ACE

ACE
Hurt



Aku baru saja bangun.


Itu adalah salah satu tidur ternyenyak yang aku alami dalam beberapa hari terakhir ini. Cara akan datang hari ini dengan beberapa temannya tetapi sebagian dari diriku takut Ace akan tertarik pada salah satu dari mereka dan benar-benar melupakanku.


Ace sudah tidak ada di sampingku dan itu tidak mengejutkan lagi, setidaknya dia bisa tidur tadi malam. Aku melihat sebuah jurnal di atas meja Ace, aku tidak akan membacanya karna menghormati privasinya tetapi aku penasaran dengan apa yang dia tulis di sana.


Aku merangkak turun dari tempat tidur. Di luar mulai dingin karna akan menuju musim dingin. Aku melihat Ace berdiri di depan pintu dengan baju yang terbuka, bahkan tidak kedinginan sedikitpun.


"Kau akan sakit." Gumamku sambil menyilangkan tangan dan melihat ke dalam lemari es.


"Aku tadi membuat pancake, dan aku tidak peduli dengan dingin." Ucap Ace dengan mata terpejam, aku membiarkannya daripada mengganggu ketenangan fisiknya.


"Oh, oke " Kataku sambil mencari sepiring pancake.


"Aku memasukkannya ke dalam microwave agar tidak menjadi dingin." Ucap Ace. Aku mengeluarkannya dari microwave dan mengambil garpu. Aku bertanya-tanya seberapa baik Ace dalam memasak, aku mengaduk krim kocok di atas panekuk dan menyendok nya sesendok ke dalam mulut ku.


"Ini sangat enak." Aku terkesiap dengan mulut penuh.


"Jangan bicara dengan mulut penuhmu." Ace cemberut padaku.


"Mulutku penuh dengan sesuatu yang lain tempo hari dan kamu tidak keberatan." Aku mengedipkan mata padanya, mendapatkan seringai dan kekehan sebagai tanggapan.


Ace menggelengkan kepalanya. Aku meletakkan piring panekukku dan berjalan ke arahnya. "Masih sakit?" tanyaku sedih, Ace mengangguk sebagai jawaban. Aku meraih tangannya, menjalin jari-jari kami dan menyandarkan kepalaku di bahunya.


Sebagai respon, Ace menyandarkan kepalanya di kepalaku saat ******* keluar dari bibirku. "Apakah ayahmu pergi untuk selamanya?" Aku bertanya pada Ace berhati-hati, aku tahu dia masih sensitif tentang topik ini.


"Ya, dia pergi untuk tinggal di rumah kami yang lain di Florida dan dia tidak akan memiliki kekuatan di Mafia lagi. Dia tidak akan kembali, setidaknya tidak untuk waktu yang lama," Ace berkata dengan marah sambil menatap keluar, dengan lipatan di antara alisnya dan tangannya mengepal. "Aku ingin membunuhnya." Lanjutnya, tanpa sadar meremas tanganku. Aku memekik kesakitan dan Ace langsung melepaskannya setelah menyadari apa yang dia lakukan.


"Maaf." Gumamnya sambil meraih tanganku dan menempelkan bibirnya ke buku-buku jariku. Seperti ada aliran listrik di punggungku saat bibirnya menyentuh kulitku, napasku sedikit tercekat dan dia pasti menyadari itu.


"Cara dan teman-teman nya akan datang hari ini, apakah kamu mengijinkan?" Aku bertanya pada Ace, ingin mengubah topik pembicaraan agar dia tidak terlalu marah atau kesal.


Dia hanya mengangguk.


"Kalau tidak kau tidak mengijinkan nya beritahu aku." Aku meyakinkannya.


"Tidak apa-apa." Gumamnya sambil meregangkan punggungnya.


"Aku bahkan tidak ingin mereka datang." Gerutuku sambil memutar bola mataku.


"Biarkan mereka datang dan setelah mereka pergi, kita bisa melakukan sesuatu." Jawab Ace mengangkat bahu.


"Wow, kamu mau pergi denganku?" Aku terkesiap dengan tangan di dada, berbicara dengan nada terkejut yang dibuat-buat. Ace mencibir padaku sebelum memutar matanya.


"Aku tahu, aku yang paling keren……dan tercantik" tambahku cepat setelahnya. Ace menggelengkan kepalanya saat dia menatap tanah.


"Katakan," aku cemberut padanya.


"Tidak." Dia menyeringai.


"Katakan." Aku meremas pipinya dengan tanganku.


"Tidak," dia berjuang untuk tidak tersenyum.


"Katakannnnn." Aku memelototinya.


"Oke oke," Ace memutar matanya. "Kau yang paling keren..," gumamnya.


"Dan... " Aku menunggu jawaban.


"Dan yang tercantik" gerutunya ragu-ragu.


"Aku tahu itu." Aku terkekeh pelan. Dan Ace hanya menatapku dengan seringai kecil.


"Berhenti melakukan itu." Aku mengerutkan kening padanya.


"Apa?" Ucap Ace, mengambil sebatang rokok dari kotaknya.


"Berhenti menyeringai." Aku menghentikan tangannya saat ingin menyalakan rokoknya. "Merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu." Aku memperingatinya.


"Aku tahu, itu sebabnya aku melakukannya, aku anak nakal." Ace mengedipkan mata sebagai jawaban.


Dia tersenyum lembut ke arah lantai.


Percakapan kami terganggu oleh suara bel pintu.


"Aku suka senyummu, kamu benar-benar harus melakukannya lebih banyak." Aku langsung berjalan ke pintu depan, membuka pintu dan melihat Cara bersama ketiga temannya.


"Heyyy." Aku tersenyum sambil memeluk Cara.


"Guys ini Sofia." Cara memperkenalkan ku kepada mereka.


"Heyyy." Ucap mereka semua serempak sementara Ace mengintip dari sudut.


"Aku Scarlett." Kata salah satu dari mereka berjalan masuk dan memelukku. Aku bisa melihat mengapa dia dipanggil Scarlett, dia memiliki rambut merah gelap dengan lipstik yang serasi.


"Aku Riley." Seorang gadis yang sedikit pendek memperkenalkan dirinya, dia tampak seperti orang Asia. Aku hanya bisa berasumsi kalau dia berasal dari Filipina karena bendera di casing ponsel yang berada di tangannya.


"Aku Kate," yang terakhir memperkenalkan dirinya sambil melihat sekeliling dengan curiga. Kate memiliki rambut pirang pendek dengan lipstik merah muda dan pakaiannya sangat minim.


"Keluar." Gerutu Ace pada Kate dengan tiba-tiba.


"Oh my god, Aceee. Sudah lama tidak bertemu." kata Kate dengan nada bahagia.


"Oh sial." Ucap Cara lirih dengan wajah yang menatap kebawah.


"Ada apa?" Tanya Riley bingung.


"Mungkin salah satu teman lamanya," canda Scarlett.


"Diam." Desis Cara pada Scarlett karena tahu aku bisa mendengar semuanya.


"Anda tidak diperbolehkan masuk ke rumah saya. keluar sekarang juga." Ace meraih tangan Kate dan menariknya keluar.


Aku hanya berkedip beberapa kali tapi aku tidak terlalu terkejut. "Aku tidak mengizinkan kotoran ada di rumahku." Gerutu Ace.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Bisikku pada Cara yang hanya mengangkat bahunya.


"Dia berkencan dengan Dante dan berselingkuh, kemudian mencoba untuk mendapatkan ku." Ace bersuara dengan nada dingin.


"Aku tidak mengizinkan orang seperti mu berada di rumahku." Ace berteriak dengan keras padanya.


"Baiklah kalau begitu, kau ingin keluar bersamaku?" Tanya Kate dengan menyeringai jahat. Dalam sekejap mata, Ace menodongkan pistol ke arahnya.


Cara dan yang lainnya menjerit, meringkuk di sudut. Mataku melebar saat Ace mengarahkan pistol kearah Kate.


"Kami baru bertemu Kate beberapa hari yang lalu." Cara dan teman-temannya membela diri.


Aku tidak takut pada Ace tetapi aku takut pada apa yang bisa dia lakukan pada orang lain.


"Ace." Aku mencoba menarik perhatiannya, memaksanya untuk menatapku.


"Letakkan pistolnya," Aku mendekatinya.


"Tidak." Ace menggeram padaku.


Aku berdiri di depan pistol itu. "Letakkan." Ulangku pelan tapi dengan nada menuntut.


"Minggir Sofia," ujar Ace padaku. Aku tetap diposisiku. "Jika kamu tidak bergerak, aku akan membunuhmu juga." Ace mengancamku sambil menggerakkan jarinya ke pelatuk.


"Aku tahu tindakan nya tidak benar, tetapi kamu tidak perlu membunuh orang untuk menyelesaikan semua masalah." Aku berbicara dengan cemas tetapi dengan nada percaya diri.


Ace menggigit bibir bawahnya sebelum menyelipkan kembali pistolny ke belakang celana nya dan berjalan kembali kedalam rumah.


"Lebih baik sekarang kau pergi." Aku membanting pintu di depan wajah Kate.


"Um, apakah kalian ingin menonton film?" Aku bertanya ketika Scarlett, Riley dan Cara yang semua meringkuk di sudut ruangan, ketakutan.


"Kau berdiri tepat di depan pistolnya, apa kau gila?" Scarlett berteriak padaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Mungkin," aku mengangkat bahu sebelum berjalan ke ruang tamu.