ACE

ACE
Pain



Aku terbangun dari tidurku melihat kesekeliling ruangan, kupikir ini semua hanya mimpi, ternyata tidak. Aku mengangkat kepalaku dari lantai yang dingin, setidaknya hari ini aku harus pergi ke sekolah.


Raul membuka kan pintu ruang bawah tanah untukku. "Ayah seharusnya tidak menghukumnya seperti ini!" Bentak Stefano kepada Raul.


"Akupun tidak bisa berbuat apa-apa." Jawab Raul menantangnya.


"Bagaimana kalau kamu membiarkan pintunya tidak terkunci sehingga Sofia bisa naik ke kamarnya dan menyelinap kembali di pagi hari, dasar breng**k." Stefano mendorong Raul, mencoba memaksanya untuk menyingkir.


"Aku tidak bisa!" Raul menggeram.


"Tidak apa-apa Stefano." Aku menggosok mataku, perlahan bangkit dari lantai.


"Ayah memperingati ku, kalau kamu tidak boleh makan." Raul memberitahuku dengan ekspresi tidak nyaman di wajahnya.


"Omong kosong sialan," gerta Stefano pada. "Dia adik kita!" Raul memutar bola matanya, tidak mau mendengarkan kata-kata kasar Stefano lagi.


"Ini." Stefano memberiku sandwich.


"Jika ayah bertanya, salahkan aku." Stefano meyakinkanku.


"Terima kasih Stefano." Aku mencium pipinya sebelum berangkat ke sekolah.


Hari ini adalah perjalanan yang panjang, aku harus berjalan untuk sampai di sekolah. Sangat melelahkan, mengingat aku hanya mendapat sedikit waktu tidur ku di lantai bawah tanah itu.


Untungnya aku tiba di sekolah tepat waktu untuk kelas pertamaku. Semua orang tampak akrab satu sama lain dan ruang kelas sangat besar itu.


Aku berjalan ke kelas yang penuh dengan siswa yang berbicara dan mengobrol di depan kelas.


"Apa-apaan ini, kenapa tempat ini begitu besar." Bisikku sambil melihat sekeliling. Aku memutuskan untuk duduk di belakang kelas sambil bertanya-tanya apakah ini benar-benar kelas ku.


"Hei." Aapa seseorang yang menarik perhatianku. Aku mengangkat kepalaku dari buku-bukuku dan menoleh ke arahnya.


"Aku belum pernah melihatmu di kelas ini sebelumnya?" Dia bertanya dengan sopan. Aku sedikit terpesona oleh ketampanan wajahnya.


betapa menariknya dia


Tunggu, aku sudah punya Ace, aku tidak bisa berpikir begitu.


"Oh iya, aku siswa baru disini." Ucapku tersenyum sambil mengusap belakang leherku canggung.


"Saya Roman." dia tersenyum sopan padaku.


"Aku Sofia" Aku tersenyum senang.


"Jadi, kenapa kamu bisa memutuskan untuk bersekolah disini?" Tanya Roman, mencoba melanjutkan pembicaraan.


"Aku ingin menjadi dokter atau perawat." Jawab ku penuh harap.


"Bagaimana denganmu?" Aku balik bertanya padanya dengan rasa ingin tahu.


"Tidak jauh berbeda denganmu." Jawabnya dengan tersenyum kecil.


"Apakah kamu tahu di mana kelasmu?" Dia berbicara kepadaku.


"Tidak juga." Aku mengangkat bahu.


"Aku akan mengajakmu berkeliling setelah kelas." Dia menawarkan.


"Itu akan luar biasa." Aku tersenyum padanya.


Dia memiliki rambut hitam yang sedikit keriting dan kulit gelap. Dia pasti suka berolahraga, terlihat dari otot-ototnya yang tercetak di balik kemejanya, bahkan kancingnya hampir putus dari jahitannya. Dia sangat berbeda dengan Ace. Dia tidak memiliki tato dan sepertinya bukan tipe pemberontak, kurasa dia sepertinya tipe pria yang sangat serius.


"Berapa umurmu?" Tanyanya penasaran.


"Aku 18 tahun. Kamu?" Aku menjawab tetapi juga menanyainya kembali.


"Aku 19 tahun." Jawabnya terdengar bahagia.


Tiba-tiba guru masuk ke kelas kami dan seketika kelas hening seketika.


"Selamat pagi." Sapa guru itu setelah dia duduk di kursi nya. Ia memulai kelas dengan mengabsen kami semua, setelah itu ia mulai menjelaskan materi pembelajaran hari ini.


Aku melihat Roman membuat beberapa sketsa di atas selembar kertas ketika guru berbicara dengan keras, memastikan bahwa semua orang dapat mendengarnya.


Aku meraih notepadku dan aku mencari penaku. Jangan bilang aku lupa membawa pena. Aku menghela nafas sebelum memutar mataku.


"Ini." Roman menyodorkan pena biru padaku.


"Bagaimana kamu-- terima kasih." Aku tersenyum padanya, tidak terlalu mengkhawatirkannya karena aku mungkin tampak terlihat stres.


"Aku melihatmu mengobrak-abrik tasmu, jadi kukira kau tidak memilikinya."Roman hanya mengangkat bahunya acuh.


Kelas ini sebenarnya sangat menarik. Aku tidak tahu bahwa jika aku benar-benar menikmati kelas yang aku pelajari. Aku pikir itu akan sedikit membosankan, tetapi ternyata tidak.


Tetapi aku segera menjadi tidak tertarik ketika aku tahu bahwa kami memiliki guru yang sama untuk setiap kelas dan bahkan tidak berpindah kelas!


"Fuckkkk." Aku mendengar Roman mengerang hanya untuk melihat ke atas dan melihat kepalanya di atas meja dan wajahnya tampak putus asa.


Roman memberiku sebuah kertas, akupun membuka kertas itu.


Pergi ke kamar mandi.


"Untuk apa dia menyuruhku ke kamar mandi?" Pikirku dalam hati.


Aku menengok kearahnya dengan ekspresi bingung dan hanya dibalas dengan anggukan saja. Aku bangun dari kursiku, dan meminta izin sebelum berjalan keluar dari kelas.


Sekitar 5 menit telah berlalu aku menunggu di luar kamar mandi. Aku melihat Roman berbelok di tikungan.


"Akhirnyaaaa." Dia tersenyum.


"Kelas itu perlahan membunuhku." Ucapku sambil menggerutu.


"Setidaknya ada seseorang yang berbagi rasa sakitku, semua gadis menyukai kelas itu karena mereka berpikir bahwa Mr. Evans itu seksi." Dia memutar matanya, membiarkan senyumnya lepas.


"Ew." Aku memasang wajah jijik.


"Kenapa kamu ingin bertemu di sini?" Tanyaku penasaran.


"Karena aku tidak ingin tinggal di kelas lagi." Dia mengangkat bahu dengan tampang nakal. Apa dia benar-benar berpikir untuk membolos?


"Jadi kau ingin ditemani?" Aku mengangkat alisku padanya .


"Ya, aku kira begitulah cara mengatakannya. " Ucap Roman dengan seringai, membuat aku berpikir dia ingin lebih dari sekedar berteman, dan jujur ​​aku pikir aku ingin lebih dari itu jug.


"Apakah kamu ingin pergi?" Dia bertanya dengan alis terangkat.


"Ahhh fu*k it." Aku mengangkat bahu berjalan keluar dengan Roman.


"Ini baru hari pertamaku sekolah dan aku sudah membolos." Aku menggelengkan kepalaku.