
Kami akhirnya tiba di Mansion Ace dan begitu aku masuk, aku langsung bergegas ke kamarku untuk berganti pakaian.
Setelah berganti dengan pakaian yang lebih santai aku memutuskan turun ke lantai bawah untuk melihat bagaimana keadaan Ace.
Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, karna Ace sangat sulit dibaca.
"Aku harus membersihkan lukamu." Gumamnya sambil mengusap dahinya dengan penuh tekanan. Aku mengikutinya ke dapur, dibungkam oleh keterkejutan. Sampai saat ini aku masih tidak percaya bahwa dia tidak membunuh ku.
"Duduk di sini." Gumam Ace sambil meraih kotak P3K. Dia meletakkannya di sebelahku sambil menatap luka di leherku.
"Kenapa kamu tidak membunuhku?" Akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk bertanya, tidak bisa menahan diri lagi.
"Ayahku melakukannya terlalu jauh tahun ini!" Geram Ace sambil menuangkan alkohol ke bola kapas.
"Ya, tapi itu tetap tidak menjelaskan mengapa kamu tidak membunuhku?" Aku mengangkat bahu dengan rasa ingin tahu.
"Maukah kau membunuhku?" Dia menatapku tajam.
"Tidak." Aku berbicara dengan nada terang-terangan.
"that's it. Seperti itupun jawabanku. Bisakah kamu menjelaskan mengapa? karena aku tidak bisa menjelaskan nya." Dia mengoceh kesal.
"Kamu seharusnya membunuhku, kamu mungkin akan di puja-puja sekarang." Gumam ku saat melihat Ace agak membungkuk untuk melihat luka ku.
"Aku lebih suka memiliki seseorang yang kupercaya daripada di puja-puja." Jawab nya pelan sambil mengusap luka di leherku.
Aku mendesis pelan, pada rasa perih dari alkohol di leherku.
"Kau percaya padaku?" Aku terdengar terkejut.
"Yeah. Aku percaya padamu," akunya.
"Aku tidak pernah mempercayai siapa pun jadi aku menaruh banyak kepercayaan padamu dan berharap itu bisa merubah sedikit citra iblis yang melekat di diriku." Lanjutnya dengan menyeringai kecil.
Dia bahkan tidak kesal tentang hal itu, yang membuat diriku lebih bingung dari sebelumnya.
"Ayolah, aku tahu kau bukan iblis." Jawabku dengan nada bercanda sambil menyikut lengannya.
"Lukamu masih berdarah." Desahnya, mengusap dahinya lagi dengan frustasi.
Aku meraih tangannya dan menariknya dari dahinya.
"Kau membuatku kesal saat kau melakukan itu." Ucapku mencoba menirukan gaya Ace dengan suara berat. Sebuah lipatan terbentuk di antara alis Ace.
"Wow tanganmu besar sekali." Aku menempelkan tanganku ke tangannya untuk membandingkan ukurannya. Aku merasa tertarik untuk menggenggam tangannya, seperti ada magnet yang menarikku untuk melakukannya.
"Tidak, itu karena kamu saja memiliki tangan yang kecil." Jawabnya lembut sambil menatapku.
Ace selesai menutup luka dileher ku akibat goresan pisau di kejadian beberapa jam lalu.
Dor...dor...dor..
Kami terganggu dengan suara seseorang menggedor pintu bahkan hampir seperti ingin merusak pintu itu. Ace melirik pintu dengan curiga, aku bisa melihat kekhawatiran dalam tatapannya dan kemarahan di kerutannya. Ketukan di pintu itu keras dan kuat, begitu kuat hingga hampir bergema di seluruh rumah yang kosong ini.
"Pegang ini." Dia menyodorkan sebuah pisau padaku.
"Jika ada yang mendekatimu, tusuk mereka." Ucap Ace protektif saat dia berjalan ke pintu.
Aku mendengar bunyi seperti benda terjatuh sangat keras saat langkah kaki Ace mendekati pintu, ada cipratan air hujan di jendela tetapi suara itu semakin keras saat hujan turun lebih cepat.
Ace membuka pintu, yang bisa aku dengar hanyalah suara-suara teredam.
"Dasar idiot." Aku mendengar seseorang berteriak .
Aku mendekat ke sudut untuk mencoba dan mendengar percakapan mereka.
Aku melihat Ace dan Ice berjalan ke dapur.
"Di mana dia?" Ice mendesis pada Ace.
"Ayahmu harus pergi tanpamu, tahukah kamu betapa malunya dia?" kata Ice frustrasi.
"Aku tidak akan membunuh wanita yang tidak bersalah." Gerutu Ace pada Ice.
"Wow, cukup menggelikan mendengar kata-kata itu dari seorang Ace Hernandez. Ingat Ace, kau telah membunuh banyak orang!" Ucap Ice marah sambil meninju meja disana. Dia mengangkat tangannya dan menatap darahku yang berceceran di counter meja, yang sekarang menempel di tangannya.
"Aku tahu, kau hanya ingin menidurinya, aku tidak menyalahkanmu akan hal itu karena akupun ingin. Aku bahkan bertanya padanya tapi dia begitu tertarik padamu sehingga dia tidak akan melirikku dua kali." Ice mengoceh dengan seringai kecil di bibirnya, seakan tahu perkataanya membuat Ace kesal.
Aku melihat Ace mengepalkan kedua tangannya yang berada di sisi tubuh nya.
"So, did she scream?" Ice tertawa kecil pada Ace. Ace terkekeh kembali pada Ice, menggelengkan kepalanya dan menggigit bibirnya sebelum memberikan pukulan di rahang Ice.
"See what I mean. Kamu tidak hanya ingin meniduri gadis itu, kamu menginginkannya. Semua yang ada pada diri gadis itu." Ice menatap Ace dengan jijik.
Ace tidak menjawab, dia hanya menatap dingin Ice.
"Kau bahkan tidak menyangkalnya." Desis Ice pada Ace. Ace hanya mengangkat bahu samar, setidaknya dia tidak mengatakan tidak?
"Apakah gadis itu sangat hebat diatas ranjang sampai kau begitu tergila-gila terhadapnya? Let me get some of that." Ice tertawa dramatis, mencoba membuat Ace lengah.
Aku melihat Ace mengatupkan rahangnya, dengan ekpresi jijik saat mendengar kata-kata itu.
"**** of." Geram Ace.
"Did you get it in? We know you have a small ****." Ice terkikik pada dirinya sendiri.
Ace hanya memutar mata ke arahnya.
"Hmm, berapa itu? 3 inci?" Ice bertanya dengan nada mengejek.
"It's 8 inches, but we'll go with 3 inches." Ace menyeringai senang, mengetahui bahwa aku mendengarkan percakapan mereka.
"8 inchi? Apa maksud perkataan mereka?" Ucap batinku bingung.
Wajah Ice langsung berubah masam. "Kamu bohong." Cibirnya.
"Tidak. Untuk apa aku berbohong. Apa aku harus memperlihatkannya sekarang juga?" Ace terkekeh melihat ekspresi Ice.
"Kalau begitu, tidak heran kenapa dia begitu terobsesi denganmu, dia hanya ingin menidurimu. Kaulah yang dipermainkan olehnya." Ice tertawa mencoba mengeluarkan argumen ini setelah melihat Ace mulai bosan.
"Pergilah." Ace memutar matanya, mulai terlihat gelisah .
"Ya Tuhan...." Ucap Ice dengan ekspresi terkejut, entah benar atau hanya pura-pura.
Ace menatapnya dengan rasa ingin tahu.
"Atau jangan-jangan kau belum menidurinya." Ice menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. Ace hanya menatap lantai.
"Memang benar Ace belum melakukannya, tapi kita bisa melakukannya sekarang juga." Aku keluar dari persembunyian ku, aku tidak tahan melihat sikap menyebalkan Ice.
Aku mengedipkan mata pada Ice saat aku berjalan ke Ace, tepat di hadapan Ace aku mengecup pelan lehernya. Ace menggigit bibir bawahnya saat dia mengarahkan kepalaku ke bibirnya.
Aku melihat dari sudu mataku Ice memperhatikan kami dengan canggung saat aku dan Ace saling menatap dengan intens.
"Pergi." Tuntutku tapi dia tidak bergeming. Aku melakukan ini karena aku ngin Ice pergi dari sini dan aku tahu Ace juga ingin melakukan itu.
Ace mengusap perutku, perlahan menuju celanaku.
Ice berbalik.
"Keluar." Ace memperingatkannya dengan dingin
"Kami belum selesai berbicara Ace." Desis Ice tidak menatap kami.
Ace tidak menjawab perkataan Ice, ia hanya meraih tangan Ice dan melemparkannya keluar.