ACE

ACE
Impulse



Ace's POV


Aku sangat menyesali apa yang telah aku lakukan.


Fu*k. Aku duduk di kursi ku, menyisir rambutku dengan tangan. Dia baru saja pergi, aku membiarkannya pergi! Fu*k! I fu*ked up big time.


Ini berbahaya ketika aku mulai memakai perasaan. Sejujurnya aku tidak pernah merasakan apapun untuk siapapun kecuali dia. Mungkin itu sebabnya semua orang sangat khawatir, aku akan melakukan apa saja untuknya namun akhirnya aku mendorongnya pergi seperti yang lainnya.


Mungkin ini yang terbaik, aku membuatnya bertindak berdasarkan dorongan hati dan bertindak berdasarkan dorongan hati tidak pernah baik, tetapi dia mampu membuatku merasakan arti bahagia walau hanya sebentar.


Aku sangat hancur, aku tidak tahu harus berbuat apa.


Aku harus berhenti memikirkan dia, tentang apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya tetap tinggal. Aku bisa saja mengatakan yang sebenarnya.


"Apa itu tadi?" Tanya Dante, menyerbu masuk ke ruanganku.


"Kau sendiri yang mengatakannya kalau dia terlalu baik untukku. Bahkan kau juga tidak menyukainya..."


"Aku memang tidak menyukainya, tapi aku jatuh cinta padanya, oke? Dan aku sadar saat aku bertemu dengan Sofia, aku tidak benar-benar mencintai Kylie, dan memperhatikan nya dari kejauhan. Aku cemburu padamu. Kamu memilikinya, untuk dirimu sendiri, dia bahkan tidak akan melirik siapapun ketika kau bersamanya." Ucap Dante dengan malu, memotong pembicaraan ku.


Mendengar pengakuan nya membuat darah ku mendidih. Aku bersumpah demi tuhan, mengatakan dia mencintai gadisku- Sofia, membuatku ingin membunuhnya saat ini juga.


Aku tahu, aku sering berbohong padanya, aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidur dengan banyak gadis yang berbeda padahal sebenarnya tidak. Aku membiarkan dia mengambil kendali atas hidupku meskipun rasanya dia mungkin telah mengambil hatiku yang sebenarnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tidak merasakan apapun untuknya, namun nyatanya aku merasakan semua itu.


"Tidak masalah." Gumamku menyebabkan rahang Dante turun seketika.


"Dia sudah pergi, aku bisa kembali fokus pada pekerjaan ku. Kau bisa pergi dari ruangan ku, biarkan aku sendiri." Aku memutar bola mataku, menyerah pada keinginanku untuk bersamanya.


Aku memutuskan untuk membiarkan nya bebas berada di luaran sana, jauh dariku. Itu lebih penting daripada keinginanku untuk menahannya di sisiku. Pada akhirnya, mungkin akan menghancurkannya.


Dante meninggalkan ruangan ku dengan tenang, meninggalkanku sendirian dengan pikiranku.


***


Beberapa hari telah berlalu tanpa Sofia di hidupku. Aku mulai memanggil my strippers lagi.


Ayahku terus mencoba menghubungi ku tetapi aku masih menolak untuk berbicara dengannya. Aku memejamkan mata saat aku bersandar pada tanganku untuk menopang, sikuku bertumpu di atas meja. Aku merasa kelelahan karena terus-menerus berlatih. Setiap otot di tubuhku terasa sakit untuk dibawa tidur tapi aku tidak menyerah begitu saja.


"Ace, kau terlihat menyedihkan. Kau harus tidur, walau hanya sebentar." Gerutu Dante saat dia masuk.


"Oke, that's it."


Dante mendorong sikuku dari meja, menyebabkan kepalaku terbentur meja. Aku sangat lelah sehingga leherku tidak dapat menopang kepalaku.


Dante membantuku ke atas tempat tidur. "Besok kita akan mendapatkan Sofia." Dante memberita padaku saat aku berbaring di tempat tidur.


"Tidak." Aku pergi untuk duduk tapi malah menggerutu kesakitan.


"Percaya atau tidak, Ice dan aku tidak suka melihatmu seperti ini." Dante mengangkat tangannya ke udara seperti sedang mengamuk.


"Dia tidak akan kembali dan aku tidak menginginkannya." Aku berbohong sambil menarik selimut menutupi tubuhku.


"Kau seperti salah satu dari orang-orang depresi di film-film ketika pacar mereka putus dengan mereka." Dante memutar matanya ke arahku.


"Kecuali kau putus dengannya." Ucap Dante menambahkan.


"Aku bahkan tidak bersamanya." Bentakku padanya.


"Lalu kenapa kau marah?!" Teriak Dante frustrasi. Aku hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.


"Aku tidak marah." Aku langsung berdiri, turun dari tempat tidurku.


"Dengar, dia mungkin marah padamu tapi yang perlu kau lakukan hanyalah mengatakan yang sebenarnya, karena aku tahu pasti kau tidak tidur dengan gadis manapun." Dante menghela nafas.


Seorang pria tiba-tiba masuk.


"Apa maksudmu?" Dante memelototi pria itu, menunggu jawaban.


"Nona Sofia mungkin sudah tau tentang pelacaknya atau mungkin seseorang merusaknya!"


Deg


Jantungku tiba-tiba terhenti seketika. Ketakutan mulai menguasai ku ketika aku memikirkan ratusan hal yang bisa saja terjadi.


"Aku perlu berlatih." Aku berjalan keluar, wajahku pucat karena apa yang baru saja kudengar.


"Itu tidak baik-"


"Jangan mengatakan apapun atau aku akan melepaskan gips itu dari lenganmu dan memukulmu dengan itu." Aku menggeram marah padanya, memotong ucapan nya.


Dia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum membiarkanku lewat.


Aku akhirnya pergi keruang pelatihan. Dia pasti menemukan pelacaknya. Dia tidak mungkin mati. Tidak mungkin aku membiarkan ini terjadi.


Sofia's POV


"Aku ingin memberitahu mu sesuatu." Roman menatapku saat kami berjalan bersama, jauh dari sekolah.


"Apa itu?" Aku menanyainya tidak yakin apa yang akan dia katakan.


"Sebenarnya namaku bukan Roman, tapi Haze."


Apa yang tadi dia katakan? Haze?


"I'm the leader of the Vipers." Dia menyeringai bangga saat melihat ekspresi tenangku berubah menjadi ketakutan.


"Itu- kau tahu siapa aku?" Kataku dengan suara terengah-engah, mencoba memahami apa yang baru saja dia katakan beberapa saat yang lalu.


"Kamu sepertinya tidak menyadari, kamu memiliki bakat yang nyata." Dia berbicara dengan percaya diri sambil berbicara tentangku.


"Jadi mengapa Ace tidak menerimamu ke dalam organisasi miliknya? Atau itu bukan pilihan?" Dia bertanya dengan tersenyum nakal, yang menurutku sangat menyebalkan.


Ace tidak pernah memberitahuku untuk bergabung dalam organisasi nya, mungkin karena dia pikir aku ini lemah.


"Aku tidak tahu." Gumamku jujur ​​padanya, tidak ingin berbohong. Dia jelas memiliki mata-mata tapi aku tahu mata-mata itu tidak begitu dekat dengan Ace, atau Haze akan tahu tentang hubungan asmara ku dengan Ace.


Aku telah mendengar tentang Vipers sepanjang hidupku. Mereka memiliki beberapa pembunuh terbaik yang pernah ada.


Haze tersenyum nakal sebelum berkata. "Kami ingin kamu bergabung dengan kami."


"Aku tidak.....tahu." Ucapku khawatir dan tidak yakin.


"Ini." Haze meraih lenganku. Dia terlihat mengeluarkan pisau kecil dari sakunga. Aku langsung memejamkan mataku.


"Tenang." Haze terkekeh kecil, dan menggores lenganku. Aku bahkan tidak bergeming saat dia menusuk kulitku dengan pisau kecil itu. Dia mengambil benda logam kecil dari lenganku, membanting nya ketanah dan menginjak benda itu dengan kakinya.


"Apa itu tadi?" Aku tersentak cemas menatap benda kecil yang baru saja keluar dari lenganku.


"Itu pelacak." Haze menatap potongan-potongan yang hancur di tanah. Aku menatap potongan itu dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di kapalaku.


"Sofia," Haze menarik perhatianku lagi.


"Kamu bisa tinggal selama beberapa hari dan melihat apakah kamu suka menjadi bagian dari kami." Haze menawarkan terdengar seperti dia mencoba membujukku untuk ikut bergabung bersamanya.


Aku tidak akan berbohong, aku tumbuh dalam keluarga yang telah mengajari ku cara bertarung dengan sangat baik. Dan aku juga bisa menerima pukulan, terutama karena ayahku. Pukulan tidak benar-benar mengganggu untuk ku, ditambah lagi apa yang sudah saya alami. Aku tidak ingin pulang ke keluarga yang tidak menginginkanku.


"Oke." Kataku ragu-ragu, tidak yakin apakah keputusan yang aku buat itu benar. Aku sangat ingin memiliki tujuan, aku hanya ini merasa diinginkan. Ayahku tidak menginginkanku dan Ace hanya memanfaatkanku.


Ironis sekali, bukan..