarang kami saling membuka pembicaraan.


"Ace sangat menarik." Ucap Riley dengan tiba-tiba.


Aku hanya memutar kedua bola mataku.


"Ya benar, dia sangat tampan," tambah Scarlett, bergabung dalam percakapan.


"Yeah, but he's taken." Cara menghela nafas, tersenyum padaku.


"Maybe." Aku mengangkat bahu tidak peduli.


"Ace terpahat dengan sangat sempurna." Ucap Riley memikirkan Ace .


"Ya," gumamku. Tiba-tiba aku merasa terganggu, merasa tidak suka saat gadis lain membicarakan Ace.


"Guys, he's taken okay. Now stop talking about him." Cara memperingatkan mereka, menyadari aku tidak suka mereka berbicara tentang dia.


"Oke oke." Riley menghela nafas.


"Sofia." Ace memanggilku.


"Ya" Teriakku dari ruang tamu.


"Apa besok kamu ada acara?" Ace bertanya padaku, berjalan masuk dengan bertelanjang dada hanya mengenakan celana olahraganya. Rambutnya basah jadi dia pasti sudah mandi.


Aku bisa melihat semua gadis meneteskan air liur padanya dan aku ingin mencungkil mata mereka. "Tidak ada. Kenapa?" Tanyaku penasaran, berusaha tidak menunjukkan kecemburuanku.


"Hanya memastikan, apakah kamu ingin keluar?" gumam Ace, hanya menatapku.


"Ya tentu." Aku mengangguk padanya.


"Good."


"Aku Riley." Riley memperkenalkan dirinya, mengalihkan pandangan Ace dariku. Aku melihat Ace merengut padanya.


"Aku tahu." Jawab nya dengan nada dingin.


"Ayo," geramku sambil meraih tangannya, menariknya ke arah tangga.


"What was that?" Ace menyeringai mengetahui kalau aku sedang cemburu.


"Nothing." Aku bermain dengan tanganku.


Ace menjilat bibirnya sambil menatapku dari atas ke bawah. "I mad you jealous," dia hampir berseri-seri bahagia.


"No." Bentakku malu. Ace terkekeh ringan.


"Baiklah kalau begitu, biarkan aku saja-" Ace berjalan kembali ke ruang tamu.


"Tidak." Aku meraih tangannya lagi. Ace menarikku ke dalam pelukan nya, tubuh kami bersentuhan dan bibir kami hanya terpisah beberapa inci.


"Kau tidak percaya padaku, saat aku berada di sekitar wanita lain?" Dia mengangkat alisnya, menatap lurus kedalam mataku.


Aku menggelengkan kepala, mengakui bahwa aku tidak mempercayainya. Ace menghela nafas kecil. "Apa yang harus kulakukan untuk membuktikan bahwa aku hanya memperhatikanmu?" Tanya Ace padaku.


Aku mengangkat bahu karena aku benar-benar tidak tahu. Ace menggerakkan tangannya di sepanjang sisi tubuhku, menggenggam tanganku erat.


"Jangan cemburu, wanita lain tidak berharga bagiku sekarang." Ace menyeringai padaku yang masih cemburu.


"Itu masih tidak membantu." Aku melipat tangan dan cemberut dengan main-main. Ace tersenyum sebelum dia mengusapkan ibu jarinya ke bibirku untuk menghentikanku dari cemberut.


"Pergilah menikmati malammu." Gumam Ace padaku dengan lembut. Ace menatap kearahku seakan mengatakan aku harus pergi sekarang, aku memutar mataku dengan malas, kami berdua berjalan pergi.


Sesampainya di ruang tamu, aku melihat para gadit itu tertidur saat menonton film.