ACE

ACE
Human



Aku terbangun dengan terengah-engah karna mimpi buruk yang menghampiriku. Napasku berat dan dahiku meneteskan keringat. Jantungku terasa seperti akan meledak melalui dadaku saat aku menarik napas dalam-dalam.


Aku melihat sekeliling kamarku yang gelap gulita membiarkan mataku menyesuaikan diri dengan kegelapan sejenak. Aku berbaring, menghela napas lega setelah menenangkan diri. Aku bahkan tidak dapat mengingat apa-apa tentang mimpi itu. Aku turun dari tempat tidur dan memeriksa jam di samping nakas.


Pukul 2:32 pagi, aku memutar mataku dan menyeka keringat di dahiku dengan lengan bajuku. Aku melangkah keluar dari kamar tidurku dan menuju dapur.


Semenjak pesta itu, orang tua Ace tidak pulang selama beberapa hari ini, tetapi tidak perlu khawatir, mereka mungkin memiliki rumah di seluruh penjuru negeri ini.


Aku masih gemetar ketika aku mengisi segelas air di dapur. "Kau sudah bangun." Aku mendengar suara seseorang dan itu membuatku terkejut.


"Astaga Ace," aku terengah-engah, karna masih ketakutan dari mimpi yang kudapat.


"Kenapa kamu terbangun?" Tanyanya sambil menatap ke luar jendela di seberang ruangan.


"Tidak ada alasan, aku hanya haus." Aku mengangkat bahu mengambil minuman ku.


Ace mengangguk sebagai jawaban.


Ada yang tidak beres dengan sikap Ace sejak tadi. Dia tampak kesal tetapi dengan caranya sendiri, Ace menatap foto di dinding dengan raut wajah yang sedih dan dia sepertinya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari foto itu.


Ada sebatang rokok di tangannya yang mungkin itu dapat membantunya mengatasi stres karna masalah yang dia hadapi saat ini.


"Kenapa kamu bangun?" Tanyaku dengan nada lembut, penasaran kenapa Ace tidak benar-benar tidur.


"Aku tidak suka tidur." Akunya sambil menempelkan rokok ke bibirnya.


"Kenapa tidak suka?" Aku hampir berbisik mengingat betapa sepinya rumah itu.


"Aku tidak mau bermimpi." Jawabnya jujur.


"Aneh, kebanyakan orang suka bermimpi." Kataku bingung, heran dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Ace.


"Kenapa aku ingin memimpikan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi, itu tidak masuk akal." Ace mengangkat bahu sambil menjentikkan puntung rokoknya ke luar jendela.


"Yah, kamu tidak terlalu berharap." Aku mengangkat alisku padanya.


"Aku Ace Hernandez, hidupku penuh dengan rasa sakit dan kesengsaraan, tentu saja aku putus asa." Dia memutar matanya, mengejek apa yang orang katakan tentang dia.


"Kamu sedang tidak dalam suasana hati yang baik." Aku cemberut padanya.


"Tidak, aku tidak." Desisnya marah tapi tidak padaku, entah kepada siapa.


"Apakah kamu butuh pelukan?" Aku tiba-tiba bertanya hal itu, dan Ace tidak menanggapinya, hanya menatap ke arah jendela. "Ya Tuhan, kamu membutuhkan nya." Kataku terkejut.


"Aku tidak pernah membutuhkannya, jadi mengapa aku membutuhkannya saat ini?" Dia menggerutu.


"Oke baiklah tapi serius kau membutuhkannya." Kataku, berdiri dengan tangan terbuka ke arahnya.


"Tidak." Wajah nya tampak seperti mengancamku.


"Apa yang akan kau lakukan? Membunuhku?" Jawabku mengejeknya dengan nada menggoda.


"Seandainya aku bisa." Ace memutar matanya. Itu lebih baik menjadi lelucon.


"Apa yang membuat suasana hati mu menjadi buruk seperti ini?" Tanyaku lagi, menjadi benar-benar khawatir.


"Kenapa kamu peduli?" Bentaknya tiba-tiba sambil membanting tinjunya ke meja. Aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku, terkejut tiba-tiba Ace membentakku.


Aku mendengarkan langkah kakinya yang tenang mendekat ke tempatku berdiri, aku bisa mendengar kegoyahan dalam napasnya yang hanya berjarak beberapa inci dariku.


"Karena aku peduli padamu," gumamku pelan sambil melepaskan tanganku dari wajahku. Wajahnya langsung tenang mendengar kata-kataku. Aku meraih tangannya perlahan tapi dengan hati-hati, tentunya. Aku bisa merasakan hasrat membara di antara kami. Jari-jari kami saling bertautan dibawah sana, menolak untuk melepaskan. Napas Ace melambat saat aku menatapnya dengan lembut.


"Kamu tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja Ace, aku tahu ada yang salah padamu." bisikku lagi padanya, memastikan dia sudah tenang. Aku melihat glasir di matanya seperti dia ingin menangis.


"Apa yang terjadi?" kataku dengan berbisik.


"Ada apa!" Aku menuntut ingin tahu, meraih pipinya lembut dengan tanganku yang bebas. Dia membuka mulutnya untuk berbicara tetapi tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.


"Ace kau bisa memberitahuku, aku ada di pihakmu!" Aku meyakinkannya. Aku benci melihatnya seperti ini. Ace melirik ke lantai sebelum menatap lurus ke mataku, dia bersandar ke bahuku dan menutup matanya, menerima sentuhanku. Dia membuka matanya lagi dan menghela nafas. "Ayahku membunuh ibuku di pesta dansa kemarin, aku baru mendapat kabar beberapa waktu yang lalu." Ucap Ace pelan, hampir seperti tidak ingin mengatakannya. Sepertinya jika dia mengatakannya, dia harus mempercayainya.


Aku merasa mataku berair, aku tidak tahu mengapa. Mungkin itu adalah fakta bahwa aku tahu ibunya adalah satu-satunya orang dalam hidup Ace yang benar-benar merawatnya sebaik mungkin dalam keadaan seperti ini.


Aku melingkarkan tanganku di sekelilingnya. "Maafkan aku." Gumamku, air mata mengalir di pipiku. Jiwanya indah dan tidak termasuk dalam Mafia. Pria jahat itu yang mengikatnya dengan rantai.


Ace tidak menjawab tapi tangannya perlahan terangkat ke punggungku dan kemudian dia melingkarkan tangannya di sekitarku, memelukku, seolah aku adalah satu-satunya hal yang stabil dalam hidupnya. Dia menempel padaku, tidak ingin melepaskannya.


"Maafkan aku, maafkan aku Ace," ucapku lirih, memeluknya sekuat mungkin. Dia membenamkan kepalanya ke leherku. Aku memindahkan salah satu tanganku ke atas kepalanya, mengusap rambutnya dengan lembut. "Dia tidak pantas untuk itu... kau tidak pantas untuk itu." Bisikku padanya sambil terisak. Dia menggelengkan kepalanya perlahan saat aku melihat salah satu air matanya jatuh ke lantai.


Aku pura-pura tidak melihatnya, sampai air mata nya jatuh lagi ke lantai. Ace tidak menggerakkan kepalanya dari leherku. "Tidak apa-apa," bisikku sambil memeluknya erat.


"Ini salahku, seharusnya aku tidak meninggalkannya bersamanya." Gumamnya kesakitan.


"Tidak....tidak tidak, jangan pernah katakan itu." Bisikku padanya.


"Aku meninggalkannya di sana." Dia berbicara dengan nada kesakitan dalam suaranya.


"Kau tidak tahu." Aku menangis untuknya saat aku meletakkan tanganku di belakang kepalanya.


Aku merasa bersalah untuk beberapa bagian dalam hal ini. Jika saja Ace membunuhku, ayahnya tidak akan menghukumnya seperti ini.


"Aku tidak akan pernah melihatnya lagi." Ace menggelengkan kepalanya lagi, masih membenamkan wajahnya di leherku.


Aku meraih wajah Ace dengan kedua tanganku, menariknya keluar dari leherku untuk melihat wajahnya. Dia ragu-ragu tapi dia melirikku sebelum menatap ke lantai. Matanya merah dan berair, aku mengelus pipinya, menghapus air matanya dengan ibu jariku. "Aku percaya kamu akan bertemu dengannya lagi suatu hari nanti." Bisikku pelan pada Ace yang tidak melepaskan tatapannya dari arah bawah. Yang menyedihkan adalah aku tahu persis bagaimana perasaannya.


Aku hanya menariknya kembali ke pelukanku.


Beberapa menit berlalu kami hanya saling berpelukan. "Ayo, kamu harus tidur." Bisikku padanya, meraih tangannya dan membawanya ke kamarnya.


"Tidak." Ace berbicara dengan tajam.


"Kau harus!" Aku menatapnya dengan sedikit tajam.


"Baiklah," dia menghela nafas kecewa.


Aku membuka pintu kamarnya, Itu masih sama dengan yang terakhir kali aku ke kamarnya. Tidak ada poster atau apapun. Kami berdua naik ke tempat tidur.


Ace berbaring menghadapku sebelum dia menghela nafas. "Pejamkan matamu." Bisikku sambil mengelus pipinya.


"Aku tidak suka tidur." Ace ragu-ragu mengakui lagi tapi tetap memejamkan matanya.


Beberapa menit telah berlalu.


"Ace," bisikku sangat pelan.


"Iya." Jawabnya, membuatku sedikit terkekeh.


"Kau seharusnya sudah tidur." Aku memelototinya.


"Sudah kubilang aku tidak suka tidur." Ulang Ace lagi.


Aku menatap lembut padanya dalam gelap. "Berikan tanganmu." Ucapku tiba-tiba. Ace mengarahkan tangannya kepadaku.


Aku mulai menggambar lingkaran menenangkan di tengah telapak tangannya dengan jariku. Ace akhirnya rileks, tubuhnya tidak tegang lagi.


"Kau tegang sekali," bisikku sambil mengangkat bagian belakang kemejanya. Ace bahkan tidak bertanya apa yang aku lakukan, tanganku merambat ke bagian punggungnya, mengusapnya disana, menyebabkan dia tersenyum kecil. "Kau suka ini?" Aku menanyainya pelan, Ace hanya bergumam kecil. Begitulah cara aku tahu dia akhirnya tertidur.


Aku tahu dia tertidur karena napasnya yang teratur dan tubuhnya yang rileks. Aku menarik tanganku dari punggung nya dan berniat untuk bangun dari tempat tidur, tiba-tiba tangan Ace meraih pergelangan tanganku, seperti tidak membiarkan aku untuk pergi. Dia setengah tertidur, aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresi damai nya saat tertidur, Ace benar-benar tanpa cacat.


"Kamu pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari kehidupan mu saat ini." Bisikku lembut sambil memejamkan mata.