ACE

ACE
Fazed



"Hei Dante." Aku tersenyum saat aku duduk di sampingnya tapi aku hanya mendapat tatapan muram sebagai balasannya. Aku sudah lupa tentang apa yang terjadi padanya tempo hari.


"Maaf." Ucapku memecah keheningan di antara kami. Dante akhirnya mendongak. "Maaf? Ini salahku, bukan salahmu," desah Dante sambil mengusap keningnya penuh tekanan.


"Aku hanya marah karena kamu bisa keluar dari itu semua dan dia tidak bisa." Dante melirikku, aku bisa melihat rasa sakit di matanya.


"Akupun hampir mendapatkan nya." Aku menunjukkan perban di leherku dari tempat Ace menancapkan pisau.


"Aku tahu dia tidak akan melakukannya." Dante memutar matanya sedih.


"Kenapa?" Kataku hampir terkejut.


"Kau pikir dia begitu?" Dante terlonjak kaget.


"Kupikir aku akan mati. Dia tidak punya alasan untuk tidak membunuhku." Aku mengangkat bahu bingung.


Dante sedikit mencibir. "Kalian berdua sama butanya satu sama lain." Dante memutar bola matanya sambil tersenyum.


"Kawan, bisakah kau memasangkan ini untukku." Ace berjalan kearah kami masih dalam setelan jasnya dengan membawa handwrap di tangannya.


"Maaf, aku tidak tahu bagaimana caranya, aku meminta bantuan pelatih untuk memasangkan nya untukku." Dante mengaku agak malu.


"Aku akan melakukannya." Aku mengangkat bahu.


"Kau tahu cara membalut tangan?" Ace tampak terkejut.


"Ya, kakak-kakakku dulu menyuruhku membalut tangan mereka sebelum sparring, meskipun aku sendiri tidak pernah sparring atau berlatih serius, itu dilarang." Aku mengoceh sambil meraih handwrap tinju putih milik Ace.


Aku perlahan membungkus tangannya sebelum Ice masuk ke area.


Seluruh suasana hati Ace langsung berubah dari santai menjadi marah dalam hitungan detik setelah melihat Ice. "Maaf, itu bukan tempatku untuk masuk, aku hanya tidak ingin kamu bersikap lunak padaku." Ice segera meminta maaf kepada Ace. Dia benar-benar tampak seperti dia bersungguh-sungguh. "Kamu dimaafkan tapi jika kamu melakukan hal seperti itu lagi, kamu akan dibunuh, mengerti?" Nada suara Ace semakin dalam dengan beberapa kata terakhirnya. "Ya." Ice mengangguk patuh. Dia berbalik dan berjalan kembali tanpa membela diri.


"Beruntung dia sudah seperti saudara bagiku." Ace memutar bola matanya, muak dengan Ice.


"Kenapa dia dipanggil Ice?" Tanyaku penasaran mencoba menyelesaikan balutan tangannya.


"Menurutmu kenapa? Dia tidak punya emosi dan belas kasihan, hatinya sedingin es," ejek Ace. "Ice sebenarnya berhati lembut, dia pernah mencintai seorang gadis, tapi gadis itu menghancurkan hatinya yang sedingin es." Lanjut Ace sambil mengepalkan tinjunya sementara aku menatap tangan terkepal yang coba aku bungkus.


Aku menggerakkan jari-jariku di sepanjang buku-buku jari Ace, segera menarik perhatian Ace. Tangan Ace terbuka sedikit tetapi aku membuka sisanya menikmati sentuhan kami. Napas Ace tiba-tiba menjadi sedikit lebih berat dari sebelumnya.


"Hati-hati." Aku hampir memohon padanya.


Ace menatap bibirku. "Aku mengerti." Balasnya pelan.


Kami saling menatap sejenak saat tanganku memegang tangannya. Aku benar-benar tidak ingin dia melakukan ini tetapi aku tidak bisa menyuruhnya berhenti.


Bodyguard Ace sepertinya tidak terganggu jadi kenapa saya harus? nyata nya aku akan selalu mengkhawatirkannya.


"Berikan jas mu," gumamku saat dia berbalik, melepas jas tuxedonya. Ace melepas dasi dan kemejanya untuk memberinya lebih banyak gerakan dan aliran, aku tidak akan pernah melupakan betapa sempurna pahatan tubuhnya.


Aku merasakan jantungku berdebar kencang saat dia melangkah ke atas ring, hanya dengan celana pendek tinju dan sepatu, tangannya terbungkus setelah berganti pakaian.


"Aku tidak akan khawatir." Dante mengakui kepadaku dengan ekspresi paling tidak terkesan di wajahnya.


"Kenapa?" Aku memainkan tanganku dengan gugup.


"Dia seorang Raja Mafia karena suatu alasan, kamu akan melihatnya." Dante meninggalkan aku sambil berjalan ke bagian penembakan.


Ace telah melupakan penjaga mulutnya, aku menariknya keluar dari ring sementara Ace kembali kepada ku, dia membuka mulutnya dan aku memakaikan ke dalam mulutnya. Dia menyesuaikannya sebelum menatapku, Ace meraih tanganku dan menggenggam nya.


Aku tidak ingin melihatnya terluka, ini benar-benar pertarungan yang sulit, mereka memperlakukan satu sama lain seolah-olah mereka adalah musuh. Ini efektif tetapi juga berbahaya.


Ace menyelinap lebih jauh ke dalam ring. Beberapa dari mereka berkumpul untuk menyaksikan pertandingan pemimpin mereka, termasuk para ******-****** itu.


"Ayo Ace!" Salah satu ****** bersorak. Jika ia ini tidak diam, aku akan melemparkan pisau lain padanya dan tidak akan melewatkannya kali ini.


Pria yang dilawan Ace terlihat sangat hiper, pria itu mengayun dan Ace menghindar. Ini berulang untuk sementara waktu. Ace terus melayangkan pukulan kearah pria itu, membuatnya terlihat marah. Pria itu menjadi sangat frustrasi dan ayunannya menjadi jauh lebih agresif. Aku mulai khawatir ketika Ace nyaris lolos dari pukulan kanan yang keras.


Aku tidak bisa menonton ini lagi, aku melompat turun dari sisi ring, berjalan keluar ke lorong dan berjalan menyusuri koridor yang kosong. Aku pergi ke sebuah ruangan kosong yang sepertinya menjadi tempat istirahat bagi para pelatih.


Aku memainkan tanganku dengan gugup sambil duduk di lantai ruangan. Beberapa menit telah berlalu dan aku penasaran bagaimana keadaan Ace. Dengan ragu aku memutuskan untuk masuk kembali dan melihat dari kejauhan saat Ace akhirnya mengayunkan pukulan keras kepada pria itu dan menjatuhkannya.


Aku menghela napas lega. Ace terlihat kebingungan saat ia melihat sekeliling ruangan. Perlahan aku berjalan mendekat ke ring, aku melihat darah menetes dari mulutnya dan dia masih memakai pelindung mulutnya.


"Ini Ace." Gadis itu menyodorkan air padanya.


"Terima kasih."


Aku melihat Ace tersenyum padanya sambil mengambil botol air itu. Gadis itu menjerit berjalan ke teman-temannya dengan senyum lebar di wajahnya. Ace menatapku tidak terkesan saat dia mengatupkan rahangnya dan berjalan menjauh dariku.


"Apa dia marah padaku?" Pikirku dalam hati.


"Ace," teriakku.


"Ace." Ucapku lagi sambil meraih pergelangan tangannya untuk menghentikannya pergi.


"Apa!" Bentaknya, melepaskan pelindung mulutnya.


"Kenapa kamu marah padaku?" Tanyaku padanya dengan ekspresi bingung di wajahku. Dia memutar matanya kesal sebelum mencoba untuk pergi sekali lagi.


"Ace" desisku padanya.


"Kamu bahkan tidak tinggal sebentar!" Ace menggera marah padaku.


"Bukan salahu, aku hanya tidak ingin melihatmu terluka." Bentakku padanya.


"Sofia, aku sedang marah ok." Ucap Ace dengan dada yang naik-turun, mencoba mengatur emosinya.


"Kenapa, aku tidak melakukan apa-apa?" Kataku frustasi.


"Tinggalkan aku sendiri." Gumam Ace padaku dan mencoba pergi. Aku menolak untuk berhenti dan tetap mengikutinya walau dia terlihat marah.


"Pergi!" Ace meraung membuatku terhuyung mundur beberapa langkah saat dia tiba-tiba berhenti dan berteriak padaku.


Aku terdiam beberapa saat, kilas balik tentang teriakan ayahku kembali muncul di ingatanku. Aku takut pada Ace, tidak terintimidasi, tidak malu, tidak gugup tetapi hanya takut. Aku yakin jika Ice memberinya pisau, dia akan membunuhku sekarang juga.


Aku dengan cepat mendapatkan kembali kesadaranku dan berjalan keluar. Tangan dan kaki ku gemetar tapi bukan karena Ace yang meneriakiku, tapi karena mengingat tentang ayahku. Aku merasa dia ada di depanku, bukan Ace.


Ice meraih lenganku saat aku berjalan menyusuri lorong. "Kau melihatnya kan? Itulah Ace, seorang iblis." Ice tersenyum melihat wajahku yang pucat.


"Dia bukan iblis dan berhenti mengatakan itu, itu terdengar aneh." Gumamku sambil melepaskan tanganku dari cengkeramannya dan terus berjalan.


Aku memasuki ruangan kosong yang sama dengan tempat aku berada saat Ace bertarung, bersandar ke dinding. Aku tidak ingin menangis atau melakukan apa pun, aku hanya ingin pulang saat ini juga.


Aku meminjam Handphone seseorang yang lewat di depan ku untuk menghubungi Terry, memintanya untuk menjemputkan saat ini juga.